Hidup dalam kepalsuan bukanlah hal yang Safira inginkan. Menjadi sosok gadis yang sombong penuh keangkuhan bukanlah sifat aslinya. Namun keadaan memaksanya untuk menjalani kehidupan penuh manipulatif ini.
Safira jenuh dengan kehidupannya, gadis itu ingin lari dari semuanya, meninggalkan segala kepalsuan ini. Hingga dimana Safira tidak lagi sanggup, gadis itu akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkan keluarganya dan teman-temannya serta kehidupan yang selalu membuat iri semua orang.
Namun siapa yang menyangka, kepergiannya ini justru membawanya kembali ke masa kelamnya. Lelaki itu, sosok bajingan yang telah menghancurkan hidupnya dengan brutal, muncul di saat Safira ingin melupakannya.
Safira sangat membencinya, hingga timbul dalam hatinya ingin membalaskan dendamnya. Ya, Safira memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas kehancurannya.
Cerita ini merupakan sequel dari MY POOR WIFE. Silakan baca dulu agar lebih seri bacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia Butera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Samar-samar, suara bising mulai membangunkan Safira dari tidurnya. Mimpi indahnya terganggu oleh suara yang cukup familiar di telinganya. Safira menolak untuk sadar sepenuhnya, pasalnya mimpinya terlalu membuai.
Dalam mimpinya, Safira tengah bermain dengan seorang anak kecil. Wajah anak kecil itu samar, tetapi Safira nyaman bersamanya. Safira yakin anak kecil itu adalah anaknya, karena dia memanggilnya dengan sebutan ibu.
Dengan sangat terpaksa buaian mimpi itu berakhir begitu saja. Safira sadar sepenuhnya. Matanya terbuka hingga langit-langit putih menyambut penglihatannya.
Wanita itu memijit pelipisnya, dia ingat sebelum kehilangan kesadarannya, Alice bersamanya, juga Dave lelaki bajingan itu.
Mengingat itu, emosi Safira kembali meluap. Wanita itu menangis, menangisi kenyataan yang baru saja dia ketahui. Semua ini begitu rumit, sampai-sampai dia tidak tahu harus memulai dari mana.
Dave Rodriguez, pria yang telah menghancurkannya, sekaligus ayah dari bayinya, ternyata merupakan calon suami dari sahabatnya sendiri, dan Safira tahu, Alice sangat mencintai bajingan itu.
Safira memejamkan matanya erat, dadanya terasa sesak akan semua ini. Saat Dave datang ke apartemennya malam itu, hingga ketika Dave memperhatikannya, meski dengan alasan ia tengah mengandung bayinya. Jujur saja, Safira mengharapkan Dave.
Sangat konyol memang, bisa-bisanya masih berharap pada pria sejahat itu. Andai saja dia tahu, bahwa ternyata Dave pria yang Alice sering ceritakan, Safira tidak akan mau disentuh pria itu. Safira akan melawan, bahkan jika itu membahayakan dirinya.
Safira menghapus air matanya, sementara isakannya masih terdengar, membuat seseorang yang rupanya tengah duduk di sebelahnya terbangun.
"Safira.... kau sudah sadar Nak..." seorang wanita paruh baya, dengan wajah sembabnya, menggenggam tangan Safira erat.
Safira membulatkan matanya, melihat ibu kandungnya ada di sini. Safira pikir ini hanya mimpi, tetapi ketika sang ibu memeluknya dan menciumi pipinya, dia sadar bahwa ini bukanlah mimpi.
"Ibu..." lirihnya dengan suara serak.
"Iya sayang. Ibu di sini. Kau kemana saja? Kenapa pergi begitu lama. Kami mencemaskanmu sayang." cecar Davina seraya mengusap surai hitam sang putri.
"Ibu..." Safira tidak sanggup bersuara. Semua ini terlalu mengejutkannya. Dia tidak menyangka keluarganya akan secepat ini menemukannya.
"Sayang, jangan diam saja. Katakan sesuatu? Kenapa kau tidak ceritakan pada ibu apa yang sudah terjadi padamu hmm? Kenapa sayang. Bukankah ada ibu? Kenapa kau malah pergi menanggung penderitaanmu sendirian?" Davina terisak. Tentu saja, sebagai seorang ibu Davina turut merasakan kesedihan sang putri.
"Bu... Kalian tau...?"
"Iya Nak... Kami semua sudah tau. Rara adikmu, dia sudah sembuh dan menceritakan semuanya." ujar Davina.
Ya Safira ingat, beberapa bulan yang lalu sebelum memutuskan pergi, dia menceritakan apa yang telah menimpanya pada adiknya, Rara. Yang saat itu tengah sakit, dan enggan untuk bicara.
"Kak..." suara lembut itu menyapanya. Itu Rara, adik kesayangannya.
Rara mendekat, kemudian memeluknya erat. "Rara merindukan Kak Safira."
Safira terkekeh, mengacak rambut adiknya gemas. Meski sudah menikah, Rara tetap seperti anak kecil baginya. Rara memang masih sangat muda, tetapi di usia mudanya ini, sang adik sudah menikah, yaitu dengan Bara, kakak angkat mereka. Ada cerita menarik dari kisah mereka, kalo penasaran langsung baca aja My poor Wife.
"Kakakmu Bara sangat marah dengan apa yang menimpa dirimu sayang. Saat ini Bara sedang mencari laki-laki yang sudah melakukan ini semua padamu." tutur Davina.
Safira diam, merasa ngeri ketika membayangkan saudara angkatnya tersebut. Safira tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Dave, jika sampai Bara menemukannya.
knpa?
semangaat yaa othor, sehat selalu
kita semua menunggu
lanjut kaaa
penasaran bget jdina tpi g up date,gmana nie thor???