Permainan hidup mengoyak semua orang yang datang ke desa Sambayang untuk tinggal disana.
Darah, Tumbal, Keserakahan bahkan intrik manusia menghalalkan segala cara demi kesenangan sementara.
Waktu bukanlah teman melainkan lawan, hidup di desa Sambayang tidak seperti yang terlihat oleh mata.
Dasa mengetahui bahwa untuk bisa bertahan lebih lama di desa Sambayang haruslah berkompromi dengan cepat demi mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Iapun menyerahkan nyawanya demi semua warga desa dan keluarganya keluar dari desa. Namun, aura mistis desa Sambayang tidak puas maka tangan-tangan tak terlihat mulai menarik pulang satu persatu warga desa termasuk keluarganya.
Apa yang akan dilakukan oleh Dasa, saat tahu ia tahu? Bagaimana caranya melawan ganasnya aura mistis desa Sambayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wish0430, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Waktu terus berlalu hingga sudah waktunya dasa melahirkan, air mata dasa tak henti hentinya mengalir ketika rasa sakit yang dirasakannya saat ini. Hatinya sakit. Seharusnya ini momen yang paling membahagiakan bagi dasa tapi juragan Suteja tak ada disampingnya.
"Sekali lagi ya, Bu"
"Sakit sekali"
"Sebentar lagi juga hilang, Bu"
Dasa terus mengejan mengeluarkan bayinya susah payah tetapi tidak ada pergerakan sama sekali dari bayinya.
"Juragan Suteja, kalau kamu tidak membantuku hari ini, aku akan membencimu dan keluar dari desa!"teriaknya keras, membuat bidan Surti iba mendengarnya.
Semua orang sudah mencari ke setiap sudut desa tapi tidak diketemukan juga juragan Suteja. alhasil semua urusan bisnis juragan Suteja dilakukan oleh dasa dibantu pak Broto.
tiba-tiba angin kencang masuk kedalam rumah juragan Suteja, dasa merasakan perasaan yang berbeda seakan juragan Suteja muncul di belakang badannya menopang tubuhnya untuk melahirkan.
"Aduh, kok ada angin sih, ayo Bu mengejan"
Bidan Surti bingung dengan angin yang masuk padahal semua jendela ditutup rapat termasuk jendela.
Dasa mengejan kembali tapi kali ini ia merasakan kalau Suteja bersamanya dengan mengusap perut besarnya lalu mengecup kening. tak lama kemudian terdengar suara tangis kencang bayi yang baru lahir.
Bidan Surti takjub melihatnya, wajahnya sangat tampan, bayi laki-laki pertama yang mampu membuatnya menyayangi tanpa sebab. setelah dibersihkan kemudian diberikan kepada dasa.
"Selamat ya Bu, bayinya sehat"
Air mata dasa meleleh, di ciumnya bayi laki-laki didepannya. bayi itu terdiam merasakan kedua orang tuanya ada bersamanya.
"Siapa namanya, Bu"
"Ganindra Suteja"
Bidan Surti mengangguk-angguk sambil merapikan tempat itu seperti semula. Dasa melahirkan anaknya di rumah, persis tengah malam Jumat lahir. Udara dingin mulai menusuk tulang di ruangan itu tapi tidak dirasakan oleh dasa, ia merasa hangat dan terlindungi. Berkali-kali bidan Surti mengusap tubuhnya untuk mengusir rasa dingin.
"Saya keluar ya, Bu, besok pagi saya cek lagi"
"Menginap saja disini"
Bidan Surti mengangguk mengerti sambil keluar dari kamar dasa dan menemui pembantu dasa yang sudah menunggunya di ruang makan. Tampak teh panas dan cemilan hangat ada di meja. Mereka bercakap-cakap mengenai kelahiran dan tata cara adat desa ketika ada yang melahirkan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu tapi tetaplah disini menjaga kami berdua"bisiknya pelan sebelum ngantuk menjemputnya. Juragan Suteja memeluknya erat walaupun ia tidak dapat menyentuhnya, ia hanya bisa meniupkan udara hangat disekitar dasa dan bayinya.
Putranya membuka matanya dan tersenyum bahagia melihatnya, tangan kecilnya diangkat meminta untuk dipegang. Suteja sedih tetapi dicobanya dan tangan kecilnya memegang jarinya erat. Iapun tertegun melihat itu, ia tidak sangka putranya bisa menyentuhnya, tanpa sadar ia mengucap syukur kepada Yang Pemberi Hidup.
Suara gemuruh terdengar keras memberitahu kalau ia berbuat salah. Suteja miris mendengar itu. Putranya menutup matanya lalu tertidur tanpa melepaskan jarinya seakan takut kehilangannya.
"Tenanglah, aku akan selalu menjagamu dan putra kita"ucapnya sembari berjalan keluar kamar setelah melepaskan jarinya dari tangan putranya.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, putranya menangis kencang, tidak menyukai keputusan Suteja yang akan pergi. Dasa tak terusik sama sekali, terpaksa Suteja berbalik arah dan memegang tangan putranya dan ajaib putranya tertidur lagi.
Sontak senyumnya mengembang senang melihat itu, kebahagiaan kecil yang diberikan putranya sudah cukup membuatnya bertahan di sisi dasa.
Kehebohan sudah dimulai tepat pagi hari di rumah juragan Suteja, beberapa orang keluar masuk menyiapkan semua perlengkapan tradisi adat kelahiran. Tawa dan canda terdengar ramai di rumah ini. Dasa tersenyum melihat itu sambil mengendong bayinya dan duduk ditengah ruang tamu, banyak orang yang datang mengucapkan selamat serta mendoakan putranya.
Kemudian dilanjutkan tradisi, semua orang khusuk mendengar suara pak Kadus yang memimpin dengan tenang. setelah selesai dibagikan makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh pembantu dasa dan bidan Surti.
Tak terasa menjelang malam, orang berangsur-angsur pulang, tersisa dasa seorang diri di kamarnya untuk beristirahat bersama putranya.
"Seandainya kamu disini, aku pasti bahagia luar biasa"gumamnya pelan sambil memberikan air susunya kepada putranya yang kelaparan.
Suteja yang sedari awal tak pernah beranjak dari sisi dasa hanya bisa menghela nafas dan menghembuskan berat.
"Beri tanda kalau kamu ada disini"katanya pelan dan hati-hati meletakkan putranya ke atas tempat tidur khusus dibuat putranya tadi pagi.
Dasa berbaring di tempat tidur menatap langit-langit kamarnya. Suteja bergerak ikut tidur disamping dasa. gerakan halus itu membuat perubahan di tempat tidur, ada cekungan besar seperti ada yang menempati, dasa menoleh kearah itu.
"Terimakasih"katanya sambil menggeser posisi badannya menghadap cekungan itu, diam membisu menantikan tanda berikutnya yang akan dibuat Suteja.
Suteja diam memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Komunikasi unik yang dibuat untuk memudahkan mereka berdua.
"Apa kamu terpaksa melakukan ini?"
Suteja meniup angin kecil kearah wajah dasa, dasa tersenyum.
"Apa itu karena kami?"
Dasa menyadari juragan Suteja ternyata kembali menjadi makhluk tak kasat mata demi keselamatan mereka bertiga, ia sadar ketika ia melahirkan putranya. Angin berhembus kecil lagi-lagi diterimanya.
Ia termenung sejenak untuk menganalisa kondisinya yang sudah berubah. Dielusnya cekungan itu seperti mengelus seseorang dihadapannya.
"Tak apa, aku mengerti, temani aku ya, jangan tinggalkan aku sendiri"
Setelah mengatakan itu, dirasakan olehnya angin berhembus hangat kearah badannya. Suteja menangis dalam hatinya, tak bisa berbuat banyak untuk dasa dan putranya. ia marah dengan kondisinya tapi inilah takdir yang harus dijalankan.
Tak sengaja ia berdoa kepada Yang Pemberi Hidup meminta jalan terang untuk dasa dan putranya. Jalan yang benar dan lurus demi kebahagiaan bersama walau ia harus rela kehilangan dirinya.
Goa yang ada di hutan keramat itu berubah menjadi kelam bahkan sangat menakutkan. Didalamnya sedang ada ritual seperti biasa tapi kali ini goa itu tidak menyukai keputusan bawahannya untuk membuat sebuah pengharapan kepada Yang Pemberi Hidup.
"Aku terlalu baik denganmu! mulai hari ini akan aku buat siksaan yang lebih dari ini!"
Hujan turun mendadak dengan deras sepanjang malam sehingga menyebabkan di beberapa tempat di desa mengalami longsor tapi tidak mengambil korban jiwa.
Warga desa Sambayang bergotong royong berusaha keras membersihkan longsor di keesokan harinya. Panas matahari terbit dengan panas yang menyengat membuat siapapun enggan berada diluar. Suara gunung meletus menyemburkan asap gelap diatasnya. Orang-orang desa mulai panik melihat itu. Jalan penghubung desa tertutup longsor padahal itu jalan satu-satunya apabila desa terjadi sesuatu.
Mereka semua kebingungan dengan fenomena alam yang tak biasa ditampilkan di desa Sambayang.
jangan lupa like nanti ku feedback
biar lebih nyambung lagi
...
jadi gak banyak tipo ..biar gak susah juga pemahaman ceritanya
mampir ya kak di tulisanku Putih Abu-Abu 2010 kasih like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
Jangan lupa baca juga cerita aku judulnya 'BUTTERFLY EFFECT'