seorang mahasiswi di salah satu kampus yang sangat hitz di kawasan indonesia timur tepatnya di kota Makassar, yg menjalani hari-harinya seperti biasa, dia mempuanyai 2 orang teman mereka ber 3 sangat nakal sehingga suatu ketika salah satu dari mereka di masukkan pesantren, karena mereka sudah lama bersahabat ke 2 sahabatnya pun juga ikut ke pesantren dari sini lah kisahnya di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon babydollll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 11
Setelah makan siang mereka langsung menuju rumah pemilik pesantren yang akan di tempati curut and the geng.
" Tempatnya jauh gak yah ? " tanya fiah pada hamdan.
" Sebentar lagi sampai sayang " kata hamdan sambil mengecup puncak kepala fiah.
" Nah ituu dia rumahnya " tunjuk hamdan pada salah satu rumah yang ada di sana.
Setelah sampai mereka sudah di sambut pemilik pesantren tersebut yaitu kyai mansur yang umurnya kurang lebih 70 tahun dan istrinya bu nyai khadijah yang umurnya sekitar 50 tahun.
" Assalamu alaikum " jawab rombongan hamdan.
" Wa'alaiku salam " jawab kyai mansur dan istrinya.
" Mari, silahkan masuk " kata kyai mansur mempersilahkan tamunya masuk.
Setelah mereka masuk mereka langsung di suguhkan teh manis dan pisang goreng oleh nyai khadijah untuk tamu-tamunya.
" Kenapa harus repot-repot bu nyai " kata hamdan
" Tidak repot kok, silahkan di nikmati " kata bu nyai mempersilahkan, sambil duduk di samping kyai mansur.
" Sebelumnya perkenalkan saya hamdan pak kyai, bu nyai yang menelpon tadi malam, anak dari alm.syarif " kata hamdan memperkenalkan diri terlebih dahulu karena, pak syarif merupakan teman seperjuangan kyai mansur waktu masih kuliah di mesir.
Mendengar perkataan hamdan kyai mansur pun beralih memeluk tubuh hamdan.
" Pantas saja saya seperti tidak asing melihat wajah kamu nak " kata kyai mansur sambil melepaskan pelukanya pada hamdan.
" Oiyya pak kyai, bu nyai, perkenalkan ini wijaya dan mayendra sahabat sekalian rekan kerja saya " kata hamdan memperkenalkan sahabatnya pada kyai mansur.
" Panggil abah saja nak " kata kyai mansur tersenyum.
" Kalau saya panggil ummah saja ya " sambung nyai khadijah.
Wijaya dan mayendra pu langsung mencium punggung tangan kyai mansur secara bergantian dan beralih menyalami bu nyai khadijah tanpa bersentuhan secara langsung.
" Ihh ayah kok kita nggak di kenalin sih " kata fiah karena dari tadi hanya di cuekin oleh ayahnya.
Mendengar perkataan fiah, della dan airin langsung mengiyakan perkataan fiah, lain halnya dengan fahmi yang langsung menginjak kaki adiknya sambil menyuruhnya diam.
" Ihh sakit abang " dengus fiah kesal sambil memukul lengan abang.
" Abah ummah, kenalkan saya nur afiah salsabila putri hamdan, dari pada gak di kenalkan sama sekali sama ayah mending ngenalin diri sendiri aja kan " kata fiah sambil mencium punggung tangan kyai mansur dan nyai khadijah.
" Kalau saya della ananta wijaya, abah ummah anak daddy wijaya " sahut della melakukan hal yang sama dengan fiah.
" Kalau saya airinia putri mayendra anak papah mayendra " sahut airin tidak mau kalah dengan fiah dan della.
Melihat kelakuan anaknya hamdan dan kedua sahabatnya hanya geleng-geleng kepala, sementara kyai mansur dan nyai khadijah tersenyum mendengar perkataan trio curut.
" Kalau yang ini siapa ? " tanya kyai mansur melihat ke arah fahmi.
" Saya fahmi abah " kata fahmi sambil mencium punggung tangan kyai mansur dan beralih pada nyai khadijah.
" Abang gimana sih yang bener dong, abah ummah ini namanya fahmi fahrezi ahsan putra hamdan, anaknya ayah hamdan dan abangnya fiah " kata fiah santai.
Hamdan pun hanya menghembuskan nafasnya melihat kelakuan anaknya, sementara fahmi sudah menatap fiah tajam, tapi orang yang di tatap pun seolah tidak peduli.
Sementara kyai hamdan dan nyai khadijah terkekeh mendengar ocehan fiah.
" Mohon maaf sebelumnya abah ummah " kata hamdan tidak enak dengan kekacauan yang di buat oleh anaknya.
" Tidak apa-apa nak ummah malah senang rumah jadi rame " kata nyai khadijah.
" Jadi begini, abah ummah kami ingin mendaftarkan anak kami menjadi santri di pesantren milik abah, tapi hanya selama enam bulan saja abah, karena sebenarnya mereka bertiga sudah kuliah dan kami hanya ingin mereka mendapatkan bimbingan karakter di pesantren milik abah " kata hamdan menjelaskan maksud dan tujuanya.
" Iya abah, kalau bisa sih kami meminta hal ini hanya abah dan ummah saja yang tau supaya mereka bisa nyaman menjadi santri di sini " kata mayendra menambahi perkataan hamdan.
" Baiklah, mereka akan saya perkenalkan sebagai murid baru dengan santri lain dan mereka bisa mengikuti pembelajaran di madrasah dan akan di tempatkan di kelas 12 " kata kyai mansur.
Setelah mendengar penuturan kyai mansur para orang tua pun berterima kasih pada kyai hamdan, sementara trio curut hanya diam tanpa menyahut karena sudah di awasi oleh fahmi.
" Mulai besok kalian boleh tinggal di asrama dan mulai bersekolah kembali " kata kyai mansur pada trio curut.
" Iyya abah " jawab trio curut kompak.
" Oiyya kalian menginaplah dulu di rumah abah sebelum kembali ke makassar, kebetulan kedua anak abah tinngal di luar kota, sedangkan anak bungsu abah ada pengajian di tempat kakaknya besok baru pulang " kata kyai mansur pada semua orang di sana.
" Tidak usah abah, takut merepotkan " kata wijaya yang di angguki oleh hamdan dan mayendra.
" Tidak merepotkan kok nak justru ummah senang rumah ramai karena ketiga gadis cantik ini " kata nyai khadijah melihat ke arah trio curut.
" Jadi kita juga boleh nginap di sini ummah, nggak langsung ke asrama ?" tanya airin pada nyai khadijah.
" Iyya sayang, mulai besok baru nginap di asrama " jawab nyai khadijah tersenyum.
" Terima kasih ummah " kata fiah yang sambil memeluk nyai khadijah.
" Kok gue nyaman banget yah di pelukan ummah khadijah, apa begini yah rasanya pelukan seorang ibu pada anaknya " kata fiah dalam hati.
Melihat fiah yang memeluk nyai khadijah della dan airi pun juga langsung ikut memeluk nyai khadijah.
Sementara nyai khadijah sangat senang merasa memiliki anak perempuan pasalnya, ketiga anaknya semuanya laki-laki.
" Sudah-sudah kalian mau nggak bantuin ummah masak di dapur ?" tanya nyai khadijah pada trio curut.
" Mau ummah " jawab mereka kompak sambil berjaln menuju dapur bersama nyai khadijah.
Sementara para pria tampak berbincang-bincang di ruang tamu.
" Kalau boleh tau anak abah tinggal di mana sekarang " tanya hamdan pada kyai mansur.
" Kalau fajar anak saya yang pertama itu tinggal di semarang bersama keluarganya, kalau ikhsan anak kedua saya itu juga sudah berkeluarga dan tinggal di jogja, sedangkan yang bungsu namanya fauzan baru saja menyelesaikan pendidikan S2 nya di kairo dan sekarang sedang ada pengajian di luar kota besok baru pulang ke sini " kata kyai mansur menjelaskan pada hamdan dan kedua sahabatnya.
" Wah hebat sekali yah anak abah bisa nembus pendidikan di kairo, di sana masuknya susah loh " kata mayendra kagum.
" Semua atas kehendak gusti Allah nak " kata kyai mansur pada mayendra.
" Kalau boleh tau pekerjaan anak bungsu abah apa? " tanya wijaya pada kyai mansur.
" Kebetulan fauzan juga salah satu pengajar di pesantren belum lama sih baru seminggu dia jadi pengajar di pesantren " kata kyai mansur menjelaskan.
" Oiyya abah sebelum kesini kami bertiga sudah memutuskan akan menjadi donatur di pesantren abah semoga saja bisa di membantu memfasilitasi para santri di pesantren al-ikhlas bah " kata hamdan yang langsung di angguki oleh wijaya dan mayendra.
" Alhamdulillah, semoga Allah membalas kebaikan kalian " kata kyai mansur.