NovelToon NovelToon
MY SUGAR DADDY

MY SUGAR DADDY

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Misteri / Balas Dendam / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Lestari

[ Aku hamil, Om. ]

Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.

Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.

Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.

Terkesan tak tahu diri, bukan?

Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petaka Lamaran

"Li-limousine."

Aku tertegun saat Tante Sarah bergumam melihat mobil yang menjemput kami menuju kediaman keluarga Fahlevi-- sudah terparkir sekitar sepuluh meter dari gerbang kosan.

Kosan yang kutinggali selama lebih dari dua tahun ini memang terletak di daerah pinggiran ibu kota, tapi tak jauh dari jalan raya. Biasanya waktu yang di tempuh menuju pusat kota bisa menghabiskan satu sampai satu setengah jam perjalanan tergantung kepadatan.

Sebenarnya ini terlalu berlebihan, untuk ukuran jamuan lamaran. Namun, mengingat keluarga Fahlevi terkenal sebagai konglomerat yang hobi memamerkan kekayaan ... jadi, tak heran memang.

Mereka seolah tengah menunjukkan secara halus perbedaan starata sosial yang jauh membentang di antara kami.

Saat sopir membuka pintu dan mempersilakan kami masuk. Kemewahan yang disuguhkan mobil yang biasa digunakan sebagai kendaraan resmi kepresidenan atau pengusaha besar ini terlihat begitu kentara. Fasilitas yang diberikan di dalamnya pun bisa membuat siapa pun orang yang menumpanginya merasa nyaman sepanjang perjalanan.

Jok berbentuk leter L yang sangat empuk dan nyaman. Lampu dengan keterangan standar yang memanjakan mata, AC tentu saja, serta TV dengan fasilitas internet berjaringan 4G ditambah kulkas kecil yang bisa kuperkirakan berisi berbagai jenis minuman.

Mereka salah kalau menggunakan hal ini untuk membuatku insecure dan merasa minder. Sebalikannya, justru aku semakin tertantang untuk tahu seberapa banyak kekayaan dan aset milik keluarga Fahlevi yang membuat Om Adrian tega meninggalkan wanita yang sudah begitu banyak berkorban untuknya.

***

Satu jam sepuluh menit tepatnya kami sampai di depan gerbang menjulang yang sekelilingnya dipenuhi dengan benteng setinggi sama. Terletak di perumahan elite pusat kota, rumah mewah seluas ribuan hektar ini berada.

Berbeda dengan kediaman Om Adrian dan Tante Lidia yang berdiri di atas tanah peninggalan keluargaku yang dua puluh lima tahun lalu hangus terbakar. Tempat ini jauh lebih luas dan mewah. Perjaga di mana-mana, pelayan lalu-lalang. Puluhan kendaraan terparkir. Aku turun lebih dulu, diikuti Tante Sarah.

Di depan pelataran Om Lian dan Kevin terlihat menyambut dengan setelan yang tentu saja bertabrakan.

Seperti biasa Om Lian tampak mengagumkan dengan setelan tuxido navy. Rambutnya selalu tersisir rapi dengan potongan hair cut. Sementara si urakan Kevin terlihat begitu santai dengan kaus kebesaran dan celana training putih. Ck, aku bahkan tak yakin dia sudah mandi menjelang siang ini. Semua itu terselamatkan oleh wajah tampannya tentu saja.

"Ck, aku, kan udah bilang. Pake baju biasa aja Lea. Kalau udah begini siapa yang bisa jamin aku nggak jatuh cinta sekali lagi pada mantan pacar yang sebentar lagi jadi Bibiku?" Aku sedikit tersentak saat Kevin tiba-tiba mendekat dan merangkul bahuku.

"Vi--"

"Jaga sikapmu, Kevin! Dia calon istri Ommu sendiri." Om Lian bergegas menarikku dari rengkuhan keponakannya.

"Dih, dasar mpoksesip!" Kevin mendelik pada Om Lian, lalu beralih pada Tante Sarah.

"Hai, Tan. Kenalin aku Kevin Hermawan Fahlevi. Maukah Tante jadi My Sugar Mommy? Kata orang, balas dendam paling elegan itu lewat kerabat dekatnya, kebetulan keponakan Tante udah buat aku patah hati."

Tante Sarah membulatkan mata terkejut, detik berikutnya tawa beliau pecah. Ah, sudah lama sejak terakhir aku melihat tawa lepasnya. Selama ini Tante sudah banyak terbebani olehku dan Mama. Dia bahkan belum menikah di usia yang sudah menginjak 43 tahun ini. Karena Tante Sarah terlalu banyak menghabiskan waktunya hanya untuk mencari uang sebagai crew di salah satu stasiun televisi.

"Kevin.... " Om Lian berbalik dan menatapnya tajam. "Yang sopan! Dia tamu kita."

"Ya, ya. Kaku banget idupmu, Om. Noh, Lea! Diliat dari sisi manapun juga masih lebih unggul aku ke mana-mana," cibirnya sembari berjalan lebih dulu ke dalam.

Om Lian hanya mengedikan bahu mendengar cibiran keponakannya, lalu menuntunku dan Tante Sarah untuk meninggalkan pelataran.

"Silakan!"

Di ambang pintu kami disambut seorang pelayan dengan nampan berisi dua gelas air berwarna.

Sejenak aku menatap Om Lian dan Tante Sarah bergantian.

"Minumlah! Ini tradisi kami saat ada tamu datang," ujar Om Lian dengan senyum tipisnya.

Meskipun sempat ragu akhirnya aku menurut dan meneguk tandas minuman berwarna ungu dalam gelas kecil dan ramping itu.

"Ayo!" Setelahnya Om Lian menuntun kami masuk ke dalam.

Sudah bisa ditebak seberapa megahnya bangunan ini dari dalam. Barang-barang antik, lampu megah besar di ruang tengah, serta rak-rak yang menjulang.

Kami sampai di ruangan paling besar dengan sofa hitam mengkilap berbentuk melingkar. Tiga orang tampak sudah mengisi tempat yang ada. Mereka bangkit setelah kami tiba.

Tatapan sinis jelas kulihat dari Tante Lidia dan Om Adrian. Sementara tatapan tak terbaca kulihat dari Om Wira. Lelaki yang masih terlihat begitu gagah dan berwibawa di usia yang menginjak tujuh puluh tahun itu berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangan.

"Namamu Elea Kenanga, kan? Salam kenal, saya Prawira Fahlevi." Sejenak tatapannya turun menuju perutku yang terlihat masih datar. Refleks aku memegangnya, lalu tersenyum kikuk.

"Salam kenal, Om. Terima kasih dengan sambutan hangatnya."

Demi Tuhan aku tak bisa menebak apa yang ada di pikirannya sekarang. Tak ada ekspresi terkejut yang kuharapkan sejak awal. Seolah Om Wira sudah tahu semua ini akan terjadi.

"Bisa-bisanya seleramu turun drastis setelah Diana, Lian. Bagaimana bisa kamu memilih wanita murahan dengan tampang pas-pasan untuk menjadi calon istrimu," cibir Tante Lidia sembari menatapku dari atas ke bawah.

"Yang begini Mama bilang pas-pasan? Fix harus periksa mata! Diliat dari sisi manapun Lea jauh lebih cantik dibanding Tante Diana. Bodynya aja mirip Rose Blekping. Makanya kalau iri bilang, Bos!"

"Diam kamu Kevin!" Tante Lidia melemparkan tatapan tajam pada Kevin yang membuatnya langsung terbungkam.

"Ya maaf, aku, kan jujur."

"Diam!"

"Iya, iya."

Mengabaikan perdebatan ibu dan anak itu, tatapanku masih terpaku pada Om Wira. Entah kenapa senyumannya membuatku merinding, tapi di satu sisi juga jijik dan muak.

Om Lian yang menyadari itu, langsung meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Bisa kurasakan dari tangan yang saling bertautan ini Om Lian juga tertekan.

Sebenarnya situasi macam apa ini? Acara yang seharusnya sakral sebagai ajang penyatuan dua keluarga, justru terlihat bersitegang.

Meski sempat diliputi kebimbangan, akhirnya kami duduk berhadapan sebelum Om Wira sebagai tetua memulai percakapan.

"Jadi, kamu hamil anak Adrian?" Pertanyaan yang diajukan Om Wira entah kenapa lebih terdengar seperti ejekan. Padahal dia maupun aku tahu sendiri benih siapa yang tumbuh di rahim ini.

"Udah Rian bilang kalau j*lang ini penipu, Pa. Bukan Rian yang menghamilinya!" Om Adrian menyela. Dia bangkit dari sofa.

"Lalu?" Om Wira menaikkan sebelah alisnya.

"Lea hamil anak Lian, Pa!" timpal Om Lian. Dibalik jawaban tegas itu bisa kulihat keraguan pekat yang menyelimutinya dari kedua tangan kami yang saling bertautan. Dia bahkan tak berani menatap mata Papanya.

Kini kerutan di dahi Om Wira semakin dalam.

"Jadi, kamu berhubungan dengan anak dan menantuku?" Pertanyaan itu kini dilontarkan padaku.

Baru saja hendak membuka mulut, kini Kevin yang menyela.

"Se-sebenarnya sama Kevin juga, Kek. Kita sempet pacaran, walaupun nggak sampe anu-anuan."

"Keviin!" Tante Lidia kembali menghadiahinya dengan tatapan tajam, kali ini bahkan disertai cubitan.

Plok!

Plok!

Plok!

Seketika kami semua terdiam saat Om Wira tiba-tiba bangkit dan bertepuk tangan.

"Luar biasa. Satu wanita, tiga lelaki. Semuanya bahkan masih terikat persaudaraan. Sebenarnya kamu manusia atau piala bergilir, Elea?"

Tanpa sadar kedua tanganku sudah terkepal di sisi tubuh.

"Kamu yakin itu benar-benar anak Lian? Jangan-jangan anak Bram." Matanya membulat, lalu tersenyum miring. "Brame-rame!" tambahnya sarkastis.

Cukup sudah!

Aku datang ke sini untuk memenuhi undangan lamaran, bukan suka rela menerima hinaan dan cacian.

Ingin rasanya aku berteriak pada tua bangka ini agar dia sadar bahwa janin ini adalah benih yang dia tanam.

Sontak aku beranjak bangkit, tapi cekalan tangan Om Lian menghentikannya. Dia menggeleng dan menatapku dengan tatapan memohon.

"Jaga mulut Anda Pak Wira!" Kami menoleh saat Tante Sarah tiba-tiba bangkit dan mengacungkan tangan ke arah tua bangka tak tahu diri itu. "Kami datang ke mari untuk memenuhi undangan, bukan suka rela menerima hinaan tak beralasan dari kalian. Ini sudah keterlaluan!" teriaknya.

"Tan ... aaargh!"

Sebelum sempat bangkit untuk meraih tangan Tante Sarah dan menenangkannya. Tiba-tiba sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi.

Bruk!

"Aaargh ...."

"O-Om."

"Sa-kiit."

Kuremas kuat jas yang dikenakan Om Lian saat merasakan nyeri yang luar biasa hebat di bawah perut. Tatapan mulai berkunang-kunang melihat darah pekat mengalir dari pangkal paha, dan tercetak jelas pada dress yang dikenakan.

"Astaga Lea!" Om Lian berteriak histeris begitu pun dengan Tante Sarah dan Kevin yang langsung memburuku.

Sebelum sempat kesadaran sepenuhnya hilang. Kutatap satu per satu dari mereka yang berdiri terpaku di belakang.

Aku yakin salah satu dari mereka yang melakukannya. Ya, sangat jelas semua ini sudah direncanakan sebelum kedatangan kami ke mari!

Pasti minuman sialan itu penyebabnya.

.

.

.

Bersambung.

1
Leni Fatmawati Fatmawati
aduh Lea ampun deh ini judul ny mertuaku adalah ayah dari anak kandungku dan sekarang menjadi adik dari suamiku🤭😅😅
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕
shepty
cukup berliku dan penuh rintangan kisahmu lea udh kayak kisah kera sakti pagi nyari kitab suci
shepty
wow nggak ada om lian kevin pun jadilah yg penting baik dan bisa mengerti kondisi lea yg pasti selalu ada bt lea dan melindungi juga menghibur lea
shepty
rumit
shepty
ah kevin ganggu aja orang mau anu anu juga
shepty
aku pengen liat adrian wira dan lidia hancur sehancur"nya tak dianggap jd manusia serendah"nya kesel bgt gw ama trio kwek kwek ini yah ya ampun
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂👍👍
Reichann~
nama ku jeruk
Yolanda Wulan
Ya Ampuuuunnnn kocak banget ini si Kevin🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂😂
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂😂😂😂
Yolanda Wulan
🤣🤣🤣🤣😂😂😂
Reichann~
pengen cakar
Reichann~
ganti kk aja kamu kevin kasian banget aku sama kamu
Ena Safitri
sebenrnya smpe sini blum ngerti tentang kehamilan lea, apa itu anak dari Adrian ayah kandungnya,, secara kalau sama lian kan blm pernah berhubungan badan,, kalau ngga hamil sama Adrian kenapa Adrian bilang harus menggugurkan berrti lea sma Adrian ayah kandungnya pernah berhubungan badan dong thor, kalau belum pernah berhubungan badan adrian ga bakal nyuruh gugurin kandungan lea pas lea kasih tau, berrti dgn nyuruh gugurin secara ga langsung Adrian sering berhubungan badan sama lea anak kandungnya,, terus kalau lea bukan anak adrian ga mungkin, soalnya kan td D awal di bilang kalau nita mmah ny lea D campakan adrian selaku suaminya saat nita hamil, berrti adrian emang ayah lea, yg D sayangkan di sini kenapa lea harus mnjadi sugar baby adrian dan parah kalau smpe pernah berhubungan badan,, ga mungkin kan kalo itu hamil dr sugar daddy pertama, secara sma adrian aj udah setahun lebih, smpe sini masih pusing aku thorr map ya
Monica Monic
y
krisan
lanjut
Novianti Ratnasari
kaya nya anak nya Om Lian
Novianti Ratnasari
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!