NovelToon NovelToon
BERBEDA

BERBEDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Komedi / Indigo / Teen School/College / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: DES_Putri:)

"Lo itu kurang kerjaan atau gimana sih, hah?!."

"Lah ini lagi kerja..."

"....Ngerjain Senior maksudnya."

"Berani banget yah lo sama Senior!."

"Ya, lebih baik berani didepan dari pada dibelakang ngomongin...Sorry, Varo nggak serendah itu orangnya."

♡♡♡

"Kita berada di iman yang berbeda. Di amin yang berbeda pula. Sungguh ironis my love story."
-Alvaro Genandra

"Antara tasbih yang kugenggam dan salib yang ada dilehermu. Antara adzan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang. Dan, dari sanalah perbedaan antara kita yang tak akan pernah bisa bersatu."
-Zoya Prameswari

"Yang seagama aja berat, apalagi yang beda. Gobloknya temen gue itu masih aja diharapin."
-Reihan Aditama

♡♡♡

#familyship
#brothership
#friendship
#kisahremaja
#bedaagama
#cintaterlarang

Semoga suka🤗 Jangan lupa Like & Komen sebagai pembaca yang budiman😊


Dan untuk my Bestie, tolong kalau tahu cerita ini jangan dibaca. Sekali lagi jangan dibaca, terima kasih🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DES_Putri:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chap 10 (Tenang Yang Hilang)

...Aku pernah merasakan detak jantungku yang hampir kehilangan ritmenya. Dan itu, karena dia. Orang yang berada diambang batas kematiannya....

Rintik hujan diluar tenda biru itu masih terlihat jelas. Namun, dari caranya berdiri tak ada rasa resah maupun bosan. Menatap jauh kedepan yang semakin mengaburkan pandangan. Dia, Alvaro Genandra. Masih dengan wataknya yang keras kepala. Tidak akan beranjak sejengkal pun dari tempatnya, sebelum sosok yang ditunggu tiba.

Satu jam berlalu dengan sia-sia. Bahkan pesan yang sedari tadi ia kirim tak kunjung berubah warna. Meski Varo tahu, bahwa dia telah membaca pesannya walaupun tak memberi respon.

Lamunan Varo buyar ketika suara serak pria paruh baya melewati gendang telinganya. "Nak, masuk sini! Jangan diluar atuh, dingin."

Varo mengulas senyum. Kemudian mengangguk, mengekor pria berumur sekisar 40 an itu masuk kedalam tenda, ada beberapa pria tua yang sedang asyik mengobrol.

"Lagi nunggu siapa Nak? Kok dari tadi Bapak lihatin diam aja diluar."

"Lagi nunggu temen Pak, tapi belum datang-datang," balas Varo diakhiri senyum tulusnya.

"Kenapa nggak ditelpon aja temennya?."

"Udah, tapi nggak diangkat. Mungkin masih dalam perjalanan Pak."

"Ohh ngono to, yowis ditunggu aja disini diluar hujannya makin gede. Mau Bapak bikinin teh hangat?."

"Ohh iya Pak Boleh."

Bapak itu beranjak pergi, sedang Varo terus mengamati setiap gerakan pria itu. Suara yang memenuhi otaknya seketika buyar tak kala getaran dari gawai mengalihkan atensi Varo. Segera dia geser kunci layar, dan hal yang pertama ia lihat adalah notifikasi yang sedari tadi ditunggunya.

^^^Sorry gue nggak bisa dateng ||^^^

Varo mengembuskan napas kasar. Seperti yang sudah ia duga. Tanpa pikir panjang, segera dia mengetikkan beberapa kata dan send.

|| Yaudah nggak apa-apa kak.

Pesan itu masih bercentang dua abu-abu. Dan mungkin tidak akan pernah dibaca sebelum dirinya kembali membuka topik yang sangat penting untuk dibalas, begitulah perkiraan Varo. Sampai suara kembali merenggut heningnya.

"Ini Nak diminum dulu tehnya," ujar Bapak itu sembari meletakkan segelas teh hangat.

"Iya Pak makasih."

"Gimana, temennya jadi dateng?."

"Nggak jadi Pak. Katanya ada urusan lain."

Bapak itu mengangguk angguk sembari ber-oh ria. "Yowis diminum dulu, biar anget badannya."

Varo kembali mengangguk dengan senyum menghiasi wajahnya yang terlihat kusut. Baru saja ingin menyesap teh yang sudah berpindah ditangannya, namun suara dering panggilan membuatnya urung.

Detik berlalu masih terdengar raungan dari gawainya. Tapi sang empu hanya bisa diam menatap sampai suara itu menghilang dengan sendirinya. Hela napas kasar kembali merayap diudara.

"Sorry Ver, gue nggak bisa temenin lo."

"Gue masih males buat debat sama mereka."

...)(...

Tangan itu meremat gawai yang baru saja meredup tanpa adanya respon. Dari pancaran matanya mengisyaratkan penuh percikan api yang siap membakar apa saja yang ada dihadapan. Dua pasang mata yang tertuju kepadanya masih diam. Mengamati bagaimana secara perlahan raut wajah itu mengeras.

"Lama-lama anak itu udah nggak bisa dihalusin, ya?!," ucapnya penuh penekan. Disusul dengan helaan napas yang terasa berat dari sebelahnya. Wanita yang sudah memasuki umur 40 tahun itu menatap tajam cowok yang duduk didepannya.

"Kamu yakin nggak ada yang salah sama hasil ujiannya, hm?!," tekan Miranti.

"Enggak mungkin salah, Mah. Hasilnya langsung dikoreksi sama gurunya sendiri," balas Vero memandang Genandra dan Miranti bergantian.

"Papa nggak nyangka kamu bisa nggak lolos!."

"Hasil ujiannya dibagikan?," tanya Miranti.

Vero menggeleng.

Hening kembali merayap diantara pikiran Vero yang sudah bercabang kemana mana. Melihat aura Genandra dan Miranti yang sudah terbakar, hanya ada satu yang terlintas dipikirannya. Yaitu Nasib dia, dan Varo kedepannya.

"Percuma Papa bayar bimble kalian selama ini!," teriak Genandra menggema diruang tamu itu.

"Mama nggak yakin kalau kamu nggak lolos. Besok biar Mama ke Sekolah buat cek hasil ujian kamu sendiri."

Detik itu, bola mata Vero membola. Gawat, bisa ketahuan hasil ujiannya jelek karena jawaban yang diberi Vero jelas-jelas sangat menyimpang.

"Jangan Mah," balas Vero cepat.

Mata Miranti menyipit. Mengamati lambat laun raut wajah Vero yang terlihat cemas. "Vero! Nggak ada yang kamu sembunyiin kan?!."

"Ngg-nggak ada kok Mah."

"Jangan ke Sekolah Mah, itu malah buat Vero malu. Jelas-jelas gurunya sendiri yang ngoreksi, nggak mungkin salah."

"Gimana kamu nggak bisa menjawab soal-soal mudah itu sedangkan guru privat kamu sendiri yang bilang kalau kemampuan kamu udah melewati Bab pelajaran yang seharusnya, Vero?!," sentakan dari Genandra membuat Vero mati kutu.

"Terus, sekarang kembaran kamu dimana hah?! Kok nggak pulang bareng kamu?."

Dalam hati Vero mengumpat. Sial. Selalu dia yang menjadi tameng untuk Varo. "Oh kalau Varo ada tugas kelompok sama Reihan, Pah."

"Nggak usah cari alasan buat lindungin saudara kamu itu!."

"Vero nggak cari alasan kok Pah. Kalau nggak percaya tanya aja sama Reihan."

Lima menit berlalu begitu saja. Ketiga orang disana sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai suara berat Genandra membuat detak jantung Vero membrutal detik itu.

"Kalian udah nggak bisa lagi Papa percaya. Satu-satunya cara biar kalian berhasil, dan Varo mudah diatur....Papa bakal pisahin kalian."

"Pah-."

"Kamu tetap disini. Varo pindah keluar negeri. Biar ikut sama Uncle nya disana."

Vero menggeleng pelan. Ada retak didalam bola mata itu yang ia pertahankan. Tidak, ini tidak benar. Dan tidak adil untuk Varo. Disini, mereka tidak pernah punya tempat untuk menyuarakan isi hatinya. Bagaimana jika Varo tinggal dengan Uncle yang mereka kenal mempunyai watak bagaikan psychopat itu? Uncle Jeck yang pernah menyiksa mereka waktu kecil, hanya karena hal sepele. Dan kejadian itu masih melekat utuh dibenak keduanya.

Tanpa ketiganya menyadari, ada netra yang mengamati. Merekam sejak suara putusan Genandra mengisi hening yang sempat tercipta. Tanpa ia sadari, tangannya meremat jaket yang ia bawa. Pandangannya perlahan mengabur tak kala embun dimatanya perlahan berubah menjadi buliran bening yang luruh kepipi.

"Nggak bisa gitu dong Pah! Vero nggak mau kalau harus tinggal pisah sama Varo."

"Nggak ada alasan. Ini keputusan mutlak Papa!."

Miranti yang sedari tadi hanya menjadi pendengar tanpa ikut andil mengambil keputusan, kembali membuka suara ketika menangkap punggung yang kini hilang ditelan pintu.

"Varo! Mau kemana kamu?!."

Dan detik itu jantung Vero kembali bertalu talu. Tatapannya kosong kearah pintu yang sudah meninggalkan jejaknya disana.

Lo, denger semuanya Var?, batin Vero.

...)(...

Jari jemari itu bergerak lincah, merangkai kata demi kata. Di temani secangkir teh hangat juga biskuit. Mendengar alunan musik dari aerphonenya. Malam yang dingin namun terasa hangat ketika suasana hujan tiba itu sedikit menaikkan moodnya untuk menulis.

"Zoya, makan dulu. Nanti dilanjut nulisnya."

Zoya melirik Nenek sebentar. Lalu kembali fokus kedalam imajinasinya. "Nanti dulu Nek, belum lapar."

"Udah shalat maghrib?."

"Udah."

Nenek Zoya hanya bisa menghela napas. Kalau sudah seperti ini, percuma mengingatkan Zoya untuk makan. Bagi cucunya itu kalau sudah masuk kedalam imajinasi atau dunia halunya tidak akan pernah bisa diganggu gugat. Karena itu, Nenek kembali menutup pintu. Membiarkan Zoya yang masih asyik didunia nya.

Zoya mendengus sebal, dering dari gawainya yang berulang kali berbunyi itu membuatnya tak bisa fokus. Sampai detik membawanya larut dalam setiap ejaan pesan teratas membuat pikirannya melayang jauh.

|| Rooftoop Sekolah lagi sepi nih kak.

|| Kak Zoya nggak mau kesini?

||  Buat temuin Varo terakhir kalinya

Detik itu pikiran Zoya kacau. Memory akan dirinya bertemu Varo dipinggir jalan waktu itu kembali melintas. Mengajaknya untuk menyelami setiap perkataan yang mereka berdua bicarakan.

"Andai bunuh diri nggak dosa..."

"Mau bunuh diri?!."

"Gih bunuh diri! Ntar gue rekam....Buat kenangan."

"Kak Zoya?."

"Hm?! Ck, gimana...jadi nggak BUNDIR nya?!,"

Dan ingatan bagaimana insting Zoya melihat anak itu secara dalam. Ketika Varo mengatakan bahwa dia yatim piatu, juga pertengkaran Varo berasama saudaranya, juga keinginan Varo masuk Warios sudah membuktikan bahwa ada yang tidak beres dengan adik kelasnya itu.

Jari jemari Zoya dengan cepat mengetikkan balasan. Namun nomor itu kini berubah status menjadi offline, dan itu membuat jantung Zoya mendadak menggila. Tidak mungkin kan Varo mengiriminya PAP itu untuk memberitahu bahwa dia akan bunuh diri?

^^^Lo ngapain malam-malam dirooftoop sekolah? ||^^^

^^^Heehh jawab!!! ||^^^

^^^Varo, lo ngapain disana? ||^^^

^^^Nggak usah bikin masalah deh, pulang nggak?! ||^^^

Dengan cemas Zoya menunggu agar centang satu itu berubah menjadi centang dua. Namun menit berlalu sia-sia. Tidak ada respon setelah Varo memberinya pesan juga foto yang jelas-jelas diambil dari Rooftoop Sekolah.

"Sial, bikin gue nggak tenang aja nih anak," dumel Zoya sembari mengambil kunci motornya. Lalu bergegas keluar kamar tanpa peduli suara Nenek yang meneriakinya.

Sepanjang perjalanan ditemani rintik hujan yang masih setia membasahi bumi, ada detak jantung yang lepas ketenangannya.

Raut wajah Zoya semakin tegang tak kala melihat motor yang ia kenali terparkir didepan gerbang. Dan hal yang semakin membuatnya kesal, saat memegang gembok gerbang yang masih ada ditempatnya. Lalu, bagaimana anak itu bisa masuk kedalam?

"Sial kenapa digembok segala sih?!."

"Nih anak juga ngapain disana malam-malam?," gerutu Zoya memandang gedung tinggi didepannya. Lalu beralih mengamati keadaan sekitar agar menemukan cara masuk kedalam.

Manik matanya tepat berhenti diujung dinding yang mengelilingi sekolah. Terdapat satu pohon mangga yang cukup tinggi. Tanpa berpikir lebih lama, Zoya berlari kearah pohon itu.

"Awas aja ya kalau lo nggak ada di atas sana!."

"Gara-gara lo gue rela manjat pohon! Hujan-hujan lagi," dumel Zoya sembari berusaha memanjat. Bahkan ini kali pertamanya memanjat pohon. Sial, mimpi apa dia semalam sampai rela melakukan ini?

Bugh

"Awwhh..."

Suara yang terdengar ngilu juga ringisan Zoya tak mengalahkan derasnya hujan yang semakin lebat.

"VAAROO LO DIMANA BEGO IHHH!!!."

"AWAS AJA YA LU KALAU KETEMU, HABIS LU SAMA GUE!."

Teriakan Zoya menggema, melebur bersama derasnya hujan malam itu. Langkahnya tertatih menuju Rooftoop yang Varo fotokan.

Setelah lama menahan nyeri dipergelangan kakinya, Zoya sedikit lega saat pintu rooftoop itu terbuka. Berarti benar dugaannya, Varo masih ada disana.

Mata Zoya melebar sesaat pandangannya menangkap sosok itu berdiri diatas dinding pembatas. Tubuhnya serasa kaku, bahkan untuk melangkah mendekat saja terasa ada paku yang menancap dikakinya. Dengan susah payah ia berusaha mengeluarkan suaranya yang tiba-tiba saja tercekat.

"Va-Varo," lirih, namun berefek ketika kepala itu perlahan menoleh kebelakang.

Zoya menggeleng pelan berulangkali. Menatap penuh isyarat kedalam mata kelam itu. Dan tak menyadari, dibalik guyuran hujan ada buliran air yang juga menetes keluar dari netra coklatnya.

Senyum itu tak lagi mengembang sempurna, tak ada lagi senyum yang biasa Zoya lihat. Kali ini, senyum itu terasa menyakitkan dimata Zoya.

"Jangan lakuin itu," ucap Zoya mati matian menahan detak jantungnya yang sudah tak terkontrol lagi. Bahkan dinginnya air hujan yang serasa menusuk tulang itu, tak lagi bisa dirasakannya. Juga nyeri yang sempat ia rasakan dipergelangan kaki.

"Pliss turun, Varo!."

...♡♡♡...

...HOLAP HOLAAPP👋...

...LIKE & KOMEN YAAA...

...Jangan jadi siders, okey?!...

...SEE YOU NEXT CHAP...

...LOVE YOU ALL FRIENDS😘...

^^^Tertanda^^^

^^^Naoki Miki^^^

1
Fadiylah19
andai aja cerita ini d lanjut😟😟😟
Dheana Rabbani Alghozy
kapan update lg author?
leeshuho
woahh ak mmpir thor slm dari North pole couple ❤️,btw bucin nya ank SMA klau di fiksi rumit batt ya😆,
leeshuho
so sad klau bda nya kek gini🤧
Ganis Khanne
kok lama sih up nya
Aprilia Desi
next Thor, jangan lupa mampir diceritaku ya kk 🤗
Echa zaaaa
Hai, yg masih setia nunggu klnjutan cerita ini, maaf ya, ini akun ku kedua, lupa sandi jadi nggk bisa masuk akun ku yg desputri

sekali lagi maaf ya nggk bisa lanjut
cry:(
mociiii
next thor 🤗
Umaymay Sifa
lama nya update🙄
Umaymay Sifa: iya ditunggu2 gak muncul2
total 2 replies
Echa zaaaa
Ini nggk lanjut? Beneran nggk mau ditamatin thor?
Umaymay Sifa
ihhh kok gak update lagi kk
Naoki Miki: Tunggu sbentar lagi ya, Kak
ini masih updte cerita sebelah 'Awan sang Biru'
total 1 replies
Fadiylah19
bentar bentar aq msih loading inih pas d akhir gmna sih mksudnya 🙄🙄aaaaahhh dripda bingung mnding lanjut lagi lah thor,,yo semangat yo✊✊✊🥰🥰🥰
Ika Sartika
ada ada aja
oom komalasari
yuch double yuch .🤩🤩 jgn lama lama Kaya nunggu di Lamar Sama ayang nya orang🥲
sya-sha
sabar y varo
Umaymay Sifa
iihhhh..... pura pura lupa ingatan... tapi lucu juga sih gk ingat sama vero dan mama miranti, tapi ingat zoya eh malah tunangan.. dasar varo modus😂😂kasihan ya varo masih belum d akui sama keluarga ny.. klo dia pindah keyakinan. semangat varo💪
Dheana Rabbani Alghozy
diih...pura² lupa😂😂

modus ke zoya itu😝

tp...varo ngelakuin itu karena denger ucapan mama miranti itu
Intan Lpg
nah kannn betull,, feeling ku varo g'bner" amnesia Dy hnya pura" ehhh beneran..🤣🤣
lagiii Thor
haa
semangat thorrr
Echa zaaaa
Sakitnya smpe sini:(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!