Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Pertengkaran Keduanya
Kebiasan mahkluk tanpa pandang bulu membunuh siapapun yang ada di sekitarnya, mau kecil ataupun besar ukuran mahkluk itu. Tubuhnya keras sekeras besi terkuat dimuka bumi ini, karena penciptanya membuat tubuhnya dari besi terbaik yang ditambang bertahun-tahun yang lalu. Bahkan dari informasi yang ada besi itu hanya sedikit di dunia ini.
Bisa menyerap sihir disekitarnya dan mengeluarkan petir membuat siapapun yang menyentuh tubuhnya disengat listrik, pedang atau apapun itu akan hancur ketika menghantam tubuhnya.
"Sangat mengerikan.. Huhh.." Artha menghela napasnya panjang menatap langit memandangi bulan merah.
***
"Kami kembali!" Teriak Vlad berwajah ceria. Guru pembimbing mereka datang, tatapannya terfokus pada seorang gadis di punggung Satriaji yang tengah tidak sadarkan diri. Ketiganya pergi ke tenda tim medis, sesudah meninggalkan gadis itu ke tenda tempat pengobatan Satriaji dan guru pergi kecuali Vlad yang menemaninya.
Satriaji bertanya soal apa yang mengganjal di pikirannya. Mengenai mengapa dirinya selalu berhadapan dengan hal baru, tak seperti kelompok lain yang berburu hal yang sama berulang kali dan paling tidak kelompoknya selalu menemukan hal baru semenjak datang kemari.
Guru menunjuk ke langit. Melihat ke arah jarinya mengarah kemana, Satriaji menyipitkan mata melihat Drone yang sedang terbang dan jumlahnya bukan hanya satu melainkan puluhan.
"Untuk apa itu ?" Satriaji melirik gurunya.
"Kami menemukan jejak kaki seperti manusia, dan karena mungkin mereka menganggap kita sebagai musuh maka diperlukan orang yang kuat.."
"Secara tidak langsung, guru meminta kami kelompok yang paling kuat begitu ? Bagaimana jika elf itu bangun dan menyerang kami dengan sihir yang kuat ?" Tatapannya mengeras. Guru hanya bisa memalingkan wajah sembari terlihat tertekan, sudah lama ia tidak mendapatkan tatapan dari muridnya yang seperti itu.
Perintah tetaplah perintah. Dirinya hanya melakukan tugas, sekalipun itu Satriaji yang menolak ia tidak bisa langsung mengangguk dan merubah tugas yang sudah disediakan oleh atasannya. Guru pembimbing hanya nama, pada akhirnya ia seorang pemburu yang sudah pensiun sejak lama dan belum menginjakkan kaki di tanah baru ini. Hanya berburu monster yang menyelinap masuk ke bumi.
Menyaksikan murid yang mempertaruhkan nyawa satu-satunya membuatnya kesal. Sudah seperti alat untuk bertahan dari ancaman, mereka hanya bisa mengangguk di hadapan jutaan nyawa jika mengabaikan ini semua dan melemparkan tanggung jawab pada tempat sampah.
Guru menoleh ke samping berkata, "sepuluh menit lagi kalian akan membu---tidak, memastikan suatu di lokasi yang sudah ditandai pada peta."
"Katakan saja yang jujur, kami akan menerimanya walau meskipun hanya dijadikan umpan atau apapun itu.. demi negara ini," ucap Satriaji menatapnya sinis terhadap gurunya sendiri. Dia melangkah pergi meninggalkan gurunya sendiri.
***
Sementara itu Vlad dalam tenda menatap wajah gadis di ranjang, senyumannya itu sangat lebar dan terlihat seperti penjahat yang tengah mengincar mangsa. Sesaat setelahnya gadis berambut pirang ini bangun. Dia melihat pemandangan yang baru, matanya melirik ke sisinya melihat lelaki yang tidak dikenalinya.
Mulutnya terbuka mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar jelas sehingga Vlad menunjukan keheranan. Dia mengambil kertas di meja, memberikan pena beserta kertas tersebut memintanya untuk menuliskan apa yang dikatakannya barusan.
"A-Apa kau mengerti ?"
"Menulis.."
"Ya be-- tidak, tidak usah.. ah ya bagaimana kau bisa pingsan di hutan ?"
"Pingsan ? Apa itu ?" Gadis ini mencoba bangun dari ranjang.
"Maksudku tertidur tak sadarkan diri." Vlad berkeringat. Gadis ini menatap tangannya, hanya untuk beberapa saat ia membuka mulutnya menganga sebentar dan turun dari ranjang keluar dari tenda mendapati banyak hal yang buatnya kaget tidak main.
"Manusia ?! Apa yang..!" Matanya terbuka lebar. Dia mundur beberapa langkah, masuk kembali ke dalam tenda dan mendapatkan Vlad lagi dalam tenda tengah menatapnya agak tajam. Gadis ini terlihat seperti agak ketakutan serta bersiap siaga. Mendadak, seseorang muncul dari belakang mengambil kedua tangan lalu mematahkan kedua kakinya sekali tentang.
"Arrgghh!" Teriak gadis ini.
"Satriaji, apa yang kau lakukan ?!" Bentak Vlad mendekatinya dan membangunkannya. Bukan hanya mematahkan kakinya, niatnya untuk membunuhnya bergejolak tinggi sampai di kedua tangan telah tampak pedang biru bersinar terang dan tatapan matanya mengeras.
Vlad juga mengambil senjatanya setelah menyadari ancaman darinya. Namun, tanpa peringatan sedikitpun Satriaji menghilang dari pandangannya berpindah tempat ke belakang dalam sekejap mata segera menendang temannya menghancurkan tenda dan menerbangkan debu akibat Vlad terpelanting jauh ke luar.
Semua tentara tidak menghentikannya begitu juga Artha melihatnya dari kejauhan. Sedangkan Vlad melemparkan pedangnya, bilah pedang itu menusuk tangan Satriaji sampai mengeluarkan darah yang banyak. Mereka berdua saling menatap.
"Begitu.." lirih Satriaji pelan. Dia menghilang seperti sebelumnya, meninggalkan partikel biru di sekitar tempatnya berpijak terakhir kali dan Vlad mencoba untuk tidak melupakan bagian belakangnya maka ia menyender pada pohon. Dari kejauhan Satriaji membidik menggunakan senapannya.
Suara tembakan terdengar jelas. Vlad refleks memukul tanah membuat dinding tanah melindungi gadis elf tersebut, merasa itu sudah cukup melihat kelakukannya Satriaji melakukan teleport lagi ke atas kepala Vlad dan mendaratkan tendangan tepat di mukanya.
Artha yang muak. Dia menarik tangan Wiyanti di sampingnya, memotong jari tangan menggunakan pisau ia melemparkan jari tangan itu dan keluar rantai dari tanah yang terkena cipratan dari darah yang keluar dari jari itu. Rantai itu melata bagai ular mengikat kedua kaki temannya dan mencengkram sehingga tulang mereka patah sama seperti perempuan itu tadi.
"Artha.. kenapa terburu-buru, kita bisa lakukan nanti malam, aku tak ada persiapan.." lirih pelan Wiyanti dekat telinga Artha membisik.
"Jangan mengatakan hal yang aneh, ini darurat!" Artha membentaknya sekeras mungkin. Dalam hitungan detik para tentara membawa mereka bertiga untuk di obati, sedangkan Artha menghembuskan napas menatap gadis yang tengah tak sadarkan diri lagi akibat Satriaji. Anak remaja yang tidak ingin ada yang meninggal lagi segera mengambil tindakan.
Meskipun begitu, Artha tidak yakin kalau elf melakukan itu semua demi kebaikan sendiri tanpa mempedulikan ras lain yang ada di dunia ini apalagi musuh mereka bukan naga melainkan manusia. Yang menguasai dunia.
"Kalian bodoh sekali."
"Ras serigala juga tidak melakukan hal buruk semacam itu, tuan ?" Wiyanti lagi-lagi berbisik.
"Drama yang memuakkan sekali yakan Wiyanti ?" Artha melirik kekasihnya. Gadis ini hanya mengangguk sebagai jawaban. Hari yang melelahkan, mereka berdua melewati perkemahan masuk ke dalam hutan kemudian mereka melihat portal biru dan keduanya masuk ke dalam.
Tidak ada yang melihat itu. Semua terfokus pada ketiga orang sebelumnya, dua orang yang bertengkar sebelumnya tengah di obati. Satriaji masih kelihatan penuh amarah. Sedangkan Vlad sendiri berkeringat, ia menoleh pada teman satu kelompoknya akan tetapi pandangan penuh kekecewaan yang mendalam, balasan dari Satriaji membuatnya terdiam tidak berkata apapun dan hanya membatu memikirkan apakah dia salah atau benar ?
tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja
yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"
apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?