Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENCARI JAWABAN
Mona terlihat sudah lebih baik. Luka bekas operasi di tubuhnya sudah mengering. Mona sering menghabiskan waktunya di ruang keluarga untuk menonton TV atau sekedar mengobrol bersama Almahyra.
Akhir-akhir ini Al terlihat sering melamun jika sedang sendiri. Pikirannya sangat kacau setiap kali mengingat permintaan Mona. Al tidak tahu apakah dia akan sanggup berpisah dengan darah dagingnya.
Setiap gerak gerik Al tidak pernah luput dari perhatian Kenzo. Kenzo merasakan perubahan sikap Al. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil langkah. Kenzo ingin melihat ada apa antara Al dan Mona sebenarnya.
"Al, aku memesan puding buah untukmu." Mona datang ke kamar Almahyra sambil membawa sekotak puding buah.
Al meletakkan alat lukisnya lalu berjalan menghampiri Mona.
"Terimakasih, Kak Mona. Kebetulan aku sedang lapar." Al meraih sebuah kotak puding buah dari tangan Mona.
"Ayo kita makan!" Mona duduk di samping Al untuk memakan puding yang sama.
"Emm... enak sekali, Kak. Aku akan mencoba membuatnya besok." Al sangat menyukai puding pemberian Mona.
"Aku akan memesannya lagi untukmu jika kamu mau, Al. Temanku memiliki resep khusus untuk membuat puding yang lezat." Mona terus mencari perhatian Al.
"Pantas saja rasanya sangat enak." Al memakan puding itu hingga habis.
"Beristirahatlah, Al. Jaga anakku dengan baik." Mona meletakkan pudingnya lalu mengusap perut Al dengan lembut.
"Aku akan beristirahat setelah ini, Kak." Al tersenyum senang mendapat perhatian Mona namun hatinya terasa nyeri. Ada rasa tak rela mengingat anaknya akan di ambil oleh Mona setelah lahir.
"Siang Al, Mona!" Kenzo berjalan masuk ke kamar Al.
"Siang!" jawab Mona dan Almahyra bersamaan.
"Al, tadi aku membelikanmu rujak. Tadi aku suruh Mbak Mita menyimpannya di kulkas." Kenzo melipat tangannya di dada sambil bersandar di dinding di dekat pintu.
"Terimakasih, Paman. Aku akan memakannya nanti. Sekarang aku masih sangat kenyang. Tadi kak Mona membawakanku puding buah." Al menunjukkan kotak pudingnya yang sudah kosong.
"Oh, iya. Terimakasih, Mona. Aku senang melihat kalian bisa akur sekarang," ucap Kenzo masih di posisi yang sama.
"Sama-sama. Itu bukan hal yang besar. Kalian mengobrolah, aku ingin kembali istirahat." Mona berdiri dan membawa sisa puding miliknya.
"Bagaimana lukamu, Mona?" tanya Kenzo ketika Mona berjalan melewatinya.
"Sudah mulai mengering. Beberapa hari ke depan pasti akan pulih." Mona berhenti sejenak lalu kembali berjalan.
"Syukurlah. Jangan lupa minum obatnya!" ucap Kenzo mengingatkan.
"Tentu!" Mona terus berjalan tanpa menoleh lagi.
Kenzo menutup pintu kamar Almahyra lalu berjalan mendekatinya. Dia ingin menanyakan sesuatu hal penting kepadanya. Kenzo sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Apa aku mengganggu istirahatmu, Sayang?" Kenzo duduk di samping Almahyra.
"Enggak kog, Paman. Aku juga belum ngantuk. Puding yang aku makan pasti juga belum turun." Al memegang perutnya yang sudah mulai terlihat buncit.
"Apa kabar anak papa? Jangan nakal ya, di perut mama! Maaf akhir-akhir ini papa sibuk sendiri dan jarang mengunjungi kalian. Tapi papa selalu menyayangi kalian." Kenzo mencium perut Al beberapa kali. Al merasa sangat terharu dengan perlakuan Kenzo.
"Terimakasih papa sudah bekerja keras untuk kami." Al mengusap kepala Kenzo yang masih betah menempel di perut Al.
"Al, aku ingin tanya sesuatu padamu. Aku harap kamu bicara jujur padaku." Kenzo kembali duduk.
"Ada apa, Paman? Apakah aku berbuat kesalahan?" Al menatap Kenzo serius.
"Bukan. Aku nggak berpikir begitu. Aku hanya ingin tahu kenapa Mona tiba-tiba bersikap baik padamu. Aku takut kamu menyembunyikan sesuatu dariku." Kenzo memberi Al tatapan menyelidik.
"Paman bicara apa, sih. Aku sama kak Mona memang sudah berbaikan. Nggak ada yang aku sembunyikan dari Paman." Al berusaha menutupi kegetirannya. Dia tidak ingin Kenzo tahu tentang semua rencana Mona.
"Aku takut Mona menyakitimu lagi, Al. Berhati-hatilah padanya! Jaga anak kita dengan baik!" Kenzo menarik tubuh Al ke dalam pelukannya.
"Aku akan selalu menjaganya, Paman. Anak kita akan tumbuh sehat dan lahir dengan selamat." tanpa sadar airmata Al menetes. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah anaknya lahir nanti.
"Kamu menangis, Al?" Kenzo mengangkat wajah Almahyra.
"Aku hanya terharu saja, Paman. Aku beruntung memiliki suami sepertimu." Al menutupi kesedihannya.
"Ya sudah. Sekarang kamu harus istirahat. Aku akan menemanimu." Kenzo membawa Al ke tempat tidur. Dia menemaninya hingga benar-benar terlelap.
Kenzo melepaskan pelukannya dan pergi diam-diam dari kamar Al. Dia masuk ke dalam ruang kerja pribadinya. Dia seperti sedang mencari sesuatu yang dia simpan di sana.
Kenzo tersenyum setelah menemukan apa yang ia cari. Dia membawa sebuah kotak berukuran sedang ke atas meja. Kenzo membuka kotak itu dan melihat isinya. Dia kembali tersenyum.
Rupanya kotak itu berisi kamera pengintai berukuran mikro buatan Jepang. Dia sudah lama membelinya tapi belum pernah sekalipun menggunakannya. Alat itu masih baru.
"Maafkan aku Al. Aku ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Aku nggak bermaksud untuk memata-matai kalian." Kenzo menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia tahu Al pasti akan marah jika tahu tentang kamera ini. Kenzo harus memasangnya diam-diam agar tidak ketahuan.
Sepertinya ini saat yang tepat untuk beraksi. Mona sedang tidur di lantai atas, Kenzo memasang beberapa kamera di lantai bawah dan di kamar Al. Kenzo harus pura-pura mengambil sesuatu untuk memasang kamera di kamar Mona.
"Beres. Tinggal menunggu hasilnya." Kenzo kembali ke ruang kerja pribadinya dan melihat pantauan kamera melalui laptopnya. Dia juga menghubungkannya dengan perangkat lunak di ponselnya. Kenzo tersenyum senang melihat alat itu mulai bekerja.
Rasa mengantuk menyerangnya siang itu. Kenzo pergi ke kamarnya lalu tidur. Dia merasa lebih tenang sekarang.
Hari-hari berlalu seperti biasanya. Tidak ada yang tahu ada kamera tersembunyi yang selalu mengawasi mereka. Kenzo mencoba bersikap biasa. Akhir-akhir ini dia lebih sering berada di rumah sakit karena harus memegang beberapa pekerjaan penting Mona juga.
Belum ada kejanggalan yang terjadi meskipun sudah beberapa kali melakukan pengecekan hasil pengintaian. Apapun hasilnya dia ingin Almahyra dan bayinya tetap aman. Kenzo sangat takut Mona melakukan hal yang buruk pada mereka.
"Paman, nanti siang aku akan mengantar kak Mona ke rumah sakit untuk chek up." Al berbicara di sela-sela menyiapkan sarapan.
"Em, kira-kira jam berapa? Nanti aku temui kalian." Kenzo membetulkan kacamatanya lalu kembali melihat ponselnya.
"Sekitar jam 10 kami berangkat." Al duduk di depan Kenzo setelah memberikan sarapan untuk Kenzo.
"Baiklah. Nanti kamu sekalian chek kandungan kamu juga, Al. Aku akan menemanimu." Kenzo mulai memakan sarapannya.
"Baik Paman," jawab Al singkat.
"Kamu nggak sarapan Al?" melirik Almahyra yang terus menatapnya.
"Aku mau nunggu kak Mona bangun, Paman. Al juga masih kenyang habis minum susu sama makan biskuit." Al tersenyum.
"Oh." Kenzo kembali melanjutkan sarapannya. Dia sangat beruntung memiliki istri seperti Al. Al begitu perhatian padanya dan tidak pernah dendam pada Mona meski sering menyakitinya. Namun Kenzo merasa sedih mengingat dia telah menempatkan gadis kecilnya itu dalam hubungan yang rumit.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo