Perjalanan hidup memang sangatlah rumit. Sanu, gadis cantik berambut keemasan memikul pundak untuk membahagiakan adik dan ibunya. Bekerja di Ibu Kota dari pintu satu ke pintu yang lain. Dari semangat menjadi letih dan mengeluh. Tapi, Sanu tidak pernah menyerah, demi sebuah impian.
Seorang pria yang mencintai Sanu, dengan diam membantunya. Bari, satu pekerjaan dengan Sanu. Salah satu alasan Sanu bertahan di perusahaan MLM.
Saling membantu, ada persahabatan, ada kekecewaan, pengorbanan dan juga ada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris pujiono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pitcing berdua.
Pagi yang masih gelap Sanu dan Rina sudah rapi dengan pakaian dinasnya. Sanu memakai baju pemberian dari Bari. Sanu terlihat suka warna dan motif batik yang Bari pilih untuknya.
"Baju kamu bagus, Sanu? Dapat hadiah kemarin ya?" tanya Rina.
Sanu tersenyum sambil mengangguk.
"Setahuku yang memberi hadiah kamu baju cuma kak Bari?" Rina mulai menggoda Sanu.
Sanu yang sedang minum pun tersedak hingga menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya.
"Aku tidak tau, Rina. Kalau baju ini dari kak Bari," alasan Sanu.
Sanu langsung menutup pintu lalu pergi ke kantor sebelum Rina semakin memojokannya. Sanu baru teringat satu-satunya trainer yang memberi hadiah Baju cuma kak Bari.
Sanu berjalan sambil menepuk-nepuk keningnya.
"Sanu!" Panggil seseorang dari kejauhan.
Sanu menoleh ke sumber suara. Itu Bari, tersenyum kepada Sanu. Dada Sanu berdegup dengan kencang saat Bari mendekatinya.
"Pagi Sanu," sapa Bari.
"Pagi, Kak."
"Bareng, yuk."
Sanu mengangguk dengan malu. Sanu dan Bari berjalan beriringan.
Pak Nazar seperti biasa menyapa anak kantor di depan pintu gerbang.
"Pagi Sanu ...." Sapa pak Nazar.
"Pagi pak Nazar." Sanu melakukan tos tangan atau juice.
"Ikut aku ke lantai dua." ajak pak Nazar.
Sanu mengikuti langkah pak Nazar menuju lantai yang bercorak papan catur itu, hitam dan putih. Sanu duduk bersila berhadapan dengan pak Nazar.
"Sanu, kamu kan sudah MD. Jadi saya ingin memberi tau tentang sistem di perusahaan ini." Pak Nazar tampak serius.
Sanu mendengarkan pak Nazar dengan seksama.
"Pak Nazar tau, selama ini kamu pasti bertanya dalam hati bagaimana sistem gajinya. Perlu kamu tau Sanu di sini tidak ada gaji Sanu. Sistem perusahaan ini hanya bagi hasil dan karir."
"Maksud Pak Nazar?" Sanu butuh penjelasan yang lebih detail.
"Jadi kita hanya dapat delapan puluh lima ribu dari penjualan satu alat.Tapi kamu tidak perlu khawatir Sanu. Kamu selamanya juga tidak akan jadi MD, jika kamu serius di sini kamu juga akan bisa menjadi Manager seperti saya, Pak Haris dan Manager yang lain di sini. Mereka itu dulunya juga mengalami proses seperti kamu. Di tolak-tolak sama castamer. Tapi Karena mereka bersungguh-sungguh akhirnya saya dan lainnya jadi Manager. Kalau kamu jadi manager Sanu. Seminggu Kamu bisa dapat lima sampai enam juta. Syaratnya kamu kerja keras dan harus mengumpulkan crew." Pak Nazar mencoba membuka pola pikir Sanu.
Jujur Sanu sedikit kecewa dengan penjelasan pak Nazar. Sanu pikir Kerja di kantor ini bisa dapat gaji perbulan. Sanu butuh uang untuk mengirim Ibu dan adiknya yang masih kecil. Ibu Sanu sudah berkorban menjual cincin pernikahan agar Sanu bisa berangkat ke Ibu kota.
Pak Nazar menatap tajam ke arah Sanu. " Pak Nazar yakin kamu bisa jadi Manager, Sanu. Asalkan kamu fokus di sini. Saya akan bantu kamu sekuat tenaga agar kamu jadi Manager."
"Tapi Sanu butuh uang untuk mengirim ibu dan adik Sanu yang ada di kampung, Pak Nazar."
"Kamu di lapangan kerja keras, konsisten saja membuktikan hukum rata-rata setiap hari, pasti kamu bisa mengirim uang ibu kamu di kampung. delapan puluh lima ribu kali sebulan berapa?"
"dua juta enam ratus," jawab Sanu.
"Itu kalau kamu bisa jual Satu kalau dua, gede Sanu!" Sepertinya pak Nazar memang pandai membuka pola pikir seseorang.
Sanu mengangguk penuh semangat. "Baik pak Nazar, Tolong bantu. Aku akan berusaha sekuat tenaga.
Sanu dan pak Nazar melakukan juice atau tos tangan sebagai tanda penyemangat.
"Oiya ... Pak Nazar, bagaimana caranya menjadi trainer."
"Kamu harus konsisten dua mingu berturut turut Sanu. Minimal satu minggu alat kamu bisa terjual 7 pcs.
Sanu mengangguk dengan yakin, memantapkan hatinya untuk bertahan di sini.
"Hari ini kamu pitcing dengan Bari. Kamu amati caranya dia pitcing, lalu kamu implementasikan ke diri kamu," ucap pak Nazar.
Pak Nazar belum tau kalau setiap kali bertemu dengan Bari jantung sanu berdegup kencang. Sanu mengambil alat di gudang, disana sudah ada banyak karyawan yang mengantri berebut mengambil alat. Trainer membawa dua alat yang masih baru beserta testernya. MD membawa satu alat baru beserta testernya.
Bari sudah menunggu Sanu di depan kantor.
"Kita pitcing di dekat taman mini, Sanu," ucap Bari.
Sanu mengangguk saja mengikuti apa kata Bari.
Seseorang menepuk pundak Sanu dari belakang yang membuat Sanu terperanjat.
"Semangat ya, Sanu." Rina menepuk pundak Sanu dengan wajah menyeringai.
"Ihh ... apaan sih kamu, Rina." Rina tidak terlalu mempedulikan ucapan Sanu. Dia melambaikan tangan sambil berjalan menjauhi Sanu.
"Ayo Sanu." ucap Bari.
Di angkot, Sanu dan Bari duduk berhadapan di kursi paling belakang. Mereka berdua saling diam terbawa oleh pikiran masing-masing. Tiba-tiba Bari menepuk lengan Sanu.
"Sudah sampai."
Sanu terbangun dari lamunannya, mengikuti langkah Bari turun dari angkutan umum. Bari mendekati Sanu mencoba berjalan beriringan.
"Nanti kita fighting ya, Sanu."
"Iya Kak."
"Baju yang aku berikan ternyata cocok juga ya kamu pakai,"
Sanu mengeryitkan dahi, bertanya dalam hati. "Maksudnya apa Kak Bari bertanya seperti itu?"
Seperti biasa mereka berdua melakukan persiapan di Mushola. Sanu dan Bari sudah mengeluarkan pulpen dan selembar kertas list castamer.
Mereka berdua pitcing dari pintu ke pintu sampai sore.
Hari ini Sanu tidak bisa membuktikan hukum rata-rata, padahal castamer yang di terapi melebihi jumlah goal Sanu. Bari mencoba memberi Evaluasi kepada Sanu.
"Berapa yang kamu terapi hari ini, Sanu?"
"Dua puluh orang, Kak?"
Bari lalu melihat buku list castamernya Sanu.
"Hari ini yang ingin diterapi lima belas orang terealisasi dua puluh orang. Sudah melebihi target dong."
Sanu mengangguk.
"Mungkin kamu hari ini terburu-buru, Sanu. Pitcing itu tidak bisa terburu-terburu. Kita butuh ketenangan supaya castamer tidak bisa membaca mimik wajah kita."
"Siap, Kak."
"Aku yakin kamu bisa, Sanu. pelajari lagi sistem di kantor ini."
Sanu mengangguk. Bari melihat jam yang ada di tangan kirinya. pembacaan orang yang berprestasi masih lama. Bari berinisiatif mengajak Sanu ke atas rooftop.
"Kita ke atas, Sanu. Sambil melihat pemandangan.
Sanu membulatkan mata, Sanu menganggap perhatian Bari kali ini tidak biasa. Tapi Sanu merasa gembira saat Bari menarik tangannya menuju rooftop. melihat pemandangan Ibu Kota dari atas. Angin bertiup lembut menyentuh kulit mereka berdua. Udara di atas terasa sejuk dari pada di bawah, penuh dengan orang yang merokok.
"Kak Bari, aku boleh tanya?"
"Tanya apa, Sanu."
"Kenapa Kak Bari mau kerja di sini, padahal di kantor ini, kan tidak ada gajinya."
"Apa kamu benar-benar mau mendengar penjelasanku.