Hai,
Ini merupakan karya pertamaku, mohon dukungannya ya dengan cara like, love, vote dan komen sebanyak-banyaknya.
Kasih juga ya hehehe.
❤️❤️❤️❤️❤️
Anyelir, gadis yatim piatu yang cerdas dan cantik. Tapi sayang nasibnya tak secantik rupanya. Ia harus rela mengubur impiannya untuk bekerja keras demi sang Nenek tercinta yang sedang sakit.
Kehormatan nya direnggut secara paksa oleh seseorang yang mempunyai pengaruh di tempatnya bekerja.
Ken, anak dari pengusaha kaya raya. Hidupnya tidak tenang, selalu dihantui rasa bersalah setelah malam kejadian ia merampas kehormatan salah satu karyawannya.
Elena, seorang gadis manis yang sangat hebat. Diusianya yang masih kecil ia memiliki bakat melukis serta bermain biola. Disamping kelebihannya, Elena merupakan gadis yang pendiam, saking diamnya sampai-sampai ia tidak mau berbicara. ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan juga note book electric nya.
Akankah mereka bisa bersatu menjadi satu keluarga yang utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinjani Asa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang membuat Elena bahagia
Sudah lewat beberapa hari saat Elena dan Anyelir mengunjungi rumah sakit, tapi Anyelir masih terngiang-ngiang ucapan dokter Leo. Ia pun jadi betanya-tanya dalam benaknya.
Mungkinkah selama ini Elena tidak bahagia?
Anyelir berfikir memangnya apa yang membuat bahagia anak umur empat tahun selain mainan yang banyak, hobi yang tersalurkan, makanan kesukaan, kasih sayang dari... ibunya? Seketika mata Anyelir terpejam erat. Salivanya ia telan secara kasar, dadanya bergemuruh mungkinkah...?
Sejenak ia ingat obrolan ringan dengan Elena tempo hari.
"Elen, Kalo boleh Mama tahu apa sih yang bikin Elen bahagia akhir-akhir ini?" tanya Anyelir sambil memperhatikan anaknya yang sedang menorehkan kuas pada canvas.
Sejenak Elena menoleh ke arah Ibunya, tak lupa ia pun menampilkan senyum manisnya. "Aku senang karna lukisanku dibeli dengan harga yang mahal. 'Kan uangnya bisa buat ditabung, atau Mama mau beli sesuatu?" tanya Elena.
Anyelir tidak yakin Elena menjawab dengan jujur. Anak usia empat tahun tidak mungkin 'kan memikirkan tentang materi? Selama ini keinginan Elena selalu ia penuhi, hidupnya selalu ia cukupi bahkan lebih.
"Kamu yakin hanya itu yang membuat kamu bahagia? Tidak ada yang lain?" tanyanya sekali lagi.
"Ehm....apa ya." Elena membawa ibu jari dan jari telunjuknya ke bawah dagunya sambil menelengkan sedikit kepalanya, ia pun berekspresi seperti berfikir.
"Ah...aku ingat. Aku juga senang karna bisa ikut les biola." ujar Elena bohong.
Ya, tentu saja Elena berbohong. Karena yang membuat dirinya bahagia adalah ia sudah bertemu dengan papanya. Pria yang ia temui di pameran seni ia yakini sebagai papanya. Muka mereka sangat mirip, Elena yakin itu.
Sebenarnya pertemuan pertama dengan papanya bukanlah saat Ken akan membeli lukisannya. Tapi di pameran sebelumnya. Saat ia berjalan dengan Bibi Mary, ia berpapasan dengan Ken dan Elena sempat melihatnya. Tapi ia diam tidak berani bertanya pada Bibi Mary apa lagi Anyelir.
Ia hanya mengingat mukanya dan mencoba menggambar wajah itu saat kelas lukis berlangsung. Saat itu ada seoarang anak yang ingin bertanya pada Elena, tapi karena saking fokusnya Elena pada kegiatan menggambar wajah yang ia yakini sebagai papanya, makanya Elena tidakmerespon. Karena kesal, anak itu mendatangi Elena kemudian merebut gambar itu lalu meremas-remasnya. Kalau masalah gambarnya direbut bahkan dirusak atau dia dikatain anak haram oleh anak itu, tak masalah bagi Elena. Yang membuat Elena berang hingga sampai mendorongnya ke danau buatan di halaman rumahnya adalah anak itu mengatakan bahwa ibunya itu penggoda. Kebetulan sekali Bibi Mary sedang membuat minuman di dapur sehingga tidak bisa melihat kejadian yang sebenarnya.
"Mama."
Panggilan itu membuyarkan lamunan Anyelir. Anyelir menoleh dan mendapati Elena yang sudah duduk di sampingnya.
"Ada apa Sayang?" Anyelir tahu pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Elena.
"Ehmmm...aku boleh nggak minta handphone?"
"Handphone?" Alih-alih menjawab Anyelir bertanya balik.
"Iya handphone Ma. Teman-temanku semua punya handphone Ma. Aku juga mau." Elena berusaha membujuk Anyelir.
"Buat apa Sayang. Kamu masih kecil belum boleh punya handphone sendiri," ucap Anyelir sambil mengusap-usap kepala anaknya. Anyelir memang senang sekali mengusap-usap rambut Elena.
"Buat main game? Atau buat hubungi Mama kalau aku lagi gak sama Mama." Elena sering melihat teman-temannya baik di saat kelas melukis atau pun kelas biola, ia melihat temannya memainkan game di handphone atau ada juga yang sekedar menelpon orang tuanya minta untuk dijemput.
"Kalau main game kan udah Mama sediain, kalau kamu bosan Trus ingin main game di handphone kamu bisa pakai handphone Mama Sayang." jawab Anyelir mencoba memberi tahu Elena.
"Tapi aku ingin punya sendiri Ma." Rengeknya sambil bergelayut manja pada Anyelir.
"Sayang, teman-teman kamu itu usianya di atas kamu Nak. Sedangkan kamu kan baru empat tahun. Nanti kalau Elen udah umur sepuluh tahun baru Mama beliin handphone."
"Yah...masih lama banget dong Ma." Elena berkata sambil memanyunkan bibirnya.
Sebenarnya Elena ingin memiliki handphone agar ia bisa menghubungi Ken. Ia sudah dapatkan nomor handphone Ken saat salah satu staff kreator mendatanginya untuk konfirmasi tentang lukisan.
"Gini aja deh, dari pada mikirin handphone mendingan kalau Elen bosen kita main sepedaan aja di taman gimana?"
Elena tampak berpikir lalu mengangguk. "Boleh deh Ma. Emangnya Mama gak ke kampus?"
"Masih, tapi sekarang jadwal Mama nggak sepadat dulu Sayang. Mama tinggal tunggu wisuda dan kalau pun ke kampus untuk mengajar seminggu hanya 4 kali pertemuan." Anyelir mencoba menjelaskan pada Elena.
"Asyik...Mama jadi sering di rumah deh." Elena melompat kegirangan. "Tapi Bibi Mary balik ke sini lagi nggak si Ma? Aku udah kangen banget."
"Besok Bibi Mary udah kembali kesini lagi. Kamu senang?" tanya Anyelir.
"Senang dong Ma."
Mereka pun tertawa bersama. Elena kembali meneruskan lukisannya tadi yang sempat tertunda. Sedangkan Anyelir ia memilih menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Kali ini Anyelir akan memasak sup iga yang praktis. Ia hanya membutuhkan bahan-bahan seperti iga sapi, tomat, wortel, kentang, daun bawang, daun seledri.
Ia ambil semua bahan yang diperlukan dari kulkas. Ia mulai mencuci iga sapi yang sudah dipotong sesuai selera lalu mencucinya kemudian ia letakan ke dalam panci untuk direbus. Selagi menunggu iga itu empuk, Anyelir mulai mengupas wortel dan kentang lalu dicuci dan di potong-potong dengan ukuran sedang. Setelah iga empuk ia lalu memasukan bumbu yang sudah disiapkan, ditunggu sebentar sampai bumbu itu meresap baru setelah itu dimasukannya wortel dan kentang ke dalam panci. Tutup panci sebentar lalu ia masukan daun bawang, seledri dan juga tomat yang sudah dipotong-potong. Aduk sebentar lalu matikan kompor. Anyelir menyajikan sup iga ke dalam mangkuk, ia buat dua porsi lalu ia taburi bawang goreng di atasnya.
Setelah selesai menata di meja makan, Anyelir memanggil Elena untuk makan malam. Mereka pun akhirnya makan dengan Elena yang makan dengan lahap sampai nambah dua kali.
***
Keesokan paginya Bibi Mary telah kembali dari California. Orang tuanya sudah membaik sehingga sudah bisa ditinggal pulang, tapi masih tetap diawasi oleh perawat.
"Bibi Mary aku kangen." Teriak Elena sambil berlari menuruni anak tangga ketika ia melihat Bibi Mary sudah kembali ke rumahnya.
"Elen, hati-hati Sayang jangan lari-larian," ujar Anyelir saat melihat Elena menuruni anak tangga sambil berlari.
"Bibi juga kangen sama Elen." Bibi Mary pun segera memeluk Elena dengan erat. Ia kemudian menunjukan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado kepada Elena.
"Ini buat aku? Apa ini?" tanya Elena tak sabar.
"Iya. Buka dong."
Elena segera membuka kado itu dengan cepat. Karena tak sabar Elena sampai menyobek kertasnya. Ternyata kado dari Bibi Mary adalah satu set alat lukis. Tentu saja Elena yang mendapatkannya sangat senang.
"Terima kasih banyak Bibi." Ucap Elena yang langsung memeluk Bibi Mary yang duduk didepannya. "Tapi aku kan nggak lagi ulang tahun."
"Memangnya kasih hadiah harus saat ulang tahun aja?" tanya Bibi Mary.
"Enggak sih. Tapi kenapa?" tanya Elena kembali.
"Karena Bibi Mary sayang sama Elena. Bibi Mary mau melihat Elena tersenyum bahagia terus." Kali ini Anyelir yang menjelaskan.
"Emang iya?" tanya Elena kepada Bibi Mary untuk memastikan.
Bibi Mary pun mengangguk dan langsung menarik Elena kedalam pelukannya.
Setelah sarapan, Anyelir memanggil Bibi Mary untuk bicara berdua di taman belakang. Sedangkan Elena sendiri sednag mengikuti home schooling di ruang santai.
Kini mereka duduk di kursi kayu panjang di bawah pohon kelengkeng. Anyelir berdehem sebelum berbicara pada Bibi Mary. Anyelir kemudian menceritakan bahwa ia membawa ke dokter. Anyelir juga menceritakan jawaban sang dokter yang mengatakan bahwa Elena mau berbicara karena rasa cinta dan bahagianya.
"Maaf Nona, saya tidak sempat menceritakan kejadian saat Elena medatangi pameran lukisan."
"Memangnya ada kejadian apa?" tanya Anyelir penasaran.
"Jadi, ada seorang pria yang ingin membeli lukisan Elena. Lalu saat Elena bertemu dengan pria itu Elena langsung memeluknya dan langsung bicara Papa." ucap Bibi Mary.
"Jadi, Elena pertama kali mau bicara saat melihat pria itu?" tanya Anyelir dengan gusar.
"Iya. Dan pria itu sangat mirip sekali dengan Elena."
Anyelir seperti mendengar suara petir di siang bolong. Dalam benaknya ia bertanya-tanya.
Mungkinkah pria itu ayah Elena? Tidak....tidak mungkin.
extra part-nya yg byk thor