(Update setiap weekend)
Sungguh pahit hidup Olivia yang selama 4 bulan belakangan ini harus menjadi wanita simpanan dari Adams, pria yang merupakan kekasih sahabatnya yang bernama Alena hanya demi menutupi kesalahan yang dilakukannya.
Hidup Olivia kian menderita saat dirinya dinyatakan hamil. Awalnya ia sempat mengira jika anak yang dikandungnya adalah anak dari Adams. Pria yang selalu memanfaatkan tubuhnya sebagai pelampiasan di saat Alena sibuk dengan rutinitas dan jadwal shootingnya yang padat. Namun, Adams mengungkap bahwa ternyata dirinya mandul hingga membuat Olivia merasa bingung dengan ayah dari bayi yang dikandungnya saat ini.
Bagaimana cara Olivia dapat menemukan pria yang telah menghamilinya? Dan, apakah Olivia bisa menemukan kebahagiaan dengan segala kesedihan dan kemalangan yang dialaminya?
Follow Instagram Author: ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Arnold
Selamat membaca!
Setelah kepergian Olivia yang telah kembali pulang ke hotel karena sedang berada dalam kondisi yang kurang sehat, Alena pun kembali melanjutkannya aktivitas belanjanya dan saat ini wanita itu mulai terlihat masuk ke butik Chanel untuk membeli belt dan juga flatshoes yang tersedia di sana.
Tanpa berlama-lama Alena langsung menjatuhkan pilihannya dengan cepat dan tak lagi berpatokan pada harga karena tidak ada lagi Olivia yang biasanya selalu protes kepadanya, saat barang yang ingin dibeli olehnya terlampau mahal.
Setelah selesai membayar tagihan belanjanya, Alena pun mulai melangkah keluar dari butik tersebut. Kini wanita itu tengah mengedarkan pandangannya. Mencari gerai arloji ternama untuk membeli sebuah jam tangan sebagai hadiah istimewa yang akan ia berikan untuk sang kekasih. Namun, setelah mengelilingi berbagai sisi, wanita itu belum juga berhasil menemukan tempat yang sedang dicarinya.
"Mungkin di lantai atas kali ya, di lantai ini enggak ada." Alena pun memutuskan untuk melangkah menuju sebuah lift yang kebetulan berada tidak jauh dari tempatnya saat ini untuk berpindah ke lantai atas.
Begitu tiba di lantai 3 dan kembali berkeliling, Alena akhirnya dapat menemukan keberadaan gerai arloji yang dicarinya. Sebuah gerai yang bertuliskan Richard Mille Store menjadi pilihan dari Alena saat ini.
"Akhirnya ketemu juga!" ucap Alena yang sudah tidak sabar untuk memasuki gerai arloji asal Swiss yang menjadi langganan dari para kaum the have dan juga the rich.
Ketertarikan keduanya terhadap Richard Mille tak lain karena setiap seri yang dibuat oleh jam tangan yang mulai diproduksi sejak 2001 itu selalu berbeda dan uniknya lagi, setiap seri diproduksi dalam jumlah yang terbatas. Masing-masing seri sudah pasti menampilkan model dan jenis yang tidaklah sama. Inilah yang membuat Richard Mille selalu menjadi incaran setiap orang. Tentunya orang-orang yang mampu membelinya karena harganya yang terbilang fantastis.
"Pasti Adams akan sangat senang begitu dia tahu aku kasih hadiah jam tangan impiannya yang sampai saat ini belum sempat dia beli!" gumam Alena yang terus melangkah untuk masuk ke dalam gerai tersebut.
Namun, baru saja ia melewati pintu masuk, tanpa sengaja bahunya bertabrakan dengan seseorang yang hendak keluar dari gerai yang akan ia kunjungi itu. Benturan yang keras itu, bahkan sampai membuatnya jatuh. Beruntung Alena masih dapat meraih daun pintu untuk dapat menahan tubuhnya agar tak jatuh ke lantai.
Saat dirinya masih berupaya fokus menata posisinya. Tiba-tiba saja, suara dari seseorang yang tanpa sengaja menabraknya, terdengar mengucapkan kata maaf. Membuat Alena seketika menoleh untuk melihat sosok pria yang menabraknya, karena memang wanita itu sangat mengenali suara tersebut.
"Nona, maaf. Saya tidak sengaja, ini salah saya karena tidak fokus ketika hendak keluar. Apa Anda baik-baik ...." Kalimat itu terhenti saat kedua matanya mulai mengenali sosok wanita yang telah ditabraknya. Wanita yang memiliki profesi sama seperti dirinya.
"Arnold?" ucap Alena dengan senyuman yang mengembang setelah kedua matanya mulai menatap wajah milik pria yang kini telah berada di hadapannya.
"Alena. Hei, sorry banget ya. Aku benar-benar enggak sengaja. Apa kamu baik-baik saja, atau kita perlu ke klinik untuk mengobatimu?" tanya Arnold dengan wajah yang tidak enak karena akibat kurang hati-hati, ia hampir saja membuat Alena terjatuh.
"Lebay banget deh kamu. Aku baik-baik aja, Nold! Ini enggak luka sama sekali kok. Lagian gimana sih kamu jalan kenapa kurang hati-hati!" ucap Alena yang tak menyangka akan bertemu Arnold di mall ini.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Al, kamu kok sendirian aja di mal ini, Olivia dan Adams mana?" tanya Arnold setelah melihat ke sisi kiri dan kanan Alena, tapi tetap tak menemukan kedua orang yang biasanya mengawal kemanapun Alena pergi.
"Tadinya Adams mau ikut ke sini, tapi dia ada urusan mendadak sama Kevin untuk bahas proyek shooting film mereka. Nah, tadi tuh Oliv temenin aku ke mall, kita juga sempat belanja juga di Gucci, eh tiba-tiba saja dia enggak enak badan. Makanya Oliv pamit pulang ke hotel duluan deh."
Wajah Arnold seketika berubah cemas. "Olivia sakit? Sakit apa dia?" tanya Arnold yang memang memiliki kedekatan dengan Olivia. Bahkan saking dekatnya, terkadang banyak crew-crew film di lokasi shooting sampai mengira mereka memiliki hubungan yang istimewa, alias berpacaran. Ya, terkadang Alena dan Arnold memang sering sekali terlibat dalam satu projects film yang sama.
Mendengar pertanyaan Arnold yang terdengar cemas, membuat Alena mulai teringat sesuatu yang sudah sejak tadi mengganggu pikirannya. Sesuatu yang harus ia tanyakan langsung kepada Arnold, apalagi semua itu berhubungan dengan Olivia. Manager yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.
"Nanti aku kasih tahu deh, tapi kamu bantuin aku dulu dong, pilihan jam tangan yang cocok untuk Adams!" pinta wanita itu seraya menaikkan kedua alisnya.
"Memangnya Adams ulang tahun?" Arnold menepikan sejenak kecemasannya akan kondisi Olivia dan balik bertanya tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Alena.
"Enggak kok, ulang tahunnya masih tahun depan. Aku lagi pengen beliin jam buat dia dan kebetulan ada kamu di sini, jadi enggak ada salahnya dong aku minta bantuan kamu. Lagipula sesama laki-laki biasanya tahu seleranya," ucap Alena dengan senyumnya yang mengembang.
"Oh gitu. Ya sudah, aku temani kamu pilih jam buat Adams, tapi setelah itu cerita ya soal kondisi Oliv!"
"Pasti aku akan cerita." Alena pun semakin tersenyum penuh suka cita. Kini dengan semangat ia mulai melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan di ambang pintu untuk masuk ke dalam gerai, diikuti oleh Arnold yang mengekor di belakangnya.
"Semoga Oliv tidak marah sama aku, karena aku menceritakan kondisinya kepada Arnold. Lagipula aku juga 'kan penasaran banget, apa benar Oliv itu sedang hamil anaknya," batin Alena sejenak memikirkan sang manager yang saat ini sudah hampir tiba di hotel tempatnya menginap.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar dan gift kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87
walaupun diajak ngomong cuma anggukan kepala saja .
selama empat bulan bersama kamu hanya kau jadikan simpananmu tak pernah menghargai olive