Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 HARI-HARI YANG TENANG DAN PERUBAHAN HALUS
Hari-hari berlalu dengan tenang bagi Lin Mo di rumah nenek tua itu. Setiap hari sebelum fajar menyingsing, ia sudah bangun dan membersihkan halaman serta menyapu jalanan di depan rumah. Setelah itu ia mengambil air dari sumur jauh di ujung jalan, lalu kembali dan menyiapkan bahan makanan untuk keperluan sehari-hari. Segala pekerjaan berat yang membutuhkan tenaga dan ketelitian selalu diselesaikan dengan rapi dan tepat waktu. Nenek tua itu pun perlahan semakin menyukai pemuda yang pendiam, sopan, dan rajin itu. Ia tak pernah melihat Lin Mo mengeluh atau meminta lebih dari apa yang telah disepakati. Wajahnya selalu tenang dan matanya jernih bagaikan air yang tenang.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, sisa waktu siang dan sore hari digunakan Lin Mo untuk berjalan-jalan di sekitar kota atau duduk diam di dalam kamarnya melatih lautan Qi di dalam tubuhnya. Setiap kali duduk bermeditasi, batu hitam yang selalu disimpannya dekat dadanya akan terasa hangat dan mengeluarkan hawa sejuk yang halus. Hawa itu menjalar masuk ke dalam tubuh, menyatu dengan aliran energi dan membersihkan meridian yang masih sempit atau tersumbat. Lautan Qi di dalam perut bawahnya perlahan namun pasti semakin meluas dan semakin dalam. Airnya tetap jernih bagaikan kaca bening tanpa sedikit pun ternoda. Setiap kali energi Qi mengalir keluar dari tubuh dan berubah menjadi energi spiritual, cahayanya bersinar lembut namun kokoh berwarna putih keemasan yang murni dan hangat.
Suatu hari, saat Lin Mo sedang duduk diam di dalam kamarnya melatih lautan Qi, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan teriakan kasar dari halaman depan rumah. Suara bentakan dan suara benda pecah terdengar jelas hingga masuk ke dalam kamar. Lin Mo perlahan membuka matanya. Cahaya putih keemasan samar berkilat seketika di kedalaman matanya sebelum perlahan meredup kembali menjadi tatapan yang jernih dan tenang. Ia berdiri perlahan dan melangkah keluar menuju halaman depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Di halaman depan rumah itu terlihat tiga orang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah kasar sedang berdiri mengelilingi nenek tua itu. Salah seorang dari mereka sedang menendang meja kayu hingga terbalik dan pecah berkeping-keping. Wajah mereka penuh kemarahan dan kesombongan. Pakaian yang mereka kenakan memiliki lambang pedan berwarna perak yang sama persis dengan lambang yang dikenakan oleh murid-murid Sekte Pedang Cahaya yang dilihat Lin Mo saat pertama kali masuk ke kota.
Pemuda yang terlihat sebagai pemimpin rombongan itu melangkah maju dan menunjuk wajah nenek tua itu dengan jari telunjuknya yang kasar.
Nenek He, jangan berpura-pura tuli ujar pemuda itu dengan suara yang berat dan penuh ancaman. Bulan ini biaya perlindungan kepada Sekte Pedang Cahaya belum kau bayarkan. Sudah kubilang kemarin. Hari ini adalah batas akhirnya. Jika kau belum membayarnya hari ini, jangan salahkan kami jika kami merampas rumah tua ini dan mengusirmu ke jalanan agar mati kedinginan!
Nenek He berdiri gemetar di tempatnya. Wajahnya pucat karena takut dan sedih. Matanya berkaca-kaca menatap ketiga pemuda itu dengan pandangan memohon.
Anak-anak baik ujar Nenek He dengan suara yang bergetar lemah. Kau tahu sendiri bahwa nenek ini hidup sederhana hanya dengan menyewakan kamar dan menjual sayuran. Uang sewa bulan ini belum cukup terkumpul. Berilah nenek waktu sebentar lagi. Paling lambat sepuluh hari pasti nenek lunasi semuanya. Nenek tidak berani berhutang kepada Sekte Pedang Cahaya.
Pemuda itu tertawa terbahak-bahak mendengar permohonan nenek tua itu. Tawanya terdengar kasar dan penuh penghinaan. Dua orang temannya pun ikut tertawa sambil menendang batu kecil di halaman seakan memandang nenek tua itu hanyalah serangga kecil yang dapat diinjak sesuka hati.
Sepuluh hari? teriak pemuda itu sambil melangkah maju selangkah dan menatap tajam ke arah wajah nenek tua itu. Kau pikir kami datang ke sini untuk mendengarkan alasan-alasanmu yang tak berdasar itu? Sekte Pedang Cahaya tidak butuh waktu sepuluh hari darimu! Kami butuh uang hari ini! Sekarang! Jika kau tidak memiliki uangnya, maka serahkanlah rumah ini dan pergilah! Atau mungkin kau memiliki harta lain yang dapat kami ambil sebagai gantinya?
Sambil berkata demikian, pemuda itu melambaikan tangan kepada kedua temannya. Mereka segera menyebar dan mulai merusak barang-barang yang ada di halaman serta mencoba masuk ke dalam rumah untuk mencari barang berharga. Nenek He berusaha mencegah namun tubuhnya yang renta terdorong jatuh ke tanah yang keras. Nenek itu mengerang kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya yang terpelintir saat jatuh.
Melihat hal itu, Lin Mo yang berdiri diam di pintu belakang seketika melangkah maju. Langkahnya tetap tenang namun cepat dan ringan bagaikan daun yang terbawa angin. Dalam sekejap mata ia sudah berdiri di samping Nenek He yang sedang berusaha bangkit dari tanah. Lin Mo mengangkat tangan kirinya perlahan dan menumpukan kekuatan yang terkendali di ujung jari-jari tangannya. Energi Qi perlahan mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual yang lembut namun kokoh. Dengan gerakan yang halus dan tenang, ia menyentuh pergelangan kaki nenek tua itu. Cahaya putih keemasan samar bersinar seketika di telapak tangan Lin Mo. Hawa hangat dan nyaman menjalar masuk ke dalam tubuh nenek tua itu seketika meredakan rasa nyeri dan bengkak yang terasa di kakinya.
Nenek He tertegun seketika. Ia menatap Lin Mo dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan rasa syukur yang mendalam. Rasa sakit yang tadi terasa luar biasa hebat kini perlahan berkurang hingga nyaris tak terasa lagi. Tubuhnya pun terasa lebih segar dan lebih kuat dari sebelumnya.
Lin Mo menatap Nenek He dengan pandangan yang lembut dan menenangkan. Ia membantu nenek itu berdiri perlahan dan membiarkannya bersandar pada tubuhnya agar tidak jatuh kembali.
Nenek tenanglah ujar Lin Mo dengan suara yang lembut namun terdengar jelas dan tegas. Jangan takut. Biarlah aku yang menyelesaikan urusan ini.
Setelah berkata demikian, Lin Mo perlahan berbalik menghadap ketiga pemuda yang sedang merusak dan mengacak-acak halaman rumah itu. Wajahnya tetap tenang dan hatinya tetap damai. Namun di kedalaman matanya yang jernih itu kini terpancar keteguhan yang tak tergoyahkan. Lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut namun teratur dan kuat seakan menahan diri agar tidak meledak dalam kemarahan yang tak terkendali.
Pemuda yang menjadi pemimpin rombongan itu berbalik dan menatap Lin Mo dari atas hingga ke bawah dengan tatapan merendahkan dan penuh kebencian. Ia melihat pakaian Lin Mo yang sederhana dan penuh tambalan serta wajahnya yang pucat namun tenang dan jernih.
Siapa kau? tanya pemuda itu dengan suara yang kasar dan penuh ancaman. Apakah kau anak haram atau kerabat jauh dari nenek tua ini? Mengapa kau berani ikut campur urusan Sekte Pedang Cahaya? Apakah kau sudah bosan hidup?
Lin Mo berdiri tegak di tempatnya. Ia tidak mundur selangkah pun. Ia menatap lurus ke arah mata pemuda itu dengan pandangan yang jernih dan tenang tanpa sedikit pun rasa takut atau rendah diri.
Aku hanya orang yang menumpang tinggal di rumah ini ujar Lin Mo dengan suara yang tenang dan jelas. Namun aku tidak dapat membiarkan kalian merusak rumah dan menyakiti nenek tua yang lemah ini. Kalian menagih biaya perlindungan namun tindakan kalian jauh lebih kejam daripada perampok yang merampok di jalan sepi. Biarkan nenek ini pergi. Kembalilah ke tempat kalian. Dan jangan pernah datang lagi untuk mengganggunya. Jika tidak... aku terpaksa mengusir kalian dengan cara yang tidak menyenangkan.
Mendengar kata-kata itu, ketiga pemuda itu seketika terdiam sejenak sebelum meledak dalam tawa yang kasar dan penuh penghinaan. Mereka saling berpandangan seakan baru saja mendengar lelucon yang paling konyol seumur hidup mereka. Pemuda yang menjadi pemimpin rombongan itu melangkah maju selangkah dan menunjuk hidung Lin Mo dengan jari telunjuknya yang kasar.
Kau? Mengusir kami? tanya pemuda itu sambil tertawa mengejek. Kau yang kurus kering dan tampak tak memiliki sebutir pun energi Qi di dalam tubuh ini berani berbicara seperti itu kepada murid Sekte Pedang Cahaya? Aku rasa kau memang sudah bosan hidup! Hari ini aku akan memberimu pelajaran yang berharga agar kau tahu siapa yang berkuasa di kota Qingyuan ini!
Sambil berkata demikian, pemuda itu mengangkat tangan kanannya dan mengepalkan tangan erat. Energi Qi yang berwarna abu-abu kusam dan keruh mengalir deras menyusuri lengannya dan berubah menjadi energi spiritual yang kasar dan tajam. Pemuda itu melesat maju dan mengepalkan tangannya kuat-kuat mengarah ke dada Lin Mo dengan niat jelas melukai pemuda itu hingga terluka parah.
Nenek He yang berdiri di belakang Lin Mo seketika berteriak ketakutan. Namun Lin Mo tetap berdiri tenang di tempatnya. Saat kepalan tangan pemuda itu hampir menyentuh dadanya, lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut namun kokoh. Energi Qi mengalir perlahan menyusuri lengan kanannya tanpa terburu-buru dan tanpa berlebihan. Energi Qi itu menembus pori-pori kulit dan berubah menjadi energi spiritual yang berwarna putih keemasan yang murni dan padat. Lin Mo perlahan mengangkat tangan kanannya dan menangkis kepalan tangan itu dengan sisi lengannya secara sederhana dan tenang.
Dua kekuatan yang berbeda sifat dan asalnya bertemu di udara. Energi spiritual yang keruh dan kasar milik pemuda itu seketika terpecah dan terdorong mundur saat bersentuhan dengan energi spiritual yang murni dan jernih milik Lin Mo. Pemuda itu terhuyung mundur beberapa langkah hingga akhirnya terpaksa menginjakkan kaki berkali-kali agar tidak jatuh terbalik. Wajahnya memucat seketika. Matanya terbelalak menatap Lin Mo dengan pandangan penuh ketakutan dan ketidakpercayaan. Ia merasakan dengan jelas bahwa energi yang baru saja menangkis serangannya itu jauh lebih murni dan jauh lebih dalam dibandingkan dengan energi yang ia miliki meskipun tingkatannya masih rendah.
Dua orang temannya yang berdiri di samping terkejut melihat pemimpin mereka terdorong mundur begitu saja oleh pemuda yang tampak lemah itu. Mereka segera melangkah maju dan menyerang Lin Mo secara bersamaan dari kedua sisi. Lin Mo tidak mundur dan tidak pula terburu-buru. Ia melangkah sekilas ke samping dengan gerakan yang ringan dan cepat. Energi Qi mengalir ke kedua kakinya dan berubah menjadi energi spiritual yang ringan dan kokoh. Tubuhnya seakan melayang di atas tanah tanpa beban. Dengan gerakan tangan yang lembut namun membawa kekuatan yang terkendali, Lin Mo menepis dada pemuda di sebelah kiri dan mengayunkan siku ke arah perut pemuda di sebelah kanan secara hampir bersamaan.
Dua benturan lembut namun tak tertahankan terdengar. Kedua pemuda itu terlempar mundur beberapa langkah lalu jatuh tersungkur ke tanah yang keras. Mereka mengerang kesakitan namun tak terluka parah. Lin Mo sengaja menahan kekuatannya. Ia tidak ingin melukai mereka secara berlebihan. Ia hanya ingin memberi pelajaran agar mereka tahu bahwa nenek He tidak dapat ditindas sesuka hati seperti dulu.
Ketiga pemuda itu akhirnya bangkit berdiri dengan wajah pucat dan penuh ketakutan. Mereka menatap Lin Mo seakan sedang menatap hantu atau orang yang jauh lebih kuat dari mereka. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda yang tampak miskin dan lemah itu ternyata memiliki kemampuan yang begitu luar biasa. Energi yang dimiliki pemuda itu mungkin belum luas dan belum kuat. Namun kemurniannya sungguh menakutkan. Itu adalah tanda bahwa pemuda itu memegang metode latihan yang sangat tinggi dan luar biasa berharga.
Lin Mo berdiri diam di tempatnya. Tangan kanannya perlahan turun ke sisi tubuh. Energi Qi yang tadi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual perlahan kembali masuk ke dalam tubuh dan menyatu kembali dengan lautan Qi yang berdenyut tenang di perut bawahnya. Wajahnya tetap tenang dan matanya tetap jernih menatap ketiga pemuda itu tanpa sedikit pun rasa dendam atau kemarahan.
Aku tidak menyakiti kalian ujar Lin Mo dengan suara yang tenang dan tegas. Karena aku tidak bermaksud melukai orang lain tanpa alasan yang benar. Namun jika kalian masih terus bersikeras menagih uang yang tidak seharusnya dibayarkan dan terus menyakiti orang yang lemah... maka aku tidak akan selembut ini saat berhadapan dengan kalian. Katakanlah kepada atasan kalian bahwa rumah ini tidak mampu membayar biaya yang berlebihan itu. Dan jangan pernah datang lagi untuk mengganggu nenek He. Jika kalian datang lagi... aku tidak akan sebaik ini membiarkan kalian pergi dengan selamat.
Ketiga pemuda itu saling berpandangan dengan wajah yang penuh ketakutan dan rasa malu. Mereka menyadari bahwa mereka bukan lawan dari pemuda yang berdiri tenang di hadapan mereka itu. Dengan gigi yang gemeretak karena menahan amarah dan rasa takut, mereka akhirnya berbalik dan pergi secepat mungkin tanpa berani menoleh kembali sedikit pun.
Setelah mereka pergi menjauh, Lin Mo berbalik kembali menghadap Nenek He yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia segera menghampiri nenek tua itu dan memegang tangannya dengan lembut. Cahaya putih keemasan samar kembali bersinar di telapak tangannya menyentuh tangan nenek tua itu menenangkan hati dan pikirannya yang masih gemetar karena ketakutan.
Nenek He menatap Lin Mo dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata menetes perlahan membasahi pipinya yang keriput. Ia menggenggam tangan Lin Mo erat-erat dengan kedua tangannya yang renta dan gemetar.
Anakku... ujar Nenek He dengan suara yang bergetar penuh haru. Kau... kau sungguh luar biasa. Nenek tak tahu harus berterima kasih dengan cara apa kepadamu. Tanpamu hari ini... nenek tak tahu apa yang akan terjadi pada nenek dan rumah tua ini. Terima kasih... terima kasih banyak anakku.
Lin Mo tersenyum lembut menatap nenek tua itu. Ia menggeleng pelan dan menenangkan hati nenek itu dengan genggaman tangannya yang hangat dan lembut.
Nenek tidak perlu berterima kasih ujar Lin Mo dengan suara yang lembut dan menenangkan. Itu adalah hal yang seharusnya dilakukan. Tidak ada yang berhak menindas orang yang lemah hanya karena mereka memiliki kekuasaan yang lebih besar. Mulai hari ini jangan takut lagi. Selama aku ada di sini... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti nenek atau merusak rumah ini.
Nenek He menganggukkan kepalanya perlahan sambil terus menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh kasih sayang dan rasa hormat yang mendalam. Cahaya matahari sore yang keemasan menyinari halaman rumah itu dan menyinari wajah pemuda yang berdiri tenang dan damai di samping nenek tua itu. Di dalam dadanya lautan Qi yang murni dan jernih terus berdenyut lembut dan abadi seakan menegaskan bahwa kebenaran dan ketulusan hati pada akhirnya akan selalu mampu mengalahkan kekuatan yang kasar dan penuh keserakahan.