NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Atas Kertas Basah

Gubuk itu lebih mirip tumpukan sampah yang dipaksa berdiri tegak daripada tempat tinggal. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu kering yang telah dimakan rayap waktu, ditutupi lapisan kertas mantra bekas yang menguning dan rapuh. Atapnya bocor di tiga titik berbeda, membiarkan hujan tinta masuk dan menetes ke dalam ember-ember keramik retak yang diletakkan Ren di lantai tanah.

Suara tetesan air—tik, tik, tik—adalah satu-satunya musik yang menemani malam itu.

Ren duduk bersila di sudut ruangan, tubuhnya masih menggigil meski ia telah membungkus diri dengan selimut wol kasar. Di pangkuannya, Lin tertidur lelap, napasnya dangkal namun teratur. Wajah gadis kecil itu tampak damai, jauh dari rasa sakit yang tadi menyiksanya. Ren menatap adik perempuannya dengan tatapan lembut, jari-jarinya yang kotor dan penuh noda tinta perlahan mengelus rambut Lin yang kusut. Ia membersihkan sehelai daun kering yang tersangkut di sana dengan kelembutan seorang pemahat yang menangani kristal paling rapuh.

"Maafkan Kakak," bisik Ren, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru hujan. "Kakak terlalu lemah."

Rasa bersalah itu seperti batu berat di dadanya, lebih berat daripada rasa nyeri di tangannya. Ia menunduk, memandang tangan kirinya. Pergelangan tangannya membengkak, kulitnya melepuh hitam di sekitar urat nadi. Itu adalah harga yang harus dibayar untuk menggunakan teknik "Xiao". Menggunakan Qi tubuh sendiri sebagai tinta tanpa wadah atau kuas yang layak adalah tindakan bunuh diri bagi praktisi tingkat rendah. Meridiannya terasa seperti terbakar oleh asam, setiap denyut nadi mengirimkan gelombang nyeri tajam ke seluruh tubuhnya.

Tapi ia tidak menyesal. Tidak sedikit pun.

Jika pilihan yang ada adalah kehilangan jari preman itu atau kehilangan ingatan Lin tentang ibu mereka, Ren akan memilih seribu kali lagi untuk menghapus keberadaan orang lain. Dunia mungkin menganggapnya monster karena teknik terlarang itu, tapi bagi Ren, itu hanyalah alat. Alat untuk melindungi satu-satunya hal yang masih membuatnya merasa manusia.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan aliran Qi yang kacau di dalam tubuhnya. Sesuai Kitab Suci yang ia pelajari secara diam-diam dari buku-buku buangan, ia harus menstabilkan energi sebelum fajar tiba. Jika tidak, racun tinta akan menyebar ke jantungnya.

Ren menutup matanya. Dalam kegelapan kelopak matanya, dunia berubah.

Tidak ada warna. Tidak ada cahaya matahari atau bulan. Hanya garis-garis putih tipis yang membentuk kerangka segala sesuatu. Ia melihat dinding gubuk bukan sebagai bambu, melainkan sebagai kumpulan garis vertikal dan horizontal yang saling mengunci. Ia melihat udara bukan sebagai ruang kosong, melainkan sebagai jaring halus yang bergetar. Dan di dalam tubuhnya, ia melihat meridiannya sendiri—jalur-jalur energi yang seharusnya mengalir lancar seperti sungai, kini tersumbat oleh gumpalan-gumpalan hitam pekat, seperti tinta kental yang membeku.

"Ini bukan kerusakan," gumam Ren dalam hati, mengamati struktur sumbatan itu dengan Mata Void-nya. "Ini adalah... penolakan."

Tubuhnya menolak Qi standar karena jalurnya terbalik. Orang lain menyerap Qi dari langit dan bumi untuk mengisi cangkir jiwa mereka. Ren? Cangkirnya bocor di dasar. Setiap kali ia mencoba mengisi, energinya keluar lagi. Itulah sebabnya ia selalu dianggap sampah. Tapi malam ini, saat ia menggunakan teknik penghapusan, ia menyadari sesuatu. Ia tidak perlu mengisi cangkir. Ia perlu mengubah bentuk cangkir itu sendiri.

Alih-alih memaksa Qi mengalir, Ren membayangkan dirinya sebagai penghapus. Ia tidak mendorong energi ke depan, ia menarik kekacauan itu ke dalam, lalu "menghapus" sifat liar dari energi tersebut hingga menjadi hampa. Perlahan, rasa panas di lengannya mereda. Nyeri itu tidak hilang sepenuhnya, tapi berubah menjadi dingin yang tajam dan terkendali.

Ketika Ren membuka matanya kembali, hujan di luar sudah mulai reda. Langit di atas Lembah Abbu masih kelabu, tetapi ada celah tipis di mana cahaya pucat fajar mulai menyusup masuk.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras di pintu bambu.

BAM! BAM! BAM!

Lin terbangun, matanya membelalak ketakutan. "Kakak?"

Ren segera meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat diam. Ekspresi lembutnya lenyap seketika, digantikan oleh kewaspadaan dingin. Ia bangkit perlahan, memastikan Lin tetap tertutup selimut, lalu melangkah menuju pintu. Ia tidak mengambil senjatanya—kuasnya masih tergeletak di meja kayu—tapi ia siap. Tubuhnya tegang, siap untuk bergerak atau menyerang jika diperlukan.

"Siapa?" tanya Ren, suaranya datar namun berwibawa.

"Buka, Zexian!" Suara itu berat dan akrab. Bukan suara preman, tapi juga bukan suara teman. Itu suara Tuan Hao, kepala penjaga gerbang lembah, seorang pria paruh baya yang dikenal karena keserakahannya dan kebenciannya pada para pemulung.

Ren membuka pintu sedikit saja, cukup untuk memperlihatkan separuh wajahnya. Di luar, Tuan Hao berdiri bersama dua anak buahnya, mengenakan seragam kulit tebal yang basah kuyup. Wajah Hao merah padam, matanya menyipit curiga.

"Aku mendengar keributan tadi malam," kata Hao, mendobrak masuk tanpa menunggu undangan. Matanya menyapu ruangan sempit itu, mencari sesuatu. "Ada laporan tentang penggunaan sihir gelap di sektor ini. Energi negatif yang sangat kuat. Seperti... penghapusan."

Jantung Ren berdegup sekali, keras, tapi wajahnya tetap datar seperti topeng. "Saya hanya membersihkan gulungan tua, Tuan Hao. Anda tahu bagaimana kertas-kertas lama itu kadang mengeluarkan sisa Qi saat dihancurkan."

Hao menatapnya tajam, hidungnya berkerut seolah mencium bau darah. Ia melangkah mendekati Ren, mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang besar. "Jangan bermain bodoh denganku, anak haram. Aku tahu kau menemukan sesuatu di Perpustakaan. Aku melihatmu membawa pulang gulungan hitam kemarin sore."

Ren merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, tapi ia tidak mundur. "Itu sampah, Tuan. Saya berniat membuangnya."

"Kita lihat saja." Hao menggeser Ren dengan kasar, lalu mulai mengacak-acak tumpukan gulungan di sudut ruangan. Ia melemparkan kertas-kertas itu sembarangan, merusak kerja keras Ren selama berhari-hari. Lin meringkuk di sudut, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak berani bersuara.

Hampir sepuluh menit Hao menggeledah ruangan itu. Tidak ada yang ditemukan. Gulungan berisi teknik "Xiao" itu telah Ren bakar habis di tungku kecilnya sesaat setelah ia pulang, abunya telah ia buang ke sungai tinta. Yang tersisa hanyalah abu dan kenangan.

Hao berhenti, napasnya berat. Ia menatap Ren dengan kebencian murni. "Kau beruntung hari ini, Zexian. Tapi ingat, mata kami selalu awas. Jika ada satu tanda lagi... kau dan adik kecilmu akan kami usir ke Hutan Bayangan. Dan kau tahu apa yang terjadi di sana."

Ancaman itu nyata. Hutan Bayangan adalah tempat pembuangan akhir, di mana makhluk-makhluk tinta liar yang gagal berevolusi berkeliaran. Manusia yang masuk ke sana jarang keluar utuh.

"Tentu, Tuan Hao," jawab Ren dengan kepala tertunduk, menyembunyikan kilatan dingin di matanya yang hampa. "Terima kasih atas peringatan Anda."

Hao meludah ke lantai, lalu berbalik pergi bersama anak buahnya, meninggalkan kekacauan di dalam gubuk kecil itu.

Setelah langkah kaki mereka menjauh, Ren menutup pintu dan menguncinya. Ia menghela napas panjang, bahunya merosot lelah. Ia berjalan ke arah Lin, yang kini gemetar hebat.

"Mereka... mereka akan mengambilku, Kak?" tanya Lin dengan suara kecil.

Ren berlutut di hadapan adiknya, memegang kedua tangan gadis itu yang dingin. Ia menatap lurus ke dalam mata Lin, memastikan gadis itu melihat keteguhan di wajahnya.

"Dengarkan Kakak, Lin," kata Ren, suaranya rendah namun tegas, seperti sumpah yang diukir di batu. "Tidak ada siapa pun di dunia ini—baik manusia, dewa, maupun monster—yang akan mengambilmu dariku. Sebelum mereka bisa menyentuhmu, aku akan memastikan nama mereka terhapus dari sejarah."

Lin menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Kepercayaan di matanya adalah bahan bakar yang membuat api di dada Ren terus menyala.

Ren bangkit, lalu mulai membereskan kekacauan yang ditinggalkan Hao. Ia memunguti gulungan-gulungan yang berserakan, membersihkannya dengan hati-hati. Saat ia memunguti sebuah potongan kertas yang sobek, ia menyadari sesuatu. Di balik tumpukan sampah yang diacak-acak Hao, tersembunyi sebuah amplop kecil berwarna perak, terjepit di antara celah dinding bambu.

Benda itu tidak terlihat sebelumnya. Amplop itu bersih, terlalu bersih untuk tempat seburuk ini. Dan yang lebih mengejutkan, amplop itu tidak basah, meskipun hujan telah menerpa atap gubuk semalaman.

Ren mengambilnya dengan hati-hati. Tidak ada nama pengirim. Hanya sebuah simbol tersegel di bagian belakang: gambar kuas yang patah, dikelilingi oleh lingkaran tinta yang retak.

Simbol yang sama persis dengan kuas yang ia temukan di perpustakaan kemarin.

Jari-jari Ren gemetar saat ia membuka segel itu. Di dalamnya, hanya ada selembar kertas tipis dengan satu kalimat yang ditulis dengan tinta emas yang masih berkilau:

"Jika kau bisa melihat retakan, maka kau siap membaca halaman berikutnya. Datanglah ke Gerbang Utara saat bulan purnama. Bawa kuasmu. Jangan ikuti siapa pun."

Ren menatap tulisan itu, lalu menoleh ke jendela kecil di mana bulan sabit pucat mulai muncul di balik awan kelabu. Bulan purnama masih tiga hari lagi.

Seseorang tahu. Seseorang mengetahui apa yang ia lakukan malam ini. Seseorang mengetahui kekuatan "Mata Void" miliknya.

Apakah ini jebakan? Atau ini harapan?

Ren menggenggam kertas itu erat-erat hingga kertasnya berkerut. Ia tidak punya pilihan. Untuk menyelamatkan Lin dari The Fade, ia membutuhkan jawaban. Ia membutuhkan kekuatan yang lebih besar daripada sekadar trik penghapusan amatir. Ia perlu tahu siapa yang menulis dunia ini, dan mengapa dunia ini begitu rusak.

Ia menoleh ke Lin, yang kini sudah tertidur lagi karena kelelahan emosional. Ren tersenyum tipis, senyuman yang penuh tekad dan bahaya.

"Siapkan dirimu, dunia," bisiknya pada keheningan gubuk. "Penulis barumu sudah mulai membaca."

Di luar, angin berhembus kencang, membawa aroma tinta basah dan janji akan badai yang lebih besar.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!