Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Ku Raja Mafia
Kesadaran Aurora kembali perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma obat-obatan yang samar memenuhi ruangan. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.
Pandangannya masih sedikit buram.
Namun, kali ini ia tidak lagi melihat pria yang berlutut di hadapannya. Ia sedang berbaring di atas ranjang mewah dengan tirai sutra putih yang menjuntai hingga menyentuh lantai.
"Madam!"
Suara seorang wanita terdengar penuh kegembiraan.
Aurora menoleh.
Seorang pelayan muda yang mengenakan seragam hitam putih langsung berlari menghampirinya dengan mata berkaca-kaca.
"Syukurlah... Anda sudah sadar," ucap sang pelayan penuh syukur.
Belum sempat Aurora menjawab, pintu kamar terbuka.
Seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tampan, berkacamata, dan membawa sebuah koper medis.
Begitu melihat Aurora membuka mata, ia langsung mengembuskan napas lega.
"Keadaanmu sudah stabil, Yuxin," kata pria tersebut.
Samar-samar Aurora mulai mengenali wajah itu dari ingatan Shen Yuxin yang asli.
Pria tersebut tidak lain adalah Gu Yichen.
Dokter yang selalu didambakan Shen Yuxin dan pria yang telah menghasutnya agar mengkhianati suaminya sendiri. Serta pria yang ternyata menjalin hubungan dengan sepupunya, Shen Meilin.
"Yuxin, kamu membuatku khawatir," kata Gu Yichen.
Nada suaranya terdengar lembut penuh perhatian.
Namun, Aurora justru merinding.
Karena ia tahu isi novel itu. Tentang betapa licik dan munafiknya karakter Gu Yichen ini.
Di dalam novel dijelaskan bahwa Gu Yichen dan Shen Meilin memanfaatkan Shen Yuxin sedemikian rupa hingga semua orang menganggap Shen Yuxin adalah wanita gila yang tergila-gila kepada Gu Yichen.
"Bagaimana keadaanku?" tanya Aurora pelan, berusaha mengikuti situasi saat ini.
Gu Yichen tersenyum tipis.
"Kamu hanya pingsan karena tekanan darah meningkat. Kepalamu juga terbentur saat terjatuh," jelas Gu Yichen.
Aurora mengangguk pelan.
Ia sengaja berpura-pura lemah.
Padahal, saat ini pikirannya bekerja sangat cepat.
"Aku benar-benar masuk ke dalam novel..."
"Dunia ini nyata. Semua orang di sini benar-benar hidup."
"Berarti kalau aku mati di sini... mungkin aku juga akan benar-benar mati dan tidak bisa hidup lagi?" batin Aurora.
Ia menggenggam selimut dengan erat.
"Tidak."
"Aku tidak akan mengikuti takdir Shen Yuxin."
"Aku tidak ingin mati konyol di tangan Lu Zhichen."
Saat mengingat akhir tragis novel itu, tubuh Aurora bergidik.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Lu Zhichen menembakkan peluru ke dada istrinya.
Tatapan pria itu...
Bukan lagi tatapan penuh cinta.
Melainkan kebencian yang begitu dalam.
Kalau ingin bertahan hidup di dunia ini, ia harus mengubah semuanya.
Meski mungkin akan ada konsekuensi yang harus ia terima.
"Yuxin?" panggil Gu Yichen lembut karena Shen Yuxin dari tadi hanya terlihat melamun.
Lamunan Aurora buyar.
Gu Yichen menatapnya dengan wajah khawatir.
"Apakah kepalamu masih sakit?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.
Aurora menggeleng.
"Sudah jauh lebih baik, Dok."
Gu Yichen tersenyum lega.
"Kalau begitu aku benar-benar tenang."
Aurora membalas dengan senyum tipis.
Namun, di dalam hati ia mencibir.
"Dasar aktor."
"Pria licik."
"Kalau bukan karena ingin memanfaatkanku, mana mungkin kamu rela datang kemari."
"Bahkan raut wajah jijikmu itu masih terlihat jelas setiap kali memandang wajahku."
Beberapa menit kemudian, Gu Yichen berpamitan.
Aurora memperhatikannya hingga pintu kamar tertutup rapat.
Begitu pria itu pergi, ia langsung mengembuskan napas panjang.
"Untung aku sudah membaca novelnya hingga tamat. Kalau tidak... bisa saja aku benar-benar mempercayai dokter munafik itu," gumamnya pelan sambil mengelus dadanya.
Pelayan yang sejak tadi berdiri di samping ranjang akhirnya memberanikan diri berbicara.
"Madam..." katanya dengan tubuh gemetar.
Aurora menoleh.
"Ya?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
"Master masih menunggu di ruang hukuman," kata pelayan tersebut dengan raut wajah ketakutan. Ia menundukkan kepala, tak berani menatap Yuxin secara langsung.
Aurora membeku.
Ruang hukuman?
Aurora langsung teringat pada kejadian sebelum ia pingsan.
Aurora menelan ludah.
"Tunggu... jangan bilang... sebelum aku masuk ke dalam novel ini, pemilik tubuh yang asli sedang mencambuk Lu Zhichen."
Pelayan itu kembali berbicara dengan suara pelan.
"Master belum bergerak sedikit pun sejak Madam pingsan tadi," katanya sambil terus menatap lantai.
Aurora langsung duduk tegak.
"Apa?"
Aurora membelalakkan mata.
"Sudah berapa lama?"
"Hampir tiga jam, Madam."
"Uhuk... uhuk..."
Aurora terbatuk karena terlalu terkejut.
"Benar-benar bodoh," gumamnya pelan.
Pelayan itu tampak kebingungan.
Biasanya, Shen Yuxin justru akan marah jika mendengar Lu Zhichen masih tetap sadar.
Hari ini reaksinya benar-benar berbeda.
Aurora buru-buru turun dari ranjang.
Pelayan panik.
"Madam! Dokter meminta Anda banyak beristirahat," serunya sambil mengejar Shen Yuxin yang sudah berjalan menjauh.
"Ayo ke ruang hukuman," kata Aurora yang berada di tubuh Shen Yuxin sambil melangkah lebar.
Pelayan itu hanya bisa mengikuti dari belakang.
Semakin mendekati ruang bawah tanah, langkah Aurora semakin melambat.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Ia bukan takut kepada Lu Zhichen.
Sebaliknya...
Ia merasa sangat bersalah.
Meskipun semua luka itu bukan perbuatannya, tetap saja tubuh yang kini ia tempati adalah tubuh Shen Yuxin.
Pintu besi perlahan dibuka.
Cklek...
Ruangan itu terasa dingin.
Dinding beton.
Lampu redup.
Di tengah ruangan...
Masih ada seorang pria yang tetap berlutut.
Kemeja putihnya telah berubah merah oleh darah.
Punggungnya dipenuhi luka cambukan.
Namun, posisi tubuhnya sama sekali tidak berubah sejak Aurora pingsan hingga saat ini.
Aurora terdiam.
Inilah pertama kalinya ia melihat Lu Zhichen secara langsung.
Pria itu...
Benar-benar terlalu tampan.
Rahangnya tegas.
Hidungnya mancung.
Alisnya tajam.
Tatapan matanya dingin, tetapi begitu dalam.
Meski wajahnya pucat akibat kehilangan banyak darah, pesonanya tetap luar biasa.
Namun, sangat disayangkan Lu Zhichen ditakdirkan untuk pemeran utama wanita, yaitu Lin Xiaoran.
Sedangkan dirinya hanyalah batu loncatan agar keduanya dapat bersatu dengan indah.
Begitu Lu Zhichen melihat Shen Yuxin, tatapannya langsung berubah lembut penuh kekhawatiran.
"Yuxin... kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada sangat khawatir.
Di sampingnya berdiri seorang pria yang memandang penuh kebencian kepada Shen Yuxin.
Aurora langsung dapat menebak identitas pria tersebut.
Pria itu adalah Han Mo.
Tangan kanan sekaligus sahabat Lu Zhichen di dunia bawah.
Shen Yuxin masih sedikit linglung, tetapi ia segera mendekat.
"Zhichen... berdirilah. Maafkan aku," kata Aurora yang berada di dalam tubuh Shen Yuxin.
Dengan cepat ia membantu Zhichen untuk berdiri.
Sedangkan Han Mo memandang penuh curiga kepada Shen Yuxin.
"Trik apa lagi yang akan digunakan wanita jahat ini untuk menyiksa Master?" tanyanya dalam hati sambil terus menatap Shen Yuxin dengan penuh kebencian.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁