NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Garis Merah

Isak tangis Alena menggema di dalam kamar mandi yang sunyi. Lantai marmer yang dingin seolah menembus kulitnya, mengirimkan rasa ngilu yang menjalar hingga ke lubuk hati.

Di genggamannya, ketiga alat uji kehamilan yang dia pakai sebelumnya untuk tes terasa begitu berat, seakan membawa beban seluruh dunia yang siap runtuh menimpanya.

Dua garis merah tertera di alat itu. Bagi suami istri yang sudah menikah Warna merah cerah itu sangat berarti karena akan kelahiran anak mereka. Tapi warna yang begitu cerah itu, tidak berarti bagi Alena, itu adalah vonis mati bagi karier yang sedang naik daun dan masa depannya.

"Bagaimana mungkin..." bisiknya pelan di antara sela-sela tangis yang tertahan. Suaranya serak, tenggelam dalam kehampaan apartemennya.

Ia memejamkan mata erat-erat sedang frustasi yang terjadi, mencoba menghapus bayangan malam terkutuk dua minggu lalu di hotel peresmian itu.

Malam di mana ia membiarkan rasa frustrasi, alkohol, dan kerapuhannya mengambil alih akal sehat. Adrian adalah saudara yang menggarap film yang baru ini Alena mainkan dan film itu mendapatkan perhatian lebih. Dan membuat dia selalu bangga dengan pencapaian dan reputasinya yang bersih.

Selama sepuluh tahun berkarier di industri hiburan yang kejam ini, ia dikenal sebagai "Nation's Sweetheart" ikon kesucian, keanggunan, dan panutan bagi generasi muda. Satu-satunya alasan ia bisa bertahan di puncak popularitas adalah karena ia tidak pernah menyentuh skandal sekecil apa pun.

Namun sekarang, rahasia terbesar dan paling mematikan justru sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Alena bangkit berdiri dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Ia melemparkan ketiga testpack itu ke dalam laci paling bawah di bawah wastafel, menyembunyikannya di balik tumpukan handuk kecil seolah-olah dengan begitu kenyataan pahit ini bisa ikut lenyap.

Ketika ia berkaca, bayangan yang terpantul di cermin bukanlah Alena sang aktris papan atas yang bersinar, melainkan seorang wanita muda yang pucat, dengan mata sembap kemerahan dan lingkaran hitam yang mempertegas kelelahannya.

Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas meja rias bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang paling tidak ingin ia lihat saat ini: Mbak Siska (Manager).

Jantung Alena mencelos. Dengan tangan yang masih basah oleh air mata, ia menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel itu ke telinganya, mencoba mengatur napas agar terdengar normal.

"Ya, Mbak?" Alena berusaha menahan getaran di suaranya.

"Alena! Kamu di mana? Apakah kamu sudah siap? ," suara Siska terdengar melengking dan penuh tuntutan dari seberang telepon.

"Supir sudah menunggu di depan lobi apartemenmu sejak tiga puluh menit yang lalu. Hari ini jadwal kita sangat padat. Jam sepuluh ada pemotretan untuk produk kosmetik terbaru, siang jam satu ada wawancara eksklusif dengan majalah mode, dan malamnya kita harus menghadiri gala premiere film terbaru sutradara Hanung. Jangan bilang kamu lupa?"

Alena memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Rasa mual di perutnya kembali bergejolak, dipicu oleh rasa stres yang memuncak. "Maaf, Mbak. Aku... aku agak kurang enak badan pagi ini. Kepalaku pusing sekali."

Terdengar helaan napas berat dari Siska. "Alena, dengar ya. Aku tahu kamu lelah karena syuting drama kemarin sangat menguras energi. Tapi kontrak kosmetik ini bernilai miliaran rupiah. Mereka memilihmu karena citramu yang sempurna dan tanpa cela. Kita tidak bisa membatalkannya secara mendadak hanya karena pusing. Minum obat pereda nyeri sekarang, pakai masker wajah untuk menyegarkan kulitmu, dan turunlah dalam lima belas menit. Oke? Aku tunggu di lokasi pemotretan."

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon diputus sepihak.

Alena menurunkan ponselnya dengan lemas. Citra yang sempurna dan tanpa cela. Kata-kata Siska barusan terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Apa yang akan dilakukan Siska, agensinya, dan pihak brand kosmetik itu jika mereka tahu bahwa ikon kecantikan mereka yang "suci" ini sedang mengandung anak di luar nikah, hasil dari cinta satu malam?

Mau tidak mau, Alena harus bergerak. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, mencoba mengusir rona pucat dari pipinya. Dengan cekatan, ia mengaplikasikan riasan tebal untuk menyembunyikan mata bengkak dan kantung matanya. Ia memilih gaun longgar berwarna pastel agar tidak menekan bagian perutnya yang mendadak terasa sangat sensitif.

Setelah memastikan penampilannya kembali terlihat seperti "Alena sang Bintang", ia melangkah keluar dari apartemen dengan langkah yang dipaksakan tegap, meskipun lututnya terasa lemas bak untaian benang.

Sesampainya di lokasi pemotretan yang terletak di sebuah studio megah di kawasan Jakarta Selatan, suasana tampak begitu riuh. Kru produksi berlarian ke sana kemari mengatur pencahayaan, gaun-gaun desainer tergantung rapi, dan aroma kopi hitam menyeruak di udara. Kehadiran Alena langsung disambut hangat oleh semua orang. Ia membalas senyuman mereka dengan senyum profesional terbaiknya, topeng yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.

"Alena, lewat sini. Tim rias sudah menunggumu," Siska menghampirinya, menepuk pundaknya dengan ramah, beralih dari nada ketatnya di telepon tadi ke mode manajer yang suportif. Namun, tatapan Siska yang jeli langsung menyadari sesuatu. "Kamu kelihatan agak pucat hari ini. Apa riasannya kurang tebal?"

"Hanya kurang tidur, Mbak. Jangan khawatir, begitu lampu kamera menyala, aku akan memberikan yang terbaik," jawab Alena, berusaha meyakinkan.

Saat Alena duduk di kursi rias, pintu studio terbuka dan suasana mendadak menjadi lebih riuh. Alena melirik dari pantulan cermin dan seketika itu juga darahnya seolah berhenti mengalir. Adrian melangkah masuk ke dalam studio. Pria itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas kasual yang pas di tubuh tegapnya. Senyumnya yang menawan langsung menyihir para staf wanita di ruangan itu.

Alena baru ingat bahwa pemotretan kosmetik hari ini adalah untuk edisi pasangan, dan Adrian adalah mitra kerjanya.

Adrian berjalan mendekat ke arah kursi rias Alena. Setiap langkah pria itu terasa seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran Alena. Ketika Adrian berdiri tepat di sampingnya, aroma parfum maskulin khas pria itu tercium oleh Alena aroma yang sama persis dengan yang memenuhi kamar hotel malam itu.

Rasa mual di perut Alena langsung naik ke tenggorokan dengan hebat.

"Pagi, Alena. Bagaimana kabarmu?" sapa Adrian dengan suara beratnya yang ramah, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka berdua. Sikap dingin dan acuh tak acuh Adrian pasca-malam itu sebenarnya membuat Alena lega sekaligus sakit hati, namun melihatnya secara langsung seperti ini adalah siksaan yang berbeda.

"Pagi, Adrian. Aku baik," jawab Alena singkat, mengalihkan pandangannya ke depan cermin, tidak berani menatap mata pria itu.

"Baiklah semuanya! Alena, Adrian, silakan naik ke set. Kita mulai sesi pertama!" seru fotografer dan Sesi pemotretan dimulai. Alena harus bersikap profesional. Di depan lensa kamera, ia harus berpose mesra dengan Adrian.

Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Alena, menarik tubuh wanita itu mendekat. Sentuhan tangan Adrian di pinggangnya membuat Alena merinding ketakutan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Adrian, dan ingatan tentang malam itu kembali berputar seperti film rusak di kepalanya. Setiap kali fotografer meminta mereka untuk saling menatap dengan penuh cinta, Alena merasa seperti sedang meminum racun secara perlahan.

"Alena, tatapannya tolong lebih santai dan penuh kemesraan. Kamu kelihatan tegang sekali hari ini," teriak fotografer di sela-sela jepretan kamera.

"Maaf," ujar Alena lirih. Ia menarik napas dalam-dalam, mematikan seluruh emosi pribadinya, dan menampilkan senyum termanis yang ia miliki.

Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Kombinasi antara stres tingkat tinggi, ruangan studio yang panas akibat lampu sorot, aroma parfum Adrian yang menyengat, dan kondisi fisiknya yang sedang hamil muda membuat pandangan Alena mulai kabur. Titik-titik hitam mulai bermunculan di depan matanya. Suara fotografer dan kru di sekitarnya terdengar semakin menjauh, berdengung seperti di dalam air.

Perutnya bergejolak hebat. Rasa mual yang tak tertahankan mendesak keluar.

"Alena? Kamu oke?" Adrian berbisik, menyadari tubuh wanita di pelukannya mendadak bergetar dan mendingin.

Sebelum Alena sempat menjawab, ia kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia melepaskan diri dari dekapan Adrian secara paksa, berbalik, dan langsung memuntahkan cairan bening ke lantai studio, tepat di depan kaki Adrian dan sang fotografer. Ruangan studio yang tadinya bising mendadak hening seketika. Semua orang terpaku melihat sang bintang utama muntah-muntah dengan tubuh yang lemas.

"Alena!" Siska berteriak panik dan langsung berlari menghampirinya dengan membawa tisu dan air mineral.

Alena terduduk lemas di lantai, napasnya terengah-engah, wajahnya kini benar-benar seputih kertas. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung. Ia tahu, dalam industri ini, spekulasi sekecil apa pun bisa berkembang menjadi rumor yang liar. Pandangan mata orang-orang di sekitar studio yang tadinya penuh kekaguman, kini berubah menjadi penuh tanya dan kecurigaan.

"Maaf... maafkan aku..." bisik Alena di sela tangisnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang dan semuanya menjadi gelap gulita.

Alena perlahan membuka matanya. Bau antiseptik yang tajam langsung menusuk indra penciumannya. Ia tidak lagi berada di studio foto yang bising, melainkan di sebuah ruangan serba putih dengan gorden pembatas di sisi-sisinya. Sebuah jarum infus tertancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan dingin ke dalam tubuhnya yang ringkih.

Ia menoleh ke samping dan menemukan Siska sedang duduk di kursi kayu dengan wajah yang sangat tegang, melipat kedua tangannya di dada. Begitu menyadari Alena sudah sadar, Siska langsung bangkit berdiri dan mendekati ranjang rumah sakit.

"Kamu sudah sadar?" tanya Siska dengan nada suara yang tidak lagi ramah atau panik karena khawatir, melainkan nada suara seorang manajer yang sedang menghadapi krisis besar.

"Mbak... aku di mana?" Alena bertanya dengan suara parau.

"Kamu di klinik swasta dekat studio. Aku sengaja membawamu ke sini lewat pintu belakang agar tidak ada wartawan yang melihat," Siska menarik napas dalam-dalam, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Alena. "Dokter sudah memeriksa serum darahmu untuk mengetahui penyebab pingsanmu, Alena.

Dan hasilnya baru saja keluar lima menit yang lalu."

Jantung Alena berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia tahu saat-saat ini akan tiba, namun ia tidak menyangka akan secepat ini.

Siska melemparkan selembar kertas hasil laboratorium ke atas pangkuan Alena. "Jelaskan padaku, Alena. Apa arti dari kadar hCG yang sangat tinggi ini? Dokter bilang kamu sedang hamil, usianya sekitar tiga sampai empat minggu. Siapa ayahnya?"

Pertanyaan Siska menghantam Alena seperti gada besi. Alena memalingkan wajahnya, air mata kembali mengalir membasahi bantal rumah sakit. Ia meremas selimut putih yang menutupi tubuhnya, mencoba mencari kekuatan yang sudah lama hilang dari dirinya.

"Aku tidak tahu, Mbak..." bohong Alena, karena mengakui bahwa Adrian adalah ayahnya akan jauh lebih menghancurkan. Adrian adalah aktor emas agensi saingan. Jika hubungan ini terungkap dalam kondisi seperti ini, perang industri tidak akan terhindarkan.

"Jangan bohong padaku, Alena!" Siska setengah berbisik namun penuh penekanan, menahan amarahnya agar tidak terdengar sampai ke luar ruangan. "Kamu tahu apa artinya ini bagi kariermu? Bulan depan kamu dijadwalkan menandatangani kontrak film internasional di Hollywood. Tiga *brand* besar baru saja memperpanjang kontrak mereka sebagai *brand ambassador*. Jika berita ini bocor ke media, kamu tidak hanya harus membayar denda penalti sebesar puluhan miliar rupiah, tapi kariermu yang kamu bangun selama sepuluh tahun ini akan tamat dalam semalam! Kamu akan dicap sebagai wanita murahan oleh publik!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Siska terasa seperti pisau yang menyayat hati Alena. Ia tahu Siska benar. Di dunia hiburan, standar moral yang diterapkan pada selebritas wanita jauh lebih kejam dan tidak kenal ampun dibandingkan dengan selebritas pria.

"Lalu... lalu apa yang harus kulakukan, Mbak?" tanya Alena pasrah di sela-sela tangisnya.

Siska berjalan mendekati jendela, menatap ke luar dengan pandangan dingin sebelum berbalik kembali menatap Alena. Wajahnya mengeras, mencerminkan keputusan bisnis yang mutlak dan kejam.

"Hanya ada dua pilihan, Alena," kata Siska dengan suara dingin tanpa emosi. "Pilihan pertama, kita cari tahu siapa pria bajingan itu, paksa dia bertanggung jawab, dan kamu mengumumkan pernikahan mendadak lalu pensiun dari dunia hiburan untuk selamanya dengan menanggung semua denda penalti yang ada."

Siska menggantung kalimatnya sejenak, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin mencekam.

"Atau pilihan kedua," lanjut Siska seraya melangkah mendekat dan membungkuk di samping telinga Alena. "Kita singkirkan 'masalah' ini secepatnya. Sebelum perutmu mulai membuncit, sebelum media mencium bau busuk ini, dan sebelum kontrak film Hollywood-mu batal. Kita pergi ke luar negeri minggu depan untuk melakukan aborsi secara diam-diam. Setelah itu, kamu bisa kembali menjadi Alena yang dicintai semua orang. Sempurna, suci, dan tanpa cela. Keputusan ada di tanganmu."

Setelah mengatakan hal itu, Siska berbalik dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Alena sendirian dalam kesunyian yang mencekam.

Alena menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih. Tangan kanannya perlahan bergerak turun, menyentuh perutnya yang masih tampak rata. Di dalam sana, ada sebuah kehidupan baru yang sedang bertumbuh sebuah kehidupan yang tercipta dari kesalahan, namun tidak berdosa sama sekali.

Namun di luar sana, ada dunia yang siap menguliti dan menghancurkannya hidup-hidup jika kehidupan baru ini dibiarkan ada.

Dua garis merah yang ia lihat di kamar mandi apartemennya seolah menjelma menjadi dua jalan buntu yang sama-sama menuntut pengorbanan besar. Alena memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran pilihan hidup mati yang harus ia putuskan sebelum waktu menghentikan langkahnya.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!