NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Udara pagi di sekitar danau terasa berkali-kali lipat lebih segar dibanding AC di kamar gamingnya. Jasmine berjalan pelan dengan kedua tangan yang ditenggelamkan ke dalam saku hoodie hitam besarnya. Langkah kakinya yang berbalut sandal rumahan yang tipis sesekali menginjak rumput yang masih basah oleh embun pagi. Suasana kompleks perumahan klaster itu masih sangat sepi, hanya ada beberapa kicauan burung dan riak air danau yang tenang. Jasmine menghirup napas dalam-dalam, mencoba membersihkan paru-parunya dari sisa kafein semalam. Matanya yang sayu memandang lurus ke arah seberang danau. Di sana, berjarak sekitar lima puluh meter dari posisinya berdiri, sebuah bangunan baru yang estetik tampak mencuri perhatian. Bangunan itu didominasi material kayu ringan dan kaca-kaca besar yang langsung menghadap ke air. Di area depannya, terdapat hamparan taman bunga mini yang dipenuhi warna-warni kelopak mawar, lavender, dan beberapa tanaman hias yang Jasmine sendiri tidak tahu namanya. Di atas pintu masuknya, ada papan nama kayu yang dipahat rapi "Floraison Cafe."

"Kemarin rasanya bangunan ini belum selesai didekorasi," gumam Jasmine pelan pada diri sendiri. Dia agak heran melihat sebuah kafe bertema bunga berdiri di area perumahan yang cenderung tenang ini. Tapi harus diakui, pemandangan itu membuat danau yang biasanya kelihatan suram dan sepi di mata Jasmine, sekarang jadi terasa sedikit lebih hidup. Jasmine terus berjalan mendekati jalan setapak yang membatasi tepi danau dengan area luar taman kafe tersebut. Pikirannya kosong, melayang memikirkan turnamen di London yang tinggal menghitung minggu. Namun, lamunan melankolis dan estetik Jasmine langsung hancur berkeping-keping dalam waktu satu detik.

"KWEK! KWEK! KWEK! KWEK!"

Jasmine tersentak kaget. Suara pekikan nyaring itu terdengar sangat dekat. Belum sempat dia menoleh, dari balik semak-semak tanaman mawar di area taman kafe, muncul seekor bebek putih berukuran besar. Bebek itu berlari dengan kecepatan penuh, sayapnya mengepak-ngepak panik, dan matanya melotot seolah sedang dikejar oleh monster mengerikan, dan sialnya rute lari si bebek, lurus memotong jalan setapak, tepat ke arah kaki Jasmine.

"Eh—eh?" Jasmine yang punya refleks dewa di dalam game PC, mendadak mengalami system crash di dunia nyata. Otaknya macet. Dia mencoba melompat menghindar, tapi sandal rumahannya yang licin mengkhianatinya. Kakinya terpeleset di atas rumput basah yang agak berlumpur di tepi undakan danau.

"Aaa—!"

Tubuh Jasmine kehilangan keseimbangan. Dia terhuyung ke belakang, siap untuk pasrah tercebur ke dalam air danau yang dingin. Jasmine memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menghadapi benturan air. Namun bukan dingin air danau, Jasmine malah merasakan sebuah lengan yang kokoh dan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya yang ringan dengan sekali sentakan kuat kembali ke daratan. Karena tarikan yang terlalu bertenaga itu, tubuh Jasmine terdorong ke depan dan wajahnya menabrak dada bidang seseorang. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi bunga lavender dan kopi segar langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Jasmine.

"Hap! Ketangkap," sebuah suara bariton yang renyah dan terdengar sangat santai terdengar tepat di atas kepalanya.

Jasmine mengerjap-ngerjap, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat akibat kaget. Dia mendongak perlahan. Wajah pertama yang dia lihat adalah seorang cowok jangkung berambut hitam berantakan. Wajah cowok itu kelihatan matang, mungkin berumur sekitar 30 tahunan, dengan rahang yang tegas tapi memiliki binar mata yang sangat jenaka. Uniknya, di pipi kanan dan dahi cowok itu ada coretan garis-garis hitam besar dari spidol permanen, mirip coretan kumis kucing buatan anak TK. Cowok itu juga memakai celemek kain cokelat yang talinya sudah agak copot di satu sisi. Jasmine tertegun beberapa detik. Cowok itu menatapnya balik sambil menaikkan satu alisnya, senyuman lebar tersungging di bibirnya yang sehat. Setelah sadar dengan posisinya yang masih pelukan, Jasmine langsung panik. Dia mendorong dada cowok itu dengan kedua tangannya dan mundur dua langkah sampai jarak mereka aman.

"Ma—maaf! Terima kasih," kata Jasmine terbata-bata, wajahnya mendadak terasa panas. Dia merapikan hoodienya yang agak kusut.

"Sama-sama, Kamu tidak apa-apa?" tanya cowok itu dengan nada suara yang halus, menggunakan panggilan aku kamu yang sangat kasual. "Lain kali kalau jalan di dekat danau jangan sambil melamun. Untung tadi ada aku, kalau tidak, kamu sudah berenang pagi-pagi sama ikan di bawah sana."

"Aku tidak melamun," bela Jasmine pelan, suaranya kembali ke mode datar andalannya meskipun jantungnya masih menyuarakan protes. Matanya melirik ke arah coretan spidol di wajah cowok itu, membuat Jasmine harus sekuat tenaga menahan diri untuk tidak bertanya.

Melihat arah pandangan Jasmine, cowok itu malah tertawa kecil tanpa rasa malu sedikit pun. Dia mengusap pipinya sendiri. "Ah, ini? Ini mahakarya dari keponakan aku yang berumur lima tahun tadi malam. Aku lupa berkaca pas bangun subuh tadi. Keren, kan? Kelihatan seperti macan kompleks."

Jasmine cuma bisa diam menatap cowok di depannya dengan tatapan tidak habis pikir. "Ini orang aneh banget," batinnya.

Belum sempat situasi canggung itu mereda, si bebek putih yang tadi menjadi penyebab utama insiden ini kembali berulah. Bebek itu berjalan santai mendekat, lalu dengan entengnya merapatnya paruhnya yang agak kotor ke ujung celana training abu-abu milik Jasmine, meninggalkan noda lumpur cokelat di sana.

"Ih, bebeknya..." Jasmine refleks mundur lagi, badannya kaku karena dia sama sekali tidak tahu cara menangani hewan unggas.

"Heh! Donald! Sini kamu!" Cowok itu membungkuk, dengan gerakan yang sangat lihai dan santai, dia mencengkeram badan si bebek besar itu dengan satu tangan, lalu menjepitnya di bawah ketiaknya seolah-olah bebek itu cuma sebuah tas belanjaan. "Maaf ya, Donald ini emang agak kurang sopan kalau melihat perempuan cantik. Suka langsung mau kenalan."

Jasmine mengerutkan dahinya, merasa agak tidak nyaman sekaligus bingung dengan gaya bicara cowok ini yang super kasual dan suka menggoda. "Tolong dijaga baik-baik bebeknya. Celana aku jadi kotor."

"Iya, maaf ya. Sebagai gantinya, bagaimana kalau kamu mampir ke kafe aku dulu? Aku bisa bantu bersihkan noda lumpur di celana kamu, sekalian aku buatkan minuman hangat. Anggap saja sebagai permintaan maaf dari aku dan Donald," cowok itu mengulurkan tangan kirinya yang bebas ke arah Jasmine. "Aku Liam. Pemilik kafe bunga di seberang jalan itu."

Jasmine menatap tangan Liam, lalu beralih menatap wajah Liam yang penuh coretan spidol. Sifat tertutup dan pendiamnya langsung mengambil alih. "Tidak usah, terima kasih. Aku bisa bersihkan sendiri di rumah."

"Eh, jangan menolak rezeki pagi-pagi. Kafe aku sebenarnya baru mau resmi buka besok, tapi kamu boleh jadi pelanggan VIP pertama hari ini. Gratis kok, tidak pakai bayar," kata Kak Liam lagi, matanya menyipit jenaka saat dia tersenyum. "Nama kamu siapa? Masa dari tadi panggil aku kamu aja, rasanya seperti kita sedang pacaran."

Wajah Jasmine kembali merona tipis mendengar godaan itu. Dia berdeham pelan untuk menetralkan rasa salah tingkahnya. "Jasmine."

"Jasmine? Wah, nama yang cocok sekali dengan konsep kafe aku. Artinya bunga melati, kan?" Kak Liam mangut-mangut, matanya menatap Jasmine dengan tatapan peka yang sangat dalam, seolah-olah dia sedang membaca apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. "Kamu kelihatan lelah sekali, Jasmine. Lingkar matamu hitam. Kurang tidur, ya?"

Jasmine agak terkejut karena cowok asing ini bisa langsung menyadari kondisinya hanya dalam sekali lihat. "Aku cuma... habis menyelesaikan pekerjaan semalam."

"Pekerjaan sampai subuh? Luar biasa produktif," Kak Liam terkekeh, lalu dengan gerakan cepat yang tidak terduga, dia memetik sekuntum bunga kecil berwarna ungu dari semak di dekatnya dan menyodorkannya ke depan wajah Jasmine. "Ini buat Jasmine, dari Kak Liam dan Donald si bebek rusuh. Biar pagi kamu tidak mendung terus."

Jasmine mematung menatap bunga ungu kecil itu, lalu beralih menatap Liam. Ada rasa dejavu yang mendadak menghantam kepalanya dengan keras. Nada suara cowok ini, caranya memanggil namanya, dan kehangatan yang dipancarkannya... rasanya sangat familier di ingatan masa kecil Jasmine yang samar. Tapi Jasmine tidak bisa mengingat apa pun dengan jelas. Kepalanya mendadak agak berdenyut.

"Terima kasih, tapi aku harus pulang sekarang. Permisi, Kak Liam," ucap Jasmine cepat. Dia tidak mengambil bunga itu, melainkan langsung berbalik badan dan berjalan dengan langkah seribu kembali menuju rumahnya.

Liam tidak mengejarnya. Dia tetap berdiri di tepi danau, masih memeluk Donald si bebek di bawah ketiaknya. Senyuman jenaka di wajahnya perlahan berubah menjadi sebuah senyuman yang sangat lembut, penuh kerinduan, dan rasa lega yang mendalam. Matanya terus mengawal punggung kecil Jasmine yang tenggelam di balik pagar rumah klaster sampai benar-benar hilang dari pandangan. Liam menghela napas panjang, lalu mengelus kepala Donald yang mulai tenang.

"Donald... target sudah aman. Akhirnya, anak kecil yang dulu menangis karena es krimnya jatuh di panti asuhan, sekarang sudah tumbuh besar jadi gadis yang cantik ya? Walaupun sekarang dia galak dan sombong banget sama aku," bisik Liam pelan pada si bebek, matanya menerawang menatap langit pagi yang mulai cerah.

Janji masa kecil yang dia simpan sendiri selama belasan tahun ini, akhirnya mulai mekar tepat di tepi danau ini.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!