NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 02. Lelah

Kedua bola mata Wulan terbelalak sempurna kala melihat sang ibu mertua sudah terkapar di lantai. Gegas, Wulan meletakkan tubuh mungil Bagas di atas matras yang berada di depan TV. Bagas yang masih belum sepenuhnya tenang kembali menangis kencang saat di letakkan di atas matras. Nampaknya bayi mungil itu minta terus berada di dalam gendongan sang ibu.

Dengan hati-hati Wulan memasuki kamar Marta yang nampak basah karena air seni. Aroma menyengat pun juga menguar memenuhi kamar berukuran tiga kali tiga ini. Bisa dipastikan, Marta terpeleset oleh air seninya sendiri.

"Bu, bagaimana bisa seperti ini? Ibu mau kemana?"

Tubuh Wulan yang tidak terlalu berisi itu dipaksa kuat untuk menopang tubuh sang mertua yang sedikit tambun. Dengan kekuatan penuh, ia berupaya untuk mendudukkan tubuh Marta di tepi ranjang.

"Aku mau ke kamar mandi, Lan. Tapi belum sampai di kamar mandi aku keburu kencing dan terpeleset."

"Bu, Wulan kan sudah bilang, pakai diapers nya agar tidak bolak-balik ke kamar mandi dan agar tidak sampai hal seperti ini terjadi."

"Tapi aku risih Lan. Aku tidak biasa memakai diapers."

Wulan hanya menghela napas panjang. Ia tahu betul kondisi psikis sang ibu mertua yang seperti belum bisa menerima keadaan yang sebenarnya. Satu bulan menjelang lahiran, Marta mengalami stroke sehingga membuat separuh badan sang mertua tidak bisa digerakkan. Kondisi sang ibu mertua yang seperti itulah yang membuat pekerjaan Wulan bertambah banyak di rumah ini.

"Tapi mulai saat ini harus Ibu biasakan. Karena kalau tidak dibiasakan, akan membuat Ibu repot sendiri."

"Aku yang repot atau kamu yang repot Lan?"

"Aku tidak merasa direpotkan, Bu. Tapi jika Ibu mau memakai diapers setidaknya bisa sedikit meringankankan apa yang Wulan kerjakan dan hal-hal semacam ini tidak terjadi. Kalau seperti ini, Ibu juga kan yang kesakitan?"

Wulan membuang napas sedikit kasar. Ucapan sang ibu benar-benar terdengar tidak mengenakkan di hati. Namun, wanita itu tetap mencoba untuk mengerti. Dengan perlahan ia membersihkan badan ibu mertua kemudian ia ganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih.

"Tapi aku masih bisa jalan Lan. Aku tidak sepenuhnya lumpuh."

"Betul, Ibu tidak sepenuhnya lumpuh. Namun sebagian tubuh Ibu tidak bisa digerakkan jadi sama saja."

"Pokoknya aku mau sembuh Lan. Aku mau sembuh. Aku tidak mau lumpuh seperti ini!"

Marta menangis tergugu. Wanita yang hampir memasuki usia senja itu terus memukul-mukul paha sebagai luapan rasa belum bisa menerima kenyataan jika penyakit stroke menggerogoti tubuhnya yang mulai renta.

Wulan membuang napas sedikit kasar. Saat ini tubuhnya benar-benar lelah, matanya juga terasa begitu berat. Namun ia masih memiliki banyak pekerjaan untuk menenangkan hati sang mertua yang nampak begitu frustrasi.

"Sudah Bu, Ibu yang sabar ya. Semoga Allah segera mengangkat penyakit Ibu dan menggantinya dengan kesehatan. Sekarang ibu istirahat ya."

Wulan bermaksud merebahkan tubuh Marta di atas pembaringan. Jika Marta sudah beristirahat, setidaknya ia pun juga bisa ikut beristirahat. Marta sudah dalam posisi berbaring di atas ranjang. Sejenak, ia menatap lekat bekas air pipis sang mertua yang membasahi lantai yang aromanya begitu menyeruak.

Tak ingin berlama-lama lagi, Wulan mengusap lantai itu dengan pakaian bekas yang sebelumnya dipakai oleh Marta. Setelahnya, ia ke kamar mandi, menuang larutan pembersih lantai dan mulai membersihkan lantai menggunakan kain pel juga menyingkirkan serpihan-serpihan gelas yang pecah ketika sang mertua terpeleset. Hingga harum semerbak larutan pel menyeruak memenuhi kamar Marta.

"Akhirnya selesai juga," lirih Wulan seraya mengusap peluh yang mengalir di keningnya.

Wulan mengayunkan tungkai kaki, bermaksud meraih tubuh mungil Bagas yang berada di atas matras untuk ia gendong lagi. Bayi mungil itu masih saja menangis seakan hanya bisa tenang jika digendong oleh sang ibu. Baru saja Wulan berada di ambang pintu, tiba-tiba...

"Lan!"

Langkah kaki Wulan terhenti. Ia berbalik punggung dan kembali menatap sang mertua, "ada apa Bu?"

"Aku lapar. Bisakah kamu mengambilkan makanan untukku?"

"Tapi ini sudah tengah malam, Bu. Bagaimana jika besok pagi saja ibu makannya?"

Marta menggeleng, "tidak, aku ingin makan sekarang. Apa kamu keberatan jika menyiapkan makanan sekarang untukku?"

Ingin rasanya Wulan menjawab iya pertanyaan yang dilontarkan oleh Marta, karena sungguh tubuhnya sudah begitu lelah dan matanya juga sudah teramat berat karena mengantuk. Namun rasanya ia tidak sampai hati mengatakannya kepada wanita yang sudah ia sebagai ibunya itu.

Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Marta, Wulan meraih tubuh Bagas dan menggendongnya. Wanita yang baru dua minggu minggu melahirkan itu menuju dapur menyiapkan makanan untuk ibu mertua. Ia melihat stok bahan makanan atau sayuran yang ada di kulkas. Nampak hanya ada telur di sana. Akhirnya Wulan memutuskan untuk membuat telur dadar untuk Marta. Sembari menimang Bagas, Wulan menggoreng telur dan berusaha sekuat tenaga melawan rasa kantuknya.

"Sudah matang Bu, ayo makan!"

Wulan kembali memasuki kamar sang mertua. Ia duduk di bangku yang kosong bermaksud untuk menyuapi Marta sembari menggendong Bagas.

"Apa itu Lan?"

"Telur dadar Bu." Wulan menyodorkan sendok ke mulut Marta untuk menyuapi namun Marta tak bergeming sama sekali.

"Aku tidak mau telur dadar, aku maunya telur ceplok."

Dua bola mata Wulan membulat penuh, "mengapa Ibu tidak minta dari tadi sebelum aku menggoreng telur ini?"

"Kamu tidak tanya Lan, jadi aku tidak tahu."

Wulan menghela napas dalam-dalam. Ada rasa kesal dan rasa marah yang benar-benar menyeruak dalam dada. Ingin rasanya ia lempar piring berisikan telur dadar itu, namun sekuat tenaga ia mencoba untuk menahannya.

"Makan ini saja ya Bu. Ini kan juga telur. Mubazir kalau tidak dimakan. Lagipula aku juga sudah capek dan mengantuk, Bu."

"Jadi kamu sudah mulai perhitungan sama Ibu, Lan? Seandainya aku tidak lumpuh, aku pasti juga akan melakukannya sendiri," cicit Marta persis anak kecil yang kecewa.

"Ya Tuhan..." Wulan kembali menghembuskan napas sedikit kasar. Ia benar-benar serba salah menghadapi kemauan sang mertua malam ini.

Tak ingin berdebat lebih panjang lagi, tanpa sedikitpun kata yang keluar dari bibir, Wulan kembali ke dapur. Menggoreng telur ceplok seperti yang diinginkan oleh Marta.

Wulan menggoreng telur itu dengan perasaan yang campur aduk. Sekuat tenaga, ia mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Namun tetap saja, gejolak emosi yang ia pendam sendiri mendorong titik-titik air mata itu untuk terjatuh dari bingkainya.

***

Usai menyuapi Marta, Wulan kembali masuk ke dalam kamar. Sang anak pun juga sudah tertidur di dalam gendongan. Sebelum merebahkan diri di kasur, sejenak Wulan berdiri di sisi ranjang sang suami. Ia lihat suaminya tidur begitu lelap dengan sesekali dengkuran halus terdengar keluar dari bibirnya.

Ada rasa sesak dalam dada di kala melihat sang suami tidur begitu nyenyak. Lelaki itu bisa tertidur pulas tanpa sedikitpun memikirkan apa itu namanya keperluan sang ibu. Lelaki yang tidak mau tahu betapa banyak pekerjaan di rumah dan tidak mau tahu tubuh istrinya itu sudah terlampau lelah.

Wulan kembali mengayunkan tungkai kaki. Ia letakkan tubuh Bagas di atas kasur, disusul oleh Wulan yang juga ikut merebahkan diri di samping Bagas sembari meringkuk di sisi sang anak.

"Ya Tuhan... Hari ini tubuhku benar-benar lelah."

Tak berselang lama, mata Wulan terpejam. Mengistirahatkan tubuh, agar lelah itu hilang ditelan oleh mimpi panjangnya.

.

.

.

1
sunaryati jarum
Semoga kejadian itu diketahui Langit.Karena merayakan perceraian Awan dan Mega lupa mengirim pesanan Langit ,maka Langit membatalkan dan cari dealer lain
sunaryati jarum
Itu calon jandanya Awan,Nak Langit.Semoga ada kendala pesanan motor Nak Langit, tidak bisa langsung diantar sesuai jai,Mega.
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!