Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi kota.
Lampu-lampu gedung tinggi terlihat samar dari balik jendela apartemen mewah tempat Evelyn dan Damien biasa tinggal bersama.
Pintu apartemen terbuka pelan.
Evelyn melangkah masuk dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Veil putih panjang itu tampak kusut setelah ia berlari keluar dari aula pernikahan.
Brak.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Ruangan terasa gelap… sunyi… dan dingin.
Tidak ada suara langkah kaki Damien.
Tidak ada aroma kopi yang biasa pria itu buat setiap malam.
Tidak ada sosok tinggi yang akan menyambutnya sambil berkata dingin namun lembut, “Kau pulang.”
Evelyn berdiri mematung di ruang tengah.
Matanya perlahan menyapu seluruh ruangan, seolah berharap Damien tiba-tiba muncul dari salah satu sudut apartemen.
Namun semuanya tetap kosong.
Perlahan wanita itu berjalan masuk lebih dalam.
Tatapannya jatuh pada sofa tempat mereka sering duduk bersama sepulang kerja.
Di meja makan masih terdapat dua cangkir yang kemarin mereka gunakan.
Bahkan jas hitam Damien masih tergantung rapi di dekat lemari.
Semua terlihat normal…
Seolah pria itu akan kembali kapan saja.
“Damien…” suaranya bergetar pelan.
Wanita itu menggigit bibirnya menahan tangis.
“Apa yang sebenarnya terjadi…?”
Ia berjalan menuju kamar mereka dan mendorong pintunya perlahan.
Kamar itu masih sama seperti biasanya.
Ranjang rapi.
Jam tangan Damien berada di atas meja.
Dan foto prewedding mereka terpajang di samping tempat tidur.
Evelyn mengambil bingkai foto itu dengan tangan gemetar.
Air mata Evelyn akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
“Kenapa…?” bisiknya lirih.
“Kenapa kau pergi begitu saja tanpa penjelasan?”
Suaranya mulai pecah oleh tangisan.
Ia perlahan menunduk lalu menyentuh perutnya sendiri dengan tangan gemetar.
“Aku bahkan belum sempat memberitahumu…” ucapnya dengan napas tidak teratur.
“Kalau kita akan segera memiliki buah hati…”
Tangisan Evelyn langsung pecah.
Tubuhnya melemah hingga ia terduduk di lantai kamar.
Gaun pengantinnya menyebar berantakan di lantai dingin, sementara air matanya terus jatuh tanpa henti.
“Damien…” tangisnya lirih penuh harap.
“Kau di mana…? Kembalilah… aku mohon…”
Malam itu…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Evelyn merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang paling ia cintai.
Pria yang telah ia cintai selama delapan tahun.
Pria yang selalu ia percaya tidak akan pernah meninggalkannya.
Dan bersama hilangnya Damien Lu… lenyap pula seluruh impian Evelyn untuk menjadi istrinya.
Evelyn duduk sepanjang malam di samping kasurnya.
Gaun pengantin yang belum sempat ia ganti masih melekat di tubuhnya. Matanya kosong menatap lantai, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.
Malam terasa begitu panjang.
Keesokan harinya.
Kediaman keluarga Shen.
Suasana ruang tamu dipenuhi ketegangan.
Ronald Shen duduk di sofa sambil memegang koran pagi dengan wajah murka. Di sampul depan terpampang berita besar tentang batalnya pernikahan keluarga Shen dan Lu.
Brak!
Ronald melempar koran itu ke atas meja dengan kasar.
“Lihat apa yang mereka tulis tentang keluarga kita!” bentaknya penuh emosi.
Lucy Wen yang duduk di samping suaminya langsung terkejut.
“Ronald, tenangkan dirimu dulu…”
“Bagaimana aku bisa tenang?!” potong Ronald marah.
“Mereka bilang putri keluarga Shen ditinggalkan pria yang dicintainya selama delapan tahun! Mereka bilang anak kita sudah menjadi wanita buangan!”
Lucy menghela napas berat.
“Kau juga tahu orang-orang hanya suka membicarakan hal buruk. Jangan terlalu dipikirkan.”
Ronald tertawa dingin penuh amarah. “Tidak dipikirkan?” ujarnya sinis.
“Karena bajingan itu, saham perusahaan kita langsung anjlok sejak tadi malam!”
Ia menunjuk koran di meja dengan tangan gemetar.
“Mereka mengatakan putri seorang pengusaha besar ditinggalkan setelah pria itu bosan dengannya!”
“Bahkan ada yang menulis seorang jaksa hebat ternyata hanyalah wanita yang dipermainkan!”
Setiap kata itu terdengar begitu tajam.
Dan tepat saat itu—
Pintu rumah terbuka perlahan.
Evelyn masuk dengan wajah pucat dan mata sembab akibat menangis semalaman.
Langkahnya terlihat lemah.
Lucy langsung berdiri menghampiri putrinya.
“Evelyn…” panggilnya pelan penuh khawatir.
Melihat putrinya dalam keadaan seperti itu membuat hati Lucy terasa sakit.
Evelyn menatap kedua orang tuanya dengan mata merah.
“Pa… maafkan aku…” ucapnya lirih.
Namun permintaan maaf itu justru membuat emosi Ronald semakin meledak.
“Maaf?” ulang Ronald dingin. “Untuk apa kau meminta maaf sekarang?”
Ia berdiri lalu menatap putrinya dengan penuh kekecewaan.
“Dulu papa tidak pernah setuju kau bersama Damien Lu. Tapi kau tidak mau mendengarkan. Kau terus mengatakan cinta kalian tidak akan pernah terpisah!”
Suara Ronald semakin meninggi.
“Lalu sekarang apa hasilnya? Dia pergi dan mempermalukan keluarga kita di depan semua orang!”
Tubuh Evelyn sedikit gemetar mendengar bentakan itu.
Ronald masih belum berhenti.
“Seluruh kota menjadikan keluarga Shen bahan tertawaan!”
“Mereka menyebut putri keluarga Shen hanyalah wanita buangan! Barang bekas yang ditinggalkan pria!”
“Cukup!” Lucy langsung memotong dengan marah..“Jangan bicara seperti itu pada anak kita!”
Namun Ronald sedang dikuasai emosi.
“Apa aku salah bicara?!” bentaknya. “Semua ini terjadi karena pria yang dia pilih. Bajingan itu sama sekali tidak bertanggung jawab. Dia menghancurkan nama keluarga kita!”
Evelyn perlahan mengepalkan tangannya.
Meski hatinya hancur, ia tetap mengangkat wajah menatap ayahnya.
“Aku akan menemukan Damien, Pa…” ucapnya dengan suara bergetar..“Aku percaya dia bukan pria yang tidak bertanggung jawab.”
Kalimat itu membuat Ronald kehilangan kesabaran.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Evelyn.
Lucy langsung terkejut.
“Ronald!” serunya panik.
Tubuh Evelyn sedikit terhuyung.
Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang memerah.
Ronald menatap putrinya dengan mata penuh amarah dan kekecewaan.
“Sampai sekarang kau masih membela pria itu?!” bentaknya.
“Sadarlah, Evelyn! Kalau dia benar mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu di altar seperti wanita yang tidak berharga!”
“Dan… mulai detik ini, kau bukan lagi putri keluarga Shen.”
Suara Ronald terdengar tegas dan dingin tanpa sedikit pun keraguan.
Mata Evelyn langsung membesar.
“Pa…” suaranya bergetar pelan.
Lucy pun terkejut mendengar keputusan suaminya.
“Ronald, apa yang kau katakan?!” serunya tidak percaya.
Ronald tetap menatap Evelyn dengan wajah keras.
“Nama keluarga Shen sudah dipermalukan karena kesalahanmu. Semua ini terjadi karena pilihanmu sendiri. Aku dan ibumu tidak seharusnya ikut menanggung rasa malu ini.”
Tubuh Evelyn terasa semakin lemas..Dadanya sesak mendengar setiap kata dari ayahnya sendiri.
Ronald kembali berkata dengan nada tanpa ampun,“Demi perusahaan dan nama keluarga… aku akan menghapus namamu dari keluarga Shen.”
“Pa… aku anak Papa…”
Suara Evelyn bergetar hebat dipenuhi luka dan ketidakpercayaan.
“Kenapa Papa tega melakukan ini padaku…?” tanyanya dengan air mata yang terus jatuh.
“Apa gunanya semua yang kau lakukan selama ini? Kau bahkan memilih menjadi jaksa karena Damien Lu! Semua keputusanmu selalu tentang pria itu!”
Ronald menatap putrinya penuh kekecewaan.
“Dan lihat akhirnya sekarang. Dia meninggalkanmu begitu saja!”
Lucy langsung mencoba menenangkan suaminya.
“Ronald, hentikan! Evelyn sedang terluka—”
“Cukup!” bentak Ronald.
Ia langsung menarik lengan Evelyn dengan kasar. “Pergi dari rumah ini!”
“Pa…” Evelyn terkejut.
Dengan emosi yang memuncak, Ronald mendorong tubuh putrinya keluar dari rumah.
Bruk!
Tubuh Evelyn jatuh keras di halaman depan rumah.
“Ahhh!” jeritnya kesakitan.
Tangannya refleks memegang perutnya..Wajahnya langsung pucat.
Lucy yang melihat itu langsung panik. “Evelyn!”
Namun sebelum Lucy sempat mendekat...
Mata Evelyn membelalak.
Ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari bawah tubuhnya.
Perlahan…
Darah mulai menetes di lantai halaman.
Tubuh Evelyn langsung gemetar hebat.
Tangannya menyentuh bagian bawah gaun putihnya yang perlahan ternoda merah.
“Da… darah…” suaranya bergetar penuh ketakutan.
"Pa, Ma, tolong selamatkan anakku!" pinta Evelyn yang kesakitan.