NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Dalam keremangan ruang tamu yang tenang, ingatan Fadhlan melayang jauh ke masa tiga belas tahun silam. Di sana, di sebuah halaman rumah sederhana di Kota T, ada seorang gadis kecil berusia lima tahun yang selalu mengekor ke mana pun ia pergi.

​"Aku maunya jadi pengantin sama Kakak kalau sudah besar nanti! Habisnya, kakak ganteng dan baik sama aku," celetuk Syifa kecil kala itu, bibirnya mengerucut lucu.

​Fadhlan remaja, yang saat itu baru saja mengenal dunia pesantren, hanya bisa terkekeh sembari mencubit pelan pipi tembam adik angkatnya itu.

"Menikah itu untuk orang dewasa, Syif. Harus saling mencintai. Kita kan saudara."

​"Nggak mau! Berarti Kakak nanti menikah sama orang lain dan punya anak? Sama saja aku ditinggal dong!"

​"Enggak, sayang. Kakak akan selalu ada buat kamu," janji Fadhlan waktu itu. Sebuah janji yang ternyata harus dibayar mahal oleh waktu.

​Perpisahan itu datang terlalu cepat. Penyakit yang merenggut ibundanya, disusul kepergian ayahnya tak lama kemudian, membuat dunia Fadhlan runtuh. Di tengah duka itu, Kakek Nizar mengirimnya belajar ke luar negeri setelah ia menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren. Sejak saat itu, garis hidupnya dan Syifa seolah terputus oleh samudera dan benua.

...(Ilustrasi tokoh M. Fadhlan Ganendra)...

...----------------...

Dua bulan sebelum Kakek Nizar berpulang, di sebuah ruang perawatan rumah sakit, sebuah percakapan mengubah segalanya.

​"Aku bingung dengan cucuku, Al," keluh Kakek Nizar pada Kakek Ali. "Umurnya sudah hampir tiga puluh tahun, tapi dia masih sendiri. Anak pengusaha, bahkan anak kyai tempatnya mondok dulu, semua dia tolak dengan halus."

​Kakek Ali terkekeh pelan. "Mungkin dia masih ingin berkarir sepertimu"

"Sudah tua begini, cucu belum juga menikah. Aku khawatir cucuku tidak normal, Al"

"Hushh, jangan berprasangka yang buruk pada cucu sendiri"

"Entahlah Al. Dia persis seperti Fadhil"

​Kakek Nizar terdiam sejenak, menatap layar TV tanpa minat.

"Tunggu! Cucumu Asyifa, umur berapa dia sekarang?" sambung beliau menyebut cucu kakek Ali dengan panggilan kesayanganya.

"Syifa? Dia belum genap 20 tahun. Kuliahnya saja baru semester 3"

"Kita jodohkan saja bagaimana?" celetuk beliau tiba-tiba.

"Uhukk..uhukk..apa aku tidak salah dengar?" tanya kakek Ali terkejut mendengarnya.

"Ya, kita jodohkan mereka. Tidak ada salahnya bukan?"

"I-itu..kamu serius? Cucuku hanya gadis dari desa, bukan keturunan orang kaya seperti keluargamu" jelas kakek Ali merasa pesimis mengingat latar belakang keluarganya.

"Kamu ini bicara apa? Cucumu juga cucuku, keluargaku juga keluargamu. Aku yakin cucuku pasti tidak akan menolak. Toh sampai saat ini cucuku masih menyimpan foto masa kecilnya dengan Asyifa di ruang kerja dan di kamarnya"

Kakek Ali tidak menyangka kalau cucu kakek Nizar masih ingat dengan cucunya, Asyifa Humaira. Padahal sudah belasan tahun mereka tidak bertemu, bahkan mungkin Syifa tidak mengingat cucu sahabatnya.

"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar ini?"

"Ya, Al. Kenapa tidak dari dulu terpikir olehku untuk menjodohkan mereka ya? Padahal sudah jelas dari dulu Fadhlan sangat perhatian dengan Asyifa. Aku akan tenang dan bahagia kalau melihat mereka bersama lagi" senyuman terukir di wajah kakek Nizar.

"Tapi Zar, saat itu mereka masih anak-anak. Mungkin cucumu perhatian dan sayang seperti halnya kakak pada adiknya"

"Tidak ada salahnya kan, Al? Siapa tahu mereka mau dan jatuh cinta nantinya"

"Baiklah Zar, aku mendukung keputusanmu. Semoga Allah juga meridhoi perjodohan ini. Yang terpenting sekarang kamu kembali sehat dulu"

"Hm sahabatku, jika umurku tidak panjang. Aku titipkan keinginanku padamu, persatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Supaya persaudaraan kita juga tidak terputus"

Kakek Ali tercekat mendengar ucapan dari sahabatnya. Dia berfikir kalau sahabatnya memberikan tanda-tanda bahwa usianya sudah tidak lama lagi.

Firasat kakek Ali benar, satu bulan kemudian, kakek Nizar meninggal dunia.

...----------------...

Namun, ada satu rahasia pahit yang baru diketahui Fadhlan saat ia kembali ke Kota T untuk memenuhi wasiat kakeknya. Di kediaman keluarga Ganendra, Abi Musthofa menceritakan peristiwa nahas dua belas tahun lalu.

​"Syifa mengalami kecelakaan tepat di hari ulang tahunnya, Nak Fadhlan," suara Abi Musthofa bergetar, matanya menerawang membayangkan tubuh kecil putrinya yang berlumuran darah setelah terpental di aspal panas. "Dia koma tiga hari. Saat terbangun, dia mengingat kami semua, mengingat keluargamu... tapi dia kehilangan satu nama."

​Fadhlan merasa jantungnya diremas hebat. "Apakah... nama saya, Bi?"

​Kakek Ali mengangguk lirih. "Hanya namamu yang terkunci rapat di memorinya, Nak. Seolah-olah otak Syifa mencoba menghapus trauma kehilanganmu dengan cara melupakan keberadaanmu sepenuhnya."

..................

​Di bawah langit Kota T yang tenang, Fadhlan Ganendra, pria yang dikenal sedingin es, merasakan dadanya sesak oleh rasa bersalah yang menghujam.

'Ya Rabb, jika memang ini takdir dari-Mu supaya ingatan Syifa kembali. Hamba memohon ridho-Mu akan perjodohan ini Ya Rabb. semoga Engkau mudahkan dan lembutkan hatinya ketika nanti hamba datang untuk mengkhitbahnya'

...----------------...

Malam itu, di kediaman Abi Musthofa mendadak sesak oleh aura kewibawaan keluarga Ganendra. Di ruang tamu yang harum aroma kayu cendana dan melati, suasana terasa begitu khidmat. Kakek tak henti-hentinya menggenggam tangan pria muda di sampingnya, seolah takut jika dilepaskan, sosok itu akan menghilang lagi seperti tiga belas tahun lalu.

Kakek mengusap sudut matanya yang basah dengan sapu tangan lusuh. Suaranya bergetar saat menatap wajah pria itu lekat-lekat.

​"Rasanya baru kemarin Kakek melihatmu berlari di halaman depan sambil mengejar capung," suara Kakek serak oleh haru. "Waktu benar-benar cepat berlalu. Lihatlah, cucu sahabatku sekarang sudah tumbuh setegap ini."

​Pria itu, Fadhlan, hanya menarik sudut bibirnya tipis, sebuah senyum formalitas yang tidak sampai ke mata. "Maaf baru bisa berkunjung sekarang, kakek."

​"Tidak apa-apa, Nak. Kedatanganmu hari ini sudah membuat kami sekeluarga bahagia," sahut Abi Musthofa dengan nada rendah yang menenangkan.

Paman Romi berdehem, memecah suasana haru menjadi lebih serius. Beliau meletakkan cangkir tehnya perlahan.

​"Abang Musthofa, Om Ali... sebenarnya kedatangan kami bukan sekadar untuk melepas rindu," Paman Romi melirik Fadhlan.

"Beberapa hari setelah menginjakkan kaki kembali di kota ini, Fadhlan datang menemui saya. Dia mengatakan dengan tegas, bahwa tujuannya bukan hanya silaturrahmi, melainkan untuk memenuhi janji lama."

Syifa duduk bersimpuh di samping Ummi Salwa, jemarinya meremas ujung gamisnya kuat-kuat. Jantungnya berdegup tak keruan saat mendengar suara Paman Romi yang begitu lugas menyampaikan maksud kedatangannya.

​"Kami datang... untuk mengkhitbah putri Abang Musthofa, Ananda Asyifa Humaira, untuk keponakan kami, Muhammad Fadhlan Ganendra." ujar paman Romi, yang tak lain adalah adik kandung dari ayahnya Fadhlan.

​Deg!

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Syifa. Ia mengira malam ini hanyalah perkenalan, namun ternyata ini adalah langkah besar menuju jenjang yang lebih serius. Air mata hampir saja tumpah.

"Ummi..." bisiknya lirih, mencari kekuatan.

​"Bismillah, Nduk. Mungkin ini jawaban dari istikharahmu," bisik Ummi Salwa sembari menggenggam tangan Syifa yang dingin.

Abi Musthofa terlihat menarik napas dalam, sebelum menjawab pernyataan yang dilontarkan oleh paman Romi.

"Terimakasih atas niat baiknya, tentunya saya sebagai orang tua, sangat senang mendengarnya. Insyaa Allah, abi percaya kalau nak Fadhlan ini pria yang baik"

"Seperti yang kita tahu bahwa di antara tahapan menuju jenjang pernikahan adalah mengkhitbah atau melamar. Khitbah sendiri adalah satu cara untuk menunjukkan keinginan seorang laki-laki untuk menikahi perempuan sekaligus memberitahukan hal yang sama kepada wali si perempuan" tutur abi Musthofa.

"Hikmah dari melamar tentunya memberi peluang untuk mengenal lebih jauh antara kedua belah pihak" Beliau menjeda sebelum kembali melanjutkan "Untuk saling mengetahui perangai, tabiat, dan adat kebiasaan masing-masing, dengan tetap memperhatikan batasan-batasan yang diperbolehkan syariat"

"Tapi yang perlu diingat oleh nak Fadhlan dan Asyifa putriku, khitbah itu baru sekadar janji pernikahan. Jadi laki-laki yang melamar dan perempuan yang dilamar statusnya masih orang lain. Tidak halal bagi si pelamar untuk melihat si perempuan kecuali bagian yang diperbolehkan syariat, yakni wajah dan kedua telapak tangan. Insyaa Allah nak Fadhlan sudah faham tentang ini bukan semasa di pondok pesantren dulu kan?” lanjut beliau.

​Dari kejauhan, di balik tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga, Syifa mendengar suara berat itu menyahut. "Insya Allah, Abi," jawab Fadhlan dengan nada yang begitu tenang namun penuh kepastian.

Suaranya terdengar sangat dewasa, berwibawa, dan Syifa benci mengakuinya sangat menenangkan.

...----------------...

Prosesi pemasangan cincin yang diwakilkan oleh Tante Silvi (istrinya paman Romi) berlangsung haru. Saat tiba waktunya Syifa diperbolehkan melihat calon imamnya, tirai ruang tengah terbuka. Fadhlan melangkah masuk membawa buket mawar merah.

​Fadhlan menyalami Ummi Salwa dengan sangat takzim. Ada air mata yang menggenang di sudut mata pria itu saat mencium tangan Ummi, sebuah gestur yang membuat Syifa bertanya-tanya, seberapa rindu dia pada sosok ibu sampai menangis di depan Ummi?

​"Syifa, putriku... lihatlah calon suamimu sebentar," tutur Ummi Salwa lembut.

​Dengan napas yang tertahan, Syifa memberanikan diri mendongak. Di depannya berdiri pria yang sama dengan pria di minimarket kemarin dan dosen yang tadi siang membuatnya pias di kelas.

'Syifa, akhirnya kita bertemu kembali. Apa ini nyata Ya Rabb? Gadis kecil yang dulu bersamaku? Asyifa Humairaku'

Fadhlan sedang menatapnya, ada senyum tipis yang tulus di bibirnya.

'​Subhanallah... aslinya jauh lebih tampan dari fotonya, apalagi kalau lihat dari jarak dekat seperti ini' batin Syifa jujur, sebelum akhirnya ia kembali menunduk karena menyadari calon suaminya sedang menatap wajahnya.

Keduanya salah tingkah ketika tengah digoda oleh tante, paman, saudara sepupu dan adik-adiknya Syifa.

"Duh manisnya kalian berdua" ujar tante Silvi menggoda Syifa dan Fadhlan yang terlihat serasi.

"Jangan lama-lama bang, belum sah!" seru Haikal, sepupu Fadhlan yang melihat dari ruang tamu.

"Mau langsung akad atau gimana nih?" imbuh Raihan terkekeh melihat wajah kakaknya yang salah tingkah.

"Jaga jarak aman kata abi!" imbuh om Andi.

"Kak Syifa sama Kak Fadhlan lihat ke sini ya, 1..2..3..."

CEKREK!!

Tasya mengabadikan momen dua sejoli yang masih terlihat malu-malu dan masih sangat kaku.

...****************...

1
Ulfa 168
udah sampai bab segini blm saling mencintai, maaf lama2 JD bosan bacay... kurang seru
Chani Bae ✨: iya kak, maaf ya ☺🙏 tapi terimakasih sudah berkenan mampir dan sudah beri dukungannya🧡
total 1 replies
banat_helwa
lama² males baca nya kpn coba si syifa sadar sebagai istri
Ida Zubedd
makanyaa sifa buru buka hatimu buat mas mas santri
Chani Bae ✨: hihi iya gemes yaa sama Syifa, do'ain aja yuk biar ingatan Syifa pulih dan inget kalau Fadhlan bukan seorang pria asing yang tiba" dateng ngelamar & nikahin dia ☺
total 1 replies
Ida Zubedd
novelmu adem ayem thor kata2nyaaa , sukaaa bnget ndak grusak grusuk .
Chani Bae ✨: Masyaa Allah kaka terimakasih sudah berkenan mampir di novel pertama saya 🥰🙏 maaf kalau masih banyak kekurangan karena author juga masih harus banyak belajar yaa.. 🙏
total 1 replies
Bunga
good
Chani Bae ✨: Terimakasih kak 💛🙏
total 1 replies
Ulfa 168
lanjut
Ulfa 168
lanjut thor
Chani Bae ✨: ditunggu updatenya ya kaka ☺🧡
total 1 replies
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Chani Bae ✨: terimakasih kakak 🥰🙏 siapp...
total 1 replies
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Chani Bae ✨: alhamdulillah 😭🥰
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!