Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Ngaruat Lembur
Setelah Maman mengalami sakit yang aneh, Pak RT merasa perlu bertindak. Ia menyadari bahwa ini bukan sekadar penyakit biasa, melainkan gangguan akibat makhluk halus. Ia segera mengajak para tetua untuk melakukan ritual Ngarumat Lembur, tradisi masyarakat Sunda untuk mengembalikan keseimbangan antara manusia, alam, dan entitas dari dimensi lain.
"Warga sekalian! Ambil cangkul, sapu, dan karung! Mulai hari ini, tidak ada lagi yang buang sampah sembarangan di sini. Mari kita tebus kesalahan kita bersama-sama!". Pak RT berbalik menghadap warga dengan tegas.
Pak RT meminta warga untuk menyiapkan parawanten atau sesajen sebagai bentuk penghormatan dan permintaan maaf kepada lingkungan. Dalam suatu tampah besar, sesajen itu disusun dengan rapi.
Ada nasi tumpeng kecil, tujuh jenis rujak yang mewakili berbagai rasa kehidupan (asam, manis, pedas), serta kopi pahit dan kopi manis yang menunjukkan keseimbangan. Juga ada bunga setaman seperti mawar, melati, dan kenanga dalam air jernih, ditambah kemenyan yang digunakan sebagai media untuk menghantarkan doa melalui asapnya yang mengepul.
Saat senja berwarna jingga, Pak RT duduk bersila di depan tumpukan sampah Jarian yang menjadi penyebab masalah. Suasana menjadi hening, bahkan suara jangkrik pun seolah menghilang. Dengan perlahan, Pak RT mulai membakar kemenyan.
Asap putih yang menggulung menari di tengah aroma busuk sampah yang mulai tertutupi dengan bau mistis. Dengan suara bariton yang dalam, Pak RT mulai melantunkan mantra Rajah.
"Hatur nuhun, sim kuring nyuhunkeun ka Gusti Nu Maha Suci, mugi-mugi urang sadaya tiasa hadir di ieu tempat. Abdi sareng rerencangan teu aya niat ngaganggu, nanging hoyong ngabersihkeun diri, ngabersihkeun lingkungan."
Ritual Ngarumat Lembur tidak hanya berkaitan dengan hal-hal gaib, melainkan juga terkait dengan tindakan praktis. Sesuai dengan instruksi dari Pak RT, banyak warga yang datang membawa cangkul, sapu, dan gerobak. Mereka membersihkan tidak hanya sampah saja, tetapi juga menaburkan garam krosok dan air doa di seluruh area Jarian.
Dengan anehnya, saat sampah-sampah itu diangkat, para warga menemukan beberapa barang milik Maman yang telah hilang, seperti kunci sepeda motor dan dompet yang ternyata terjebak di bagian terdalam tumpukan sampah, seolah ditarik oleh tangan yang tak terlihat.
"Eh, sebentar. Pak RT, Aki, coba lihat ini. Kayak ada benda asing di bagian paling bawah tumpukan ini. Sampahnya padat banget, kayak sengaja dikubur.". Kang Kosim sambil mencangkul tumpukan sampah yang membusuk, tiba-tiba cangkulnya membentur sesuatu yang keras.
"Coba ditarik, Sim. Apa itu? Bungkus plastik kah?" Pak RT mendekat, menggunakan sebatang kayu untuk mengorek tanah hitam bercampur sampah.
"Lho? Ini... ini kan dompet kulit? Sebentar... Astagfirullah, Pak RT! Ini dompetnya si Maman! Lihat, ada foto KTP-nya di dalam!". Kang Kosim merogoh dengan hati-hati, lalu menarik sebuah benda.
"Tunggu, ini ada lagi. Kunci motor dengan gantungan kancing levi's. Ini juga punya Maman yang katanya hilang waktu dia baru turun dari bus!" Pak RT wajahnya menegang, mengorek lebih dalam lagi.
"Tapi Pak RT... ini aneh banget. Barang-barang ini posisinya di bagian paling dasar, ketimbun sampah yang udah bertahun-tahun membusuk. Padahal Maman baru pulang kemarin sore! Kayak ada tangan yang menarik barang-barang ini ke dalam bumi." Kang Kosim bergidik ngeri, melihat posisi barang-barang tersebut.
"Gusti nu Agung... Sudah Aki bilang, Jurig Jarian itu tidak butuh waktu untuk mengikat korbannya. Maman pikir dia baru bersinggungan dengan tempat ini kemarin sore. Padahal, jiwanya sudah 'diundang' ke sini sejak dia mulai meremehkan tempat ini dari jauh." Aki Sukra melangkah mendekat dengan tenang namun tatapannya tajam, memperhatikan tanah bekas barang itu diambil.
"Maksud Aki... barang-barang ini diambil sebagai tanda?" Pak RT suaranya agak bergetar.
"Bukan diambil, tapi ditarik oleh energi busuk tempat ini karena kesombongan Maman. Tempat kotor selalu mengikat hal-hal yang tidak bersih, termasuk kesombongan manusia. Berarti, penyakit Maman bukan sekadar sakit fisik, jiwanya tertinggal di dasar Jarian ini." Aki Sukra mengangguk pelan.
"Ayo cepat, warga sekalian! Jangan sisain sampah sedikit pun! Angkat semua! Kita harus selamatin nyawa si Maman sebelum terlambat!" Kang Kosim makin panik, mempercepat gerakannya membersihkan sampah.
Setelah selesai membersihkan, Pak RT membawa sebuah wadah tanah liat berisi air bunga ke rumah Maman. Dia menyemprotkan air itu ke tubuh Maman yang dipenuhi luka nanah sembari mengucapkan doa keselamatan.
" Kaluar tina ieu awak. Balik deui ka tempat anjeun, sareng eureun ngaganggu jalma anu ngaku kasalahanana," kata Pak RT dengan tegas.
Tiba-tiba, Maman terbangun dalam keadaan terkejut. Dia memuntahkan cairan hitam kental yang bau busuknya mirip dengan limbah Jarian. Napasnya yang semula cepat, secara perlahan mulai membaik.
Di hari berikutnya, kawasan Jarian tampak tidak lagi menyeramkan. Pak RT memasang papan kayu yang bertuliskan, "Hargai Alam, Maka Alam Menjagamu."
Sejak dilakukannya ritual Ngarumat Lembur, warga Desa Pasir Angin lebih disiplin dalam mengelola sampah. Mereka menyadari bahwa Jurig Jarian sesungguhnya mencerminkan kondisi jiwa manusia yang kotor. Jika lingkungan bersih, maka "penunggu" itu pun akan kembali ke kegelapan hutan dan tidak berani muncul di antara tempat tinggal manusia.