Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗
Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.
Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.
Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.
Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Kaluna
“Tolooong...! Letda Kaluna jatuh ke sungai!” teriak Tina sekuat tenaga.
Mendengar teriakan itu, seluruh anggota militer yang ikut dalam patroli langsung tersentak. Mereka berbondong-bondong berlari menuju tepian sungai, menerobos hujan deras yang mengguyur tanpa henti.
“Ada apa Sertu Tina?”
“Letda Kaluna jatuh ke sungai!”
“Apa?! Cepat siapkan pelampung!”
“Letda Kaluna..”
“Kaluna..”
Semua orang yang ada di tepi sungai itu memekik saat melihat Kaluna benar-benar jatuh ke arus deras.
Beberapa anggota segera bergerak ke tepian sungai untuk mencari posisi Kaluna, sementara yang lain bersiap memberikan pertolongan.
Tanpa pikir panjang, Kalvin langsung melompat ke sungai.
Sementara tubuh Tina bergetar, hampir saja ia ikut terjatuh jika Anton tidak menahan tubuhnya. Sungguh Tina baru menyadari tindakan cerobohnya ini, ia sangat takut melihat Kaluna terseret arus deras di tengah hujan lebat seperti ini.
“Sertu Tina, ayo kita ke pos terlebih dulu!” Anton membawa Tina menjauh dari tepian. Wanita itu tampak menangis tergugu.
“Letda Kaluna jatuh... dia jatuh karena menolong saya,” sesal Tina. Selama ini ia tidak pernah bersikap seperti ini, entah emosi apa yang menguasainya hingga akhir-akhir ini ia bisa melakukan hal di luar batas.
“Saya tahu, Sertu Tina. Sekarang masuk dulu. Kapten Kalvin pasti bisa menyelamatkan Letda Kaluna,” sahut Anton menenangkan.
“Tapi arusnya deras, Sertu... bagaimana kalau mereka hilang?” Tina kembali membuka suara, menyesal dengan tindakannya yang sembrono, hingga membuat Kaluna jatuh dan Kalvin ikut menyusul.
“Kita bantu doa. Semua anggota sudah bergerak mencari. Sekarang Sertu Tina ganti baju dulu,” bujuk Anton.
Dengan terpaksa Tina masuk ke ruang istirahat personel wanita. Ia membuka tasnya dan mengambil pakaian ganti. Sungguh kali ini ia benar-benar takut. Jika terjadi sesuatu pada Kaluna, Tina akan terus dihantui Rasa bersalah.
Angin bertiup kencang, hujan semakin deras mengguyur, membuat arus sungai semakin kuat. Kaluna yang kakinya kram akibat jatuh membuatnya sulit mengontrol tubuhnya.
Bias cahaya petir sesekali memantul di permukaan sungai yang keruh. Para personel TNI-AD masih siaga di tepian sungai, namun Kaluna semakin sulit bertahan.
Hingga ia mulai lelah, tubuhnya tenggelam semakin dalam, napasnya terasa hampir habis. Perlahan matanya terpejam. “Mama... Apa sebentar lagi kita akan bertemu?”
Kalvin menyelam semakin dalam. Air sungai yang gelap dengan derasnya arus dan hujan membuat jarak pandang sangat terbatas.
Namun Kalvin tidak menyerah, terus mencari hingga netranya samar-samar menemukan Kaluna yang tampak tak bergerak. Sontak hal itu membuatnya semakin khawatir.
Pria itu berusaha menahan napasnya, menepuk pipi Kaluna, berharap wanita itu sadar, namun nihil, Kaluna tak menunjukkan pergerakan.
Kalvin kembali berusaha membawa tubuhnya ke permukaan. Ia berharap tim di tepian sungai bergerak sigap menyiapkan pertolongan.
Sementara itu kepanikan terjadi di tepi sungai. Hampir seluruh anggota TNI-AD tengah bersiap membantu evakuasi. Pelampung darurat dilemparkan ke arah arus sungai, berharap Kalvin dan Kaluna bisa meraihnya.
Perahu karet evakuasi mulai diturunkan, namun hujan deras dan arus sungai yang semakin kuat membuat situasi semakin sulit. Kalvin beberapa kali ikut terseret arus saat berusaha mempertahankan tubuh Kaluna agar tetap berada di permukaan.
Berkali-kali ia berjuang melawan derasnya arus sungai, berharap mereka tidak terbawa terlalu jauh dari titik evakuasi.
Samar-samar Kalvin melihat salah satu pelampung darurat mengambang di dekat mereka. Tanpa membuang waktu, ia segera menarik pelampung itu lalu menumpangkan tubuh Kaluna ke atas pelampung berwarna oranye tersebut, sementara dirinya tetap bertahan dengan berpegangan pada sisinya.
“Bertahan, Kaluna!” seru Kapten Kalvin sambil mengusap wajah Kaluna yang basah oleh air hujan dan sungai.
Di tepian sungai, situasi semakin menegangkan. Meski perahu karet sudah diturunkan, arus membuat posisi mereka sulit terpantau.
“Serma Adam, posisi Kapten Kalvin dan Letda Kaluna belum terlihat jelas!” teriak salah satu anggota.
“Terus cari! Jangan sampai kehilangan jejak!” balas Serma (Sersan Mayor) Adam tegas sambil mengatur koordinasi evakuasi.
Sementara itu, setelah mengganti pakaian, Tina terduduk lemas. Tubuhnya gemetar hebat sambil menangis tanpa henti.
“Letda Kaluna… Kapten Kalvin… ini semua salah saya…” isaknya penuh penyesalan.
“Sertu Tina, tenangkan diri. Sekarang fokus bantu situasi di luar,” ujar Anton tegas. Pria itu memilih tetap berada di sana untuk menemani Tina yang masih diliputi rasa bersalah.
Namun Tina hanya menggeleng pelan, rasa bersalahnya terlalu besar untuk ditahan.
Arus sungai terus membawa Kalvin dan Kaluna semakin jauh dari titik awal. Dalam gelap malam, mereka terseret tanpa arah hingga akhirnya melewati jeram dan aliran deras yang membawa mereka ke wilayah yang tidak dikenal.
Entah berapa lama mereka bertahan, hingga akhirnya arus mulai melemah di sebuah aliran sungai yang lebih tenang di dekat area hutan terpencil.
Dengan sisa tenaga, Kalvin berhasil menarik tubuh Kaluna ke daratan. Ia mengangkat wanita itu ke atas pasir dan tanah basah di tepi sungai.
Pria itu segera melakukan pertolongan pertama, menekan dada Kaluna dan memastikan jalan napasnya terbuka. Namun Kaluna masih belum sadar, air masih sulit keluar sepenuhnya, membuat Kalvin semakin khawatir.
Pada akhirnya Kalvin memutuskan memberikan napas buatan. Ia menutup hidung Kaluna dan menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu. Setelah itu, ia kembali menekan dada Kaluna.
“Uhuk... uhuk...”
Kaluna terbatuk-batuk. Air keluar cukup banyak dari mulutnya, membuat Kalvin menghela napas lega.
“Syukurlah...” gumamnya pelan.
Kalvin kembali memastikan jalan napas Kaluna tidak terhalang sebelum memeriksa kondisinya sekali lagi.
Perlahan kelopak mata Kaluna mulai terbuka. Namun yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Semuanya terasa gelap dan dingin.
“Lun, kamu sudah sadar?”
Tanpa aba-aba, Kaluna langsung memeluk tubuh seseorang yang baru saja menanyakan keadaannya. Ia mengenali suara itu.
Semula Kaluna berpikir dirinya sendirian, atau bahkan mungkin sudah mati. Namun siapa sangka Kalvin masih berada di dekatnya.
Sejenak Kalvin terdiam bak manekin, meresapi apa yang tengah terjadi. Namun sedetik kemudian, ia mulai membalas pelukan Kaluna.
Pria itu mengusap bahu wanita tersebut, berusaha memberikan ketenangan di tengah rasa takut dan khawatir yang mungkin masih Kaluna rasakan.
“Aku pikir aku sudah mati... ternyata ada kamu di sini. Makasih ya, Vin. Lagi-lagi kamu nyelamatin aku,” ucap Kaluna dengan suara gemetar.
kirain anaknya Ravela dan kaivan