Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Peluncuran
Hanya satu hari lagi.
Satu hari lagi sebelum novel pertamaku resmi diluncurkan dan diperkenalkan kepada khalayak luas di Jakarta.
Namun malam itu, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Bukan semata-mata karena rasa cemas atau takut yang berlebihan—setidaknya tidak sepenuhnya begitu. Lebih karena kepalaku terasa terlalu penuh dipenuhi oleh berbagai bayangan yang terus berputar: gambaran panggung di toko buku tempat acara akan digelar, ratusan orang yang akan hadir untuk mendengarkanku, Tante Ratna yang akan memperkenalkan karyaku kepada mereka, dan yang paling penting… Aldo. Aldo yang sudah berjanji akan hadir secara langsung, duduk di barisan paling depan, sambil menggenggam sebuket mawar merah di tangannya.
Aku terus bergulingan di atas kasur, memeluk guling erat-erat seolah benda itu bisa menampung segala perasaan yang meluap di dadaku, sambil menatap langit-langit kamar apartemen yang berwarna putih bersih. Langit-langit yang sama yang sudah aku pandangi setiap malam selama satu tahun terakhir ini.
Sudah satu tahun lamanya aku menetap dan menuntut ilmu di Melbourne.
Satu tahun yang terasa seolah telah berjalan seumur hidup, penuh dengan perjuangan, rindu, tawa, dan air mata.
***
Pukul dua dini hari.
Aku masih terjaga sepenuhnya. Mataku terbuka lebar, menatap kegelapan yang menyelimuti langit-langit kamar. Di luar jendela, angin malam kota Melbourne berhembus perlahan, berbisik pelan sambil menerpa kaca dengan suara gesekan yang teratur dan menenangkan. Bau khas tanah yang baru terkena hujan pun menyusup masuk lewat celah-celah kecil di bingkai jendela—aroma yang selalu berhasil membawaku kembali mengingat suasana di rumah dan jalanan Jakarta.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, lalu membuka percakapan dengan Aldo. Pesan terakhir yang dikirimkannya masih tertera jelas di layar: “Selamat malam, Tari. Aku sangat menyayangimu. Besok aku akan ada di sana, tepat di barisan paling depan. Aku bangga padamu, apa pun yang terjadi.”
Aku tersenyum sendiri, membaca kalimat itu berulang kali seolah setiap bacaannya bisa menenangkan detak jantungku yang tak karuan. Lalu aku mulai mengetik balasan, meski aku tahu ia pasti sudah terlelap tidur demi mempersiapkan diri menghadapi perjalanan dan acara keesokan harinya.
“Aldo, aku tidak bisa tidur sama sekali. Pikiranku terus melayang membayangkan hari esok. Ada rasa takut, tapi lebih banyak lagi rasa bahagia yang memenuhi hatiku. Dan di atas segalanya… aku sangat merindukanmu. Lebih dari yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.”
Setelah mengirim pesan itu, aku meletakkan kembali ponsel, memejamkan mata rapat-rapat, dan berusaha memaksakan diri untuk tidur. Namun bayangan-bayangan itu terus datang silih berganti: wajah Tante Ratna yang selalu penuh semangat, suasana panggung yang ramai, Mama yang pasti akan menitikkan air mata haru, dan senyum Aldo yang menenangkan dari kejauhan.
Namun sekeras apa pun aku mencoba, kantuk itu tak kunjung datang.
***
Pukul enam pagi, suara alarm dari ponselku berbunyi nyaring memecah keheningan kamar.
Aku membuka mata dengan perasaan yang sangat berat, seolah kelopak mataku terbebani sesuatu yang sulit diangkat. Di balik tirai jendela, langit perlahan mulai memudar dari kegelapan menjadi warna biru muda yang terang. Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai, membentuk garis-garis cahaya panjang yang melintang indah di atas lantai kayu. Di luar sana, burung-burung mulai berkicau riang menyambut pagi, suaranya yang merdu sedikit demi sedikit mampu menenangkan kegelisahan yang masih tersisa di hatiku.
“Inilah harinya. Hari di mana novelku akhirnya akan diluncurkan dan diperkenalkan kepada dunia,” gumamku pelan.
Aku duduk di tepi kasur, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Perutku terasa tidak enak—campuran antara rasa gugup yang meluap dan rasa bahagia yang tak terkira. Ada sensasi aneh yang terasa di ulu hatiku, persis seperti ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan dengan kencang di dalam perutku.
Aku melangkah menuju kamar mandi, lalu membasuh seluruh wajah dengan air hangat yang menyejukkan. Uap air yang naik menempel di permukaan cermin, membuat bayanganku tampak samar dan kabur. Aku mengusapnya dengan telapak tangan, perlahan-lahan, hingga gambaran diriku mulai terlihat jelas kembali.
Seorang wanita muda dengan kelopak mata yang sedikit bengkak—bekas semalaman terjaga dan sesekali meneteskan air mata—serta lingkaran gelap di bawah matanya yang tak bisa disembunyikan. Rambutku terlihat kusut, dan ujung-ujungnya terasa kering karena terpapar udara dingin khas Melbourne selama berbulan-bulan.
Namun di balik semua itu, aku mencoba mengumpulkan kekuatan.
“Kamu pasti bisa melewatinya, Tari. Kamu sudah berjuang keras selama ini. Kamu kuat,” ucapku pada pantulanku sendiri sambil tersenyum tipis.
Setelah itu, aku membuka keran air dan mulai bersiap dengan mandi air hangat yang mampu merilekskan seluruh otot tubuhku yang terasa tegang.
***
Pukul tujuh pagi, ponselku kembali bergetar di atas meja rias.
Tampilan layar menunjukkan panggilan video masuk dari Tante Ratna.
Aku segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu. Begitu layar menyala, wajah Tante Ratna terlihat jelas di hadapanku—ia sudah berada di Jakarta, tepat di ruang kerjanya di kantor Penerbit Mahakarya. Di belakangnya terlihat deretan rak buku yang menjulang penuh, serta meja kerja yang dipenuhi tumpukan naskah dan dokumen. Melalui jendela kaca ruang kerjanya, langit Jakarta terlihat cerah dan bersih—berbeda dengan Melbourne yang masih menyisakan sedikit rasa dingin meski matahari sudah bersinar.
“Selamat pagi, Mbak Tari. Bagaimana kabarnya pagi ini?” sapanya dengan nada hangat dan semangat.
“Selamat pagi juga, Tante. Jujur saja, aku merasa sangat gugup hari ini,” jawabku terus terang, bahkan tanganku yang memegang ponsel terasa sedikit bergetar.
Tante Ratna tertawa pelan, suaranya terdengar menenangkan. “Wajar sekali rasanya. Setiap penulis, baik yang baru pertama kali menerbitkan karya maupun yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia ini, pasti merasakan kegugupan seperti ini sebelum karyanya diperkenalkan ke publik. Jadi jangan merasa sendirian.”
“Tante, apakah semuanya sudah berjalan lancar di sana? Apakah tidak ada kendala yang mengganggu persiapan?” tanyaku dengan rasa khawatir.
“Tenang saja, semuanya sudah beres dan berjalan sesuai rencana. Tempat acara sudah diatur rapi, tiket masuk sudah disiapkan, dan kehadiran para tamu juga sudah dikonfirmasi satu per satu. Sekarang yang paling penting: apakah Mbak Tari sudah siap untuk berbicara lewat siaran langsung nanti?”
Aku menggigit pelan bibir bawahku, mencoba mengumpulkan keberanian. “Aku… akan berusaha semampuku, Tante.”
“Kamu tidak perlu berusaha terlihat sempurna atau pandai berbicara, Mbak. Cukup jadilah dirimu sendiri. Ceritakan saja bagaimana proses menulisnya, apa yang menginspirasimu, dan bagaimana perjuanganmu menyelesaikannya. Jika bicara dari hati, kejujuran itu akan terasa sampai ke hati setiap pendengarnya.”
“Baiklah, Tante. Aku mengerti dan akan mencoba melakukannya seperti yang Tante katakan.”
“Nanti saya akan kirimkan jadwal lengkap acaranya beserta daftar pertanyaan yang mungkin diajukan oleh pembaca. Silakan dibaca dan persiapkan jawabannya dengan tenang.”
“Siap, Tante. Terima kasih banyak atas segala bantuannya selama ini.”
“Selamat atas hari bersejarah ini, Mbak Tari. Nikmati setiap detiknya, karena momen seperti ini tidak akan terulang lagi.”
Setelah mengakhiri panggilan itu, aku merasa sedikit lebih tenang. Ada ketenangan yang datang hanya karena mendengar nasihat dan dukungan dari orang yang sudah membimbingku dari awal hingga saat ini.
***
Pukul delapan pagi, aku sudah duduk tegak di depan meja kerja dengan secangkir teh bunga chamomile hangat di samping laptop.
Aku membuka dokumen yang baru saja dikirimkan Tante Ratna, berisi jadwal acara dan pertanyaan yang mungkin muncul selama sesi tanya jawab nanti. Jari-jariku masih terasa sedikit gemetar saat menggeser layar membaca satu per satu isinya. Di luar jendela, sinar matahari semakin terang menembus sisa-sisa awan tipis, membentuk bayangan lembut yang bergerak perlahan di atas meja kerjaku.
Aku membaca daftar pertanyaan itu berulang kali, mencoba menyusun jawaban yang pas dan alami. Setiap kali membayangkan diriku sedang berbicara di hadapan ratusan orang yang menyaksikan lewat layar, rasa mual itu kembali muncul di perutku. Namun, begitu aku membayangkan Aldo yang menatapku dengan senyum mendukung dari barisan depan, rasa takut itu perlahan memudar tergantikan oleh semangat baru.
Aku menutup laptop sejenak, meregangkan tubuh yang terasa kaku, lalu berjalan ke dapur untuk menyeduh teh hangat lagi. Sambil menunggu air mendidih, tanganku terulur memegang kalung yang melingkar di leher—kalung dengan liontin berbentuk buku kecil, hadiah dari Aldo. Aku menggenggamnya erat di telapak tangan. Logamnya terasa dingin, namun entah mengapa sentuhan itu mampu menghadirkan rasa aman dan ketenangan yang luar biasa.
***
Pukul sembilan pagi, suara ketukan lembut terdengar di pintu apartemenku.
Begitu aku membukanya, sudah terlihat Sarah berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar yang menyemangati, sambil membawa sekotak donat dan secangkir kopi yang masih mengepul uapnya.
“Aku datang khusus untuk membawakan semangat tambahan hari ini!” katanya riang, matanya berbinar cerah seolah ikut merasakan kebahagiaanku. Rambutnya yang pendek tampak sedikit berantakan terkena angin—tanda ia berjalan agak tergesa dari kampus untuk menemuiku.
“Sarah… kamu benar-benar teman terbaik yang pernah aku miliki,” ucapku tersenyum menyambutnya masuk.
“Tentu saja! Itulah tugas sahabat sejati, bukan? Berada di sampingmu di hari-hari terpenting dalam hidupmu.”
Kami duduk bersila di atas karpet ruang tamu yang empuk, menikmati donat yang masih hangat bersama teh dan kopi masing-masing. Lapisan gula cokelat pada donat itu terasa lembut dan sedikit meleleh saat disentuh jari, sedangkan aroma kopi yang kuat bercampur dengan wangi teh chamomile menciptakan suasana yang hangat, akrab, dan sangat menenangkan.
Melalui jendela besar, pemandangan di luar terlihat semakin hidup. Seorang kakek terlihat berjalan santai mengajak anjingnya keliling lingkungan, seorang ibu muda mendorong kereta bayi dengan wajah tersenyum, dan sekelompok mahasiswa berjalan beriringan sambil tertawa lepas di depan kafe seberang jalan. Kehidupan di luar berjalan seperti biasa, seolah tidak peduli betapa besarnya gejolak perasaan yang sedang melanda diriku saat itu.
“Jujur saja, Tari… kamu masih merasa sangat gugup?” tanya Sarah sambil menatapku lekat.
“Gugup sekali, Sarah. Rasanya aku tidak tahu harus mengucapkan kata apa saat nanti diminta berbicara. Tanganku terasa dingin seperti es, perutku terasa seperti ada ribuan lebah yang beterbangan di dalamnya. Aku takut salah bicara, takut terlihat kaku atau bodoh di depan banyak orang, takut kalau nanti semua harapan ini berakhir mengecewakan…”
Sarah segera memotong ucapanku dengan lembut namun tegas. “Kamu tidak perlu bicara panjang lebar atau terlihat sempurna. Cukup sampaikan apa yang ada di hatimu. Jika itu datang dari kejujuran, maka pendengar akan merasakannya. Mereka datang bukan untuk menilai cara bicaramu, melainkan untuk mendengar kisah yang ingin kamu bagikan lewat buku ini.”
“Kamu yakin aku bisa melakukannya?” tanyaku ragu.
“Aku sangat yakin. Ingatlah semua proses yang sudah kamu lalui selama setahun ini. Ingat saat-saat kamu harus begadang hingga dini hari hanya untuk memperbaiki tulisanmu. Ingat saat kamu menangis karena merasa buntu dan satu adegan tak kunjung selesai. Ingat saat kamu menunggu balasan dari Tante Ratna dengan jantung berdebar setiap kali pesan masuk ke kotak suratmu.”
Aku mengangguk perlahan. Aku mengingat semuanya dengan sangat jelas. Rasa lelah yang terasa menusuk tulang saat jari-jariku sudah kaku karena terus mengetik. Rasa cemas yang menggerogoti hati setiap kali mengirimkan hasil tulisan. Dan rasa lega yang luar biasa setiap kali mendengar kalimat “Bagus, lanjutkan lagi” dari Tante Ratna.
“Semua perjuangan itu bukanlah hal yang sia-sia, Tari. Semuanya membawamu sampai ke titik ini. Dan hari ini, kamu akan menuai hasil dari segala pengorbanan itu,” lanjut Sarah dengan nada penuh keyakinan.
Aku menatap wajah sahabatku itu dengan rasa terima kasih yang mendalam. “Terima kasih banyak, Sarah. Tanpa dukunganmu, mungkin aku sudah menyerah duluan.”
“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri yang memiliki keberanian dan ketekunan untuk bertahan sampai akhir.”
Sarah kemudian mendekat dan memelukku erat. “Ingat satu hal: aku sangat bangga padamu, Tari.”
“Dan aku pun mulai merasa bangga pada diriku sendiri,” jawabku sambil tersenyum lega.
***
Pukul sembilan tiga puluh pagi, aku duduk kembali di depan laptop untuk berlatih menyampaikan sambutan dan pesan-pesan yang ingin aku sampaikan.
Aku membuka kamera bawaan laptop, lalu menatap bayanganku sendiri yang terlihat di layar. Aku mencoba mengucapkan kalimat pembuka yang sudah aku siapkan di dalam kepala.
“Halo semuanya. Perkenalkan namaku Tari Winata. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara peluncuran novel pertamaku…”
Namun aku berhenti sejenak. Kata-kata itu terasa kaku, terlalu resmi, dan terdengar seperti dihafal semata. Rasanya tidak keluar dari hatiku.
Aku menarik napas panjang, memejamkan mata, dan mencoba membayangkan diriku sedang berbicara hanya kepada satu orang saja: Aldo. Bukan kepada ratusan orang, bukan kepada para tamu undangan, melainkan hanya kepada Aldo yang selalu mendengarkan setiap ceritaku dengan sabar.
Aku membuka mata kembali, lalu mencoba mengucapkannya lagi.
“Halo semuanya. Namaku Tari. Senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua lewat layar ini…”
Kali ini terdengar jauh lebih baik. Lebih alami, lebih lembut, dan lebih dekat dengan diriku yang sebenarnya.
“Novel yang berjudul Sisa Rasa yang Terlarang ini terinspirasi dari pengalaman hidupku sendiri. Tentang cinta yang datang di saat yang tidak pernah aku duga. Tentang perasaan yang terasa salah di mata banyak orang, namun sangat benar di dalam hatiku…”
Aku melanjutkan pembicaraanku, dan kali ini kata-kata itu mengalir lebih lancar. Mungkin belum sempurna, namun terasa nyata, jujur, dan tulus—sesuatu yang paling penting dalam sebuah cerita.
***
Pukul sepuluh pagi, saatnya acara dimulai.
Aku duduk tegak di depan meja kerja, mengenakan kebaya lengan panjang berwarna lembut seperti kulit persik—pakaian yang sama yang pernah aku kenakan saat menghadiri resepsi pernikahan Clarissa dan Reza tempo hari. Rambutku yang panjang aku ikat rapi ke belakang dengan jepitan sederhana, dan aku mengoleskan sedikit lipstik berwarna merah muda alami agar terlihat lebih segar dan ceria saat terlihat di depan kamera.
Di leherku tetap melingkar kalung pemberian Aldo, dan di jari manis tangan kiriku terpasang cincin perak dengan batu berwarna biru tua—kenang-kenangan yang selalu mengingatkanku pada momen-momen berharga yang telah aku lalui selama berada di Melbourne.
Layar laptopku kemudian menampilkan langsung suasana di lokasi acara, Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta. Ratusan kursi disusun rapi menghadap panggung utama, dan sebagian besar tempat duduk itu sudah terisi penuh oleh para pembaca, kerabat, teman, serta mereka yang datang karena penasaran ingin mengenal karyaku.
Mataku segera mencari wajah-wajah yang paling aku kenal. Di barisan depan, aku melihat Mama dan Papa duduk berdampingan, ditemani Dinda dan Rangga. Mata Mama sudah berkaca-kaca, sesekali menyeka sudut matanya dengan ujung sapu tangan—air mata bahagia yang tak sanggup ia tahan lagi. Di sampingnya, Papa tersenyum lebar dengan sorot mata bangga yang sangat jarang ia tunjukkan, namun kali ini terlihat begitu tulus. Dinda melambaikan tangan ke arah kamera dengan semangat, sedangkan Rangga yang biasanya terlihat santai dan acuh kali ini duduk tegap dengan wajah penuh kekaguman.
Tak jauh dari mereka, ada Maya yang berdiri sebentar sambil mengangkat papan tulisan besar yang bertuliskan: “TARI WINATA, PENULIS HEBAT!” Ia melambaikan tangan dengan riang, seolah tahu persis bahwa aku sedang melihatnya dari jauh.
Namun mataku akhirnya tertuju pada satu sosok yang paling aku nantikan. Di barisan paling depan, tepat di tengah, duduklah Aldo dengan penampilan rapi mengenakan kemeja putih lengan panjang—gaya yang sama saat ia pertama kali datang berkunjung ke rumahku. Di atas pangkuannya tergeletak sebuket bunga mawar merah yang sangat besar, berjumlah seratus tangkai persis. Bunga yang dulu pernah dibawa oleh Reza, namun kali ini dibawa oleh orang yang benar-benar mencintaiku dengan sepenuh hati.
Aldo menatap lurus ke arah kamera, lalu tersenyum lebar sambil membentuk tanda hati menggunakan kedua telapak tangannya.
Aku membalas senyumnya, meski aku sadar ia belum bisa melihatku dengan jelas saat itu.
“Selamat pagi, Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian yang saya hormati,” suara pembawa acara mulai terdengar jelas lewat pengeras suara. “Selamat datang di acara peluncuran novel perdana karya Mbak Tari Winata, yang berjudul Sisa Rasa yang Terlarang. Penulisnya sendiri saat ini tidak dapat hadir secara fisik karena sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Melbourne, Australia, namun ia akan menyampaikan sambutan lewat siaran langsung. Mari kita sambut dengan hangat, Mbak Tari Winata!”
Suara tepuk tangan riuh langsung menggema memenuhi ruangan. Aku melihat Mama menangis semakin deras, Maya berteriak kegirangan, dan Aldo… Aldo tetap tersenyum, namun kali ini matanya juga mulai berkaca-kaca menahan rasa haru.
“Halo semuanya,” suaraku terdengar sedikit bergetar saat pertama kali mulai berbicara. “Namaku Tari. Senang sekali rasanya bisa menyapa kalian semua lewat layar ini.”
Aku berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungku yang masih berpacu kencang. Lalu aku teringat nasihat Sarah: “Cukup bicara dari hati.”
“Memang benar, aku tidak bisa hadir secara langsung di tempat ini karena keterbatasan jarak dan waktu,” lanjutku dengan suara yang mulai lebih stabil dan tenang. “Namun percayalah, hatiku ada di sana, berdiri di antara kalian, dan merasakan kebahagiaan yang sama besarnya.”
Tepuk tangan kembali terdengar meriah menyambut kalimatku itu. Di ruang kerjaku, aroma sisa donat yang dimakan bersama Sarah masih terasa lembut, dan di luar jendela aku melihat seorang gadis kecil sedang berlari-lari sambil mengajak anjing peliharaannya bermain di taman seberang jalan—pemandangan yang tiba-tiba membuatku merasa lebih tenang dan tersenyum.
“Novel Sisa Rasa yang Terlarang ini lahir dari kisah nyata dan pengalaman pribadiku sendiri,” lanjutku lagi. “Tentang perasaan yang datang di saat yang tidak terduga. Tentang cinta yang dianggap terlarang oleh banyak orang, namun tidak bisa dipungkiri keberadaannya di dalam hati. Tentang perjuangan mempertahankan rasa sayang itu melewati berbagai badai dan rintangan, hingga akhirnya mampu menemukan cahayanya sendiri.”
Aku berhenti sejenak, menelan ludah dan melanjutkan pembicaraanku dengan suara yang lebih lembut dan penuh makna.
“Karya ini aku persembahkan sepenuhnya untuk seseorang yang telah menjadi sumber inspirasi terbesarku. Seseorang yang mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak pernah mengenal kata terlambat atau salah waktu. Seseorang yang memiliki keberanian melawan segala pendapat demi menjaga rasa sayangnya padaku. Seseorang yang tetap setia menunggu dan mendukungku meski terpisah jarak ribuan kilometer dan waktu yang terasa panjang.”
Mataku tertuju lekat pada Aldo yang masih duduk menatap layar, senyumnya tetap terukir meski air mata bahagia mulai menetes perlahan di pipinya.
“Aldo,” panggilku lembut namun cukup keras agar terdengar jelas. “Novel ini adalah bukti segala rasa yang aku simpan untukmu. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih atas cinta, dukungan, kesabaran, dan karena telah menjadi tempat pulangku di saat aku merasa tersesat dan ragu. Aku sangat menyayangimu.”
Sejenak ruangan itu hening seketika, lalu suara tepuk tangan kembali bergema—lebih meriah dan lebih dalam kali ini, seolah semua orang turut merasakan keindahan perasaan yang aku ungkapkan.
Aldo kemudian berdiri tegak dari tempat duduknya, mengangkat tinggi buket mawar merah itu ke arah layar tempat aku terlihat, seolah ia sedang memberikan bunga itu langsung ke dalam pelukanku meski terpisah jarak.
Aku tersenyum lebar, membalas tatapannya, dan di dalam hatiku rasanya seolah kami sedang berdiri berdampingan tanpa ada lagi batas yang memisahkan.
Di tengah keramaian itu, di antara ratusan pasang mata yang melihat, diiringi suara tepuk tangan dan tetesan air mata bahagia…
Aku merasa seolah benar-benar sedang memeluk Aldo erat-erat.
Secara fisik mungkin tidak, namun dalam hati, ia selalu ada di sampingku.
***
Setelah acara selesai, tepat pukul dua belas tiga puluh siang.
Aku menutup laptop perlahan, lalu merebahkan tubuhku kembali ke atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Sinar matahari sore mulai menyelinap masuk lewat celah tirai, membentuk pola cahaya yang lembut bergerak perlahan di dinding putih kamar.
“Aku berhasil melakukannya.”
“Novelku akhirnya diluncurkan dan diperkenalkan kepada dunia.”
“Mimpi yang aku simpan sejak kecil kini benar-benar menjadi kenyataan.”
Air mata mengalir deras membasahi pipiku, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa bahagia yang meluap hingga tak sanggup lagi ditahan. Rasa lega, bangga, dan haru menyelimuti seluruh jiwaku. Di sudut bibirku tetap terukir senyum lebar yang tak mampu aku hapuskan.
Tak lama kemudian, ponselku mulai bergetar berulang kali, menandakan pesan-pesan masuk yang datang bertubi-tubi.
Dari Mama: “Tari, Mama sangat bangga padamu. Mama menangis sepanjang acara tadi mendengar setiap kata yang kamu ucapkan. Kamu luar biasa, Nak. Mama sangat menyayangimu.”
Dari Papa: “Papa tidak pernah menyangka bahwa putri kami bisa sampai sejauh ini. Papa bangga sekali padamu, Tari. Teruslah berkarya dan raih mimpi-mimpimu yang lain.”
Dari Dinda: “Kak Tari! Aku sampai menangis mendengarnya! Kamu hebat sekali! Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak ya nanti pulang!”
Dari Rangga: “Kak, aku juga ingin menjadi penulis hebat seperti Kakak suatu hari nanti. Aku bangga padamu!”
Dari Maya: “Wah, Tari! Kamu keren banget! Aku sampai menangis haru tadi! Kamu luar biasa! Jangan lupa kalau sudah terkenal tetap ingat kawan lama ya!”
Dari Sarah: “You did it, Tari! I'm so proud of you! Let's celebrate tonight!"
Dari Tante Ratna: “Selamat, Mbak Tari. Sambutan pembaca luar biasa dan pesanan buku sudah mulai melonjak. Saya yakin karya ini akan menjadi buku terlaris tahun ini.”
Aku membaca setiap pesan itu satu per satu sambil terus tersenyum dan meneteskan air mata bahagia, merasakan kehangatan yang menyebar dari dalam dada hingga ke seluruh tubuh.
Lalu sebuah pesan masuk dari orang yang paling aku nantikan.
Dari Aldo: “Tari, kamu luar biasa. Aku tidak punya kata-kata yang cukup untuk menggambarkan seberapa bangganya aku padamu. Terima kasih telah menyebut namaku dan menjadikannya bagian dari kisah ini. Aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini.”
Aku segera mengetik balasan dengan jari yang masih sedikit gemetar karena rasa haru.
“Aldo, aku bisa melewati semua ini hanya karena ada kamu. Kamu adalah sumber kekuatanku, inspirasiku, dan tempat pulangku. Aku mencintaimu sepenuh hati.”
Balasannya datang tak lama kemudian: “Dan aku akan selalu ada untukmu, Tari. Di mana pun kamu berada, kapan pun kamu butuh, aku akan selalu mendukungmu.”
“Aku sayang kamu, Aldo.”
“Aku sayang kamu lebih lagi, Tari.”
Aku tertawa kecil—tawa yang terasa lelah namun sangat bahagia dan tenang. Di luar jendela, sinar matahari sore perlahan memudar, meninggalkan langit dengan gradasi warna jingga dan merah muda yang sangat indah dan menenangkan.
Di dalam hatiku, ada perasaan hangat yang tak terlukiskan. Perpaduan antara rasa cinta yang mendalam, kebanggaan atas perjuangan yang telah ditempuh, dan kepuasan karena mimpi yang selama ini diharapkan akhirnya terwujud.
Aku memejamkan mata, merasakan detak jantungku yang kini berdetak lebih tenang dan teratur. Angin malam mulai berhembus lagi, membawa serta aroma bunga-bunga musim semi yang sedang mekar di taman seberang jalan.
Aku tersenyum lebar.
Besok adalah hari baru yang penuh kemungkinan.
Dan aku siap melangkah maju, melanjutkan perjalanan, serta terus menulis kisah hidupku dan kisah cinta kami—satu halaman demi satu halaman, selamanya.