Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Meja Makan dan Suami yang Kaku Kayak Es Batu
Kinan berjalan di koridor istana dengan langkah yang masih agak kagok. Gaun yang dia pakai beratnya bukan main, ekornya nyapu lantai sampai dia takut kalau ada kotoran yang nempel, dia yang bakal disuruh nyuci sendiri.
Tenang, Kinan. Lo itu Permaisuri sekarang. Bukan lagi babu Indofebruari yang kalau lantai kotor dikit langsung dipel, batinnya menyemangati diri sendiri.
Di sampingnya, Dayang Lin berjalan dengan kepala tertunduk, sesekali melirik Kinan dengan tatapan cemas.
"Yang Mulia, mohon diingat, Yang Mulia Raja sangat menyukai ketenangan. Jangan sampai Anda... melakukan hal yang mengejutkan."
Kinan cuma mutar bola matanya. "Tenang aja, Lin. Gue—maksud saya, saya bakal anteng kok. Emang Raja seserem itu?"
"Bukan seram, Yang Mulia. Tapi... dingin," bisik Lin pelan banget, seolah dinding istana punya telinga.
Begitu pintu ruang makan dibuka, Kinan hampir saja mengeluarkan umpatan khas terminal kalau dia nggak ingat posisi.
Matanya melotot. Di depannya ada meja makan panjang yang bisa dipakai main futsal kalau makanannya disingkirin. Dan di atas meja itu...
Gila! Ini beneran cuma buat dua orang?
Ayam panggang utuh yang kulitnya mengkilap, daging steak yang tebalnya tiga senti, sup yang aromanya bikin perut Kinan konser, sampai deretan dessert warna-warni yang kelihatan lebih cantik dari masa depan Kinan di dunia lama.
Lalu, mata Kinan tertuju pada sosok yang duduk di ujung meja.
Pria itu. Buset.
Kinan sempat bengong. Wajahnya beneran kayak pahatan dewa rahang tegas, hidung mancung yang lancipnya bisa buat motong kertas, dan mata elang yang tajamnya minta ampun.
Tapi, ada satu hal yang bikin Kinan pengen ketawa tapi takut dipancung.
Ganteng sih, tapi bajunya... rame amat? Itu rumbai-rumbai emas di pundak nggak berat apa ya? Udah kayak gorden berjalan, komentar Kinan dalam hati.
Karena saking fokusnya mengagumi kegantengan sekaligus keanehan baju sang Raja, Kinan nyelonong gitu aja.
Dia langsung menarik kursi di depan Raja tanpa basa-basi.
Srek! Suara kursi yang bergeser kasar itu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi senyap.
Kinan merasa suasana tiba-tiba jadi mencekam. Dia melirik ke samping. Semua pelayan, termasuk Dayang Lin, wajahnya sudah pucat pasi. Ada yang matanya melotot sampai mau keluar, ada yang tangannya gemetaran.
Lah, kenapa nih? Gue salah duduk? pikir Kinan bingung. Dia kan nggak pernah baca novel kerajaan sampai habis, paling cuma baca judul atau blurb-nya doang terus di skip karena menurutnya drama permaisuri tersakiti itu ngebosenin.
Raja berhenti memotong dagingnya. Mata tajamnya menatap Kinan tanpa ekspresi. Dingin banget, sampai Kinan ngerasa harus pakai jaket.
Oh... gue lupa salam ya? Biasanya di film kan harus nunduk-nunduk gitu, Kinan baru nyadar.
Dia berdehem pelan, mencoba mengingat-ingat gaya salam orang kaya. Dia berdiri lagi, terus merentangkan sedikit roknya.
"Halo, Bapak Raja... Eh, maksud saya, selamat makan malam, Yang Mulia Suami. Apa kabar? Sehat?" ucap Kinan dengan nada yang terdengar sangat asing bagi telinga orang-orang di sana.
Hening.
Dayang Lin rasanya mau pingsan di tempat.
Raja cuma menatap Kinan selama beberapa detik, seolah sedang meneliti makhluk asing yang baru turun dari UFO. Akhirnya, dia cuma berdehem kecil.
"Duduklah. Makan," ucap Raja pendek, padat, dan nggak bersahabat.
"Oke, siap!" Kinan langsung duduk lagi.
Begitu makanan masuk ke mulutnya, Kinan rasanya mau nangis. Ini enak banget! Jauh beda sama nasi rames lima ribuan atau mie instan sisa stok toko yang biasa dia makan.
"Gila... ini ayam pakai bumbu apa ya? Enak parah!" gumam Kinan sambil mengunyah dengan semangat. Dia nggak peduli lagi sama table manner. Dia makan dengan lahap, tangannya gesit mengambil ini dan itu.
Setelah makanan utama habis, mata Kinan tertuju pada piring-piring kecil berisi kue. Ada puding stroberi, cake cokelat berlapis emas, sampai macaron warna-warni. Tanpa permisi, Kinan menghabiskan satu jenis dessert, lalu pindah ke yang lain.
Dua piring... tiga... empat...
"Mbak, eh maksud saya, Lin! Ini namanya apa? Manis banget kayak janji manis mantan," tanya Kinan sambil menyuapkan macaron kelimanya.
Dayang Lin cuma bisa mengangguk kaku. "Itu... kue dari wilayah Barat, Yang Mulia."
Kinan beneran lupa kalau ada Raja di depannya. Baginya, sekarang dia adalah pemenang kuis makan sepuasnya. Dia merasa sangat beruntung.
Ehem!
Deheman keras dari ujung meja bikin Kinan tersedak sedikit. Dia langsung meraih gelas piala berisi jus anggur dan meneguknya sampai tandas.
Raja sudah meletakkan garpu dan pisaunya dengan rapi. Dia menatap Kinan dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa heran di matanya, tapi tetap saja wajahnya sedingin es kutub.
"Sudah selesai makannya?" tanya Raja dingin.
"Eh, udah, udah. Kenyang banget, Yang Mulia. Mantap," jawab Kinan sambil menepuk perutnya pelan.
Para pelayan kembali menahan napas melihat tingkah bar-bar Permaisuri mereka. Biasanya, Permaisuri asli itu sangat anggun, bahkan makan satu suap saja butuh waktu satu menit.
Raja berdiri, membuat semua orang di ruangan itu ikut berdiri secara otomatis, kecuali Kinan yang telat dua detik karena masih sibuk mengunyah sisa kue di mulutnya.
"Ikut ke ruang kerjaku. Ada hal yang ingin kubahas," ucap Raja tanpa menunggu jawaban. Dia langsung berbalik, jubah mewahnya melambai tertiup angin saat dia melangkah pergi.
Kinan melongo. Duh, ada apa nih? Jangan-jangan gue mau dipecat jadi Permaisuri? Baru juga makan enak sekali!
"Yang Mulia, ayo cepat ikuti beliau!" bisik Dayang Lin panik.
Kinan menghela napas, mengelap bibirnya dengan serbet kain sutra yang harganya mungkin setara gaji sebulan di toko.
"Iya, iya. Sabar napa. Orang kaya emang sibuk banget ya, habis makan langsung rapat."
Kinan pun menyusul langkah lebar sang Raja, dalam hati dia mulai nyusun skenario. Kalau dia minta cerai, gue bakal minta harta gono-gini yang banyak. Minimal satu gudang cokelat!