Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Saudara yang Seharusnya Sudah Mati
“Melati…”
Nama itu membuat seluruh ruangan membeku.
Bahkan suara hujan di luar terasa menghilang.
Mamanya Nadira berdiri dengan tubuh gemetar.
Tatapannya tidak lepas dari Aluna.
Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
Seolah ia sedang melihat hantu.
Atau seseorang yang telah lama hilang dari hidupnya.
“Tidak…”
bisiknya.
“Tidak mungkin…”
Aluna terlihat bingung.
Tatapannya berpindah dari mamanya Nadira ke Mahendra.
Lalu kembali lagi.
Seolah ia tidak mengerti kenapa semua orang tiba-tiba melihatnya seperti itu.
“Mama?”
Suara Nadira pelan.
“Apa maksudnya Melati?”
Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke rumah itu—
Mahendra terlihat benar-benar menikmati keadaan.
“Karena akhirnya…”
Ia tersenyum tipis.
“…semua rahasia keluar juga.”
“Jangan main teka-teki!”
bentak Arsen.
“Jelasin sekarang!”
Mahendra tertawa kecil.
Lalu menatap Aluna.
“Kamu mau tahu siapa ibumu?”
Deg.
Tubuh Aluna langsung menegang.
Karena pertanyaan itu menghantam titik paling sensitif dalam hidupnya.
“Aku nggak pernah kenal ibuku.”
jawabnya pelan.
Mahendra mengangguk.
“Aku tahu.”
Sunyi.
“Karena aku yang memastikan itu.”
Deg!
Ruangan langsung membeku.
“Apa?”
Suara Aluna bergetar.
Mahendra menyandarkan tubuhnya santai.
Seolah sedang membicarakan cuaca.
“Ibumu tidak mati lima belas tahun lalu.”
katanya.
Deg.
Nadira langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.
Karena kalau Melati tidak mati...
Maka selama ini seseorang berbohong.
Dan kebohongan itu berlangsung lima belas tahun.
“Dia hidup.”
lanjut Mahendra.
“Setidaknya sampai beberapa tahun lalu.”
“Apa maksudnya sampai beberapa tahun lalu?”
tanya Damar.
Mahendra tidak langsung menjawab.
Senyumnya perlahan menghilang.
Dan untuk pertama kalinya—
Ada sesuatu yang mirip penyesalan di matanya.
Sangat kecil.
Namun ada.
“Karena dia akhirnya benar-benar mati.”
katanya pelan.
Sunyi.
Tangisan mamanya Nadira semakin keras.
“Kenapa?”
bisiknya.
“Kenapa kamu lakukan itu?”
Mahendra menoleh.
Tatapannya kosong.
“Karena dia melawanku.”
Deg.
Jawaban itu sederhana.
Namun justru mengerikan.
Seolah nyawa manusia tidak berarti apa-apa.
Hanya pion.
Hanya penghalang.
Hanya masalah yang harus disingkirkan.
Aluna mundur satu langkah.
Wajahnya pucat.
“Jadi…”
Napasnya mulai tidak teratur.
“…ibuku hidup selama ini?”
Mahendra mengangguk.
“Dan dia nggak pernah cari aku?”
Sunyi.
Kali ini yang menjawab bukan Mahendra.
Melainkan mamanya Nadira.
“Dia cari.”
Deg.
Aluna langsung menoleh.
Wanita itu menangis sambil berjalan mendekat.
“Dia cari kamu.”
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Setiap tahun.”
Deg.
Tubuh Aluna langsung membeku.
“Dia datang ke rumahku.”
lanjut wanita itu.
“Dia selalu bilang…”
Suaranya pecah.
“…suatu hari dia bakal nemuin anaknya.”
Tangis Aluna akhirnya jatuh.
Karena selama ini—
Ia tumbuh dengan satu keyakinan.
Bahwa dirinya tidak diinginkan.
Bahwa ibunya meninggalkannya.
Bahwa tidak ada yang mencarinya.
Dan sekarang—
Semua keyakinan itu runtuh dalam beberapa detik.
“Kenapa…”
Air matanya mengalir deras.
“…kenapa dia nggak datang?”
Mahendra menutup mata sesaat.
Lalu menjawab.
“Karena aku nggak membiarkannya.”
Deg.
Arsen langsung berdiri.
“Brengsek.”
Namun kali ini—
Tidak ada yang mencoba menghentikannya.
Karena semua orang memikirkan hal yang sama.
Mahendra memang monster.
Bukan karena uang.
Bukan karena kekuasaan.
Tapi karena ia menghancurkan hidup orang lain tanpa ragu.
“Kenapa?”
teriak Aluna.
“KENAPA?!”
Suaranya menggema di seluruh ruangan.
“Aku nggak pernah ngapa-ngapain!”
Tangisnya semakin keras.
“Aku cuma pengen keluarga!”
Deg.
Bahkan pria-pria bersenjata di sekitar mereka terlihat tidak nyaman.
Karena rasa sakit itu terlalu nyata.
Terlalu manusiawi.
Dan tidak ada alasan yang bisa membenarkannya.
Mahendra hanya diam.
Lama.
Sangat lama.
Lalu akhirnya berkata,
“Karena aku takut.”
Deg.
Ruangan langsung sunyi.
Karena tidak ada yang menyangka jawaban itu.
“Apa?”
bisik Nadira.
Mahendra tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lelah.
“Aneh ya.”
Tatapannya kosong.
“Semua orang takut sama aku.”
“Tapi nggak ada yang sadar…”
Ia mengembuskan napas panjang.
“…aku juga takut.”
Deg.
Untuk pertama kalinya—
Topeng pria itu retak.
Sedikit.
“Melati satu-satunya yang berani melawanku.”
“Dia bilang aku gila.”
“Dia bilang aku bakal menghancurkan semuanya.”
Tatapannya jatuh ke lantai.
“Dan aku benci karena dia benar.”
Sunyi.
Tidak ada yang bicara.
Karena untuk pertama kalinya—
Mereka melihat sesuatu yang belum pernah terlihat.
Mahendra yang rapuh.
Mahendra yang menyesal.
Meski mungkin sudah terlambat.
Tiba-tiba—
Sebuah suara tembakan terdengar dari luar.
DOR!
Semua langsung menoleh.
Lalu tembakan kedua.
DOR!
DOR!
Deg!
Salah satu anak buah Mahendra langsung berlari masuk.
Wajahnya panik.
“Pak!”
“Ada masalah!”
Mahendra langsung berdiri.
“Apa?”
“Polisi!”
Deg.
Ruangan langsung tegang.
“Bagaimana mereka bisa tahu tempat ini?”
Pria itu menggeleng.
“Kami nggak tahu!”
“Tapi mereka sudah masuk area hutan!”
Mahendra langsung menoleh ke arah Rey.
“Lo.”
Rey tersenyum tipis.
“Gue memang nggak pernah datang sendirian.”
Deg.
Mahendra tertawa kecil.
Namun kali ini—
Tidak terdengar santai.
Melainkan marah.
Sangat marah.
“Lima tahun.”
gumamnya.
“Lima tahun lo nyiapin ini.”
Rey mengangguk.
“Iya.”
“Bagus.”
Mahendra mengambil napas panjang.
Lalu menatap seluruh ruangan.
“Kalau begitu…”
Senyumnya perlahan muncul lagi.
“…permainannya selesai.”
Deg.
Entah kenapa—
Kalimat itu membuat jantung Nadira berdetak lebih cepat.
Karena ada sesuatu dalam cara Mahendra mengatakannya.
Sesuatu yang tidak benar.
Sesuatu yang berbahaya.
Dan firasat buruk itu terbukti beberapa detik kemudian.
Mahendra mengeluarkan sebuah remote kecil dari sakunya.
Deg!
Semua langsung membeku.
Karena mereka pernah melihat benda itu.
Dan mereka tahu akibatnya.
Ledakan.
Kematian.
Kehancuran.
“Jangan.”
Suara Laras langsung berubah panik.
“Kak, jangan!”
Mahendra menoleh.
Untuk pertama kalinya—
Adiknya terlihat ketakutan.
“Sudah cukup.”
Tangis Laras pecah.
“Sudah terlalu banyak orang mati.”
Mahendra tersenyum tipis.
“Makanya.”
Deg.
“Aku mau semuanya berakhir.”
Jantung Nadira langsung jatuh.
Karena saat itu juga—
Ia melihat lampu kecil di remote tersebut menyala merah.
Dan jauh di bawah lantai mansion tua itu—
Sebuah sistem yang sudah dipasang bertahun-tahun akhirnya aktif.
Sistem penghancur diri.
Sistem yang dirancang untuk memastikan tidak ada rahasia yang tersisa.
Tidak ada saksi.
Tidak ada bukti.
Tidak ada siapa-siapa.
Dan saat alarm pelan mulai berbunyi dari dinding rumah—
Semua orang langsung sadar satu hal.
Rumah itu akan meledak.