Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.
Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.
Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.
Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.
Semakin dekat, semakin sulit berhenti.
Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:
Menjaga masa depannya...
atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Salah
Bab 2 — Tatapan yang Salah
Hari pertama perkuliahan resmi dimulai. Ruangan kelas kali ini lebih kecil dan lebih privat dibandingkan aula kemarin, tapi suasananya justru terasa lebih menekan. Mungkin karena kehadiran satu orang di depan sana yang membuat udara seakan berubah menjadi es.
Dr. Adrian Vale.
Pria itu sudah berdiri di depan papan tulis putih besar sejak bel berbunyi. Hari ini dia tidak memakai jas, hanya kemeja lengan panjang berwarna putih bersih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka satu, memperlihatkan sedikit leher yang kekar dan urat-urat yang terlihat jelas saat dia bergerak. Lengan bajunya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan lengan yang berotot namun tetap elegan.
Cara dia mengajar... luar biasa.
Alena harus mengakui itu. Adrian menjelaskan materi yang rumit dengan bahasa yang sangat lugas, logis, dan cerdas. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terstruktur sempurna, menunjukkan betapa jeniusnya pria ini. Tapi sayangnya, keramahan tidak termasuk dalam paket keahliannya.
Wajahnya datar, nadanya dingin, dan tatapannya tajam seperti pisau. Jika ada mahasiswa yang bertanya hal yang menurutnya "tidak penting", dia akan memotong pembicaraan dengan kalimat singkat yang membuat orang itu langsung meringkuk malu.
"Logic is not an opinion, Miss Clarke. Either you get it right, or you don't. Don't make things up just to sound smart."
[Logika bukan pendapat, Nona Clarke. Entah kamu paham atau tidak. Jangan mengarang cerita cuma biar kelihatan pintar.]
Ucapnya santai tapi menusuk, membuat mahasiswa yang bertanya tadi langsung menunduk merah muka. Seluruh kelas jadi makin takut untuk bersuara.
Tapi Alena... Alena justru tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Gadis itu duduk di barisan kedua, matanya terus tertuju pada sosok pria di depannya. Entah kenapa, setiap kali Adrian berjalan mondar-mandir, setiap kali dia menyebutkan istilah teknis dengan aksen Britishnya yang kental, atau setiap kali dia menyandar di meja dengan pose santai tapi dominan... jantung Alena berdegup tidak wajar.
Astaga, Alena. Fokus! Ini dosen lo! hardiknya dalam hati, mencoba memaksakan mata untuk melihat ke buku catatan. Tapi belum sampai lima detik, matanya kembali melayang mencari sosok itu.
Seperti ada magnet yang menarik pandangannya.
Dan masalahnya... Adrian Vale sepertinya menyadari hal itu.
Beberapa kali saat Alena sedang menatapnya lekat-lekat, tiba-tiba pria itu menoleh cepat, menangkap basah tatapan gadis itu. Alena yang kaget akan buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk menulis atau merapikan pulpen, sementara wajahnya memanas luar biasa.
Tapi dia bisa merasakannya. Dia bisa merasakan tatapan Adrian yang masih tertuju padanya beberapa saat lebih lama sebelum akhirnya pria itu kembali berjalan.
"Now... let's take a look at this complex case study."
Adrian berhenti di tengah kelas, memegang spidol di tangannya. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan menantang.
"This is a question from last year's final exam. Very few managed to solve it correctly. I need someone to explain the critical point here."
[Ini soal dari ujian akhir tahun lalu. Sangat sedikit yang berhasil menjawab benar. Aku butuh seseorang untuk jelaskan poin kritisnya di sini.]
Suasana jadi hening total. Semua mahasiswa menunduk serentak, berdoa supaya tidak dipanggil. Tidak ada yang berani berkedip, apalagi menatap mata dosen killer itu.
Kecuali Alena. Karena dia malah sedang melamun lagi menatap wajah Adrian.
"You."
Jari telunjuk Adrian menunjuk lurus ke arahnya.
"The girl who keeps staring at me. Come forward and answer."
[Kamu. Gadis yang terus menatapku. Maju ke depan dan jawab.]
Seluruh kelas langsung berdesir. Kepala semua orang menoleh serentak ke arah Alena dengan tatapan kaget, campur kasihan dan juga sedikit geli.
Alena tersentak kaget setengah mati. Wajahnya langsung memerah padam. Ish! Ketahuan!
Dengan kaki yang terasa lemas, Alena berdiri perlahan. Dia bisa merasakan tatapan semua orang, tapi yang paling berat adalah tatapan Adrian yang menunggunya dengan wajah datar, seolah sedang menguji seekor kelinci kecil di depan ular besar.
Gadis itu berjalan pelan ke depan papan tulis, jantungnya berdegup kencang bukan main. Saat berdiri di samping Adrian, jarak mereka sangat dekat. Dia bisa mencium wangi parfum pria itu—campuran musk dan aroma kayu yang sangat maskulin dan menenangkan, tapi juga memabukkan.
"Read the question, and tell me your analysis."
[Baca soalnya, dan kasih analisis kamu.]
Ucap Adrian pelan, suaranya rendah tepat di sebelah telinga Alena.
Alena menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dia melihat soal yang tertulis di papan tulis. Otaknya bekerja cepat, mengingat semua materi yang sudah dia pelajari jauh hari sebelum datang ke London.
Dia mulai berbicara. Awalnya suaranya sedikit gemetar, tapi lama-kelamaan makin mantap. Alena menjelaskan teorinya dengan bahasa Inggris yang lancar, merinci poin-poin penting, bahkan memberikan sudut pandang alternatif yang tidak terpikirkan oleh orang lain.
Dia tidak hanya menjawab, dia memecahkan masalah itu dengan sangat cerdas.
Selama Alena berbicara, Adrian tidak menyela. Dia berdiri di samping dengan tangan disilangkan di dada, matanya tidak lepas menatap wajah gadis itu. Tatapannya yang tadinya dingin dan tajam, perlahan berubah. Ada kilatan kaget, lalu berubah menjadi... kekaguman.
Tapi pria itu sangat pandai menyembunyikannya. Wajahnya tetap terlihat cool dan tidak terpengaruh.
"...and that concludes why the strategy failed at the implementation phase."
[...dan itulah alasan kenapa strateginya gagal saat tahap penerapan.]
Alena mengakhiri penjelasannya dengan napas tertata. Dia menunduk sedikit, menunggu penilaian atau mungkin hujatan dari dosennya.
Hening sejenak.
Adrian mengambil spidol dari tangan Alena, jari mereka bersentuhan sekilas. Dingin.
"Not bad."
Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya, tapi nada bicaranya sedikit lebih lunak dari biasanya.
"Your analysis is sharp. You didn't just memorize the theory, you actually understand how it works. Good job, Miss Alena."
[Lumayan. Analisis kamu tajam. Kamu tidak cuma menghafal teori, tapi kamu benar-benar paham cara kerjanya. Kerja bagus, Nona Alena.]
Alena mengangkat wajah, kaget sekaligus lega. "Thank you, Sir."
Adrian menatap matanya lama sekali, kali ini ada senyum tipis yang terselip di sudut bibirnya. Sangat tipis, tapi cukup buat Alena merasa dunia berputar.
"You may sit down."
[Silakan duduk.]
Saat Alena kembali berjalan ke tempat duduknya, teman sebangkunya—seorang gadis bernama Chloe—langsung menyenggol pelan lengannya sambil berbisik heboh.
"Oh my God, Alena! Lo keren banget sih! Jarang banget lho ada yang dipuji sama Dr. Vale sekeren itu!" bisik Chloe antusias.
"Iya tuh," timpal yang lain dari sebelah. "Bukan cuma dipuji lho... Lo perhatiin gak? Dari tadi dia sering banget ngeliat ke arah lo. Berkali-kali! Padahal mahasiswi cantik banyak di sini, tapi matanya fokus banget ke lo."
"Apasih... mungkin cuma kebetulan doang," elak Alena, meski dalam hatinya dia tahu itu bukan kebetulan. Rasanya aneh, campuran antara bangga, takut, dan juga... deg-degan yang luar biasa.
"Kebetulan apanya? Dia manggil lo 'the girl who keeps staring at me' lho! Itu tandanya dia sadar dan dia notice lo! Hati-hati ya Len, dosen ganteng tapi dingin gitu biasanya justru yang paling bahaya..." goda Chloe sambil nyengir.
Alena hanya bisa membuang muka, berusaha menyembunyikan senyum kecil dan pipi yang memanas.
Waktu perkuliahan akhirnya usai. Mahasiswa lain mulai berkemas dan keluar dari ruangan satu per satu. Alena juga membereskan buku-bukunya, berniat langsung pergi supaya tidak terlalu lama berada di dekat Adrian dan membuat hatinya makin kacau.
Tapi baru saja dia berdiri...
"Miss Alena."
Suara berat itu memanggil namanya. Pelan, tapi terdengar jelas sampai ke telinganya meski ruangan sudah mulai sepi.
Alena berhenti melangkah. Dia menoleh perlahan. Adrian masih berdiri di dekat mejanya, sedang merapikan berkas-berkasnya dengan santai. Pria itu tidak mendongak, tapi dia tahu Alena berhenti.
Dia berjalan mendekat sedikit, hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja. Tidak ada orang lain di sana.
Akhirnya Adrian mendongak, menatap Alena lekat-lekat. Tatapannya kali ini tidak lagi seperti dosen ke murid, tapi lebih seperti... tatapan dua orang dewasa yang saling mengerti.
"Don't be late again tomorrow."
[Jangan terlambat lagi besok.]
Ucapnya pelan, nadanya lembut tapi tegas. Kalimat itu terdengar seperti perintah biasa, tapi cara dia mengucapkannya... ada sesuatu yang personal di sana. Seperti sebuah peringatan manis, atau mungkin sebuah permintaan supaya gadis itu tetap ada di sana, di hadapannya.
Alena menelan ludah, suaranya tercekat di tenggorokan. "I... I understand, Sir. I won't."
Adrian mengangguk pelan, lalu kembali menunduk membereskan barangnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Good. Now you may go."
Alena berbalik badan dan berjalan keluar ruangan dengan kaki yang terasa sedikit gemetar.
Di balik punggungnya, Adrian Vale menghentikan gerakannya. Dia mendongak menatap pintu yang baru saja ditutup oleh gadis itu, dan untuk pertama kalinya hari ini, senyum tipis itu muncul lagi di wajahnya.
"Alena..." gumamnya pelan, mengeja nama itu dalam hati. "Interesting."