NovelToon NovelToon
Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: LaruArun

Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.

Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.

Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Moan my name."

"Kak... ahhh—"

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 PERTEMUAN TAK TERDUGA

Esther memilih duduk di depan bartender karena ditempat itu tidak ada siapapun. Orang-orang tengah sibuk berkerumun di sudut lain dan bersorak.

"Nona cantik datang sendirian?" sapa bartender itu.

"Kelihatannya seperti itu kan?" jawab Esther ketus sambil memutar bola matanya jengah. "Berikan aku mocktail."

"Apa nona manis alergi alkohol sampai harus memesan mocktail?" tanya bartender itu seraya menyiapkan pesanan Esther.

Esther mengangguk meskipun sebenarnya ia tidak alergi alkohol, hanya saja ia enggan minum karena setelah dari bar Esther berencana akan pulang ke rumah kakaknya dan menginap disana. Bermain dengan keponakannya yang lucu, Arthur, untuk melupakan ciuman tadi dengan Joshua.

"Silakan, nona manis," bartender itu menyimpan gelas di hadapan Esther sambil tersenyum ramah—lebih tepatnya senyum genit khas pria hidung belang.

Esther menyambut gelas itu. Ia meneguknya sedikit sebelum kembali menatap bartender di deoannya. "Kenapa semua orang berkerumun disana?" tanya Esther yang sejak awal sudah penasaran.

"Mereka?" bartender itu menunjuk kerumunan yang jaraknya sekitar lima meter dari mereka. "Orang-orang itu sedang melihat pertandingan."

Kedua alis Esther terangkat saat ia mendengar apa yang baru saja bartender itu katakan. Ia meletakan kembali gelas berisi mocktail hingga terdengar suara 'duk' dan menatap bartender di hadapannya. "Pertandingan apa yang di adakan di bar?"

Tubuh bartender itu condong ke arah Esther membuat kedua sikunya bersandar pada meja. "Kalau kau ingin tahu, pergi saja kesana dan lihat pertandingan apa yang tengah terjadi."

Esther mendengus kesal mendengar ucapan bartender itu. Ia memutar-mutar gelas berisi setengah mocktail miliknya sementara bartender itu kembali sibuk menyiapkan pesanan orang lain yang baru saja tiba.

Esther benar-benar penasaran, pertandingan apa yang di adakan di sebuah bar?

Suara sorakan yang menggema berhasil mengalahkan musik yang sejak tadi menyala, membuat Esther menoleh ke arah kerumunan orang-orang itu.

"Ayo, ayo, ayo...."

Kening Esther berkerut heran. Perlahan ia turun dari kursi lalu berjalan ke arah kerumunan itu meninggalkan bartender yang kini menatap punggungnya usai memberikan sebuah Vodka pada pengunjung.

Esther mencoba masuk di antara lautan manusia yang bertepuk tangan dan bersorak hingga membuat Esther mengedik tidak tidak nyaman.

Di tengah-tengah, Esther melihat dua orang pria tengah mendongak meneguk alkohol di tangan masing-masing. Penampilan kedua pria itu berantakan, jelas sekali bahwa mereka sudah mabuk berat karena di tengah-tengah mereka ada beberapa botol yang sepertinya sudah kosong tak bersisa.

Ternyata pertandingan yang di maksud oleh bartender itu adalah pertandingan siapa yang paling kuat minum alkohol.

Brak.

Seorang pria tumbang, kepalanya membentur meja saat ia akan meminum gelas yang ada di tangannya.

"1.... 2... 3..."

Semua orang menghitung bersama hingga setelah hitungan ketiga pria itu tidak kunjung bangkit. Itu artinya, pria bertopi yang duduk membelakangi Esther adalah pemenangnya.

"Jadi pemenang pertandingan malam ini adalah... Lian."

Deg.

Esther seketika membeku mendengar nama itu. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Matanya terpaku pada pria bertopi di depannya. Sementara indera pendengarannya mendadak tak berfungsi karena suara gemuruh tepuk tangan di sekitarnya mendadak tidak terdengar, seolah-olah Esther menjauh dari tempat itu.

"Tidak mungkin itu, nama itu banyak di kota ini." gumam Esther.

Namun sayangnya hati kecilnya ternyata benar bahwa Lian yang memenangkan pertandingan itu adalah Lian yang sama—sahabat kakaknya sekaligus cinta pertamanya.

"Kak Lian... "

Esther menatap wajah Lian yang tidak berubah sedikitpun. Hanya matanya sayu dan kondisi tubuhnya yang tidak stabil akibat mabuk.

Sementara di tengah-tengah kerumunan, Lian berdiri di bantu pria yang tadi menjadi wasit. Senyuman merekah di wajahnya, bangga karena ia memenangkan pertandingan itu.

Usia pertandingan selesai, semua orang kembali sibuk menikmati kegiatan mereka. Menari sesuaka hati diiringi musik serta lampu kelap-kelip juga minum sebanyak yang mereka mau tanpa memikirkan nanti ataupun hari esok.

Sedangkan Esther memilih untuk pergi ke toilet sebelum pulang.

"Tenang Esther," Gumamnya pada diri sendiri. "Tarik napas dan sekarang kita pulang."

Esther mengenakan kembali tasnya seraya melangkah keluar dari kamar mandi. Ia berjalan tanpa melihat sekitar karena terlalu fokus mencari ponsel yang terselip di dalam tasnya hingga tubuhnya terpental mundur ke belakang dan ponselnya jatuh.

"Hei! Jalan tuh pake mata!" kesalnya. Ia berjongkok, mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai dengan layar yang retak di bagian sampingnya.

"Apa kau bisu? Lihat yang sudah kau—" Esther tak melanjutkan kembali ucapannya setelah ia melihat siapa yang sudah menabraknya dan menyebabkan ponselnya retak.

"K-kak Lian?.."

Lian tidak menjawab. Tubuhnya limbung ke depan hingga membuat Esther yang hendak menahannya justru malah terduduk karena tidak kuat menahan bobot tubuh Lian yang tinggi dan besar.

"Kak, bangun!"

Esther mencoba mengangkat Lian namun gagal. Akhirnya ia berteriak dan meminta tolong orang-orang yang berada di bar itu untuk membawa Lian.

...*****...

Joshua mengetuk pintu hingga seorang wanita paruh baya terlihat saat begitu pintu di buka.

"Joshua, mana Esther?" tanya Margaret usai dirinya tidak mendapati putrinya di samping pria itu.

Joshua terdiam mendengar pertanyaan itu. "Apa Esther belum pulang, bibi?" tanya Joshua terkejut.

Wajahnya berubah khawatir, takut terjadi sesuatu pada kekasihnya itu, terlebih lagi malam sudah hampir larut.

Margaret menggeleng. "Bukannya kalian pergi bersama? kenapa tidak kembali bersama?"

Joshua hanya diam mendengar pertanyaan itu karena ia bingung harus menjawab apa.

"Apa kalian bertengkar?" duga Margaret.

Joshua menggeleng cepat dan menatap Margaret dengan penuh keyakinan. "Esther—"

"Marah padamu karena hal sepele?" potong Margaret. Ia tersenyum pada Joshua, mencoba menenangkan pria itu agar tidak merasa sangat bersalah. "Biar bibi yang bicara dengannya nanti saat pulang, mungkin sekarang dia menginap di rumah kakaknya makanya tidak ada disini. Jadi kau sebaiknya pulang karena ini sudah malam dan jangan terlalu khawatir soal Esther, dia memang ke kanak-kanakan."

"Jangan marahi Esther, bibi, ia tidak salah, aku yang salah sampai membuatnya seperti ini." pinta Joshua.

Margaret tersenyum. Ia menyentuh kedua bahu Joshua, "Tidak akan, bibi hanya akan menasihatinya sedikit."

Mendengar itu Joshua akhirnya pamit pulang meskipun sebenarnya ia sangat ingin bertemu dengan Esther, meminta maaf padanya dan memohon supaya Esther tidak memutuskan dirinya karena masalah ini.

...*****...

Esther menepikan mobil milik Lian ke pinggir karena ia tidak tahu kemana ia harus mengantarkannya pulang. Ia menatap ke kursi di sampingnya dimana Lian duduk dengan kepala miring ke dekat pintu, matanya tertutup dan napasnya naik turun dengan teratur.

Dengan ragu, Esther menekan lengan Lian dengan telunjuknya, berharap pria itu akan bangun dan memberitahu dimana rumahnya karena Esther tidak tahu dimana rumah Lian berada.

"Kak dimana rumahmu?"

Esther menghela napasnya sebelum akhirnya ia mengguncang tubuh Lian hingga pria itu mengerjap.

"Hmmmm."

"Kemana aku harus mengantarmu?"

"Apartemenku," gumam Lian tidak jelas namun Esther bisa memahinya.

"Dimana itu?"

Lian mengatakan alamatnya dengan gumaman tidak jelas hingga membuat Esther berkali-kali bertanya untuk memastikan.

...*****...

Dengan bantuan security, akhirnya Esther berhasil membawa Lian ke dalam apartemennya. Kini pria itu duduk di sofa sementara Esther dengan lancang berjalan ke dapur karena meminta izin pada pemilik rumah yang tengah mabuk akan percuma. Ia membuka kulkas, meneguk air dengan rakus karena membawa Lian ke apartemennya membuat Esther kelelahan.

"Uhuk-uhuk..." Esther tersedak air saat tiba-tiba sebuah tangan melingkari perutnya diikuti dagu yang kini menumpu di bahunya.

"Kau wangi sekali," lirih Lian, suaranya yang rendah dan berat menggelitik telinga Esther membuatnya merinding dan segera melepaskan tangan Lian darinya.

Namun Lian Justru menguatkan pelukannya hingga punggung Esther menempel di dadanya yang panas karena alkohol.

Jantung Esther berdegup dengan kencang, seolah ia hendak keluar meninggalkan raganya.

"Kak Lian, lepas," Esther mencoba melepas tangan Lian darinya namun kekuatan pria itu jauh lebih besar darinya.

Di belakang, Lian menggerakan kepalanya menghadap pada leher Esther yang terekpos karena rambutnya di sanggul. Napas pria yang hangat itu sampai menggelitik di leher Esther. Lian tersenyum di tengah-tengah kesadarannya yang menurun. Lalu dengan satu gerakan, bibir Lian menempel di leher Esther, menghisapnya dengan kuat hingga membuat Esther berteriak.

📌Jangan lupa like dan komen ya supaya lebih banyak yang baca karyaku... Terimakasih banyak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!