Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu yang Lelah
Pagi harinya, Bambang bangun sebelum subuh. Dia tidak tidur nyenyak semalaman. Pikirannya bolak-balik pada telepon kemarin, pada suara Pak Toni yang terlalu halus, pada angka lima belas juta yang masih terasa seperti mimpi. Dia duduk di pinggir kasurnya, menatap dinding kamar yang sempit. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul setengah lima.
Dia mendengar suara dari dapur. Ibu sudah bangun lebih awal. Seperti biasa. Seperti setiap hari. Ibu akan menyalakan kompor minyak tanah, memanaskan nasi sisa kemarin, lalu membuat teh pahit untuk sarapan. Bambang tahu rutinitas itu di luar kepala. Dia sudah melihatnya selama dua puluh delapan tahun.
Bambang keluar dari kamar. Ibu sedang membasuh muka di bak air belakang. Lampu dapur hanya satu, sama redupnya dengan lampu di ruang tamu. Ibu menoleh saat mendengar langkah kaki.
"Kok sudah bangun, Nak? Masih pagi."
"Tidak bisa tidur, Bu."
Ibu mengusap mukanya dengan handuk tipis yang sudah bersobek di beberapa tempat. "Deg-degan mau wawancara ya?"
Bambang mengangguk. "Iya, Bu. Tapi aku juga mikirin Bapak."
"Bapak gimana?"
"Obatnya tinggal dua strip. Aku khawatir kalau aku pergi nanti, Bapak kehabisan."
Ibu berhenti mengusap mukanya. Dia menatap Bambang sejenak, lalu kembali ke kompor. "Urusannya nanti, Nak. Sekarang fokus ke wawancara dulu. Urusan obat, Ibu yang pusingin."
"Tapi, Bu..."
"Bambang." Ibu memotong dengan suara tegas. Suara yang jarang keluar dari mulutnya. "Ibu bilang, fokus ke wawancara dulu."
Bambang diam. Dia tahu Ibu sedang berusaha kuat. Ibu selalu berusaha kuat. Sejak Bapak stroke, sejak tabungan habis, sejak Bambang jadi pengangguran, Ibu tidak pernah menangis di depan mereka. Tapi Bambang pernah mendengar isak tangis Ibu di dapur tengah malam. Saat Ibu pikir semua orang sudah tidur. Saat Ibu pikir tidak ada yang mendengar.
"Baik, Bu."
Mereka sarapan dalam diam. Nasi hangat dengan telur dadar satu butir yang dibagi tiga. Ibu hanya makan setengah porsi. Dia bilang dia sedang diet. Bambang tahu itu bohong. Ibu hanya ingin mereka berdua kenyang.
Bapak terbangun saat matahari mulai naik. Wajahnya masih kusut. Tangan kanannya masih gemetar. Bambang menyiapkan obat untuk Bapak. Dua strip obat itu diletakkan di atas meja. Tinggal dua strip. Mungkin cukup untuk sepuluh hari. Mungkin kurang.
"Pak, makan dulu. Habis itu minum obat."
Bapak mengangguk pelan. "Kamu berangkat jam berapa?"
"Jam setengah sembilan, Pak. Wawancara jam sepuluh."
"Bawa pakaian yang rapi. Jangan pakai kaot."
"Siap, Pak."
Bapak tidak bicara banyak setelah itu. Sejak stroke, Bapak lebih banyak diam. Kadang Bambang rindu masa kecil dulu saat Bapak masih kuat. Saat Bapak pulang dari proyek bangunan dengan badan penuh debu dan semen, tapi masih semangat bercerita tentang kuli-kuli lain yang lucu. Sekarang Bapak hanya diam.
Bambang mandi dengan air dingin dari bak mandi. Sabun colek seadanya. Dia memakai kemeja putih lengan panjang yang sudah sedikit menguning di bagian kerah. Celana hitam yang sama yang dia pakai saat lamaran kerja ke minimarket dulu. Sepatu pantofel yang sol depannya sudah mulai lepas.
Dia bercermin di kaca kecil yang menempel di dinding kamar Ibu. Wajahnya kusam. Jenggot tipis tumbuh di dagu. Dia belum bercukur. Pisau cukurnya sudah tumpul.
"Pakai ini," kata Ibu sambil mengulurkan pisau cukur baru. Masih terbungkus plastik. "Ibu beli kemarin."
"Bu, buat apa beli? Pisau cukur lama masih bisa dipakai."
"Sudah, pakai aja."
Bambang mengambil pisau cukur itu. Dia tidak bertanya harganya. Dia tidak mau tahu. Uang Ibu sangat terbatas. Membeli pisau cukur baru berarti mengurangi jatah makan atau jatah obat Bapak. Tapi Ibu tetap membelinya. Untuk wawancara ini.
Dia bercukur di depan kaca. Air sabun menetes ke lantai. Dia bercermin lagi setelah selesai. Wajahnya sedikit lebih segar. Mungkin cukup untuk membuat kesan pertama yang baik.
"Bawa surat-suratnya, Nak. Jangan sampai ketinggalan."
Bambang memeriksa map plastik yang berisi KTP, ijazah SMA, kartu keluarga, dan pas foto. Semuanya sudah lengkap. Dia menggenggam map itu erat-erat.
"Doain aku, ya, Bu."
Ibu mengangkat tangannya. Tangan yang kasar karena bertahun-tahun memegang jarum jahit dan kain. Ibu meletakkan telapak tangannya di kepala Bambang. "Semoga lancar, Nak. Semoga dapat kerjaan yang baik. Semoga cepat pulang bawa kabar gembira."
Bapak dari kursi bambunya hanya mengangguk. Tapi Bambang tahu doa Bapak sama kuatnya dengan Ibu.
Bambang keluar rumah. Matahari sudah cukup tinggi. Genangan air di depan pagar sudah mengering. Dia berjalan pelan melewati rumah Mamat. Pintu rumah Mamat masih tertutup. TV-nya belum menyala. Mamat mungkin masih tidur. Bambang lega. Dia tidak ingin bertemu Mamat pagi ini. Dia tidak ingin mendengar sindiran.
Tapi takdir berkata lain.
"Wah, BAMBANG!"
Suara Mamat dari dalam rumah. Pintu terbuka. Mamat keluar dengan sarung dan kaot oblong tanpa lengan. Rambutnya acak-acakan. Matanya masih sayu.
"Baru jam segitu udah rapi-rapi? Mau ke mana?"
"Wawancara kerja," jawab Bambang singkat.
"Wawancara? Di mana? Toko kelontong?" Mamat tertawa kecil.
"Bukan. Perusahaan karet. Di Kalimantan."
Mamat berhenti tertawa. Matanya membulat. "Kalimantan? Jauh amat. Gajinya berapa?"
"Lima belas juta."
Mamat terdiam. Beberapa detik. Matanya berkedip cepat. "Lima belas juta? Jangan-jangan kamu dijual, Bang. Itu gaji direktur, masa satpam."
"Terserah kamu mau bilang apa. Aku mau berangkat."
Bambang melanjutkan langkah. Dia tidak menoleh. Tapi dari balik bahunya, dia bisa mendengar Mamat bergumam. "Paling cuma mimpi. Kerjaan segitu enggak mungkin dikasih ke pengangguran kayak dia."
Bambang menggigit bibirnya. Dia terus berjalan.
Perjalanan ke kafe di dekat pasar lama memakan waktu empat puluh menit dengan angkutan kota. Bambang duduk di kursi dekat jendela. Pikirannya melayang lagi ke Ibu, ke Bapak, ke dua strip obat yang tersisa. Dia berjanji pada dirinya sendiri. Begitu dapat gaji pertama, dia akan beli obat Bapak untuk sebulan. Dia akan beli beras sepuluh kilo. Dia akan belikan Ibu kompor gas. Kompor minyak tanah itu sudah terlalu tua dan terlalu berbahaya.
Kafe tempat wawancara ternyata kafe kecil dengan papan nama yang sudah pudar. Kursi-kursi plastik di teras. Dindingnya dicat hijau pucat. Bambang masuk. Bel di pintu berbunyi.
Seorang pelayan menyambutnya. "Ada yang bisa dibantu, Bang?"
"Saya mau ketemu Pak Toni. Ada janji wawancara."
Pelayan itu mengangguk dan menunjuk ke arah meja di pojok. "Itu, Bang. Dari tadi sudah nunggu."
Di meja pojok, seorang pria paruh baya duduk dengan tenang. Kemeja batik lengan panjang, warna coklat dengan motif daun. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya tidak tersenyum, tapi matanya terlalu tajam. Seperti sedang menghitung sesuatu dari balik bola mata Bambang.
Bambang menghampiri. "Selamat pagi, Pak. Saya Bambang."
Pak Toni mengangkat wajahnya. Matanya menyapu Bambang dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Silakan duduk, Bapak Bambang. Saya sudah pesankan minuman. Teh manis, bisa?"
"Bisa, Pak. Terima kasih."
Bambang duduk di kursi seberang Pak Toni. Map plastik diletakkan di atas meja. Teh manis datang beberapa saat kemudian. Bambang tidak menyentuhnya. Dia terlalu tegang.
"Jadi, Bapak Bambang," Pak Toni membuka map tebal yang dibawanya. "Saya sudah baca lamaran Bapak yang dikirim lewat email. Sayangnya, saya tidak menemukan pengalaman sebagai satpam."
"Maaf, Pak. Saya memang belum pernah jadi satpam. Tapi saya mau belajar. Saya orangnya disiplin."
"Disiplin itu penting. Tapi di tempat kami, disiplin saja tidak cukup. Bapak harus patuh. Patuh pada aturan. Patuh pada kontrak. Patuh pada apapun yang diperintahkan. Bisa?"
Bambang mengangguk. "Bisa, Pak."
"Bagus." Pak Toni mengeluarkan setumpuk kertas dari map. Kontrak. Tebalnya sekitar dua puluh halaman. "Ini kontrak kerja Bapak. Baca dulu. Jangan sampai ada yang terlewat."
Bambang mengambil kontrak itu. Tangannya sedikit gemetar. Dia membaca halaman demi halaman. Bahasa hukum yang berbelit-belit. Pasal ini, pasal itu. Ayat ini, ayat itu. Matanya mulai lelah di halaman kelima. Tapi dia terus membaca.
Sampai halaman delapan belas, dia menemukan kalimat yang membuatnya berhenti.
"Pak, ini soal denda?"
Pak Toni tersenyum. Senyum pertama yang Bambang lihat sejak tadi. "Iya. Denda lima ratus juta jika Bapak berhenti sebelum masa kontrak satu tahun. Itu standar perusahaan. Biaya pelatihan, akomodasi, transportasi, semuanya sudah ditanggung perusahaan di awal. Jadi kalau Bapak berhenti di tengah jalan, perusahaan rugi besar."
Bambang menelan ludah. Lima ratus juta. Angka yang tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya.
"Tapi selama Bapak bekerja dengan baik, tidak ada masalah. Gaji lima belas juta setiap bulan. Tunjangan makan, transport, asuransi jiwa dua miliar. Semua resmi dan jelas."
Asuransi jiwa dua miliar. Bambang menggigil mendengarnya. Kedengarannya seperti angka kematian.
"Bapak bisa tanya-tanya dulu kalau mau. Atau bawa pulang kontraknya. Baca dengan teliti. Saya tunggu sampai besok."
Bambang memandangi kontrak di tangannya. Lalu memandangi Pak Toni di seberang meja. Lalu memikirkan Ibu di rumah. Lalu memikirkan Bapak dengan dua strip obat yang tersisa.
"Tidak perlu, Pak. Saya tanda tangan sekarang."
Pak Toni mengulurkan pulpen. "Bapak yakin?"
"Yakin."
Bambang menandatangani setiap halaman yang perlu ditandatangani. Tiga belas tanda tangan. Tiga belas kali nama Bambang tercoreng di atas kertas.
Pak Toni mengumpulkan kontrak itu dengan rapi. Senyumnya melebar. "Selamat bergabung, Bambang. Bapak akan berangkat besok pagi. Saya sudah siapkan tiket pesawat. Jangan telat."
"Baik, Pak."
"Ada satu lagi." Pak Toni mengeluarkan amplop coklat. "Ini uang muka lima juta. Untuk persiapan Bapak sebelum berangkat. Nanti dipotong dari gaji pertama."
Bambang menerima amplop itu. Tangannya gemetar. Lima juta. Dia belum pernah memegang uang sebanyak ini seumur hidupnya.
Dia pamit dan keluar dari kafe. Di luar, matahari semakin panas. Tapi Bambang tidak merasakannya. Yang dia rasakan hanya amplop di sakunya. Yang dia rasakan hanya bayangan Ibu yang akan tersenyum lagi.
Bambang tidak tahu bahwa tanda tangannya hari ini bukan hanya menandatangani kontrak kerja. Tapi juga menandatangani sesuatu yang jauh lebih gelap.