NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Satu Tarian

Arkana masih berdiri sangat dekat di depan Kemuning di tengah ballroom megah yang dipenuhi cahaya kristal. Ibu jari pria itu baru saja menyentuh sudut bibir Kemuning dengan gerakan pelan dan intim. Tatapan mata Arkana terlihat gelap sekaligus sulit ditebak malam itu. Sedangkan napas Kemuning langsung kacau seketika.

Sentuhan kecil itu terasa terlalu dekat bagi Kemuning. Apalagi dilakukan di tengah keramaian ballroom penuh orang penting. Jantungnya berdetak sangat keras sampai telinganya ikut panas. Dan ia langsung tidak sanggup menatap Arkana terlalu lama.

Kemuning buru-buru menundukkan wajah dengan pipi memerah malu. Tangannya refleks meremas clutch kecil yang dipegangnya gugup. Namun Arkana justru terus memperhatikannya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Membuat Kemuning semakin salah tingkah.

“Berhenti gugup.” Suara Arkana terdengar rendah di dekatnya. “Kau membuat semua orang terus memperhatikanmu.” Kalimat itu terdengar seperti teguran sekaligus sesuatu yang jauh lebih possessive.

Kemuning langsung makin gugup mendengarnya.

Tatapan beberapa orang di ballroom memang mulai mengarah pada mereka. Namun cara Arkana mengatakannya justru membuat jantung Kemuning semakin tidak tenang. Seolah pria itu tidak suka dirinya dilihat orang lain. Dan memang itulah yang sedang dirasakan Arkana sekarang.

Sejak memasuki ballroom tadi, terlalu banyak laki-laki memperhatikan Kemuning diam-diam.

Beberapa bahkan sengaja mencari alasan untuk mendekat dan mengajak bicara. Hal yang mulai mengganggu ketenangan Arkana sedikit demi sedikit. Pria itu sadar dirinya terlalu terganggu malam ini. Cara laki-laki lain menatap Kemuning membuat suasana hatinya memburuk tanpa alasan jelas. Padahal biasanya Arkana tidak pernah peduli pada siapa pun.

Namun sekarang semuanya terasa berbeda. Setiap ada pria yang mendekat, Arkana refleks berdiri sedikit lebih dekat ke Kemuning. Kadang tangannya menyentuh siku gadis itu pelan untuk menariknya mendekat. Kadang tubuhnya sengaja menghalangi pandangan orang lain. Dan semua itu dilakukan Arkana tanpa sadar.

Kemuning perlahan mulai menyadari sesuatu.

Arkana selalu melindunginya diam-diam di tengah keramaian ballroom ini. Mulai dari tatapan orang lain sampai situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Dan perhatian kecil itu perlahan menghancurkan pertahanannya lagi. Namun di sisi lain, Kemuning juga mulai melihat dunia Arkana lebih jelas malam ini.

Beberapa sosialita cantik datang menyapa Arkana dengan sangat akrab. Anak pengusaha terkenal tersenyum manis sambil menyentuh lengan pria itu ringan. Bahkan model terkenal ikut memanggil nama Arkana dengan santai. Kemuning langsung merasa kecil lagi. Perempuan-perempuan itu cantik, elegan, dan percaya diri. Mereka terlihat sangat cocok berdiri di samping Arkana Mahendra. Tidak seperti dirinya yang masih gugup hanya karena memakai heels tinggi. Dadanya terasa sesak tanpa alasan jelas.

Kemuning mulai sadar dirinya tidak kuat membayangkan Arkana bersama perempuan lain.

Dan kesadaran itu justru membuatnya takut setengah mati. Karena ia tidak punya hak untuk merasa cemburu.

Di tengah suasana ballroom yang ramai, seorang pria tinggi akhirnya mendekat sambil tersenyum santai.

Setelan abu gelap mahal yang dipakainya membuat auranya terlihat elegan dan percaya diri. Wajahnya tampan dengan tatapan penuh permainan khas pria yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dan matanya langsung berhenti pada Kemuning.

Reynard Wijaya. Pewaris muda Wijaya Corporation sekaligus rival bisnis terbesar Mahendra Group.

Pria itu terkenal charming dan sulit ditebak di dunia bisnis. Namun malam ini, perhatiannya justru tertarik pada gadis di samping Arkana.

“Pak Arkana.” Reynard tersenyum tipis sambil memasukkan satu tangan ke saku celananya. “Sejak kapan Anda menyembunyikan gadis secantik ini dari publik?” Tatapannya sengaja tertuju penuh pada Kemuning.

Kemuning langsung gugup mendengar pujian terang-terangan itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa dan hanya menunduk malu.

Sedangkan Arkana langsung memasang ekspresi dingin tanpa senyum sedikit pun. Suasana di antara dua pria itu langsung berubah tipis. “Dia bukan urusanmu.” Jawaban Arkana terdengar datar tetapi penuh tekanan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Reynard terlihat benar-benar tertarik. Karena Arkana Mahendra tidak pernah terdengar possessive seperti itu sebelumnya. Reynard justru tersenyum makin lebar. Tatapan matanya bergantian antara Arkana dan Kemuning dengan penuh rasa penasaran.

Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda dari reaksi Arkana malam ini. Dan itu terasa sangat menarik baginya.

“Tenang saja.” Reynard tertawa kecil santai. “Aku cuma ingin mengenal teman perempuanmu.” Kalimat itu sengaja diucapkan untuk memancing Arkana.

Kemuning langsung salah tingkah lagi. Sedangkan Arkana perlahan mulai kehilangan kesabaran.

Tatapan gelap pria itu jelas menunjukkan dirinya tidak suka. Dan Reynard menikmati setiap detik reaksinya.

Sepanjang percakapan berikutnya, Reynard sengaja terus mengajak Kemuning bicara. Ia memuji gaunnya, menanyakan asalnya, bahkan membuat beberapa candaan ringan. Kemuning menjawab seadanya dengan gugup karena tidak terbiasa dengan pria seperti Reynard. Namun Arkana justru semakin diam dan dingin di sampingnya.

Setiap Reynard tersenyum pada Kemuning, rahang Arkana langsung mengeras samar. Pria itu mulai sadar dirinya benar-benar tidak suka melihat orang lain terlalu dekat dengan Kemuning. Dan perasaan possessive itu semakin sulit disembunyikan sekarang. Terutama di depan seseorang seperti Reynard.

Tidak lama kemudian, suara MC memenuhi seluruh ballroom. Lampu ruangan sedikit diredupkan dan musik klasik mulai mengalun lembut. “Para tamu undangan, kita akan memasuki sesi dansa pembuka malam ini.”

Suasana ballroom langsung berubah lebih romantis.

Beberapa wanita langsung mulai memperhatikan Arkana diam-diam. Termasuk Selvina Adriani yang berdiri tidak jauh dari sana. Wanita itu jelas berharap Arkana akan mengajaknya berdansa seperti acara-acara sebelumnya. Dan Ratih juga memperhatikan situasi itu dari kejauhan.

Selvina akhirnya mulai melangkah mendekat dengan senyum elegan di wajahnya. Namun sebelum wanita itu sampai, Arkana justru lebih dulu menoleh ke arah Kemuning. Tatapan pria itu langsung membuat napas Kemuning tercekat lagi. Jantungnya mendadak berdetak semakin cepat. Lalu Arkana mengulurkan tangan ke arahnya di depan semua orang.

Ballroom terasa mendadak sunyi beberapa detik.

Bahkan Reynard ikut mengangkat alis tertarik melihat pemandangan tersebut. Sedangkan Kemuning langsung panik setengah mati.

“Berdansa denganku.” Suara Arkana terdengar rendah dan tenang.

Namun bagi Kemuning, kalimat itu terasa seperti ledakan di tengah ballroom. Karena semua orang sedang melihat mereka sekarang.

“A-aku tidak bisa berdansa...” Kemuning langsung berbisik panik sambil menatap Arkana gugup. Ia bahkan merasa tidak pantas berdiri di samping pria itu malam ini. Apalagi menjadi pasangan dansanya di depan publik.

Namun Arkana tetap berdiri di depannya tanpa menarik tangan itu kembali. Tatapan matanya begitu intens seolah tidak memberi ruang bagi Kemuning untuk menolak. Dan itu justru membuat jantung gadis tersebut semakin tidak terkendali.

Suasana di sekitar mereka terasa menghilang perlahan. Dengan tangan sedikit gemetar, Kemuning akhirnya menerima uluran tangan Arkana.

Sentuhan jemari pria itu langsung membuat napasnya tercekat pelan. Dan detik berikutnya, Arkana menariknya pelan menuju lantai dansa ballroom.

Tatapan semua orang langsung mengikuti mereka.

Tangan Arkana perlahan berpindah ke pinggang Kemuning. Tubuh mereka langsung berada terlalu dekat di tengah musik ballroom yang lembut.

Kemuning bahkan bisa mencium jelas aroma parfum maskulin pria itu sekarang. Dan itu membuat kepalanya semakin sulit berpikir.

Arkana menuntun langkah Kemuning perlahan dengan sabar. Tangan pria itu terasa hangat dan kuat di pinggangnya. Sedangkan Kemuning terus gugup setiap kali tubuh mereka bergerak semakin dekat.

Jantungnya seperti tidak mau berhenti berdetak liar.

Tatapan Arkana tidak pernah lepas dari wajah Kemuning sepanjang dansa. Dan hal itu membuat gadis tersebut semakin kehilangan kendali.

Suara napas pria itu terlalu dekat. Tatapan matanya terlalu dalam dan berbahaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arkana tidak peduli pada siapa pun di ballroom itu. Tidak peduli pada partner bisnis, wartawan, atau tatapan orang lain. Yang ia sadari sekarang hanyalah Kemuning di pelukannya. Dan perasaan itu mulai terasa terlalu nyata.

Dari kejauhan, Selvina melihat semuanya dengan wajah perlahan berubah pucat. Ratih juga mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih serius sedang terjadi pada putranya. Sedangkan Reynard hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan chemistry mereka. Tatapannya terlihat semakin tertarik sekarang.

Musik ballroom mulai melambat mendekati akhir lagu. Kemuning yang masih gugup sedikit kehilangan keseimbangan karena heels tinggi yang dipakainya.

Tubuh gadis itu goyah kecil ke depan dengan napas panik. Namun Arkana langsung bergerak cepat. Pria itu menarik tubuh Kemuning lebih dekat ke dadanya sebelum jatuh. Posisi mereka mendadak menjadi terlalu intim di tengah ballroom penuh orang.

Wajah mereka nyaris tanpa jarak sekarang. Dan jemari Arkana mengerat di pinggang Kemuning tanpa sadar. Napas Kemuning langsung berhenti sesaat.

Matanya membesar gugup saat menatap Arkana dari jarak sedekat ini. Sedangkan tatapan pria itu justru semakin gelap dan sulit dikendalikan.

Ballroom terasa menghilang di sekitar mereka.

Lalu Arkana menunduk sedikit ke dekat telinga Kemuning. Suara rendah pria itu terdengar pelan di tengah musik yang mulai mereda. “Kalau terus menatapku seperti itu...” Napas hangat Arkana menyapu telinga Kemuning hingga tubuh gadis itu langsung gemetar halus.

Dan kalimat berikutnya membuat jantungnya benar-benar kehilangan kendali. “Aku bisa lupa kita sedang di tempat umum.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!