NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. lembah naga

Hujan telah berhenti, meninggalkan udara yang lembap dan berbau tanah basah serta besi berkarat. Kabut tipis menyelimuti Lembah Naga, sebuah celah geografis sempit yang diapit oleh tebing-tebing granit setinggi ratusan meter. Di dasar lembah, jalan setapak berbatu berkelok-kelok seperti ular yang tertidur, satu-satunya jalur darat yang menghubungkan perbatasan utara dengan ibu kota Mobelle.

Kaelia berdiri di atas tebing barat, tubuhnya menyatu dengan bayangan bebatuan. Dia mengenakan jubah abu-abu kusam yang membuatnya hampir tak terlihat. Di tangannya, dia memegang teropong sihir kecil. Napasnya pendek dan teratur, matanya tidak berkedip menatap jalan di bawah sana.

Di sampingnya, Julian duduk bersila, mata tertutup. Di sekelilingnya, rune-rune cahaya biru redup terpahat di tanah, terhubung satu sama lain membentuk jaring energi yang kompleks. Dia sedang mendengarkan "detak jantung" bumi, menunggu momen yang tepat untuk melepaskan kunci pengunci sihir yang menahan ton-ton batuan di puncak tebing.

"Mereka datang," bisik Kaelia, suaranya nyaris hilang diterpa angin.

Dari arah utara, suara gemuruh terdengar. Bukan guntur, tapi derap ribuan kaki dan roda gerobak logistik. Pasukan Aethelgard muncul dari balik kabut. Mereka tampak lelah, armor mereka kotor oleh lumpur perjalanan, tapi semangat tempur mereka masih membara karena arogansi komandan mereka.

Di tengah barisan, berkuda hitam besar, duduk Lord Valerius. Wajahnya merah padam, bukan karena kesehatan, tapi karena amarah yang tak terbendung. Dia merasa dihina. Mundurnya pasukan Mobelle setelah kematian Jenderal Mark dianggapnya sebagai tanda kelemahan, ketakutan, dan keruntuhan moral.

"Lihat!" teriak Valerius kepada para perwiranya, menunjuk ke arah lembah yang kosong. "Mereka lari! Para pengecut itu takut menghadapi kemarahan Aethelgard! Kejar mereka! Hancurkan sisa-sisa pertahanan mereka sebelum matahari terbenam!"

Pasukan Aethelgard, didorong oleh janji hadiah dan rasa superioritas, mempercepat langkah mereka. Mereka masuk ke dalam Lembah Naga tanpa curiga. Formasi mereka padat, mengisi seluruh lebar jalan setapak. Gerobak-gerobak logistik berbunyi keras, roda-roda kayu bergesekan dengan batu.

Kaelia melihat jumlah mereka. Lebih dari lima ribu prajurit infanteri, seribu kavaleri, dan ratusan gerobak suplai. Jika mereka berhasil keluar dari lembah dan mencapai dataran terbuka di depan ibu kota, Mobelle akan kewalahan. Pasukan mereka terlalu sedikit untuk bertarung head-on.

"Julian," bisik Kaelia, tegang. "Tunggu perintahku."

Julian tidak menjawab. Matanya masih tertutup, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia merasakan beban berat batuan di atas kepala mereka. Rune-rune di tanah berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Satu... dua... tiga...

Valerius semakin mendekat. Dia sekarang berada tepat di tengah lembah, titik terjepit. Tebing di kiri dan kanannya menjulang tinggi, menghalangi pandangan ke atas.

"Arsen!" teriak Valerius tiba-tiba, suaranya menggema di dinding lembah. "Keluarlah, kau pengkhianat! Hadapi aku seperti pria! Atau apakah kau lebih suka bersembunyi di balik rok wanita itu?"

Hening. Tidak ada jawaban. Hanya angin yang mendesau melalui celah-celah batu.

Valerius tertawa sinis. "Dasar pengecut!"

Dia mengangkat pedangnya, siap memberi sinyal untuk terus maju menuju mulut lembah di selatan.

Saat itulah, Kaelia melihat sesuatu. Di ujung selatan lembah, di mana pasukan cadangan Mobelle seharusnya berjaga untuk menutup jalan keluar... tidak ada siapa-siapa. Jalan itu kosong.

Mereka benar-benar mundur, pikir Valerius puas. Kita menang.

Dia menurunkan pedangnya. "Maju! Cepat! Kita akan menangkap Ratu Floren sebelum dia sempat kabur!"

Pasukan Aethelgard bersorak sorai, mendorong gerobak-gerobak mereka lebih cepat. Kerumunan menjadi padat, saling berhimpitan. Mereka tidak bisa berbelok. Mereka terjebak dalam formasi linear yang panjang.

Sekarang.

Kaelia membuka matanya lebar-lebar. Dia mengangkat tangan kanannya, dan mengayunkannya ke bawah dengan tajam.

"SEKARANG, JULIAN!"

Julian membuka mata. Iris matanya bersinar putih menyilaukan. Dia membanting telapak tangannya ke tanah.

KRACK!

Suara retakan raksasa terdengar, lebih keras dari guntur. Dari puncak tebing di kedua sisi lembah, longsor batu buatan oleh sihir Julian mulai runtuh. Bukan batu-batu kecil, tapi bongkahan granit seukuran rumah, ditambah dengan tanah dan pepohonan akar yang mencabut.

Longsoran itu tidak jatuh secara acak. Julian telah mengarahkannya dengan presisi bedah. Batu-batu itu jatuh tepat di depan dan belakang kolom utama pasukan Valerius, menutup jalan masuk dan jalan keluar dalam hitungan detik.

Debu tebal membubung, menutupi seluruh lembah dalam kabut cokelat pekat. Jeritan panik terdengar dari dalam awan debu itu. Kuda-kuda meringkik ketakutan, menginjak-injak prajurit yang jatuh. Gerobak-gerobak terguling, menumpahkan persediaan makanan dan amunisi.

Valerius, yang berada di tengah, terhuyung karena gelombang kejut. Kudanya tersandung batu kecil, hampir menjatuhkannya. Dia menatap sekeliling dengan horor. Jalur melarikan diri tertutup. Udara menjadi sesak oleh debu.

"Jebakan!" teriak Valerius, suaranya parau. "Ini jebakan! Bentuk formasi defensif! Lindungi Lord!"

Tapi kekacauan sudah terjadi. Prajurit-prajurit Aethelgard, yang terbiasa bertarung di lapangan terbuka, panik ketika terperangkap di ruang sempit. Mereka saling dorong, saling injak. Moral mereka yang tadi tinggi, kini hancur berantakan.

Dari atas tebing, Kaelia memberi isyarat. Panah-panah berujung api mulai menghujani bagian tengah kerumunan yang padat. Tidak untuk membunuh semua orang, tapi untuk menciptakan kepanikan lebih lanjut. Api membakar tenda-tenda logistik, menambah asap hitam ke dalam debu.

Di dalam kekacauan itu, Valerius mencoba mengumpulkan wibawanya. Dia menebas udara dengan pedangnya, berteriak memerintahkan anak buahnya untuk tenang. Tapi suaranya tenggelam dalam deru longsoran kedua yang lebih kecil, yang sengaja dijatuhkan Julian untuk memastikan tidak ada yang bisa mendaki tebing.

Valerius menatap ke atas, ke arah tebing barat tempat Kaelia berdiri. Meski jaraknya jauh dan kabut tebal, dia seolah bisa merasakan tatapan dingin sang jenderal wanita.

"FLOREN!" teriak Valerius, wajahnya (terdistorsi) oleh kemarahan dan ketakutan. "KAU PEMAIN KOTOR! KELUAR DAN BERTARUNG LAYAKNYA PEJUANG!"

Tidak ada jawaban. Hanya hembusan angin dingin yang membawa aroma darah dan kekalahan.

Di istana, jauh dari medan perang, Floren berdiri di balkon utara. Dia tidak melihat pertempuran itu secara langsung, tapi dia bisa merasakannya. Getaran sihir Julian terasa hingga ke sini, sebuah dengungan rendah yang menyakitkan di tulang.

Dia memegang cangkir teh yang sudah dingin. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena takut, tapi karena beban keputusan yang baru saja dia ambil. Ribuan nyawa, dikorbankan dalam satu gerakan tangan.

"Maafkan aku, Mark," bisiknya pada angin. "Aku menggunakan taktikmu. Aku menggunakan pengorbananmu."

Dia meminum teh itu, meski rasanya pahit. Perang ini bukan tentang kehormatan. Ini tentang kelangsungan hidup. Dan Floren bersedia mengotori tangannya agar Mobelle tetap bersih.

Di Lembah Naga, jeritan perlahan mereda, digantikan oleh erangan kesakitan dan tangisan putus asa. Pasukan Aethelgard terperangkap. Mereka lapar, haus, dan terjepit. Dan malam akan segera turun.

Kaelia menurunkan teropongnya. Wajahnya datar, tapi matanya sedih.

"Selesai," katanya pelan.

Julian, yang masih duduk di tanah, pingsan karena kelelahan ekstrem. Sihir sebesar itu mengambil harga yang mahal dari tubuhnya.

Kaelia menoleh pada ajudannya. "Kirim tim medis ke tepi lembah. Selamatkan siapa pun yang bisa diselamatkan. Ambil tawanan. Termasuk Valerius. Hidup-hidup."

Ajudannya membungkuk dan berlalu.

Kaelia menatap langit yang mulai menggelap. Bintang pertama muncul, redup dan jauh. Pertempuran Teluk Merah adalah daging dan darah. Pertempuran Lembah Naga adalah pikiran dan strategi. Dan Mobelle telah memenangkan keduanya.

Tapi harganya? Harga itu akan menghantui mereka selamanya, tapi ini perang!

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!