Ternyata, Aku Cinta Pertamanya!
Bagi Lettu Kowad dr. Shaneen Kamila Mari, cinta adalah masa lalu yang penuh luka dan benteng pertahanan yang harus dijaga ketat. Namun, dunianya yang kaku dan perfeksionis seketika runtuh saat Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel—seorang Komandan Batalyon raksasa, dingin, dan berkuasa—datang membawa taktik perang kilat untuk melamarnya secara resmi.
Shaneen mengira ini hanyalah perjodohan birokrasi militer biasa. Ia tidak pernah tahu, di balik ketegasan dan perlindungan senyap sang Letkol, ada rahasia besar yang tersimpan rapat sejak masa berseragam putih-abu-abu. Di balik labirin berkas pernikahan dinas yang kaku, Shaneen akhirnya harus menghadapi kenyataan manis yang tak pernah ia duga seumur hidupnya bahwa pria tangguh itu tidak sedang mampir, melainkan sedang menjemput takdir yang sempat tertunda.
Sebab bagi Letkol Reyes, Shaneen bukanlah sekadar pilihan. Sejak awal, ia adalah satu-satunya misi yang harus dimenangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Hidayah di Atas Puing Masa Lalu
Bohong jika Shaneen mengatakan dirinya ikhlas.
Ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan di bibir, namun teramat berdarah ketika harus dipraktikkan di dalam dada. Menghapus jejak seorang pria yang telah menemani hari-hardinya selama empat tahun bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Selama empat tahun itu, Yahya—pria yang usianya dua tahun lebih muda dari Shaneen—telah menjadi bagian dari setiap tawa, tangis, dan rencana masa depannya. Begitu banyak kenangan manis yang mereka rajut bersama di antara sela-sela kesibukan Shaneen sebagai dokter militer dan tugas-tugas lapangan yang melelahkan.
Namun, tembok besar bernama perbedaan agama akhirnya meruntuhkan segalanya. Hubungan mereka menemui jalan buntu yang teramat gelap. Tekanan demi tekanan yang datang dari pihak keluarga Yahya membuat Shaneen sadar bahwa berjuang sendirian di atas fondasi yang berbeda tidak akan pernah membawa mereka ke muara yang bahagia. Keluarga Yahya menginginkan menantu yang seiman, dan saat itu, Shaneen adalah seorang umat Kristiani yang taat. Merasa tidak ada lagi celah untuk bersatu, Shaneen akhirnya memilih untuk berlapang dada, mundur perlahan dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Kejamnya, dunia fiksi tidak pernah sekejam kenyataan yang harus Shaneen telan bulat-bulat. Hanya berselang satu minggu pasca kata putus itu terucap, sebuah tamparan keras mendarat di wajah Shaneen. Melalui unggahan media sosial yang tidak sengaja dilihatnya, Yahya ternyata sudah menggandeng gadis lain. Gadis itu bertubuh agak berisi, berpipi chubby, wajahnya manis, dan yang paling memukul ego Shaneen, gadis itu mengenakan jilbab yang anggun.
Satu minggu. Waktu yang teramat singkat bagi seseorang untuk menyembuhkan luka dari hubungan empat tahun, kecuali jika orang tersebut memang sudah menyiapkan pengganti jauh sebelum hubungan itu resmi berakhir. Kenyataan itu sempat membuat Shaneen merasa menjadi wanita paling tidak berharga di dunia.
Kini, dua tahun telah berlalu. Di dalam kamar messnya yang sepi, Shaneen menutup sebuah buku tebal berkulit hijau yang baru saja selesai dibacanya. Buku itu mengulas tentang kisah-kisah ketabahan para nabi dalam menghadapi ujian hidup. Jemari lentiknya mengusap sampul buku itu perlahan, bersamaan dengan sebuah helaan napas yang lolos dari belahan bibirnya.
“Andai saja, Yahya mau bersabar dua tahun lagi...”
Bisikan itu kerap kali muncul di benak Shaneen, menjadi sebuah pengandaian yang tak akan pernah mengubah apa pun. Andai saja Yahya tahu, bahwa dua bulan yang lalu, sebuah keajaiban besar mengetuk pintu rumah keluarga Shaneen. Sebuah peristiwa besar yang mengubah seluruh garis hidup dan keyakinan mereka. Shaneen beserta seluruh keluarganya telah resmi memeluk agama Islam. Mereka semua telah bersyahadat.
Jika roda waktu diputar jauh ke belakang, kisah cinta orang tua Shaneen adalah sebuah drama romantis yang penuh dengan pengorbanan ekstrem. Ayah Shaneen, Reins Amri, sebenarnya terlahir sebagai seorang muslim. Namun, karena cinta yang begitu besar dan menggebu-gebu kepada Hedy Mari—ibu Shaneen yang beragama Kristen—Reins rela melepas keyakinannya. Demi mengikuti cinta sejatinya, Reins memeluk agama Kristen, sebuah keputusan besar yang seketika menyulut badai di keluarganya. Konflik besar itu membuat Reins memilih untuk pergi sejauh mungkin, memutuskan komunikasi, dan meninggalkan keluarga kandungnya sendiri di tahun 1990-an.
Reins membawa Hedy membangun hidup baru di Ibu Kota Pusat Timur, beranak-pinak hingga anak-anak mereka tumbuh besar, sukses, bahkan telah memberikan cucu-cucu yang lucu. Selama puluhan tahun itu, Reins sukses menjadi kepala keluarga yang terpandang dan kaya raya. Namun, di balik semua gelimang harta dan kebahagiaan duniawi, Reins tak kunjung mengamalkan niat sedikit pun hanya untuk sekadar berkunjung atau menengok ayah dan ibunya—nenek dan kakek Shaneen. Masa lalu itu dikuburnya rapat-rapat di bawah karpet kesombongan muda dan rasa bersalah yang membelenggu.
Hingga akhirnya, teguran Tuhan datang tanpa permisi beberapa bulan yang lalu.
Reins tiba-tiba jatuh sakit. Tubuhnya yang semula gagah mendadak digerogoti oleh rasa sakit yang aneh. Sebagai keluarga dokter, Shaneen tentu saja mengupayakan pengobatan medis terbaik untuk sang ayah. Reins dibawa ke rumah sakit militer terbaik, diperiksa oleh jajaran dokter spesialis paling genius, bahkan hingga diterbangkan ke Singapura untuk menjalani serangkaian pemindaian canggih di rumah sakit internasional termahal. Namun, hasilnya nihil. Dunia medis angkat tangan. Secara fisik, organ-organ tubuh Reins dinyatakan sehat, tetapi sang ayah terus meranggas, kesakitan setiap malam, dan tubuhnya kian kurus kering bak mayat hidup.
Melihat kondisi yang kian kritis dan tidak masuk akal, atas saran seorang kerabat jauh, keluarga akhirnya pasrah dan membawa Reins berobat ke seorang ulama sepuh yang memiliki karomah dan pandangan batin yang tajam.
Shaneen ingat betul hari itu. Ruangan sang ulama terasa begitu teduh, kontras dengan hatinya yang berkecamuk antara logika kedokterannya dan rasa putus asa sebagai seorang anak. Ulama sepuh itu tidak memberikan ramuan apa pun. Beliau hanya menatap wajah Reins yang pucat, lalu berkata dengan suara tenang namun menggetarkan sukma.
"Di dimensi lain, ada seorang wanita tua yang sedang merindukanmu dengan teramat sangat. Air matanya di masa lalu telah mengering, namun jiwanya terus memanggil namamu setiap malam. Hanya pelukan dan ziarah ke tempatnya yang akan menjadi obat bagi penyakitmu ini."
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong bagi Reins. Air mata pria tua itu langsung tumpah ruah. Detik itu juga, Reins tahu siapa wanita tua yang dimaksud. Dia adalah almarhumah ibundanya sendiri—nenek Shaneen.
Keluarga segera melakukan perjalanan menuju ke keluarga lama Reins yang telah puluhan tahun ditinggalkan. Kenyataan pahit pun terungkap. Sang nenek ternyata sudah meninggal dunia sangat lama, diperkirakan hanya tiga bulan setelah Reins pergi meninggalkan rumah di tahun 1990-an dulu. Wanita tua itu meninggal dalam kerinduan yang mendalam, menanti putra sulungnya yang tak kunjung pulang.
Namun, mukjizat lain masih tersisa. Kakek Shaneen—ayah Reins—ternyata masih hidup di usianya yang sudah sangat senja. Pertemuan antara bapak dan anak yang telah terpisah puluhan tahun itu menjadi pemandangan paling mengharukan yang pernah Shaneen saksikan seumur hidupnya. Reins bersujud di kaki ayahnya, menangis meraung-raung memohon ampun atas dosa durhakanya.
Kakek Shaneen, dengan tangan yang sudah gemetar dan keriput, mengusap kepala putranya. Pria tua itu berkata bahwa dia telah memaafkan Reins sejak bertahun-tahun yang lalu. Itu adalah permintaan terakhir dari almarhumah istrinya sebelum menghembuskan napas terakhir. Sang nenek telah berpesan.
"Jangan pernah memarahi anak sulung kita jika sewaktu-waktu dia pulang ke rumah ini. Peluk dia, terimalah dia, dan terimalah siapa pun orang yang dia cintai dan bawa ke rumah ini."
Kasih sayang seorang ibu yang menembus waktu dan kematian itulah yang akhirnya meruntuhkan ego keluarga Reins. Rasa bersalah yang berbaur dengan hidayah yang teramat besar membuat Reins, Hedy Mari, Shaneen, dan seluruh kakak-kakaknya memutuskan untuk bersujud, memeluk agama Islam. Mereka kembali ke fitrah, menjemput kedamaian yang selama ini tidak pernah mereka temukan di dalam batin mereka.
Pintu mess Shaneen tiba-tiba diketuk dengan ritme yang khas, memutus kilas balik emosional di kepalanya. Shaneen buru-buru merapikan bukunya dan beranjak membuka pintu.
Sesosok wanita cantik berseragam loreng dengan jilbab instan khas prajurit yang membingkai wajah tegasnya berdiri di sana. Dia adalah Kapten Ayu, Perwira Seksi Intelijen (Pasi Intel) Pusdikmil. Di belakang Ayu, tampak Yunita yang sedang asyik mengunyah permen karet dengan gaya santainya yang khas, rambut pendeknya yang dipotong rapi sesuai aturan korps wanita angkatan darat (Kowad) tampak sedikit berantakan.
"Lama banget buka pintunya, Nin. Lagi meratapi nasib lagi?" goda Yunita sembari menerobos masuk tanpa permisi, langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur sempit Shaneen.
"Masuk saja," ucap Shaneen pada Ayu sembari tersenyum geleng-geleng kepala melihat kelakuan Yunita yang tidak pernah berubah.
Di antara sisa-sisa penyintas Pasukan 97 yang kini tersisa 19 orang dari 300 prajurit di awal, hanya mereka bertiga yang wanita. Selebihnya adalah laki-laki tangguh yang sudah tersebar di berbagai satuan. Hubungan mereka bertiga sudah seperti saudara kandung. Ayu adalah satu-satunya di antara mereka bertiga yang mengenakan hijab dengan patuh sejak lama, sementara Yunita... ya, Yunita gitu-gitu aja, beragama Islam sejak lahir namun kelakuannya masih sering membuat Ayu mengelus dada. Shaneen sendiri kini tengah berproses mengenakan hijabnya setelah menjadi mualaf.
"Bagus, Nin. Kayaknya kamu banyak belajar," ucap Ayu lembut, mengambil tempat duduk di kursi belajar Shaneen saat melihat buku keagamaan di meja.
Shaneen hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan pelan kepalanya. "Banyak hal yang membuat aku sadar kalau skenario Tuhan itu tidak pernah salah, meski awalnya harus terasa menyakitkan."
Yunita yang sedang telentang di kasur menimpali dengan suara sengau, "Tuh, dengerin kata buku. Makanya jangan dipikirin terus si berondong itu. Sekarang kan kamu sudah seiman, harusnya kamu cari yang kelasnya jauh di atas mantanmu. Yang baloknya banyakan, atau yang melatinya kelihatan berkilau dari jarak seratus meter."
Shaneen melemparkan bantal kecil ke arah Yunita, yang dengan sigap ditangkap oleh wanita itu sambil tertawa lirik. "Jangan mulai deh, Nit. Aku masih fokus belajar."
Ayu berjalan mendekati Shaneen, menepuk bahu dokter spesialis fisik itu dengan penuh perhatian. "Perlahan, Nin. Tuhan itu melihat prosesmu, bukan cuma hasil akhirnya. Kamu mau meluangkan waktu membaca, belajar mengaji dengan giat dua bulan ini, itu sudah kemajuan yang luar biasa. Masalah lainnya, lakukan kalau hatimu sudah benar-benar siap dan mantap. Jangan karena paksaan atau karena ingin terlihat baik di mata manusia."
"Terima kasih ya. Rasanya kalau tidak ada kalian, aku mungkin sudah gila menghadapi pusaran takdir beberapa bulan ini," ungkap Shaneen tulus.
"Halah, melow banget sih Dokter kita ini," cerocos Yunita, bangkit dari kasur dan merangkul leher Shaneen dari belakang. "Eh, tapi ngomong-ngomong soal cowok yang melatinya berkilau... tadi sore di poliklinik, aku dengar dari staf poli, katanya ada yang berulah lagi ya? Katanya ada Lettu cantik yang mukanya merah padam setelah disidak Komandan Reyes."
Mendengarnya, wajah Shaneen seketika berubah masam. Rasa damai yang baru saja dia rasakan setelah membaca buku langsung menguap begitu saja, digantikan oleh bayangan wajah blasteran Letkol Reyes yang tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan sebut nama manusia menyebalkan itu, deh. Bisa-bisa darah tinggi aku," gerutu Shaneen, menghentakkan kakinya kesal. "Dia itu benar-benar titisan manusia pengganggu. Tahu tidak? Dia sengaja menginjak sepatuku lagi, sampai-sampai aku hampir terjungkal di koridor!"
Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi Shaneen. Sebagai staf Pasi Intel yang markas Pusdikmil-nya berada satu kompleks di Kesatrian Satria Yudha bersama Yonif Para Raider yang dipimpin Reyes, Ayu tahu persis siapa Letkol Reyes Miguel. Pria itu adalah legenda hidup di kalangan perwira muda. Karismatik, tegas, dingin, dan memiliki latar belakang keluarga yang sangat disegani di lingkungan prajurit. Ayahnya yang bintang dua gugur sebagai pahlawan, meninggalkan warisan bisnis dan pengaruh kekuasaan yang luar biasa untuk Reyes dan kakaknya.
"Nin," Ayu bersuara, nadanya kini beralih menjadi lebih serius namun lembut. "Letkol Reyes itu bukan orang sembarangan. Di lapangan, dia itu singa. Di meja rapat, dia itu hiu yang siap menguliti siapa saja yang tidak becus bekerja. Tapi, kenapa setiap kali berhadapan denganmu di Poliklinik Pusdikmil, dia berubah jadi seperti remaja puber yang hobi menarik perhatian gadis pujaannya?"
"Gadis pujaan apa? Dia itu cuma mau melihat aku menderita, Ayu!" bantah Shaneen cepat, wajahnya mendadak terasa sedikit panas—entah karena kesal atau karena hal lain yang enggan dia akui. "Dulu saja, waktu aku masih sama Yahya, dia kerjaannya mendoakan kami cepat putus setiap hari. Benar-benar tidak punya empati."
Yunita tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. "Ya ampun, Nin! Kamu itu dokter spesialis fisik, memeriksa tulang orang bisa teliti banget, tapi kenapa menganalisis hati sendiri malah bego banget sih? Doa Komandan Reyes itu bukan karena dia jahat, tapi karena dia tahu kalau si Yahya itu bukan jodohmu! Dan lihat sekarang, doanya terkabul, kan? Kamu putus, dan sekarang kamu malah satu keyakinan dengan Komandan Reyes. Kurang rapi apa coba cara kerja takdir?"
Shaneen terdiam seribu bahasa. Kata-kata Yunita barusan seperti sebuah peluru kendali yang tepat sasaran, menghantam benteng pertahanan di dalam pikirannya.
Satu keyakinan dengan Reyes.
Kenyataan itu baru benar-benar menghantam kesadaran Shaneen sekarang. Dulu, saat dia masih bersama Yahya, perbedaan agama adalah tembok yang memisahkan mereka. Dan kini, ketika dia sudah melangkah masuk ke dalam Islam, tembok itu telah runtuh. Namun, pria yang kini berdiri di dekatnya, yang selalu mengusik ketenangannya, justru adalah pria yang sejak awal berada di dalam lingkaran keyakinan yang sama dengannya.
Shaneen menatap ke luar jendela mess, memandangi lampu-lampu markas yang mulai menyala di bawah langit malam yang pekat. Di balik rasa kesalnya yang mendalam pada setiap keusilan Letkol Reyes, ada sebuah getaran aneh yang mulai menyusup di sudut hatinya. Getaran yang buru-buru dia tepis sebelum berkembang menjadi sesuatu yang lebih jauh.
Dia masih terluka, masih merasa tertinggal dari para sahabatnya, dan masih belajar untuk menjadi seorang muslimah yang baik. Namun, Shaneen juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa di dalam dunia barunya yang penuh dengan pembelajaran ini, bayangan Letkol Reyes Miguel—dengan segala keangkuhan wibawa dan keusilan jarinya—mulai mengambil porsi yang tidak sedikit di dalam kepalanya.