NovelToon NovelToon
Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Berbaikan / Anak Genius / Pengganti / Penyesalan Suami / Pelakor jahat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Prabowo

Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Pukul tujuh kurang sepuluh, Alya berdiri di teras depan dengan kunci mobil di tangan, menonton Rizky masuk ke dalam Alphard hitam yang sudah menunggu sejak sebelum matahari naik sepenuhnya. Sopir menutup pintu. Mobil bergerak keluar melewati gerbang besi, belok ke kiri, dan lenyap di balik deretan pohon cemara yang mengapit jalan kompleks.

Alya masuk ke rumah, mengambil tas yang sudah disiapkan sejak semalam, mengunci pintu belakang, dan pergi.

Jalan menuju Puncak selalu lebih lengang di pagi hari jika ditempuh sebelum pukul delapan. Alya mengemudi sendiri, jendela dibuka sedikit, udara dingin pegunungan masuk perlahan menggantikan aroma kabin mobil yang netral. Radio menyala pelan—stasiun yang memutar lagu-lagu lama, suara penyiar bercampur dengan desir angin yang semakin sejuk seiring mobil mendaki.

Rumah utama keluarga Aditya bukan sesuatu yang bisa ditemukan dengan mudah di peta digital kecuali jika tahu koordinat persisnya. Ia berdiri di lereng barat Puncak, dikelilingi lahan luas yang terdiri dari kebun teh, hutan pinus yang dipelihara, dan petak-petak taman yang diurus oleh tim khusus. Jalan masuknya dimulai dari sebuah gerbang batu yang tidak memiliki papan nama—keluarga Aditya tidak memerlukan papan nama untuk memperkenalkan diri di daerah itu.

Alya melewati gerbang itu dan mengemudi tiga menit lagi sebelum bangunan utama muncul di balik tikungan—dua lantai, dinding batu alam berwarna abu-abu muda, atap sirap yang sudah menghitam oleh usia, jendela-jendela besar yang membiarkan pemandangan masuk ke dalam ruangan. Sebuah rumah yang tampak seperti tumbuh dari tanah tempatnya berdiri.

Pak Budi sudah ada di depan ketika Alya memarkirkan mobilnya. Laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun itu berdiri tegak dengan kerapian yang tidak pernah goyah, kemeja batik khasnya, rambut yang selalu tersisir minyak. Ia membuka pintu mobil sebelum Alya sempat menarik gagang dari dalam.

"Selamat pagi, Non Alya." Senyumnya selebar orang yang baru memenangkan sesuatu. "Sudah ditunggu dari kemarin."

Alya turun dan meluruskan punggungnya. "Ibu Siti baik-baik saja, Pak?"

"Baik." Pak Budi mengambil tas dari bagasi yang Alya buka. "Tapi ya itu, Non—beliau akhir-akhir ini sering duduk sendiri di teras belakang. Dulu kalau Non Alya di sini, beliau selalu ada kegiatannya. Sekarang anak-anak sibuk, Pak Rizky di Jakarta, Non Rina ke sana ke sini. Sepi."

Alya menutup bagasi. "Saya di sini beberapa hari, Pak. Nanti saya temenin ibu."

Pak Budi mengangguk dengan cara orang yang lega benar. "Ibu Siti pasti senang sekali."

Ibu Siti Aditya duduk di ruang duduk utama dengan secangkir teh di meja samping dan buku yang terbuka di pangkuannya, tapi matanya tidak sedang membaca. Ia mengangkat pandangan ketika mendengar langkah di koridor, dan ekspresinya berubah dengan cara yang tidak dibuat-buat—seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang sudah lama dicari.

Perempuan itu berusia enam puluh dua tahun. Rambutnya sudah putih separuh, disanggul rendah dengan beberapa kembang melati yang selalu ada setiap pagi. Kulitnya terawat, posturnya tegak, dan ia mengenakan kebaya pendek berwarna biru muda dengan sarung batik yang dilipat rapi. Di sampingnya, wanita berusia empat puluh tahun pun bisa terlihat kurang bersahaja.

Alya melangkah masuk dan Ibu Siti sudah setengah berdiri.

"Alya." Satu kata itu diucapkan dengan nada yang mengandung lebih dari sekadar nama. Ibu Siti membuka tangannya dan Alya duduk di sisinya di sofa panjang itu, membiarkan dirinya dipeluk dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang benar-benar menyayanginya.

"Sebulan tidak ke sini," kata Ibu Siti, melepaskan pelukan tapi tetap memegang tangan Alya. Matanya memeriksa wajah menantunya dari jarak dekat. "Kurus. Kamu makan apa di Jakarta?"

"Makan, Bu. Tapi bukan masakan Ibu." Alya memiringkan kepalanya sedikit, menyandarkan bahunya ke lengan Ibu Siti dengan gerakan yang tidak dibuat-buat. "Sebulan saya mikirin opor Ibu terus. Sama sambal goreng kentangnya."

Ibu Siti tertawa—tawa pendek yang nyata, bukan tawa sosial. "Bisa saja kamu ini."

"Sungguh, Bu. Rizky cuma makan di luar atau pesan, tidak ada yang masak seperti Ibu di Jakarta."

"Rizky itu kalau soal makan tidak pernah rewel." Ibu Siti mengelus punggung tangan Alya. "Tapi kamu harus makan yang benar. Nanti ibu masak sendiri."

"Ibu tidak perlu repot—"

"Siapa yang repot?" Ibu Siti berdiri dengan gerakan seseorang yang sudah membuat keputusan. "Ibu yang masak bukan karena repot. Ibu masak karena mau. Beda."

Alya mengangguk. Ia tahu betul tidak ada gunanya memperdebatkan hal ini.

Suara langkah dari tangga datang sebelum orangnya terlihat—langkah yang lebih berat dari biasanya, yang Alya kenali bukan karena hafal tapi karena tidak ada orang lain di rumah ini yang menuruni tangga dengan ritme seperti itu. Rina Aditya muncul di ambang pintu ruang duduk mengenakan celana panjang hitam dan blus sutra putih, rambut hitamnya terurai, wajahnya menyandang ekspresi yang tidak berubah banyak sejak pertama kali Alya mengenalnya empat tahun lalu.

Rina berhenti ketika melihat Alya. Matanya bergerak dari atas ke bawah dengan cara yang sudah Alya terima sebagai bagian dari bertemu Rina—seperti seseorang yang sedang menilai barang di etalase dan sudah memutuskan tidak akan membeli.

"Oh," kata Rina. "Kamu di sini."

"Rina." Ibu Siti memandang putrinya dengan tatapan yang sudah cukup sebagai peringatan.

"Hanya menyatakan fakta." Rina masuk ke ruangan dan duduk di kursi tunggal di seberang sofa, menyilangkan kakinya. "Kakak yang beli kamu dengan uang, ya tetap saja ada di sini. Rumah ini terlalu besar untuk ditolak, mungkin."

Alya tidak mengubah ekspresinya. Ia menyandarkan punggung ke sofa dengan santai dan memandang Rina dengan cara yang sudah ia latih selama empat tahun—bukan tatapan keras, bukan tatapan lemah, tapi tatapan datar seseorang yang sudah memutuskan tidak akan menghabiskan energi untuk tersinggung.

"Rina!" Ibu Siti berdiri penuh. "Bicara apa kamu itu? Alya itu istrinya kakakmu, menantuku, bagian dari keluarga ini. Sekali lagi kamu bicara seperti itu—"

"Ibu tenang saja." Rina mengangkat satu tangan. "Saya hanya—"

"Tidak ada yang perlu dilanjutkan." Suara Ibu Siti tidak keras, tapi beratnya seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian. "Minta maaf."

Rina menarik napas pelan dan memandang sisi dinding. "Maaf."

Kata itu keluar seperti benda yang dipaksa melewati lubang terlalu sempit.

Alya menoleh ke Rina dengan ekspresi yang tidak menyimpan kemenangan. "Kamu baru balik, Rin? Dari Paris berapa lama?"

Rina memandangnya sebentar—mengukur sesuatu. "Tiga minggu."

"Enak?" tanya Alya. "Musim apa sekarang di sana?"

"Musim semi." Rina menjawab singkat, tapi sesuatu di wajahnya bergeser sedikit—orang yang suka bepergian selalu kesulitan menolak membicarakan perjalanannya, bahkan kepada orang yang tidak ingin mereka ajak bicara. "Cuacanya bagus. Tidak terlalu dingin."

"Saya belum pernah ke Paris."

"Kamu tidak perlu ke Paris." Rina mengatakan itu dengan nada yang sudah turun dari sebelumnya—lebih ke observasi daripada serangan. Lalu, seperti seseorang yang tiba-tiba teringat sesuatu menyenangkan, sudut bibirnya bergerak naik sedikit. "Tapi menarik juga, ya. Saya ketemu seseorang di sana. Di sebuah galeri seni, tiga hari sebelum pulang."

Ibu Siti yang sudah duduk kembali mengangkat pandangannya dari cangkir teh.

"Kezia Angelica," lanjut Rina, dan nada suaranya sekarang mengandung sesuatu yang disengaja—seperti seseorang yang meletakkan kartu di atas meja dengan hati-hati untuk melihat reaksi. "Ternyata dia tinggal di Paris dua tahun terakhir. Kami sempat makan malam bersama, dan dia cerita—"

"Rina." Suara Ibu Siti memotong kalimat itu seperti gunting memotong benang. Pendek. Tepat. Tanpa berlebihan.

Rina menutup mulutnya. Matanya bergeser ke Alya—mencari sesuatu di wajah itu, mungkin celah, mungkin reaksi yang bisa dijadikan amunisi untuk percakapan berikutnya.

Alya menatap balik Rina dengan tenang. Tidak ada yang bisa ditemukan di wajahnya kecuali ekspresi seseorang yang sedang menunggu percakapan berlanjut ke topik yang lebih ringan.

Ruangan itu diam selama beberapa detik. Di luar, angin menggerakkan daun-daun di kebun, dan suara gemerisiknya masuk dari celah jendela yang terbuka sebagian.

Ibu Siti meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi kecil yang terukur. "Pak Budi." Suaranya naik sedikit ke arah koridor. "Tolong siapkan kamar Alya. Yang menghadap taman, bukan yang kemarin."

Langkah Pak Budi terdengar dari arah belakang. "Baik, Bu."

Ibu Siti berdiri lagi dan menepuk tangan Alya sekali. "Ayo bantu Ibu di dapur. Ibu mau masak opor dari sekarang supaya matang pas makan siang."

Alya berdiri mengikuti. Di belakangnya, ia mendengar Rina bergerak di kursinya—mungkin menyilangkan kaki ke sisi yang lain, mungkin mengambil ponsel, mungkin memandangi punggung Alya dengan ekspresi yang tidak akan pernah Alya lihat karena ia tidak berbalik.

Nama Kezia Angelica tergantung di udara ruangan itu seperti asap yang tidak ada anginnya—tidak bergerak ke mana-mana, tidak hilang, hanya menunggu.

Dapur rumah utama tiga kali lebih besar dari dapur apartemen tempat Alya tumbuh besar. Kompor besar, lemari es yang berisi lebih banyak bahan dari yang bisa dihabiskan dua orang dalam seminggu, rak rempah yang disusun Ibu Siti sendiri berdasarkan urutan yang hanya ia yang benar-benar paham. Aromanya selalu sama—campuran daun salam, kayu manis, dan sesuatu yang tidak bisa Alya identifikasi tapi selalu membuat bahunya turun beberapa sentimeter begitu masuk.

Ibu Siti sudah mengeluarkan ayam dari lemari es dan mulai memotong. Alya mengambil posisi di sebelahnya tanpa diminta—mengupas bawang, menyiapkan santan, mengambil ulekan dari rak bawah.

"Kamu kelihatan capek," kata Ibu Siti tanpa mengangkat mata dari papan potong.

"Perjalanan tadi, Bu."

"Bukan dari perjalanan." Ibu Siti memindahkan potongan ayam ke mangkuk. "Tapi tidak apa-apa. Ibu tidak perlu tahu semuanya."

Alya tidak menjawab. Ia menumbuk bawang putih dengan ritme yang teratur, membiarkan suaranya mengisi ruangan bersama bunyi pisau di papan potong.

Di luar jendela dapur, kebun teh membentang ke arah lereng—baris-baris hijau yang rapi, bergerak perlahan ditiup angin pagi yang turun dari puncak. Pemandangan yang sama dengan empat tahun lalu, pertama kali Alya dibawa ke sini sebagai pengantin yang belum siap—atau lebih tepatnya, pengantin yang sudah tahu persis apa yang ia masuki tapi memilih untuk masuk tetap saja karena angkanya terlihat cukup besar dan hidupnya membutuhkan sebuah pintu keluar yang cepat dari sesuatu yang lebih buruk.

Yang tidak ia antisipasi adalah dapur ini. Perempuan ini. Opor yang matang tepat jam dua belas.

Alya menggeser ulekan ke tepi meja dan mulai menyiapkan santan.

1
lyani
yg ada situ nggak tau malu
lyani
penulisan yg bagus dengan mempermainkan perasaan tiap pemilihan kata.
lyani
syedihhhhh
Anonim
Kapan episode baru?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!