Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Gua Leluhur
Air terjun itu menderu seperti amukan ribuan singa.
Ryu Seol berdiri di tepian sungai berbatu, seragam abu-abunya basah kuyup hingga ke tulang. Air dingin setinggi mata kaki menggerogoti kakinya, tetapi ia tidak bergeming. Matanya tertuju pada celah di balik tirai air yang jatuh dari ketinggian dua puluh tombak—sebuah lubang gelap yang sebelumnya tersembunyi di balik semak belukar yang kini tersapu banjir musim hujan.
Masuk atau pulang?
Pikiran itu hanya berkelebat sesaat. Di belakangnya, desa Cheonho telah diselimuti kegelapan. Tidak ada yang menungguku. Tidak ada yang akan mencariku.
Ia melangkah maju.
Air terjun menghantam tubuhnya dengan kekuatan luar biasa. Setiap tetes terasa seperti pukulan batu. Ia meraba dinding bebatuan, mencari pegangan, sementara arus sungai mencoba menyeretnya ke dasar. Tiga kali kakinya tergelincir. Tiga kali ia bertahan.
Dan akhirnya, setelah perjuangan yang terasa seperti satu abad, tubuhnya menerobos tirai air.
Ia jatuh berlutut di lantai batu yang kering. Nafasnya tersengal-sengal, air mengalir dari rambutnya membentuk genangan kecil di sekelilingnya. Ia membuka mata.
---
Di Balik Tirai Air
Gelap.
Gelap yang pekat, seperti beludru hitam yang menelan segala cahaya. Udara di dalam gua terasa berat—bukan karena lembab, tetapi karena sesuatu yang lebih tua, lebih dalam. Seperti ada kehadiran yang belum pergi meski waktu telah berlalu ribuan tahun.
Seol mengeluarkan batu api dari saku dalam bajunya. Beruntung ia masih membawa benda kecil peninggalan ayahnya itu. Tiga kali ia menggesekkan batu. Percikan api terakhir berhasil menyulut sumbu kecil yang ia buat dari serat pakaiannya.
Cahaya kecil itu menerangi sekelilingnya.
Dan Seol terpaku.
Dinding gua itu tidak kosong. Di kedua sisinya, terukir relief-relief raksasa yang menggambarkan pertempuran dahsyat. Pedang yang membelah langit. Naga biru yang melingkar di atas gunung. Barisan pendekar berjubah putih yang berlutut di hadapan satu sosok—sosok dengan pedang menyala di tangan kanan dan bola cahaya di tangan kiri.
Seol mendekati salah satu relief. Jari-jarinya menyentuh ukiran itu. Batu itu terasa hangat, tidak dingin seperti seharusnya.
“Siapa…?” bisiknya.
Matanya menyusuri ukiran ke arah bawah. Di sana, di bagian paling dasar relief, ada tulisan. Aksara kuno—jenis aksara yang bahkan tetua klan mungkin tidak bisa membaca. Tapi entah bagaimana, Seol bisa memahami maknanya.
“Di sini bersemayam Yang Maha Kuasa. Di sini terkunci Yang Abadi. Yang datang dengan hati murni akan mendapat kekuatan. Yang datang dengan nista akan binasa.”
Seol merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia terus berjalan menyusuri lorong. Relief berganti menjadi barisan patung—patung para pendekar dengan postur berbeda, masing-masing memegang senjata yang berbeda pula. Ada yang duduk bersila dengan pedang di pangkuan, ada yang berdiri dengan tombak terhunus, ada pula yang berlutut dengan kepala tertunduk.
Seol menghitungnya. Dua belas patung.
Di ujung lorong, cahaya redup menyala.
---
Ruang Pemujaan
Seol terhenti di ambang pintu.
Ruang di depannya berbentuk setengah lingkaran, dengan langit-langit menjulang tinggi hingga tak terlihat dalam kegelapan. Lantainya terbuat dari batu hitam mengilap yang memantulkan cahaya sumbu seperti cermin. Dan di tengah ruangan, di atas altar batu yang dikelilingi dua belas patung lebih kecil, sebuah batu gelap berdiri.
Batu itu sebesar kepala manusia, berbentuk lonjong tidak beraturan, dengan permukaan halus yang memancarkan cahaya redup—cahaya ungu kehitaman yang berdenyut perlahan, seperti jantung yang berdetak.
Seol melangkah masuk.
Setiap langkahnya menggema di ruangan itu. Ia mendekati altar. Batu itu semakin terang seiring jaraknya yang semakin dekat, seperti menyadari kedatangannya.
Ia mengulurkan tangan.
“Awas!”
Suara itu—tiba-tiba, tajam, dan sangat dekat—membuat Seol tersentak mundur. Batu api jatuh dari tangannya, padam dalam sekejap. Kegelapan menyambarnya lagi.
Tapi tidak sepenuhnya. Batu di altar itu tetap bercahaya, memberi cukup penerangan untuk melihat bahwa… tidak ada siapa pun di ruangan itu.
“Siapa?” suara Seol bergetar meski ia berusaha menguatkannya. “Siapa di sana?”
Hening.
Kemudian suara itu datang lagi. Kali ini terdengar lebih jelas—suara perempuan, dengan nada tajam seperti belati, tetapi juga lelah seperti seseorang yang baru bangun dari tidur ribuan tahun.
“Kau… anak nakal. Beraninya kau masuk ke tempat ini tanpa persiapan? Kau tahu berapa banyak jebakan yang nyaris kau pijak?”
Seol menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun.
“Kau… kau di dalam batu itu?” tanyanya ragu.
Suara itu mendengus. “Tidak di dalam, tapi terperangkap di sini. Ada perbedaan besar, bocah. Dan kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau? Mengapa kau bisa masuk ke tempat ini tanpa izin? Biasanya siapa pun yang bukan keturunan langsung akan mati di lorong tadi.”
Seol merasakan jantungnya berdegup kencang. Bagian nalurinya berteriak untuk lari. Tapi ada sesuatu—mungkin rasa penasaran, mungkin kelelahan karena selalu menjadi yang terbuang—yang membuatnya tetap berdiri.
“Aku Ryu Seol,” katanya. “Klan Ryu, cabang… tidak penting. Aku masuk karena aku ingin tahu. Karena aku tidak punya apa-apa lagi.”
Suara itu terdiam sejenak.
“Ryu Seol,” ulangnya perlahan, seperti mencicipi nama itu. “Ryu… keturunan Jang Ryu? Yang mendirikan klan ini?”
Seol mengangguk meski ia ragu apakah suara itu bisa melihatnya. “Pendiri Klan Ryu. Dia leluhur kami.”
Suara itu tertawa. Tawanya pendek dan sinis. “Jang Ryu… pendekar yang kudidik dulu. Dan keturunannya sekarang hanya sepertimu? Meridian rusak, qi kacau balau, tubuh lemah seperti ranting kering.” Ia berhenti. “Waktu benar-benar kejam.”
Seol merasakan amarahnya naik. “Aku tidak minta dikasihani.”
“Kasihan?” Suara itu mendengus lagi. “Jangan membuatku tertawa, bocah. Aku tidak mengasihanimu. Aku hanya kecewa. Setelah sekian lama menunggu, yang datang adalah yang paling tidak berguna.”
Kata-kata itu menusuk. Seol mengepalkan tangannya. Tepat seperti Cheonmyeong. Tepat seperti semua orang. Tidak berguna. Sampah. Buang-buang waktu.
“Kalau begitu,” katanya dingin, “aku akan pergi.”
Ia berbalik.
“Tunggu.”
Suara itu berubah. Nada sinisnya berkurang, digantikan oleh sesuatu yang lebih serius.
“Kau… kau tidak bertanya siapa aku? Apa yang ada di sini? Kenapa kau tidak takut?”
Seol berhenti. Tanpa menoleh, ia menjawab, “Apa gunanya bertanya? Kau bilang aku tidak berguna. Aku sudah terbiasa mendengar itu. Selamat malam.”
Ia melangkah.
“Meridianmu bisa diperbaiki.”
Langkah Seol terhenti.
“Apa?” Ia menoleh cepat.
Batu hitam itu berdenyut lebih terang. Suara itu—yang kini terasa lebih dekat, seperti berbisik langsung di telinganya—berkata:
“Meridianmu rusak sejak lahir. Bukan karena kutukan, bukan karena takdir. Itu adalah… efek samping dari darah leluhur yang terlalu kuat untuk tubuh bayi. Tubuhmu tidak siap menerima warisan itu, jadi meridianmu tertutup sendiri sebagai mekanisme perlindungan.”
Seol menelan ludah. “Kau… kau bisa memperbaikinya?”
“Bisa. Tapi tidak gratis.”
“Apa yang kau mau?”
Keheningan. Kemudian suara itu berkata, “Kau lihat patung-patung di sekitarmu?”
Seol menoleh. Dua belas patung di altar itu tampak lebih menyeramkan dalam cahaya ungu.
“Itu adalah dua belas Kaisar Bela Diri yang pernah menguasai Murim. Mereka semua pernah menjadi muridku. Dan mereka semua berjanji akan membebaskanku, tapi mereka lebih memilih kekuasaan. Mereka mengurungku di sini, menggunakan kekuatan yang aku ajarkan untuk membangun kerajaan mereka sendiri.”
Suaranya bergetar—bukan karena sedih, tetapi karena amarah yang terpendam ribuan tahun.
“Aku adalah Gu, rubah berekor sembilan dari era para dewa. Aku yang mengajarkan manusia pertama tentang qi. Dan manusia membalasnya dengan mengurung jiwaku di dalam batu ini. Aku sudah terkutuk di sini selama… aku bahkan lupa berapa lama.”
Seol mendengarkan dengan napas tertahan.
“Aku akan memperbaiki meridianmu,” kata Gu. “Aku akan mengajarimu teknik-teknik yang bahkan tidak pernah mimpi oleh pendekar-pendekar itu. Aku akan membuatmu cukup kuat untuk membalaskan semua penghinaan yang kau alami. Tapi suatu hari, ketika kau cukup kuat… kau akan membebaskanku dari batu ini. Setuju?”
Seol menatap batu hitam itu. Cahaya ungu berdenyut teratur, seperti jantung yang berdetak penuh harap.
Ia teringat hari ini. Tawa Cheonmyeong. Tatapan kasihan dari tetua. Kata-kata tidak berguna yang menghantuinya setiap malam.
Teringat juga wajah Yeon yang cemas. Kata-katanya: Kau punya ketekunan. Itu kekuatan yang berbeda.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Seol.
Suara Gu terdengar lega—meski ia berusaha menyembunyikannya di balik nada sinis yang kembali muncul. “Letakkan tanganmu di atas batu ini. Aku akan memasukkan sebagian jiwaku ke dalam tubuhmu sebagai penanda kontrak. Setelah itu, kita mulai latihan. Tapi peringatan, bocah: proses ini akan sangat menyakitkan.”
Seol tidak ragu lagi.
Ia melangkah maju, merentangkan tangan kanannya, dan menempelkan telapak tangannya di atas batu hitam itu.
Dingin.
Bukan dingin biasa, tetapi dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Seol menggigit giginya menahan rasa. Cahaya ungu dari batu itu melompat ke lengannya, merambat seperti ular listrik di bawah kulit.
Ia melihat urat-urat di tangannya sendiri bercahaya—urat yang selama ini mati, tiba-tiba hidup.
Dan kemudian rasa sakit itu datang.
---
Di Luar Gua, Di Kediaman Utama
Ryu Cheonmyeong sedang berlatih di halaman belakang kediamannya. Pedangnya berkelebat membentuk pola-pola sempurna—gerakan yang telah ia latih sejak usia enam tahun.
Tiba-tiba, ia berhenti.
Ada getaran aneh di tanah. Sangat samar, hampir tidak terasa. Tapi Cheonmyong memiliki indra qi yang tajam—itulah alasan ia disebut jenius.
Ia menutup mata, memperluas indranya. Getaran itu berasal dari… timur. Dari arah air terjun leluhur.
“Apa yang terjadi di sana?” gumamnya.
Seorang bayangan muncul dari balik pagar. Itu adalah mata-matanya, seorang pengawal yang ia tugaskan untuk mengawasi Seol.
“Ada laporan, Tuan,” kata bayangan itu. “Ryu Seol memasuki air terjun terlarang sekitar satu jam lalu. Belum keluar.”
Cheonmyeong mengernyit. “Air terjun terlarang? Tempat itu sudah dikunci oleh tetua sejak lama. Tidak mungkin ia bisa masuk.”
“Air terjun surut karena musim kemarau, Tuan. Celahnya terbuka.”
Cheonmyeong terdiam sejenak. Matanya menyipit.
“Itu adalah gua leluhur pertama. Tempat di mana Pendiri Klan Ryu konon mendapatkan kekuatannya.” Ia menggenggam erat gagang pedangnya. “Tidak mungkin sampah seperti dia mendapatkan apa pun dari sana. Tapi… tetap awasi. Jika ia keluar, laporkan langsung padaku.”
“Baik, Tuan.”
Bayangan itu menghilang.
Cheonmyeong kembali berlatih, tetapi pikirannya tidak lagi tenang. Ada firasat aneh yang merayap di dadanya.
Ryu Seol… apa yang kau cari di sana?
---
Di Dalam Gua
Rasa sakit itu berlangsung selama… Seol tidak tahu. Mungkin beberapa menit, mungkin berjam-jam. Yang ia tahu, tubuhnya berkeringat dingin, giginya hampir hancur karena mengatup terlalu keras, dan ia beberapa kali nyaris pingsan.
Namun ia bertahan.
Dan akhirnya, saat rasa sakit mereda, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Qi.
Aliran qi—murni, hangat, mengalir deras di dalam tubuhnya. Bukan seperti sungai kecil yang tersumbat, tetapi seperti air bah yang akhirnya menemukan jalannya.
Ia membuka mata. Tidak sadar ia menangis.
“Selamat,” kata Gu dengan nada datar, meskipun ada sedikit kehangatan yang berusaha ia sembunyikan. “Meridianmu sudah terbuka. Tapi ini baru permulaan. Meridian yang baru terbuka itu kosong—seperti sungai yang kering. Kau harus mengisinya dengan latihan.”
Seol mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Aku siap.”
Gu tertawa kecil. “Sikap yang bagus, bocah. Tapi jangan terlalu bersemangat. Kita mulai besok malam. Sekarang, kau harus pulang sebelum mereka mencurigaimu. Dan satu hal lagi…”
Suaranya menjadi sangat serius.
“Jangan beri tahu siapa pun tentang aku. Jika ketahuan… kau akan menjadi buruan seluruh Murim. Kedua belah pihak—orthodoks maupun unorthodoks—akan menginginkan batu ini. Dan mereka tidak akan ragu membunuhmu untuk mendapatkannya.”
Seol mengangguk. “Aku mengerti.”
Ia berdiri. Kakinya gemetar karena kelelahan, tetapi ada kekuatan baru di dalam dadanya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Sampai besok, Gu.”
“Sampai besok, anak nakal.”
Seol berjalan keluar dari ruang pemujaan. Saat ia melewati lorong dengan relief dan patung-patung, ia menyadari sesuatu yang tidak ia lihat saat masuk: patung-patung itu… seolah menatapnya.
Bukan dengan kebencian. Bukan dengan kemarahan.
Tapi dengan rasa iri.
---
Saat fajar menyingsing, Seol keluar dari balik air terjun. Tubuhnya basah kuyup, wajahnya pucat, tetapi matanya—matanya bersinar dengan api yang tidak pernah ada sebelumnya.
Di kejauhan, seorang bayangan yang bertugas mengawasinya melihat dari balik pepohonan.
“Dia keluar,” bisik bayangan itu pada dirinya sendiri. “Tapi… ada yang berbeda.”
Ia tidak tahu apa yang berbeda. Tapi nalurinya, nalurinya berteriak bahwa sesuatu yang besar telah terjadi di dalam gua itu.
Sementara itu, di atas bukit di seberang desa, Ryu Cheonmyeong menghentikan latihannya untuk kedua kalinya malam itu.
Ia menatap ke arah timur.
“Getaran itu… semakin kuat,” gumamnya.
Pertama kali dalam hidupnya, Ryu Cheonmyeong—jenius tak terkalahkan dari Klan Ryu—merasakan sesuatu yang asing baginya.
Kecemasan.
---