NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Spaghetti untuk Mama

Satura memarkirkan mobil tepat di depan gerbang sekolah. Ia melirik kaca spion, melihat Cia duduk tenang di kursinya sambil memeluk boneka kelinci dan bergumam riang. Gadis kecil itu mendongak begitu mobil berhenti, matanya menatap pintu sekolah dengan antusias. Hati Satura terasa hangat, campur aduk antara rasa bangga dan syukur bisa hadir menjemput anak-anaknya hari ini.

Pintu sekolah terbuka. Satura melihat Connan berjalan cepat melewati kerumunan, tasnya bergoyang di bahu sambil matanya mencari-cari. Begitu tatapan mereka bertemu, Connan langsung tersenyum lebar dan berlari menghampiri mobil.

"Halo!" sapa Satura saat anak itu masuk dengan napas terengah-engah.

"Hai, Pa!" sahut Connan sambil memasang sabuk pengaman. "Tahu nggak? Hari ini aku barisan paling depan! Aku juga bawa ide proyek IPA, mama bilang Papa pasti mau bantuin."

Satura terkekeh, merasa bahagia melihat suasana yang begitu akrab. "Wah, hebat pemimpin barisan! papa sudah nggak sabar mau lihat idenya."

Mobil mulai melaju. Satura menatap kedua anaknya lewat kaca spion. "Gimana kalau kita belanja bahan terus masak malam ini buat Mama? Kita kasih kejutan, gimana?" suaranya terdengar penuh semangat.

Mata Connan langsung membelalak. "Bikin spageti boleh nggak? Kan itu makanan favorit Mama, betul kan?"

Satura mengangguk mantap. "Oke, deal! Kita beli semua bahan spageti. Mungkin ditambah pencuci mulut juga, kalau Cia setuju."

Mendengar namanya disebut, Cia langsung bertepuk tangan. "Kue!" serunya dengan nada girang.

"Siap, kue jadi!" jawab Satura sambil tersenyum. Ia tahu ini bukan hal besar, tapi caranya menunjukkan perhatian pada Vandini agar istri itu bisa istirahat dan merasa dihargai. Ini juga momen bagus buat dia dan anak-anak menciptakan kenangan manis.

Di supermarket, Satura memberikan keranjang kecil pada Connan dan membiarkan anak itu memilih sayuran. Sementara itu, Cia menggenggam erat tangan ayahnya, matanya takjub melihat warna-warni barang di sekitar.

"Coba lihat, wortel, tomat..." Satura bergumam sambil membiarkan Connan memasukkan barang satu per satu dengan hati-hati.

"Mama pasti suka banget," kata Connan sambil menyengir, mengambil setangkai daun basil. "Pasti dia kaget dan senang."

Sesampainya di rumah, Satura langsung menaruh belanjaan di meja dapur. Anak-anak langsung berhamburan ingin membantu, wajah mereka bersinar penuh antusias. Satura menyingsingkan lengan baju, siap menjalankan rencana ini.

"Oke, Connan, tugas kamu ngurusin sayuran," kata Satura sambil menyerahkan pisau khusus anak yang aman. "Ingat, pelan-pelan dan hati-hati, kayak yang pernah kita lakuin, ya?"

Connan mengangguk sungguh-sungguh. Ia mulai mengupas wortel dengan sangat fokus. Di sisi lain, Cia naik ke atas bangku kecil, menatap deretan bahan makanan dengan mata berbinar.

"Aku mau bantu apa?" tanya si kecil sambil mencoba meraih sebuah tomat.

Satura tertawa kecil, lalu mengambilkan sendok dan semangkuk tomat ceri. "Nah, ini tugasmu, Ciq. Kamu jadi komandan tomat, ya!"

Senang mendapat tugas, Cia langsung mengaduk dan memencet tomat-tomat itu sekuat tenaga. Air tomat berceceran ke mana-mana, sampai ke meja, bajunya, bahkan lengan baju Satura. Ayah itu sempat mengajari cara yang benar, tapi meja dapur sudah terlanjur penuh percikan warna merah.

"Kerja bagus, Cia!" puji Satura sambil terkekeh. Pandangannya beralih ke Connan yang sedang memotong daun basil dengan hati-hati. Satura baru mau memuji, tiba-tiba air rebusan mie mendidih dan meluap, memercik ke seluruh kompor.

"Aduh, jangan!" Satura sigap memindahkan panci dari api sambil buru-buru mengelap tumpahan. Ia menatap kedua anaknya yang menatapnya lekat-lekat, tampak bercampur antara geli dan kaget.

"Ehm... cuma insiden kecil sama mie kok," katanya berusaha tetap santai. "Nggak ada yang sulit buat kita, kan?"

"Betul!" seru Connan penuh keyakinan, walau matanya masih waspada menatap kompor.

Ketika mie dan saus sudah matang, kondisi dapur benar-benar berantakan. Meja penuh sisa sayuran, dan baju Satura bahkan berbekal noda tepung karena membantu Cia membuat adonan kue. Baru sadarlah Satura, pekerjaan yang selama ini dilakukan Vandini setiap hari ternyata tidak mudah.

Sambil membereskan piring, Satura tersadar. Selama ini ia menganggap makan malam adalah hal yang selalu ada begitu saja. Namun kini, berdiri di sana dengan baju berantakan, ia mengerti betapa besar usaha di baliknya.

"Udah siap belum, Pa?" tanya Connan sambil mengintip, tidak sabar.

"Sedikit lagi," jawab Satura sambil mencicipi saus dan menambahkan garam. Ia tersenyum pada kedua anaknya. "Kalian ini asisten terbaik, tahu nggak?"

"Iya!" seru Cia bangga.

Satura melirik jam dinding. Vandini pasti sebentar lagi sampai. Dapur masih terlihat berantakan, jadi ia pun bergerak cepat membereskan semuanya.

Di tengah kesibukan itu, terlihat Cia duduk manis dengan pipi belepotan kena cokelat adonan kue.

"Ayo cepat, Cia, wajahnya dibersihkan dulu," kata Satura lembut sambil mengelap pipi anaknya dengan kain basah. Cia tertawa geli, dan tepat waktu wajahnya sudah bersih kembali.

Satura kembali bergegas membereskan panci dan mengelap kompor. Baru saja ia merasa puas dengan hasilnya, pintu depan terbuka. Ia menarik napas panjang, berharap usahanya ini bisa membuat Vandini merasa bahagia.

"Mama pulang!" bisik Connan dengan mata berbinar.

Vandini melangkah masuk ke dapur. Ekspresinya berubah dari kaget menjadi sangat terharu melihat pemandangan di hadapannya, anak-anak yang tersenyum, hidangan spageti, dan suaminya yang tampak belepotan kena noda tomat.

"Wah..." suara Vandini terdengar lembut. "Ini semua apaan?"

"Makan malam buat Mama!" jawab Connan bersemangat. "Kita bikin spageti sama kue! Aku bantuin potong wortel, Cia yang aduk tomat!"

Satura memperhatikan wajah istrinya yang perlahan merekah tersenyum lebar. Vandini menatapnya, dan untuk sesaat, terasa ada kehangatan yang menyelimuti hati mereka berdua.

"Makasih ya, Satura," bisik Vandini pelan, suaranya tulus sekali. "Ini... sangat berarti buat aku."

1
Eva Rosita
bagus
Fifi: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Fifi: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!