NovelToon NovelToon
MENIKAH DENGAN LUKA

MENIKAH DENGAN LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Delvi Binti

Ara di jodohkan dengan Aib, bukan dengan laki-laki, Ia di tatap jijik oleh keluarga nya sendiri.
ini kisah tentang pernikahan Tampa pesta, Tampa restu dan Tampa wali, tapi ada Tuhan jadi saksi dan luka jadi maharnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delvi Binti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

fitnah dari sepupu

setelah selesai mencuci baju Renata dan menjemur nya, Ara berniat untuk ke meja makan, untuk makan sebab dari tadi perutnya sudah sangat lapar, namun setibanya di meja makan Ara mendapati meja sudah hampir kosong hanya tinggal sayur dan leher Ayam saja, Ara melihat itu merasa sedih namun Ia bersyukur sebab masi ada sayuran dan leher ayam tadi, Ara pun mengambil piring dan mengambil nasi, Ia makan dengan sangat lahap, setelah Ia selesai makan membersihkan meja dan mencuci piring bekas makan siang itu, Ara berniat pergi ke anak sungai yang sering Ia datangi untuk menenangkan diri.

" mau ke mana kamu," tanya Renata saat melihat Ara keluar dari rumah.

" engga kemana-mana kok Ren, aku cuma mau pergi ke anak sungai yang di belakang rumah aja kok. "

" ee aku ikut dong, bosan juga di rumah. "

" hmm yaudah, ayo kalau gitu. "

Ara dan Renata pun pergi ke anak sungai bersama, namun setelah sampai di sana satu kejadian yang tidak terduga pun terjadi. Renata jatuh ke anak sungai karna keslahan nya sendiri,

" Ren hati- hati di situ licin, nanti kamu bisa jatuh."

Ara mencoba memperingati Renata, namun Renata tidak mau mendengarkan Ara, iya tetap melangka ke pinggir sungai yang licin itu, hingga akhirnya Renata terpeleset dan jatuh kedalam sungai, Ara dengan cepat menolong Renata, untung saja sungai nya tidak terlalu dalam dan Ara juga pintar berenang.

" III, ini semua salah kanu Ara, kenapa kamu engga bilang kalau di situ licin, aku mau pulang sekarang."

"Aku kan udah bilang tadi kalau di situ licin, tapi kamu engga mau dengerin aku." jawab Ara sambil memapa Renata pulang.

Bukan ketegangan yang Ara dapatkan ia malah harus mendapat masalah baru.

" ya ampun Renata, kok kamu basa kuyup begini, kamu habis darimana?." tanya tante Rianti yang terlihat sangat menghawatirkan anak kesayangan nya itu.

" mama... tadi Ara dorong aku ke sungai." rengek Renata sambil memfitnah Ara

" engga tante aku engga dorong Renata, dia yang jatuh sendiri. "

Plakkk...... " kurang ajar kamu yaa, kamu mau bu*uh anak saya hah, sini kamu." bentak tante Rianti sambil menarik rambut Ara.

" auuu... sakit tante, ampun sumpah aku engga dorong Renata kok, Renata fitnah aku tante, lepas tante sakit "

" bohong ma, dia tu iri sama aku makanya dia mau nyelakain aku." tambah Renata suara nya agak di buat sedih.

Nenek Ara yang mendengar keributan akhirnya keluar dari kamar nya.

"Ada apa ini kok ribut - ribut " tanya nenek

" ini loh ma, si Ara ini mau nyakitin Renata massa dia dorong Renata ke sungai," jawab Tante Rianti

" iya nek, kaya nya Ara iri deh sama aku, makanya dia mau nyelakain aku, dengan cara dorong aku ke sungai, aku takut banget nek," ucap Renata

Tampa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah, nenek menampar Ara,

Plakkk..... tamparan kedua mendarat di pipi Ara,

" nek, Ara engga dorong Renata,Renata yang jatuh sendiri, tadi aku udah bilang kalau di pinggir sungai yang dia deketin itu licin tapi Renata yang engga mau denger."

" bohong nek, jawab Renata

plakkk... tamparan ke tiga mendarat lagi ke pipi Ara,

" berani - berani nya kamu mau nyelakain Renata," kata nenek,

" kamu, sadar diri kamu tuh cuma beban, syukur- syukur saya mau nampung kamu di rumah ini, dari kecil kamu memang biang masalah."

melihat nenek yang tidak percaya dengan nya Ara merasa putus asa, Ia hanya bisa memegangi pipinya yang terasa sakit, melihat hal itu Renata dan tante Rianti tersenyum puas, mereka merasa bangga atas perbuatan mereka.

lagi - lagi Ara hanya bisa berlari masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam, di kamar Ia hanya bisa menangis.

"Kenapa tidak ada yang mau percaya sama aku, aku engga dorong Renata."

"mama, kenapa mama ninggalin aku, mama aku udah engga kuat ma, aku mau ikut mama"

kata Ara dalam tangisnya, di luar kamar suara tante Rianti masi Terus terdengar, makian demi makian iya keluar kan untuk Ara, namun Ara tidak lagi memperdulikan nya, Ia larut dalam kesedihan nya.

Disisi lain Dimas yang sedang melamun di teras rumah nya, terkejut saat ibu nya datang.

"dari tadi ibu perhatian kok kamu melamun terus mana sambil senyam-senyum, kamu lagi jatuh cinta ya. " tanya ibu Dini

" ee ibu kaget aku , engga kok bu " jawab Dimas berusaha berbohong.

" kamu jangan bohong sama ibu, ibu bisa liat dari raut wajah kamu, lagian engga apa - apa kalau kamu memang lagi jatuh cinta, toh ini memang sudah waktunya untuk kamu menikah."

" jadi gini bu, Dimas sebenarnya suka sama satu cewek namanya Ara dia dari kampung sebelah, tapi Dimas ragu bu buat bilang ke dia, Dimas takut dia nolak Dimas, apalagi kami baru kenal beberapa hari lalu."

" nahkan tebakan ibu bener kamu lagi jatuh cinta, ibu jadi penasaran sama cewek itu,saran ibu sebaiknya kamu kenali dia lebih dalam dulu sebelum kamu ungkapin perasaan kamu ke dia, ibu cuma engga mau kamu salah pilih pasangan."

" iya bu, Dimas ngerti, Dimas akan nurutin kata ibu, tapi Dimas yakin Ara itu cewek yang baik. "

" ibu cuma ngingetin aja, keputusan nya ada di kamu, apapun keputusan kamu ibu pasti dukung, tapi kalau itu kebenaran."

" iya ibu, makasih ya udah ngingetin Dimas."

" yaudah ibu masuk dulu, mau masak buat makan malam kita nanti."

keluarga Dimas sangat harmonis, meski hidup dalam kesederhanaan tapi mereka selalu rukun, orang tua Dimas selalu mendukung keputusan Dimas, orang tuanya tidak pernah menuntut Dimas untuk bisa segala nya, Dimas di ajarkan untuk selalu bertanggung jawab akan pilihan nya, dan juga resiko - resiko atas pilihan nya itu.

"Hmm Ara lagi ngapain yaa,apa aku telfon dia aja ya, tapi ganggu engga ya kalau aku telfon dia jam segini " gumamnya Dimas dalam hati , Ia tidak pernah bisa untuk tidak memikirkan Ara.

"Gimana caranya supaya dia mau aku ajak jalan - jalan."

sementara itu Ara yang tertidur akibat lelah menangis, terkejut saat pintu kamar nya di gedor dengan sangat kuat oleh tante Rianti.

" Ara keluar kamu dasar pemalas, liat ni rumah udah kotor, mana belum masak lagi buat makan malam udah jam berapa ni , keluar engga kamu sekarang."

Mendengar itu Ara dengan enggan bangkit dari tempat tidur nya, dan berjalan menuju pintu, Ara membuka pintu dan keluar dari dalam kamar nya.

" Ee liat tu rumah kotor banget cepet beresin, taunya cuma tidur aja, dasar pemalas," bentak tante Rianti.

" iya tante, Ara beresin sekarang."

" kalau udah selesai beres- beres nya, kamu masak buat makan malam, sana cepet, "

Ara pun mulai membersihkan rumah, setelah selesai Ara lanjut masak, dan melakukan pekerjaan lainnya, Ara selalu melakukan pekerjaan nya dengan iklas, Ia tidak pernah mengeluh.

malam hari setelah melakukan pekerjaan nya, Ara kembali masuk ke kamar nya, Dia berdoa kepada Tuhan, meminta agar Ia selalu di kuatkan dalam menghadapi sikap tante Rianti, nenek, dan Renata.

Setelah selesai berdoa, iya berbaring mulai melamun, namun tiba - tiba HP nya berdering sebuah panggilan masuk, dan itu dari Dimas, sebenarnya Ara tidak ingin menolak panggilan itu, tapi Ia teringat akan kebaikan Dimas yang membela nya dari tante Rianti, mengantar nya pulang, jadi Ara pun mengangkat panggilan Dimas.

" Halo, Ra ini aku Dimas kamu lagi ngapain." kata Dimas di seberang telfon.

" iya, ini aku lagi engga ngapain- ngapain kok, ada apa ya kok kamu nelfon aku." jawab Ara

" engga aku cuma, iseng aja nelfon kamu, aku ganggu waktu kamu ya?, "

" Engga kok, kamu engga ganggu sama sekali,"

" hmm Ra sebenarnya aku nelfon kamu, karna aku mau ngajakin kamu jalan- jalan malam ini, kamu bisa engga, "

" Adu maaf ya kk Dimas, aku engga bisa, tante Rianti pasti engga ijinin aku, apalagi keluar sama cowok."

" tante kamu itu orang nya galak banget ya, massa cuma keluar sebentar dong engga di ijinin."

" engga kok, tante aku engga se galak itu." jawab Ara menyembunyikan kegalakan tante Rianti.

"ooo gitu, ee kalau boleh tau kamu umur berapa Ra"

" aku umur 23 tahun, emang nya kenapa."

" Engga aku cuma nanya aja kok. "

malam itu untuk pertama kali nya Ara mengangkat telfon dari seorang cowok, jika biasanya Ia selalu menjaga jarak dari cowok yang ingin mendekati nya, tak terasa sudah hampir satu jam mereka berbicara lewat Hp.

" Hmm ini udah larut malam, aku juga udah ngantuk, telfonan nya udah dulu ya Dimas." kata Ara mencoba mengakhiri obrolan mereka

" iya, ini aku juga udah lumayan ngantuk sih, yaudah ngobrol nya sampe sini dulu. "

akhirnya sambungan telfon mereka terputus, entah mengapa Ara merasa nyaman saat berbicara dengan Dimas tadi, seperti ada ketenangan yang Ia rasakan, namun Ara mencoba menepis perasaan itu, karna Ara merasa minder untuk berkenalan dengan laki- laki.

" hmm, kok aku kaya ngerasa nyaman banget yaa telfon sama Kk Dimas, apa aku jatuh cinta sama dia, aa engga mungkin, aku engga boleh jatuh cinta sama Kk Dimas, aku engga pantas buat dia." gumam Ara dalam hati.

Dimas yang akhirnya bisa berbicara lama dengan Ara merasa sangat senang, semangat nya untuk mengejar cinta Ara semakin berkobar - kobar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!