Prita Laura Kiehl, 27 tahun, Dia ini termasuk jajaran penyanyi papan atas tanah air. Sesekali jadi aktor. Tapi hanya untuk film dan film pendek. Selebihnya ogah!
Malas ribet.
Malas berurusan sama drama pertelevisian tanah air yang menye-menye. Selama ini, Prita tidak pernah memikirkan akan ke mana dan pada siapa hatinya berlabuh.
Tapi selama ini juga dia selalu meyakinkan diri bahwa ketika suatu hari nanti bertemu dengan pasangan hidupnya, dia ingin di kejar, di cintai ugal-ugalan, dan di perjuangkan.
Tapi sekarang, sepertinya itu tidak berlaku. Yang penting Mas Dokter mau jadi pacarnya. Titik!
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang dokter spesialis bedah sekaligus pewaris sebuah Rumah Sakit Swasta, Kian Samudra, 29 tahun.
Kisahnya bermula saat Prita mendapatkan peran sebagai seorang dokter bedah. Traumanya pada rumah sakit dan dokter membuatnya kesulitan untuk mengekspresikan diri.
Lalu bagaimana bisa kisah asmaranya akan berlanjut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAS DOK! MAU JADI PACARKU?
*
"Lo belajar sama dokter bedah beneran. Mau?"
Kian mendengar suara Kristina yang terdengar bersemangat, tapi redup seketika lantaran reaksi dari lawan bicaranya.
"Waras enggak sih lo? Lo tahu sendiri kan gue nggak suka dan nggak mau berhubungan sama dokter dan teman-temannya. Segala nyuruh belajar sama dokter langsung, pula. Sakit aja gue lebih milih konsul di HaiDok!"
Kian mengernyit heran. Kalau yang barusan bicara itu batita, Kian maklum. Tapi ini orang dewasa. Perempuan dewasa. Masa iya takut kepada dokter dan rumah sakit?
"Udahlah, Tin, cancel aja. Lo nggak liat sejak kita sampai di rumah sakit ini, gue gemeteran?"
Kian menajamkan mata, berharap bisa melihat kedua tangan yang Prita kasih lihat pada Kristina. Memang agak sedikit goyang.
"Gue tahu. Tapi dendanya gede banget kalau lo cancel. Ayolah, Ta. Dokternya kenalan gue dan kebetulan kerja di rumah sakit ini juga."
Kian jadi kasihan melihat wajah frustrasi Kristina. Haruskah dia muncul sekarang?
"Ya udah oke. Lo ngotot gini pasti karna lo udah siapin orangnya, kan?"
Sampai akhirnya kalimat persetujuan meski terpaksa itu, keluar dari mulut sang artis membuat sang manajer cengar cengir.
Kian tersenyum tipis, sempat berdoa sedikit mudah-mudahan calon murid satu harinya ini mudah diajari, sebelum kemudian melangkahkan kaki mendekati dua orang yang sedang saling memberi semangat. Tepatnya hanya Kristina yang memberi semangat. Prita hanya diam berkutat dengan ponsel dan kipas elektriknya.
Tidak tertarik. Belum.
"Halo, saya Kian."
Semalam, Kian sempat mencari tahu sedikit tentang Prita. Tapi tidak mendapatkan apapun selain fakta bahwa penyanyi yang sudah eksis sejak usia baru beranjak remaja itu, minim informasi dan skandal.
Saking minimnya, yang Kian temui hanyalah tanggal lahir. Tidak ada keterangan siapa keluarga atau minimal nama orang tuanya. Bahkan riwayat pendidikan pun tidak ada.
Bersih! Agak mencurigakan!
Fans-nya bilang, Prita itu sempurna. Salah satu artis lajang paling cantik dan menarik di tanah air, dan menjadi calon mantu idaman para mama mertua, menurut survey.
Kesannya ceria, tapi juga misterius. Namun dari sekian banyak hal yang bisa Kian temukan di internet perihal Prita, Kian bisa menyimpulkan bahwa gadis itu cukup pendiam meski sering tersenyum dan juga agak pemalu.
Haha.
Kesimpulan yang langsung patah di sepuluh detik pertama sejak Kian datang dan memperkenalkan diri.
"Hal...lo.... Mas Dokter, ganteng bangettt, aaaaa... "
Jder!
Bunyi petir di dalam kepala Kian.
Brak!
Bug!
Diikuti bunyi gedebag-gedebug dari sebagian besar kru yang berada di dekat mereka. Ada yang menjatuhkan properti, ada yang sontak berdiri dari kursi, bahkan ada yang bertubrukan saat memindahkan barang-barang lain.
Suara Prita memang tidak terlalu lantang, tapi cukup untuk didengar oleh orang yang ada disekitar.
Belum lagi nada ceria yang dikeluarkan dan senyum lebar yang dia tampakkan.
Senyum yang tidak pernah tampak sejak proses syuting berlangsung selama hampir dua minggu ini. Bahkan mungkin saja ada love-love beterbangan dari matanya seperti efek filter kamera toktok.
Senyum lebar yang sialnya membuat Kian cukup bergetar.
Enggak! Enggak! Saya nggak suka artis!
Itu kata kepala Kian.
"Mas Dokter, mau nggak jadi pacarku? Aku cantik, baik hati, aku juga artis terkenal. Cocok loh kita."
Astaga Prita. Baru ketemu langsung promosi.
Bahkan sekarang dengan beraninya dia menyalami sambil terus memegang tangan Kian dan menggoyang-goyangkan layaknya anak kecil minta diajak jajan.
Mirip sih.
"Tin," Kian memilih tidak mengacuhkan Prita.
Jujur, sekarang Kian mendadak rasanya kena vertigo.
Bagaimana tidak, Dokter Kian adalah dokter bedah yang hidupnya sangat amat lurus tanpa cela. Satu-satunya cela hanyalah, beliau ini masih jomblo. Selebihnya, dia perfect banget!
Tajir melintir.
Rumah sakit tempat dia praktek saja, itu punya keluarganya. Itulah kenapa, dia bisa mendapatkan spesialisasinya di usia yang relatif muda. Karena ambil spesialis itu tidak murah.
Modal otak doang nggak akan cukup. Uang juga harus berlimpah.
Seingat Kian, dia harusnya menyukai seorang dokter juga, setidaknya itulah standar yang ia tetapkan selama ini.
Tidak ada niatan sedikitpun untuk tertarik pada artis. Jangankan jatuh cinta, tertarik pun tidak.
Tapi begitu si artis ini sat set sekali mendekatinya, mendadak Kian meragu.
Apa benar selama ini dia hanya ingin berpacaran dengan dokter?
Apa benar standar yang ia tetapkan selama ini harus dokter lulusan luar negeri sepertinya?
Dari sekian banyak orang yang mengajaknya berpacaran, kenapa baru kali ini hatinya bergetar?
Untuk seorang artis pula. Profesi yang paling tidak di sukainya.
"Sorry."
Kristina cepat melepas tangan Prita, menariknya, lalu menyembunyikan Prita yang mendadak ganjen sekali!
"Prita, nggak usah becanda!" bisiknya serius.
Bisa gawat kalau Kian marah dan membatalkan janji untuk mengajari Prita.
"Ck! Gue serius! Minggir lo!" Prita bergeser dan kembali ke dekat Kian yang refleks mundur satu langkah.
"Hai, Mas Dok. Aku Prita Laura. Khusus buat kamu, boleh panggil aku Prita, Laura atau Ta. Prit atau Emprit juga boleh. Bebas!"
Tangan cantiknya terulur, tapi karena tidak segera disambut, lagi-lagi dia sendiri yang meraih tangan kanan Kian, dan menjabatnya erat, sekali lagi.
Agresif sekali Artis satu ini.
"Mau jadi pacarku enggak, Mas Dokter?"
Prita mengulang pertanyaannya yang tadi.
"Maaf, saya tidak suka artis."
Kian menolak mentah-mentah, tapi tidak terburu-buru melepaskan tangannya yang masih digenggam Prita.
"Bukan tidak, tapi belum!" tegas Prita yakin.
"Mau coba sama aku, nggak?" tawarnya lagi dan lagi.
Prita sama sekali tidak peduli sekitar. Fokusnya sekarang hanya pada Kian. Bahkan dia tidak peduli jika pun setelah ini akan muncul skandal panas tentangnya.
Bodo amat!
"Ta, bukannya lo nggak suka dokter?" Kristina bertanya.
Prita hanya nyengir kuda.
"Iya. Dokter lain gue enggak suka. Tapi Mas Dokter Kian ini, pengecualian!" jawab Prita mantap.
Aduh!
"Maaf, tapi saya benar-benar tidak suka sama artis."
Kian kali ini mencoba menarik tangannya. Tapi boro-boro tangan yang lepas, justru tahu-tahu Prita yang merapat. Nyaris nempel di dadanya.
Mantap!!
"Mas Dokter, ngomong dong kalau mau peluk. Nggak usah tarik-tarik juga aku sudah tertarik loh."
Sialan! Wajah Kian sudah memerah, entah marah, entah malu. Kian sepertinya harus segera pergi, sebelum kecantol artis aneh minta di garuk satu ini.
...******...
Hai hai haaiii... Jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar semangat akunya.
Makasih...
(di korsel, udah berapa banyak yg bundir karena 3 hal itu🥺)
kasihan prita entar merasa di PHPin teyus 😭
semoga setelah dpt psikiater pribadi ini prita bisa sembuh dn semakin membaik...