Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Darah yang Membasahi Malam
Suara langkah-langkah kasar mendekat, semakin jelas di antara raungan badai. Tanah becek di mulut gua terinjak keras, menimbulkan cipratan lumpur yang bercampur dengan darah yang merembes keluar. Suara itu berhenti tepat di depan gua.
“Dia ada di sini,” suara berat penuh kepastian terdengar.
Cahaya obor menembus masuk, bergoyang-goyang ditiup angin. Dari balik siluet cahaya, tiga pria berjubah hitam muncul. Wajah mereka dingin tanpa belas kasihan, mata menyala penuh kebencian. Di dada jubah masing-masing, lambang tengkorak hitam terukir jelas.
Wanita yang terbaring di dalam gua terpaksa menegakkan tubuhnya dengan sisa tenaga. Tangannya gemetar, tapi matanya masih menyalakan api perlawanan. Tubuhnya berlumuran darah, napasnya tersengal, namun ia tetap menegakkan diri di hadapan para pengejarnya.
Salah seorang pria melangkah maju, bibirnya melengkung membentuk senyum dingin. “Heh, lihatlah, sekuntum bunga yang sudah hampir layu, masih mencoba melindungi duri kecilnya.”
Tatapan wanita itu menajam, meski tubuhnya sudah hampir tak sanggup berdiri. “Selama aku masih bernapas, kalian tidak akan menyentuhnya.” Suaranya parau, namun setiap kata membawa tekad baja.
“Lancang!” pria lain melangkah maju, menghunus pedang tipis yang berkilau gelap. “Kau sudah sekarat, tapi masih berani menantang Sekte Darah Hitam?”
Pedang itu terangkat, siap menebas. Namun sebelum kilatan maut itu jatuh, wanita itu meraih Pedang Naga Langit yang bersandar di dinding. Tangannya bergetar hebat, hampir tak mampu mengangkatnya, tetapi begitu jari-jarinya menggenggam gagang pedang, udara gua seketika berubah.
Aura kuno dari pedang itu menyembur keluar, menekan seluruh ruang dengan berat bagaikan langit runtuh. Tiga pria berjubah hitam terperanjat. Salah satunya bahkan mundur setapak, wajahnya menegang.
“Pedang itu…!” gumam mereka hampir serentak.
Wanita itu mengangkat pedang dengan kedua tangan. Darah menetes dari pergelangan, menodai ukiran naga di gagang pedang. Suara napasnya putus-putus, namun sorot matanya tajam seperti bilah pedang yang siap menebas langit.
Suara petir menyambar di luar dengan sangat keras, cahayanya masuk ke gua dan memantul di permukaan bilah pedang. Dalam sekejap, Pedang Naga Langit tampak hidup, naga pada ukirannya seolah bergerak, matanya bersinar.
“Selama pedang ini masih di tanganku, kalian tidak akan pernah bisa menyentuh Lin Feng,” ucapnya dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan.
Pertarungan pun pecah.
Pria berjubah hitam pertama menerjang dengan pedang hitamnya, tebasan pedang meluncur cepat. Wanita itu menangkis dengan Pedang Naga Langit. Dentuman keras memenuhi gua, percikan api beterbangan, membuat dinding batu bergetar.
Tubuhnya terlempar ke belakang, menghantam batu, darah segar menyembur dari mulutnya. Namun sebelum jatuh sepenuhnya, ia kembali berdiri dengan goyah, pedang masih erat di genggamannya.
Pria kedua maju, melepaskan tebasan melingkar yang menghantam dinding gua. Batu terbelah, serpihan batu beterbangan, beberapa bahkan hampir mengenai keranjang bambu tempat bayi berada. Untungnya, formasi isolasi suara yang juga berfungsi sebagai lapisan pelindung, menahan serpihan itu agar tak melukai bayi.
Wanita itu melihat ke arah bayinya sekejap. Tatapannya melembut, namun seketika kembali keras saat ia menoleh pada musuh. “Kalian tidak akan lolos hidup-hidup.”
Dengan pekikan penuh tenaga terakhir, ia mengangkat pedang. Cahaya kilat luar menyatu dengan aura Pedang Naga Langit. Tebasan horizontal meluncur deras, membelah udara gua menjadi dua.
Dua pria berjubah hitam terhuyung mundur, pedang mereka hampir terlepas dari genggaman. Tubuh mereka tergores luka panjang, darah segar memancar, tercampur dengan hujan yang mulai merembes masuk.
Namun tenaga wanita itu segera habis. Tubuhnya goyah, lututnya jatuh menghantam batu. Pedang Naga Langit masih ia genggam, tapi tangannya gemetar hebat.
Pria ketiga, yang sejak tadi hanya mengamati dalam diam, akhirnya melangkah maju. Sorot matanya penuh dingin, bibirnya melengkung sinis. “Kau pikir dengan tubuh yang hampir mati, kau bisa menghentikan kami? Kau hanya memperlambat takdirmu sendiri.”
Ia mengangkat telapak tangannya, energi hitam pekat berkumpul, membentuk pusaran kecil yang berputar cepat. Dari pusaran itu, aura haus darah menyeruak, membuat udara di gua semakin berat.
Wanita itu merasakan hawa kematian mendekat, namun matanya tetap menatap tajam. “Kalau pun aku mati, darahku malam ini akan menjadi tembok yang tak bisa kalian lewati.”
Pusaran energi hitam itu dilepaskan. Suara menggelegar memenuhi gua, tanah berguncang, dinding retak. Tubuh wanita itu terseret, darah kembali menyembur dari mulutnya.
Namun di detik itu, ia mengangkat Pedang Naga Langit tinggi-tinggi, menancapkannya ke tanah di depan keranjang bambu. Cahaya pedang langsung menyembur keluar, membentuk penghalang bercahaya keperakan yang melingkupi bayi.
Ledakan energi hitam menghantam penghalang itu, membuat seluruh gua berguncang. Batu-batu runtuh dari atap, hujan lumpur bercampur darah semakin deras.
Wanita itu jatuh tersungkur, tubuhnya sudah tak mampu lagi berdiri. Namun ia tersenyum tipis, darah mengalir di sudut bibir. Matanya menatap bayi kecil itu, yang masih menangis dalam diam, terlindung cahaya.
“Lin Feng, kau harus hidup.” bisiknya lirih.
Pria berjubah hitam ketiga mendengus, melangkah mendekat. “Menjengkelkan. Wanita rendahan, kau bahkan di ambang mati, masih berani melawan. Tapi tenanglah, setelah kau mati, bayi itu akan segera menyusul.”
Ia mengangkat pedangnya tinggi, siap menebas.
Namun tiba-tiba, dari luar gua, suara berat bergema. “Beraninya kalian mengotori tanah ini dengan darah!”
Kilatan cahaya biru melesat masuk, menghantam pria berjubah hitam itu hingga tubuhnya terlempar ke dinding. Darah muncrat dari mulutnya, teriakan tertahan keluar sebelum ia jatuh menghantam batu dengan keras.
Dua pria lainnya terbelalak. Mereka menoleh ke arah pintu gua, hanya untuk melihat seorang pria paruh baya dengan jubah biru berdiri tegak di sana. Rambutnya panjang, sebagian beruban, namun sorot matanya tajam bagaikan elang. Di punggungnya, tergantung sebuah pedang panjang yang bersinar samar.
“Qingyun…!” salah seorang pria berjubah hitam berseru kaget.
Mereka paham benar siapa sebenarnya sosok yang sekarang berada di hadapan mereka. Sosok yang tidak bisa diremehkan sekalipun mereka ingin.
Pria berjubah biru itu menatap dingin. “Kalian sudah melampaui batas. Sekte Darah Hitam, sudah terlalu lama menabur dosa.”
"sudah saatnya menghapuskan nama sekte kalian dari dunia persilatan".
Wanita di lantai membuka matanya dengan susah payah, melihat sosok itu. Air mata mengalir dari sudut matanya, campuran lega dan sedih. Bibirnya bergerak pelan, nyaris tanpa suara. “Guru…”
Matanya lalu melirik bayi kecilnya sekali lagi. Nafasnya semakin pelan, tubuhnya mulai kaku. Senyuman tipis masih menghiasi wajahnya.
Hujan masih mengguyur deras di luar, petir masih menyambar, dan darah terus membasahi lantai gua. Malam itu, bumi benar-benar dilumuri darah, menjadi saksi pengorbanan seorang ibu demi anaknya.
Dan di balik semua itu, takdir baru mulai berputar—takdir seorang bayi bernama Lin Feng.
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa