Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Menikah untuk menikah
Melihat kehadiranku, pelayan yang bernama Barbara itu lantas terkesiap sambil menaikkan kembali busananya yang sempat melorot. Ia bergegas pamit pada pangeran dan berjalan melewatiku sambil menunduk hormat. Berhadapan dengannya untuk pertama kali serasa membuatku kalah telak.
Ya, memang kuakui, kecantikannya sangat mencolok, bahkan memancar kuat. Rambut cokelat yang dibiarkan terurai, sepasang mata jernih yang indah, serta bibir yang seolah selalu tersenyum menjadi alasan mengapa seorang pangeran bisa jatuh hati padanya. Tak akan ada yang menyangka usianya mendekati empat puluh tahun, lebih tua dari pangeran Julian yang masih berusia dua puluh delapan tahun.
Selama ini aku berusaha menutup kuping dan memaksa tersenyum ketika mendengar gosip tentang mereka. Namun, melihat keintiman yang baru saja terjalin di depan mata kepala sendiri, tentu aku tak bisa bersikap baik-baik saja.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suaraku bergelombang berusaha menahan amarah.
"Itu seharusnya yang menjadi pertanyaanku! Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang menyuruhmu ke sini tanpa izin dariku?" Dingin dia berkata sambil merapikan kembali jubahnya. Bau alkohol menguar kuat dari mulutnya.
"Jawab dulu pertanyaanku! Kenapa pangeran yang begitu begitu terhormat, melakukan hal yang tidak terpuji bersama pelayan istana di saat pernikahan kita hanya tinggal sebulan! Aku benar-benar tak menyangka kau melakukan ini secara terang-terangan di dalam istana, bahkan di kediamanmu sendiri!"
"Memangnya kenapa?" Pria itu membentakku hingga garis rahangnya yang tegas terlihat begitu mengeras. "Ah, biar kuberi tahu, setelah kita resmi menikah nanti, kau tidak bisa melarang maupun mengusikku berhubungan dengan siapa pun! Kedudukanmu hanya sebatas pengisi kursi calon ratu, bukan untuk benar-benar jadi pasanganku."
Dengan miris aku menjawab, "Lalu kenapa pangeran tetap ingin menikah denganku? Apa karena mereka mengisyaratkan gelar duke¹ diberikan padamu hanya jika kau menikahiku?"
Pangeran Julian tersenyum ringkih sembari meneguk anggur. "Aku tidak peduli dengan gelar ataupun jabatan. Kenyataannya, aku tetap akan menjadi penerus takhta. Sayangnya, aku tidak bisa sembarangan menunjuk wanita yang kucintai untuk dijadikan ratu. Untungnya, pernikahan kita justru bisa menempatkan Barbara di sisiku. Sehari setelah pernikahan kita nanti, aku akan mengangkat Barbara sebagai selirku."
Seketika, kurasakan kakiku melemas hingga aku mundur selangkah. "Jadi kau memanfaatkan pernikahan ini agar bisa mengangkat Nona Barbara sebagai selirmu?" tanyaku pelan dan hampir tak terdengar.
Desas-desus hubungan terlarang antara pangeran Julian dengan pelayan memang sudah terembus sejak aku memasuki istana. Namun, saat itu aku terlalu percaya diri menganggap bisa mengambil hati pangeran. Ternyata, pangeran telah sepenuhnya menyerahkan hatinya pada Barbara, si pelayan yang memiliki senyum memikat.
"Ya, jika tidak, mana mungkin aku akan menikahi anak dari bangsawan tingkat rendah yang hanya bisa mengabdi di keluarga kerajaan selama bertahun-tahun." Suara hinaannya menggema di langit-langit ruangan.
"Pangeran menghina ayahku yang sudah merawat dan mendampingi Anda sejak kecil, sementara Anda sendiri memiliki hubungan terlarang dengan wanita berstatus pelayan." Aku melempar balasan yang tak kalah sengit.
Tawa pria itu menyeruak dari kerongkongan. Ia mengambil botol anggur lalu menenggak cairan merah tersebut hingga habis tak tersisa. Setelah itu, dia menoleh ke arahku sambil berjalan mendekat dengan gerakan yang sempoyongan.
"Kau ... sungguh wanita yang punya nyali!" ucapnya sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Selama bertahun-tahun, aku sudah muak dengan ayahmu yang terus menempel di sisiku. Kenapa sekarang aku harus terikat pernikahan dengan anaknya?"
"Kalau begitu memohonlah pada Ibu suri Anne untuk membatalkan pernikahan kita!"
Dia kini menatapku dengan tajam seolah hendak menelanku hidup-hidup. "Kau lupa yang kukatakan barusan? Aku tetap membutuhkan pernikahan ini agar posisi calon ratu terisi. Tapi, aku penasaran, hal apa yang ada padamu hingga nenek sangat ingin kau menjadi pendampingku. Bagaimana kalau kau menunjukkan kelebihanmu malam ini padaku," ucapnya dengan intonasi lambat-lambat.
Dadaku mulai meletup-letup saat langkah kakinya beringsut ke arahku. Kelopak mataku bergetar dengan napas yang menderu. Tatapan mata legamnya yang begitu dominan seakan meringkusku, hingga membuatku tak sadar berderap ke pojok ruangan.
"Apa yang hendak pangeran lakukan?" tanyaku pelan.
"Datang semalam ini, bukankah kau memang berniat menggodaku? Lebihnya lagi, kau sudah mengganggu hal yang belum kutuntaskan dengan Barbara."
"Pangeran kau terlalu mabuk!" ucapku sambil bergerak ke samping untuk menghindarinya. Namun, detik berikutnya kurasakan tubuhku terangkat ringan. Dia meletakkan tubuhku di bahu kirinya dan membawaku ke ranjangnya. Kakiku lantas berayun-ayun berusaha berontak.
Aku dilempar bak karung beras di atas ranjangnya. Napasku memburu, gigiku bergemeletuk seiring ia mencengkram kedua tanganku untuk memblokir pergerakanku. Ini pertama kalinya kami bersirobok dalam jarak yang begitu dekat sekaligus berkontak fisik.
"Ternyata kau cantik juga. Baguslah, dengan begitu aku tak keberatan jika kau nanti kau benar-benar menunaikan tugasmu sebagai seorang istri," ucapnya sambil mengusap wajahku dengan gerakan intim. Wajahnya begitu menantikan kesenangan, menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang dalam pengaruh alkohol.
Aku mencoba melepaskan diri dari rengkuhannya yang menggila. "Pangeran, sadarlah kita tidak boleh melakukan ini! Aku calon istrimu, kau seharusnya tahu kan aturan turun-temurun yang berlaku di kerajaan untuk calon ratu?!"
Ya ada aturan pengantin kerajaan di negeri ini. Calon ratu diwajibkan masih suci dan tak tersentuh oleh lelaki mana pun. Bahkan, di malam pertama ada sebuah ritual turun temurun yang mengharuskan istri putra mahkota menunjukkan darah keperawanannya. Hal ini dikarenakan perempuan yang akan dinikahi putra mahkota akan menjadi ratu di masa depan. Oleh karena itu, mereka menuntut rekam jejak seorang ratu harus bersih.
"Ingat, jika kita gagal menikah, kau juga gagal menjadikan nona Barbara sebagai selir!" Bahkan dalam keadaan genting pun, aku berusaha bernegosiasi dengannya. Terkesan seolah aku siap menerima kehadiran selir di pernikahan kami nanti. Miris, bukan?
Seolah tak peduli dengan ucapanku, pria itu mulai menenggelamkan wajahnya ke leher jenjangku. Aku memberontak dari cekalan tangannya sekuat yang kubisa. Namun, ini jelas seperti tengah menghadapi benteng yang kokoh.
Tidak, dia memang calon suamiku dan pria yang menjadi cinta pertamaku, tapi aku tak ingin kesucianku direnggut dengan cara seperti ini. Selain itu, jika aku gagal menjadi calon ratu masa depan, sudah pasti istana akan membuangku dan aku tak bisa lagi berada di sisi ayahku. Sedangkan dia masih bisa mencari pengganti calon ratu untuk melenggangkan keinginannya menjadikan Barbara sebagai selir.
Satu tangannya mulai terlepas dari pergelanganku ketika ia berusaha menyingkap bawah gaunku. Kalut dengan situasi ini, aku meraih vas bunga yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Dengan refleks, kuayunkan vas bunga itu ke arah kepalanya hingga terdengar suara raungannya.
Dia tergopoh sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri ke lantai dengan kepala yang bersimbah darah. Melihat itu, aku lantas membekap mulutku sendiri. Seketika tanganku bergetar hebat. Jantungku terpompa begitu cepat. Tidak, aku tak bermaksud melakukan itu pada calon pewaris takhta negeri ini. Sungguh!
Suara ketukan pintu di luar sana terdengar, seiring kepanikan tengah menguasaiku. Bagaimana ini?
Pintu kamar mendadak terdobrak. Ternyata yang datang adalah ayahku dan ketiga pengawal setia pangeran Julian. Mata mereka kompak membola melihat pangeran Julian tergolek tak berdaya dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Dengan cepat, ia melarikan pandangannya ke arahku yang masih membeku di atas ranjang dengan penampilan yang cukup menjelaskan situasi yang baru saja terjadi.
"Ayah ... aku ... aku ... tidak bermaksud ...." Suaraku gemetar bercampur tangisan.
Pangeran Julian.
Barbara
.
.
.
Jejak kaki
Duke (Adipati): salah satu gelar kebangsawanan eropa yang kedudukannya di bawah Raja.
kenapa ga langsung aja, Barbara ini anunya gitu
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......
dan selanjutnya apa yang akan terjadi...Kooong
Pangeran bright.....,, waspada,, hati2 jangan smpe si batubara mencurigaimu....