NovelToon NovelToon
Badai Masa Lalu

Badai Masa Lalu

Status: tamat
Genre:Poligami / CEO / Model / Pelakor / Romansa / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:56.9k
Nilai: 5
Nama Author: StarMaker

Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.

Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.

Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.

Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab2

Denting notifikasi memutus hening, membelah fokus dua pria yang tengah menikmati makan siang di sebuah restoran kelas atas. Edwin, dengan gerakan anggun, baru saja hendak menyuap sesendok nasi goreng seafood ketika suara elektronik itu menghentikan lengannya di udara. Ekspresinya sesaat beku, sebelum matanya cepat beralih pada layar ponsel mahal yang tergeletak di samping piring.

Sebuah pesan singkat dari sang istri, Keyla, terpampang jelas:

Keyla: sayang kangen! Cepat pulang ya. Rindu kamu emuachh...

Senyum tipis, nyaris tak terlihat namun begitu memabukkan, merekah di sudut bibir Edwin yang terawat. Pria itu menahan napas sejenak, mengecap rasa aneh yang sudah lama tak mampir. Sudah hampir seminggu ponselnya sepi dari pesan istrinya. Anehnya, ia pun tak pernah berinisiatif lebih dulu. Ada tembok tinggi yang dibangunnya, rasa takut yang begitu akut untuk benar-benar menyerahkan hati pada siapapun—bahkan pada perempuan yang telah ia nikahi setahun terakhir.

Namun, di balik tembok es itu, ia tak bisa memungkiri, ketulusan Keyla perlahan meruntuhkannya. Hatinya mulai terbuka, mencoba melupakan bayangan masa lalu yang selalu menghantuinya.

"Liatin apa hayo, Mas Bro? Mesem-mesem kayak ABG kasmaran gitu," suara berat Juna, rekan makannya, memecah keheningan. Sorot mata Juna penuh selidik, menangkap perubahan emosi di wajah Edwin.

Edwin tak bergeming, malah meletakkan kembali ponselnya di meja dengan gerakan acuh tak acuh, tanpa ada niatan sedikit pun untuk membalas pesan penuh kerinduan itu.

"Ya elah, jurus 'cuekin-aja-terus'-nya masih dipake," cibir Juna, mengangkat bahu, "Kapan mau mulai romantisnya, bro?"

"Berisik," jawab Edwin datar, menusuk dengan nada dingin yang khas.

Setelah piring-piring bersih dan perut terisi, mereka beranjak, meninggalkan restoran dan kembali menuju penginapan.

Malam harinya, Edwin merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang kamar hotel yang mewah. Pandangannya kosong, terpaku pada ponsel yang tadinya ia letakkan di nakas. Ada dorongan halus yang tak bisa ia abaikan. Diambilnya ponsel itu, dan ia membuka aplikasi perpesanan. Kosong. Tak ada lagi pesan masuk dari Keyla.

Edwin menarik napas panjang. Ia merasa bersalah. Ia harus membalas. Ia harus menunjukkan, minimal, sedikit perhatian. Jari-jarinya mulai menari di atas layar: Kamu lagi apa? Udah makan belum?

Dibaca ulang, dirasa terlalu perhatian, terlalu lunak. HAPUS.

Ia mengetik lagi, mencoba kalimat lain, tetapi lagi-lagi menghapusnya. Terlalu formal, terlalu klise, terlalu banyak. Akhirnya, setelah pergulatan batin yang rumit, ia memilih jalan paling aman: singkat, padat, dan—dingin.

Edwin: Tidur!

-BADAI-

Pintu rumah terbuka, dan Keyla masuk dengan napas terengah-engah, mulutnya tak henti merutuki ulah jahil sahabatnya, Hana. "Dasar biang kerok! Berani-beraninya dia bajak HP dan kirim pesan alay kayak gitu ke Edwin!" gerutunya, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa.

Dengan gerakan penuh kekesalan, Keyla menghempaskan diri ke kasur, berguling-guling tak keruan.

"Aaaarrggghhh!" Keyla menjerit tertahan, menarik selimut dan menutup wajahnya rapat-rapat. Bayangan wajah tanpa ekspresi Edwin saat membaca pesan 'emuachh' itu saja sudah cukup membuat nyalinya menciut hingga ke titik nol. Ia merasa ingin lenyap saat itu juga.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar nyaring. Keyla, yang semula lesu, langsung menghentikan aksi gulirannya. Ia meraih ponselnya dengan kecepatan kilat, jantungnya berdebar kencang tanpa alasan jelas.

Pesan itu muncul di layar:

Edwin: Tidur!

Mata Keyla membelalak lebar. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan penglihatannya tidak sedang berhalusinasi. Edwin! Edwin mengiriminya pesan! Bahkan, dengan nada menyuruhnya tidur.

"Serius? Edwin chat aku?!" Gumamnya, melongo menatap layar, seolah pesan empat huruf itu adalah sebuah anugerah tak terduga. Ia memeriksa kembali nama pengirimnya. Benar, Edwin.

Seketika, bibir Keyla melengkung membentuk senyum tipis, kemudian melebar. Entah mengapa, rasa kesal dan malu yang tadi membakar dirinya seolah lenyap terobati hanya oleh pesan singkat itu. Apakah tadi ia sempat marah-marah tak jelas hanya karena chatnya tidak dibalas? Maybe.

"Dasar cewek, cuma digituin aja udah salting," cibir Keyla pada dirinya sendiri, merutuki kebodohannya yang gampang sekali terbawa perasaan. Ia kembali tersenyum tipis, kini lebih tulus. Lebih baik ia tidur daripada harus ketawa-ketiwi sendiri seperti orang gila yang sedang mabuk asmara.

-BADAI-

Keyla menggeliat, perlahan membuka mata. Tubuhnya terduduk, menatap sekeliling kamar yang temaram. Matanya memicing, tertuju pada sebuah benda familiar yang teronggok di sofa.

"Edwin sudah pulang," gumam Keyla, matanya menangkap tas kerja berwarna gelap yang tergeletak di sana.

Dengan gerakan cepat, Keyla melompat dari ranjang. Tanpa mempedulikan rambutnya yang acak-acakan dan piyama longgar yang masih membalut tubuhnya, ia bergegas turun, mencari suaminya yang kemungkinan besar berada di dapur.

Langkah kaki Keyla menuruni anak tangga satu per satu, matanya tak lepas memandang ke arah dapur. Senyumnya tak tertahan, merekah sempurna saat melihat Edwin yang sedang sibuk berkutat dengan peralatan masak. Edwin Pradipta Siswanto, pria dingin yang dinginnya melebihi gunung es, suaminya selama setahun kurang sebulan. Pria yang telah meluluhkan hatinya pada pandangan pertama.

"Udah pulang?" tanya Keyla, suaranya sedikit serak, membuat Edwin spontan menoleh ke belakang.

"Hmm," jawab Edwin, singkat, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada wajan. Pria itu masih saja dingin. Keyla sempat berharap, setelah seminggu ditinggal bertugas ke luar kota, sikap suaminya akan sedikit melunak. Tapi ternyata, ia masih sama. Apa cowok ini tidak merindukanku sama sekali? batin Keyla, menahan getir.

"Masak apa?" Keyla mencoba berbasa-basi, meski ia tahu persis aroma telur omelette dan nasi goreng yang begitu menggugah selera tengah memenuhi ruangan.

"Seharusnya aku yang tanya begitu," balas Edwin, tanpa menoleh, suaranya tetap datar.

Keyla refleks menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perasaannya mendadak tak enak. Ia merasa malu. Perkataan Edwin seolah menuduhnya sebagai istri yang tak bertanggung jawab, membiarkan suami memasak di pagi hari sementara dirinya enak-enakan tidur. Padahal, realitanya tidak sepenuhnya begitu. Ia telat tidur semalam, dan itu semua karena pesan singkat 'Tidur!' dari Edwin.

"Makan," ucap Edwin, meletakkan sepiring nasi goreng yang mengepul di hadapan Keyla. Keyla hanya terdiam, terkejut.

Edwin menghiraukannya, ia duduk tenang di kursinya dan mulai menyantap makanannya. Keyla yang tersadar, segera mengambil sendok dan menyuapkan makanan ke dalam mulut.

Rasa masakan itu membuat Keyla hampir menjerit kegirangan. Bumbu yang begitu pas, berbeda jauh dengan masakannya tempo hari. Tanpa sadar, ia tersenyum lebar, matanya tak lepas mengagumi wajah tampan Edwin di depannya.

"Suami aku ganteng banget, beruntung banget sih aku, dapet suami kaya dan ganteng. Cewek-cewek pasti iri sama aku," batin Keyla, matanya memuja.

"Keyla," panggil Edwin, suaranya memutus lamunan Keyla.

"Ganteng," ceplos Keyla, reflek tanpa sadar.

Edwin mengangkat sebelah alisnya. Keyla seketika salah tingkah, wajahnya langsung merona merah.

"Hahaha, aku udah kenyang!" kekeh Keyla, dibuat-buat. Ia buru-buru berdiri, berjalan menjauhi Edwin, tak lupa mulutnya komat-kamit merutuki kebodohannya.

"Goblok, Key! Pake banget! Padahal perut masih laper," gumam Keyla penuh penyesalan, meninggalkan sarapan lezatnya yang masih tersisa banyak. Dengan langkah lesu, ia menuju kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya.

-BADAI-

Lima belas menit kemudian, Keyla keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah.

Cklek.

Pintu kamar terbuka lebar. Keyla menoleh cepat ke arah sumber suara.

"Hari ini aku mau ke Surabaya," ucap Edwin, dengan nada bicara yang datar, tanpa intonasi, tanpa cengkok. Keyla bertanya-tanya, apakah suaminya ini tidak bisa bicara dengan sedikit emosi?

"Lagi?" tanya Keyla, intonasinya sedikit meninggi, ada nada kekecewaan yang tak bisa disembunyikan.

"Hm," Edwin hanya membalas dengan deheman pelan, lalu berjalan ke arah lemari dan mengambil jasnya. Keyla baru sadar suaminya memang sudah mengenakan pakaian formal.

"Aku berangkat," ucap Edwin, kemudian melangkah keluar kamar, meninggalkan Keyla yang menghela napas panjang.

"Baru aja pulang, udah ditinggal pergi lagi," racau Keyla. Mendadak, semangatnya untuk beraktivitas menghilang.

Bagaimana tidak kesal? Selama menikah, Keyla lebih sering ditinggal oleh Edwin ke luar kota, bahkan luar negeri. Kapan mereka bisa berdua? Mereka bahkan belum pernah berbulan madu, atau sekadar menghabiskan waktu kencan yang romantis. Keyla ingin seperti istri-istri lain yang dimanja, bukan dianggurin seperti 'pajangan mahal'. Lama-lama ia bisa lumutan dan dipenuhi jaring laba-laba.

"Halu," gumamnya, menggelengkan kepala. Keyla mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.

Selesai dengan urusan rambut, ia mengobrak-abrik lemarinya, mengeluarkan celana jeans dan kaus santai. "Daripada nggak ada kegiatan, mending gangguin Hana," putusnya. Setiap hari, aktivitas Keyla memang hanya merecoki sahabatnya di tempat kerja.

Setelah berganti pakaian, Keyla keluar, mengambil motor matic di garasi, dan melaju menuju kafe milik Hana.

-BOM-

Keyla memarkirkan motornya di depan kafe, sejajar dengan motor-motor pelanggan lain. Melepas helm, mengambil kunci, dan berjalan memasuki kafe dengan langkah gontai.

"Hanaaaaa! Aku mau cappuccino satu! Esnya banyakin!" teriak Keyla, tanpa rasa malu, suaranya cempreng dan mengganggu ketenangan pengunjung kafe. Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya.

"Keyla! Mulut kamu bisa dikondisikan nggak sih?! Pelanggan aku bisa kabur denger suara cempreng kamu!" Hana, si pemilik kafe, berjalan cepat menghampiri Keyla, seragam baristanya masih melekat. Wajahnya menunjukkan kekesalan.

"Aku bosen di rumah, makanya ke sini. Gangguin kamu kayaknya seru," ucap Keyla, terkekeh, lalu menjatuhkan diri di salah satu meja kosong.

"Seru pala lu!" gerutu Hana, berbalik untuk kembali bekerja.

"Han! Cappuccino jumbo, esnya banyakin! Kalau perlu gratis juga nggak apa-apa!" teriak Keyla lagi, yang langsung dihadiahi pelototan maut dari Hana.

Keyla menoleh ke sekeliling, tersenyum kikuk, meminta maaf melalui pandangan mata kepada pelanggan yang jelas-jelas terganggu.

"Sinta, kamu urus pelanggan sebentar," ujar Hana kepada karyawannya.

"Siap, Mbak!" jawab Sinta.

Tak lama kemudian, Hana menghampiri Keyla, meletakkan segelas cappuccino di meja. Sesuai pesanan, minuman itu dipenuhi es batu hingga hampir meluap.

"Aku lagi kerja, kamu malah nyantai, nggak ada kerjaan lain apa?" tanya Hana, melihat Keyla sudah menyedot setengah dari minumannya. Hana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Keyla, sang maniak cappuccino.

"Ya kamu bayangin aja, Han. Suami aku baru tadi pagi pulang dari Palembang, eh sekarang aku udah ditinggal lagi ke Surabaya!" gerutu Keyla, menumpahkan unek-uneknya.

"Ya udahlah, santai aja. Biasanya juga kayak gitu kan," tanggap Hana, enteng.

"Santai-santai pala lu! Rasanya tuh kayak aku ditinggal pas lagi sayang-sayangnya! Sesek banget, Han!" ucap Keyla, yang langsung dihadiahi toyoran pelan oleh Hana.

"Daripada galau mulu, mending bantuin aku di belakang," saran Hana, seraya berdiri.

"Lah, nggak ngasih aku solusi, malah nyuruh," kesal Keyla. Ia menceritakan masalahnya untuk mendapatkan pencerahan, bukan malah disuruh bekerja.

"Ya buat suami kamu betah di rumah, gitu aja repot," kata Hana. Ide itu seolah menyentil Keyla. Kenapa tidak kepikiran? Tapi, bagaimana caranya? Keyla tidak tahu apa yang bisa membuat Edwin betah.

"Caranya?" tanya Keyla, memasang tampang serius, sambil mengikuti langkah Hana menuju dapur.

"Buat anak sama Edwin."

"Buat anak," gumam Keyla, tanpa sadar mengulang kalimat itu. Kemudian, ia tersadar penuh, matanya membelalak.

"Hana! Kamu mesumm!!!" teriak Keyla, memaki Hana.

Keyla mengambil apron dan memakainya dengan kesal. Otaknya mendadak dipenuhi hal-hal 'kotor' karena ucapan Hana. Bagaimana mungkin ia bisa membuat anak, sementara suaminya saja masih mencuekinya setengah mati?

"Dijamin manjur saran aku barusan," ucap Hana, mendekati Keyla.

"Kuping aku udah nggak perawan, minggir, Han!" kesal Keyla, yang langsung disambut kekehan geli dari Hana.

"Aku cuma ngasih saran, Key. Biasanya kalau nikah udah punya anak, suami betah di rumah. Kamu nunda punya anak, ya?" tanya Hana, matanya menatap Keyla yang asyik dengan pekerjaan di depannya.

Keyla mendadak gelagapan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia menceritakan yang sebenarnya.

Melihat gelagat Keyla yang tidak beres, mata Hana langsung membelalak, menyadari bahwa dugaannya selama ini mungkin benar.

"KEY! KAMU MASIH PERAWAN?!"

"HANA! MULUT KAMU BISA DIEM NGGAK!!" sergah Keyla, cepat-cepat menutup mulut Hana. Beruntung di dapur hanya ada mereka berdua.

"Jadi bener?! Kamu masih perawan?! Sumpah, kamu gimana sih, Key?! Udah setahun nikah masa belum ngapa-ngapain?!" serang Hana, menggebu-gebu, seraya menoyor kepala Keyla pelan.

"Wahhh, kelewatan banget si Edwin! Ada cewek cantik malah dianggurin! Lagian siapa juga yang nggak tergoda sama body kamu yang udah kayak gitar Spanyol. Nggak mungkin kan si Edwin nggak 'doyan'?" ucap Hana, panjang lebar, membuat kepala Keyla ingin meledak.

"Ya mana aku tahu! Tanya aja sama Edwin!" kesal Keyla, benar-benar tak tahu harus berbuat apa lagi.

1
Surati
bagus
wlychr
ceweknya tak tegas. 🤭
Inaina
🥰🤩🤩
Woro Wardani
😍😍😍
falea sezi
males np g Edwin aja yg mati skip g jelas
falea sezi
itu yg dlu di rasain keyla saat lu nikah ma kesya hahaha impas kan sakit g lu kapok
falea sezi
nah ngapain balik ma pembunuh dia penyebab lu stres
falea sezi
tolol mending ma raka lu tau suami mu bekas. jalang lu masih mau abis nikah g mungkin mereka gk tidur bareng oh goblok bgt lu keyy lu cm di jadiin serep doank tau gak Ban serep
falea sezi
cerai key hamil bisa cerai jangan bodoh kau
falea sezi
keyla nya np di buat bodoh
falea sezi
yg bisa Edwin g plg g di jelasin dia kemana jangan2 selingkuh ma kesya trs ketiduran
falea sezi
kn emank km goblok uda cerai urus anak sendiri bodoh
falea sezi
g mau hamil g usa buat tolol
falea sezi
cerai lah bodoh
Arayden_15
thor satuin Edwin dan keyla kembali
Arayden_15
thor ini ga ada lanjutannya kah?
Arayden_15
Edwin💔🥺
ballqiisty sirnawab .
🥺😭😭😭
Garang Anggriawan
Bang! Hayati gak bisa tidur nih gegara othor gantungin ceritanya :(
Drone Ground
Thor-nim, aku kepo banget sama lanjutannya, nih. Ditunggu crazy upnya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!