Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Berdalihkan Cinta
Tuttttt Tuttttt Tutttttt...
(Suara Handphone menyambung)
Aisyah sangat gelisah ketika ingin berbicara kepada wanita itu, tidak tau harus bersikap seperti apa kepadanya. Ia ingin sekali marah. Namun hatinya dengan sabar mengucapkan, "Astaghfirullah Alazim" sembari mengelus dadanya dengan lembut. Agar tidak tersulut emosi saat berbicara dengan seseorang yang telah merebut ayahnya dari ibunya itu.
"Hallo" Terdengar suara lembut seorang wanita dari balik handphone nya. Aisyah terlonjak kaget, dengan cepat kembali ia menetralkan perasaannya yang sempat kacau.
"Hallo" Balasnya lembut, mencoba berbicara sesantai mungkin.
"Dengan siapa ya?" Tanya seorang wanita dari seberang sana. Sebut saja namanya Maura.
Kembali Aisyah menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. Dengan tenang Aisyah menjawab, "Perkenalkan nama saya Aisyah. Anak dari Pak Wawan yang anda pacari" Jawab Aisyah tenang.
Diseberang sana hanya terdengar suara hembusan nafas kasar. Nampak seperti tidak menyukai, jika yang menelponnya itu adalah anak dari seorang pria yang sekarang menjadi pacarnya.
"Owekkkkkk Owekkkkk".
Aisyah seketika terlonjak kaget saat mendengar suara bayi menangis dari seberang sana. "Apa itu suara bayinya?" Batin Aisyah curiga.
Terdengar juga wanita itu seperti menenangkan bayi itu, membuat Aisyah semakin yakin bahwa itu memang bayinya. Aisyah juga tidak menyangka, jika benar itu adalah bayinya, apa dia begitu tidak berperasaan? Sehingga ia tega merebut pria dari seorang wanita yang juga memiliki anak kecil dan juga masih dalam keadaan hamil?.
"Maaf deg, saya sedang sibuk kita bicara nanti saja ya" Elaknya cepat.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Aisyah kembali berbicara lantang. Kali ini suaranya sedikit tegas, yang membuat wanita itu terpaksa harus mendengarkan apa yang Aisyah katakan.
"Tolong mbak! Ini penting, ini menyangkut rumah tangga kedua orang tua saya" Ucap Aisyah sedikit meninggikan suaranya.
Kembali Aisyah hanya mendengar suara hembusan nafas dari wanita itu, "Berbicaralah" Ucapnya kemudian setelah beberapa saat terdiam.
"Mbak tau kan siapa pak Wawan itu?" Aisyah bertanya dengan nada yang sedikit meninggi.
"Dia adalah ayah saya. Saya adalah anak tertuanya. Apa tadi itu adalah anak mbak?" Tanya Aisyah lagi, sebelum melanjutkan ucapannya.
"lya" Jawabnya sekenanya. Aisyah hanya menggelengkan kepala dengan kesal, tidak menyangka bahwa wanita itu memang memiliki seorang anak kecil.
"Ibu saya juga memiliki seorang bayi berumur 2 tahun seperti mbak. Dan sekarang beliau juga sedang hamil 6 bulan. Bayangkan seandainya sekarang posisi mbak ada pada ibu saya, ditinggal suami disaat sedang hamil, bagaimana perasaan mbak? Tolonglah mbak, jangan menjadi wanita jahat yang tidak punya perasaan. Jangan berbahagia diatas penderitaan orang lain, saya mohon tinggalkan ayah saya" Ucap Aisyah tegas. Tanpa sadar, Aisyah berbicara seakan dirinya sudah dewasa. Dewasa sebelum waktunya, itulah diri Aisyah.
"Saya juga tidak ingin seperti ini. Tapi saya sudah terlanjur cinta" Jawab wanita itu seakan berdalih kan rasa cinta yang membuatnya tidak ingin meninggalkan ayah Aisyah.
Ya, seperti itulah wanita penggoda, alasan yang paling mendasar adalah karena cinta.
Tutttt Tutttt Tutttt. Suara Handphone dimatikan.
Belum sempat Aisyah menjawab perkataan wanita itu, handphonenya sudah lebih dulu dimatikan olehnya. Hal itu membuat Aisyah menjadi kesal.
Dengan cepat Aiysah beristighfar, sebelum emosinya benar-benar tidak terkendali olehnya. Matanya tertuju kepada Ibunya yang sejak tadi masih menunggu kabar dari Aisyah tentang wanita itu.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya ☺️
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏