NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

BAB 25

KAMU CUMA MILIKKU

"Pacar saya nggak suka warna itu."

Lani menoleh tajam.

Pramuniaga yang memegang syal hijau ikut terdiam. Rey berdiri di samping Lani dengan tiga tas belanja di satu tangan dan jemari tangan lain mengait erat jemari perempuan itu.

"Saya belum bilang nggak suka," ujar Lani.

"Kamu tadi mengernyit."

"Aku sedang melihat harganya."

"Berarti tetap nggak suka."

Pramuniaga menahan senyum. "Mau coba warna lain, Bu?"

"Nggak usah. Terima kasih."

Lani menarik Rey keluar dari toko. Pusat perbelanjaan menjelang Tahun Baru penuh keluarga dan pasangan yang mencari tempat makan. Rey sama sekali tidak peduli pada beberapa tatapan yang mengikuti mereka. Sejak keluar dari mobil, ia tidak pernah melepaskan tangan Lani lebih dari satu menit.

"Jangan menjawab untukku," kata Lani.

"Tapi aku benar."

"Itu bukan intinya."

Rey berhenti di dekat eskalator. "Oke. Maaf."

Permintaan maafnya datang tanpa disuruh dua kali. Lani yang sudah menyiapkan ceramah malah kehilangan kalimat berikutnya.

"Sekarang boleh pegang tangan lagi?" tanya Rey.

"Sejak tadi juga belum lepas."

Rey melihat tangan mereka dan tersenyum tanpa rasa bersalah. "Berarti boleh."

Lani mendesah, tetapi ibu jarinya mengusap punggung tangan Rey ketika mereka mulai berjalan.

Di restoran, seorang laki-laki seusia Lani bertanya apakah kursi kosong di meja mereka boleh dipinjam. Rey langsung menarik kursi itu mendekat dan berkata, "Dipakai pacar saya."

Lani sedang duduk di kursi lain.

Laki-laki itu tertawa kecil, lalu memilih meja berbeda.

"Kursinya jelas kosong," kata Lani.

"Dia lihat kamu terlalu lama."

"Mungkin dia melihat daftar menu di belakangku."

"Tetap nggak suka."

Rey memindahkan semua tas ke lantai agar kursi kosong benar-benar bisa dipinjam. Kemudian ia menggeser piring Lani, memotong bagian daging yang terlalu tebal, dan menaruhnya kembali tanpa diminta.

"Aku bisa makan sendiri."

"Aku tahu. Aku cuma mau."

Jawaban itu mematikan kekesalan sebelum sempat tumbuh. Rey tidak memperlakukannya seperti perempuan lemah. Ia hanya ingin terlibat dalam setiap hal kecil, sering kali dengan cara yang terlalu besar dan terlalu terlihat.

"Semua orang memperhatikan," bisik Lani.

"Biar."

Beberapa tatapan memang berhenti lebih lama pada perbedaan usia mereka. Lani mengenali rasa ingin tahu itu, tetapi Rey menerimanya seperti udara. Ia tidak menunduk, tidak melepaskan tangan, dan tidak mencoba menyamarkan kedekatan mereka sebagai hubungan keluarga.

"Kita bukan pasangan biasa."

Rey mengunyah pelan. "Buat aku, kita pasangan. Yang bikin rumit cuma orang lain."

Lani menunduk pada piring. Di meja sebelah, seorang anak meniup kertas pembungkus sedotan sampai jatuh ke lantai. Suara tawa keluarganya terdengar ringan.

Ia ingin percaya bahwa menjadi pasangan bisa sesederhana itu.

***

Telepon dari Pak Gunawan datang ketika mereka baru kembali ke apartemen.

Lani sedang menyusun belanjaan. Rey membuka satu kotak sepatu yang berhasil diselamatkannya dari pengembalian ketika nama di layar ponsel Lani menyala.

"Jangan," kata Lani sebelum ia bergerak.

"Aku nggak ngapa-ngapain."

"Wajahmu bilang sebaliknya."

Panggilan hampir berakhir. Lani akhirnya mengangkatnya.

"Selamat malam, Pak Gunawan."

"Selamat malam, Lani. Maaf mengganggu. Saya cuma mau tanya soal Rey."

Pemuda yang disebut langsung mendekat.

"Kenapa?" tanya Lani sambil menjauhkan layar dari jangkauannya.

"Pihak kampus bilang kehadirannya membaik. Dia juga memenuhi wajib lapor. Kamu tahu dia tinggal di mana sekarang?"

"Rey sudah dewasa. Mungkin Pak Gunawan bisa tanya langsung."

"Dia jarang menjawab saya."

Rey mengambil ponsel dari tangan Lani, tetapi kali ini tidak menekan tombol apa pun. Panggilan memang sudah tersambung melalui pengeras suara karena Lani sedang menata belanjaan.

"Gue baik-baik saja," katanya.

Gunawan terdiam sesaat. "Rey? Kamu ada di sana?"

"Iya."

"Kenapa kamu pegang telepon Lani?"

"Karena aku sama dia."

Lani meraih ponsel. Rey mengangkatnya tinggi sambil merangkul pinggangnya dengan tangan lain.

"Rey, cukup."

"Kalian sering bertemu?" tanya Gunawan. Suaranya masih tenang, tetapi setiap kata lebih lambat.

"Lani yang menjamin penangguhan gue. Wajar dia ngawasin."

"Saya bertanya kepada Lani."

Rey mendekatkan mulut ke mikrofon. "Dia cuma milikku, Pa. Jadi jangan telepon bilang kangen lagi."

Keheningan di seberang membuat Lani berhenti bernapas.

"Apa maksudmu?" tanya Gunawan.

"Maksudnya Rey sedang bercanda," potong Lani. Ia berhasil merebut ponsel. "Dia masih kesal soal telepon terakhir."

"Lani," kata Gunawan, "kamu dan Rey tinggal di tempat yang sama?"

"Nggak," jawab Lani terlalu cepat.

Rey menatapnya. Senyum di wajahnya hilang.

"Saya mengerti," ujar Gunawan setelah jeda. "Tolong minta Rey pulang ke Menteng sebelum Tahun Baru. Ada urusan keluarga."

"Aku nggak pulang," kata Rey.

"Saya bicara dengan Lani."

"Dan aku jawab untuk diri sendiri."

Gunawan menarik napas panjang. "Kita bicara nanti. Selamat malam."

Panggilan terputus.

Lani memukul lengan Rey dengan gulungan struk belanja. "Kamu sudah gila?"

"Kenapa kamu bohong?"

"Karena kalau Papamu tahu, kita berdua habis."

"Biar tahu. Aku nggak takut dia."

"Aku takut!"

Suara Lani memantul di dapur kecil.

Rey terdiam. Lani jarang meninggikan suara, dan saat melakukannya, kemarahan itu selalu datang bersama alasan yang lebih dalam.

"Pak Gunawan menyelamatkan keluargaku," lanjutnya. "Dia ayahmu. Aku tidak mau hubungan kalian hancur karena aku."

"Hubungan kami sudah hancur sebelum kamu ada."

"Tetap bukan berarti kamu boleh sengaja melukainya."

Rey meletakkan ponsel di meja. "Dia pernah punya kamu. Sekarang tiap dengar suaranya, aku ingat itu."

"Aku nggak pernah jadi barang yang dimiliki dia. Aku juga bukan barangmu."

"Aku tahu."

"Kalimatmu barusan nggak menunjukkan itu."

Rahang Rey mengeras, lalu perlahan mengendur. Ia berdiri di depan Lani tanpa menyentuh.

"Maaf," katanya. "Aku nggak boleh bicara seolah kamu barang."

Lani memandangnya lama. "Dan jangan paksa aku memilih antara rasa terima kasih dan kamu."

"Aku nggak minta kamu berterima kasih dengan kembali ke dia."

"Aku tidak akan kembali."

Kepastian itu mengubah wajah Rey.

"Benar?"

"Benar. Tapi kita tetap harus berhati-hati."

Rey akhirnya meminta izin sebelum memeluk. Lani membiarkannya, meski kegelisahan di dadanya tidak ikut reda.

Di luar jendela, lampu kota berkilau seperti biasa. Di dalam apartemen, rasa bahagia mereka untuk pertama kali memiliki suara retak.

***

Di Menteng, Gunawan duduk sendiri di ruang kerja yang gelap.

Ia membuka laporan singkat dari pengemudi kantor. Beberapa malam lalu, mobil Rey terlihat di parkiran sebuah apartemen yang alamatnya tidak pernah tercatat sebagai tempat tinggal anaknya. Hari ini suara Lani dan Rey datang dari ruangan yang sama, disertai bunyi tas belanja dan pintu lemari.

Gunawan menatap riwayat panggilan Lani.

Lalu ia menekan satu nomor.

"Bantu saya cek," katanya ketika sambungan terangkat. "Belakangan ini Rey tinggal di mana, dan bersama siapa. Jangan dekati mereka. Saya cuma mau fakta."

Di meja, foto Gunawan dan Rey saat anak itu masih kecil memantulkan cahaya layar.

Untuk pertama kalinya, kecurigaan Gunawan memiliki alamat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!