Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Cemburu Tanpa Hak
Liana tidak membuka pesan Aldi.
Ia mengambil tangkapan layar dari notifikasi, menyimpan nomor, lalu memblokirnya. Setelah itu ia membersihkan sisa air mawar di meja dan kembali bekerja seolah sembilan puluh sembilan bunga tidak pernah datang.
Renard tidak mampu melakukan hal yang sama.
Pukul satu siang, ia memanggil Liana.
"Bunga tadi dari siapa?"
"Mantan yang tidak tahu diri."
"Namanya?"
"Tidak relevan dengan laporan kuartal."
Pukul tiga, ketika Liana mengantarkan kopi, ia bertanya lagi.
"Kenapa mantanmu masih mengirim bunga?"
"Karena dia belum paham kata selesai."
Pukul empat lewat dua puluh, Renard menghentikannya di dekat mesin kopi.
"Kamu akan menemuinya?"
Liana meletakkan cangkir. "Pak Renard sudah bertanya tiga kali."
"Aku butuh jawaban yang jelas."
"Tidak. Saya tidak akan menemuinya. Saya juga tidak akan kembali kepadanya. Apakah sekarang Bapak bisa fokus bekerja?"
Renard mengambil kopi. "Aku selalu fokus."
"Tentu."
Elvin Gunawan datang tepat saat Liana berbalik. Psikiater itu memandang wajah Renard, bunga yang tampak dari tempat sampah di lorong, lalu punggung Liana.
"Saya datang pada waktu yang menarik."
"Terlambat dua menit," kata Renard.
"Dan kamu sedang cemburu."
Liana mempercepat langkah agar tidak terlihat mendengar.
Di dalam kantor, Elvin menutup pintu. "Kamu melempar sembilan puluh sembilan mawar ke tempat sampah?"
"Mengganggu area kerja."
"Tentu. Alergi bunga?"
"Tidak."
"Alergi pada laki-laki yang mengirim?"
Renard menatapnya tajam.
Elvin duduk tanpa diundang dan membuka tablet pemeriksaan. "Jangan-jangan kamu menyukai dia."
"Tidak."
"Cepat sekali."
"Tidak mungkin."
"Tiga penolakan biasanya cukup. Kamu baru dua."
"Aku tidak menyukai Liana."
Elvin tersenyum. "Tiga. Sekarang kita bisa mulai pemeriksaan."
Renard ingin mengusirnya, tetapi Elvin sudah memasang alat pengukur tekanan darah. Hasil fisiknya lebih baik. Frekuensi mual turun, tidur membaik, dan serangan akut tidak berulang sejak Senin.
"Kontak dengan Liana?" tanya Elvin.
"Aku bisa menerima benda yang dia berikan. Bisa berada dekat dengannya. Menyentuh kulitnya tidak menimbulkan mual."
"Hanya tidak mual?"
Renard teringat pelukan di lorong. "Kadang aku ingin menyentuh lebih lama."
Elvin menurunkan tablet. "Itu bukan lagi data mysophobia. Jangan campur kebutuhan medis dengan hak atas tubuh orang lain."
"Aku tahu."
"Bagus. Dan jangan gunakan posisi atasan untuk mengatur siapa yang boleh mendekatinya. Cemburu bukan izin."
Renard melihat ke luar. Liana sedang berbicara dengan Bayu, wajahnya kembali tenang.
"Aku tidak cemburu."
Elvin memasukkan alat ke tas. "Kondisimu membaik. Kebohonganmu tidak."
Ia belum langsung pergi. Elvin meminta Renard berdiri di dekat pintu, lalu memanggil Rizal masuk untuk menyerahkan satu map. Ketika map diberikan, Renard meminta diletakkan di meja dan tidak menyentuh tangan asistennya.
Setelah Rizal keluar, Elvin berkata, "Sekarang panggil Liana."
"Untuk apa?"
"Observasi."
Liana masuk membawa tablet. Elvin sengaja menjatuhkan pena di dekat kakinya. Mereka berdua membungkuk, dan tangan Liana tak sengaja menyentuh punggung tangan Renard saat mengambilnya.
Renard tidak menjauh. Tubuhnya justru berhenti seolah ingin mempertahankan sentuhan itu.
"Terima kasih," kata Elvin sambil menerima pena. "Cukup."
Liana memandang mereka curiga. "Saya baru saja dijadikan bagian pemeriksaan?"
"Tes refleks," jawab Elvin.
"Dengan menjatuhkan pena?"
"Metode modern."
Setelah Liana keluar, Renard menyipitkan mata. "Kamu sengaja."
"Dan kamu membuktikan jawabannya. Responsmu kepada dia bukan sekadar tidak mual. Kamu mencari kontak. Mulai sekarang, catat setiap sentuhan di luar serangan akut dan alasannya."
Elvin meninggalkan lembar evaluasi di meja. Kolom pertamanya bertuliskan: Apakah dia menyetujui?
***
Sabtu tengah malam, Renard mengikat kain sutra hitam dengan gerakan lebih keras dari biasanya.
Liana masuk sebagai Nona Terapis, memeriksa simpulnya, lalu mencatat suhu dan tekanan darah. Angkanya normal. Emosinya tidak.
Renard sangat diam selama dua puluh menit pertama. Ia membiarkan Liana menyentuh bahu dan lengan, tetapi tidak melontarkan candaan atau pertanyaan.
Liana mengurangi tekanan ketika menemukan otot di bahu kirinya kaku. Ia mengarahkan napas dengan ketukan teratur: empat hitungan masuk, enam hitungan keluar. Pada putaran kelima, detak di leher Renard mulai melambat.
Ia menyentuh ujung jari Liana, meminta tangan itu kembali ke dadanya.
"Boleh?"
Satu ketukan.
Telapak Liana menempel di atas kemeja tipisnya. Renard menangkupnya, bukan karena gejala, melainkan karena membutuhkan keberadaan yang tidak menuntut jawaban.
"Aku membuang bunga orang lain," katanya. "Seharusnya aku tidak punya hak."
Liana menulis, B-e-n-a-r.
"Kamu terlalu jujur."
I-a.
"Tapi dia ketakutan saat melihat kartunya."
Liana berhenti. Renard rupanya tidak hanya melihat bunga. Ia melihat lukanya.
Ia menulis, M-e-l-i-n-d-u-n-g-i b-u-k-a-n m-e-m-i-l-i-k-i.
Renard membaca pelan. "Melindungi bukan memiliki."
Satu ketukan.
Kalimat itu tinggal di antara mereka sebagai batas baru yang sama pentingnya dengan dua ketukan untuk berhenti.
Liana menulis di telapak tangannya. M-a-r-a-h?
"Tidak."
Ia menggarisbawahi tanda tanya.
Renard mengembuskan napas. "Ada seseorang di kantor."
Liana menunggu.
"Asistenku. Mantannya mengirim bunga."
Jari Liana berhenti di bahunya.
"Aku membuang bunga itu."
Ia menulis, K-e-n-a-p-a?
"Mengganggu meja."
Liana mengetuk lengannya tiga kali, kode baru untuk jawaban yang tidak dipercaya.
"Kamu juga menertawakanku?"
Ia menulis, C-e-m-b-u-r-u.
Renard menangkap jarinya. "Aku tidak cemburu."
Liana mengulang tiga ketukan.
Kali ini Renard benar-benar tertawa, tetapi suara itu cepat menghilang. Ia mendekat dan menarik napas di rambut Liana. Aroma manis mulai muncul karena jantungnya berdebar.
"Kalau saja kamu ini orang yang aku kenal," katanya sangat pelan.
Tangan Liana di dadanya berhenti setengah detik.
Ia tahu siapa yang dimaksud.
Pada siang hari, Renard menanyakan mantannya tiga kali. Pada malam hari, pria itu berharap perempuan anonim di pelukannya adalah asistennya.
Renard menarik napas lagi. "Aromamu terasa familiar."
Ia menggeser wajah lebih dekat ke lekuk leher Liana, tetapi berhenti sebelum menyentuh. "Setiap kali kamu gugup, aromanya lebih kuat. Asistenku juga punya wangi samar seperti ini saat dia takut."
Liana memaksa napasnya melambat. Semakin ia berusaha menyembunyikan reaksi, semakin manis aroma kulitnya.
Ia menulis, B-a-n-y-a-k o-r-a-n-g m-e-m-a-k-a-i m-e-l-a-t-i.
"Ini bukan parfum."
Jari Renard menemukan denyut di pergelangannya. "Dan detakmu berubah setiap kali aku menyebut dia."
Liana menarik tangannya. Renard tidak mengejar, tetapi kecurigaan telah mengubah cara ia duduk. Tubuhnya masih tenang. Pikirannya mulai memburu.
Liana menahan udara di paru-paru. Ia mencoba menarik tangan, tetapi Renard menggenggam pergelangannya.
Jari pria itu bergerak ke simpul kain hitam.
"Siapa kamu sebenarnya?"
Liana menahan pergelangan tangan itu sebelum simpul tersentuh. Kain hitam tetap pada tempatnya, tetapi pertanyaan Renard telah membuka celah yang tidak bisa ditutup kembali. Minggu depan, ia mungkin tidak lagi puas dengan aroma dan detak jantung.
Segera, ia akan mencari wajah di balik semuanya.