Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Sisi gelap kehidupan mewah taipan.
Griya tawang, Element world hotel.
Tit… tit… tit…
Notifikasi pada layar iPhone 17 yang tergeletak di meja Nakas membuat pemiliknya terbangun, padahal dia baru tidur tiga jam lalu. Bibir tipis merahnya mengerang pelan, lalu dia terpaksa membuka mata yang masih terasa berat dan berair.
"Aish… siapa sih yang berani menggangguku di hari libur? Sialan."
Ethan—panggilan akrab Ethan Spencer Eko Argantara, terpaksa meraih ponselnya, mengucek mata yang masih merah, lalu mendesah malas saat membaca pesan dari ibunya.
"Ethan. kau tidak lupa kan tanggal 28 November adalah ulang tahun Ayahmu? Bangun cepat pemalas, atau Mommy akan segera menikahkan kamu dengan Jessika!"
"Aish sialan! Mommy selalu saja merusak hari liburku, tau begitu aku tak pulang ke Jakarta." Dia duduk di tepi ranjang, memijat pelipis yang terasa pening, sambil terus menggerutu mengeluh nasibnya. Padahal hidupnya sangat beruntung tinggal di kamar seluas ini, di Penthouse lantai 58 gedung Element World Hotel.
Ethan bangkit merenggangkan tubuh yang kaku. Dia nyaris memekik saat sadar tak mengenakan apa-apa selain celana dalam berwarna cokelat, yang kini terasa sempit karena reaksi alami tubuhnya.
"Sialan… aku lupa semalam Sera datang ke sini."
Dia mengerang kesal. Dini hari tadi sepulang ke penthouse, disambut pelayan muda yang baru bekerja dua bulan itu, Ethan langsung menyeret gadis itu untuk melayaninya—karena saat bersenang-senang dengan perempuan di klub malam dia belum merasa puas sepenuhnya. Dan kini seperti biasa, keinginan pria itu kembali bangun saat pagi hari, namun sayang dia sendirian tanpa ada yang bisa melayaninya.
Ethan kesal saat menyadari hasratnya yang begitu tinggi. Belum lagi hidupnya kini terasa terkekang karena perintah ibunya pada Hoshi dan Denny pengawal pribadinya, dilarang keras membawa wanita manapun ke dalam penthouse sampai waktu yang tak ditentukan. Ethan hanya bisa mengumpat dalam hati, inilah yang dia sebut nasib sialnya.
Ethan berjalan menuju ruang ganti sambil memakai kaos putih, menempelkan jari pada pemindai sidik jari, dan pintu kaca pun terbuka lebar. Ruangan luas itu penuh dengan koleksi pakaian dan barang-barang pribadinya.
Dia melempar kaos piyama yang tadi dipakai ke keranjang kotor, lalu mengambil jubah mandi. Sepertinya pagi ini dia perlu berendam lama untuk menenangkan pikiran dan hasratnya.
Baru saja selesai bercukur dan memakai jubah mandi putih sambil mengeringkan rambut hitamnya, ponselnya bergetar lagi. Kali ini nama Marcus yang muncul di layar.
"Halo, ada apa meneleponku?"
"Bang, aku sudah menunggu di meja makan sejak tadi! Sarapanku saja sudah habis, aish lama sekali."
"Untuk apa menungguku? Kamu sepertinya tidak ada kerjaan." Ethan menjawab cuek sambil memilih kemeja santai berwarna abu-abu, kaos leher tinggi putih, dan jas hitam bergaris serasi. DIa memang cukup pandai merawat penampilan meski terkadang gayanya agak unik.
"Tentu saja untuk pergi ke toko perhiasan dan Dept store Element milikmu! Apa kamu lupa kita harus mencari hadiah untuk ulang tahun om Victor malam ini?!"
"Haish… baiklah sebentar lagi aku ke sana!"
Klik.
"Dasar cerewet sekali, setan jerawatan itu sungguh menyebalkan!" Sambil terus menggerutu, dia berpakaian lengkap lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Benar saja, dia bangun terlalu siang.
Ethan berjalan menuju ruang makan. Dia mendengus kesal melihat sepupunya yang sedang menggoda salah satu pelayan—Marcus Hotman Morgan tertawa lepas sambil mencolek pinggang ramping Sera.
"Ehem… siapa sebenarnya tuan rumah di penthouse ini?" Keduanya menoleh kaget. Marcus langsung tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal, menatap tajam Ethan yang sudah duduk di kursi makan sambil menunjuk meja yang masih kosong.
"Cepat siapkan sarapanku sekarang! Jangan bermain-main lagi dengan orang ini."
"Ba… baik Tuan Muda." Dia duduk berhadapan dengan Marcus yang tersenyum miring.
"Semalam kamu habiskan waktu di klub lagi?"
Ethan hanya mengangguk sekilas dan menikmati roti lapis yang disajikan pelayan muda itu.
"Bersama Serly? Jam berapa kau pulang semalam?" Pelayan muda itu ikut mendengarkan sambil menggigit bibir, menahan rasa cemburu saat melihat tuan mudanya yang terkenal playboy dan cassanova itu hanya tersenyum santai.
"Jam tiga pagi. Dan sialnya, sejak aku dilarang membawa wanita ke sini, kebebasanku berkurang drastis."
Marcus tertawa terbahak-bahak hingga hampir tersedak kopinya. Dia menggeleng-geleng tak percaya mendengar jawaban sepupunya yang begitu blak-blakan.
"Astaga, apa kamu tidak sadar? Penolakanmu pada perjodohan dengan Jessika saja sudah membuat om Victor pusing. Sudahlah, kurangi main-main mu itu, bang."
"Jangan sok tahu! Lagipula wanita yang aku kencani tak pernah protes atau menolak."
"Baiklah, asal jangan sampai membuat perut wanita yang kau tiduri membuncit saja, haha… om bisa kena serangan jantung jika tahu."
"Aish sialan kau!"
"Jangan sampai juga kehabisan kondom mu bang, haha!" Marcus berdiri, merapikan jas dan dasi hitamnya bersiap berangkat ke pusat Dept store dan mal keluarga mereka.
"Sudah kesiangan, kita harus keliling mengecek beberapa toko juga, ini tugas rutin kita."
"Baiklah. Kamu turun dulu ke lobi, nanti aku menyusul."
"Siap." Marcus mengangguk tanpa curiga lalu melangkah keluar ruangan. Kini hanya tersisa Ethan dan pelayan berseragam putih itu.
"Kenapa kau tidak mengambil pakaian kotor ke ruang cuci tadi?"
"Maaf Tuan Muda… saya tadi sedang sibuk."
Wajah gadis itu tampak gugup. Dia menggigit bibirnya sedari tadi, tak berani menatap lama Ethan yang tampak begitu mempesona dengan wangi parfum maskulinnya.
"Ada tujuh pelayan di rumah ini, dan kamu tidak lupa kan kalau kamu adalah pelayan pribadiku?"
Pribadi di sini artinya dia harus siap kapanpun Ethan membutuhkannya. Dan seperti sifatnya yang tak suka dibantah, dia akan marah jika wanita yang menjadi sasaran keinginannya menghindar. Ethan menarik pinggang ramping gadis itu hingga dia jatuh terduduk di pangkuannya. Sera tampak panik takut ada orang yang lewat.
"Kenapa? diamlah, Ini rumahku, takkan ada yang berani masuk tanpa ku panggil."
"Tuan Muda… sebenarnya kemarin Nyonya Besar memarahiku karena tahu akulah yang merapikan kamar Tuan Muda, bukan Bibik Wina."
"Mommy datang ke sini kemarin? Kenapa tak ada yang memberitahuku?"
"Maafkan saya, nggak ada yang berani bilang saya juga takut. Nyonya Besar bilang mulai sekarang hanya Bibi Wina yang boleh melayani Tuan Muda, pelayan lain dilarang masuk kamar."
"Haish sialan! Apa-apaan mommy ini?!"
Ethan tampak terkejut. Gadis itu mengangguk pelan sambil memainkan kancing kemejanya dengan manja, mengusap rahang tegas Ethan yang tampak menggoda.
"Apa sih sebenarnya yang Mommy inginkan? Semuanya harus diatur, aku seperti anak kecil saja!" Ethan menggeleng kesal. Dia sudah bosan dengan paksaan ibunya yang setiap hari mendesaknya menikah, dan kini kesenangan pribadinya pun ikut diganggu.
"Jadi saya tak berani masuk kamar Tuan Muda tadi… maafkan saya." Ethan mengangguk paham. Dia menyeringai sambil membuka dua kancing teratas seragam putih gadis itu, lalu memasukkan tangannya ke dalam menyentuh lembut buah dada yang masih tertutup, membuat gadis itu menggeliat gelisah.
"Tuan Muda Ethan… ah!"
"Main sebentar saja. Tenang, takkan lama."
Ethan tersenyum nakal, menggesekkan tubuhnya di paha gadis itu sambil mencium lehernya yang mulus. Gadis itu meremas jasnya, mendesah saat bibir Ethan mulai menjelajahi kulitnya dengan ganas setelah menyingkap pakaiannya.
"Tuan Muda… aku tak tahan lagi." Ethan terus menciumnya dengan terampil dan panas, memainkan tubuhnya dengan lihai, mengangkat rok seragam itu dan memasukkan tangannya ke area yang paling yang sudah basah kuyup karena sentuhannya.
"Puaskan aku sebentar, cepat!"
"Tapi aku takut… ah!"
"Stt diamlah… ayo, cepat!" Pelayan muda itu menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang saat melihatnya membuka ikat pinggang dan ritsleting celana majikannya meminta dilayani.
Ethan mengancingkan kembali celananya dengan senyum kepuasan yang dingin. Sambil menyemprotkan parfum maskulinnya, ia menatap pantulan dirinya di cermin raksasa. "Menikah sepihak? Pilihan orang tua? Cih, tidak akan pernah terjadi dalam hidupku."
Pria itu melangkah lebar menuju lift privat, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa jam lagi di department store, egonya yang setinggi langit akan dihantam hancur oleh seorang gadis bernama Nayla Syakila Atmaja.