NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Aroma karbol dan disinfektan masih terasa menempel di pori-pori kulit Cia, meskipun ia sudah mandi dan mengganti scrub hijaunya dengan piyama katun bermotif beruang. Jam dinding menunjuk angka delapan malam. Bagi seorang koas bedah yang baru saja menyelesaikan jaga malam 24 jam dan disambung stase poli seharian, kasur adalah satu-satunya surga yang ada di benaknya.

Namun, surga itu harus tertunda.

Di ruang makan apartemen keluarga yang hangat, makan malam sudah terhidang. Cia duduk dengan mata setengah terpejam, mengunyah tumis kangkung buatan ibunya dengan gerakan lambat bak kungkang.

"Makan yang benar, Cia. Nanti kamu tersedak," tegur Mama lembut, menyendokkan sepotong ayam goreng ke piring putri bungsunya itu.

Cia hanya menggumam tidak jelas, matanya hampir sepenuhnya tertutup. "Ngantuk banget, Ma. Tadi di IGD ada pasien kecelakaan beruntun, Cia sampai lari-larian ambil kantong darah..."

Sang Ayah, yang duduk di ujung meja, meletakkan sendok dan garpunya. Bunyi dentingan logam yang beradu dengan piring keramik itu terdengar pelan, namun cukup tegas untuk memecah keheningan. Ayah berdeham, menatap Cia dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya.

Cia yang peka terhadap perubahan atmosfer di rumahnya, perlahan membuka mata sepenuhnya. Kantuknya menguap tipis-tipis.

"Ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu, Almeera," ucap Ayah. Nada suaranya rendah, nyaris tanpa intonasi.

Jika Ayah sudah memanggilnya 'Almeera', Cia tahu ini bukan obrolan tentang tagihan listrik atau rencananya mengambil spesialisasi. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu menegakkan punggung, menggigit bibir bawahnya refleks. "K-kenapa, Pa? Nilai stase Cia ada yang jelek? Atau Papa sakit?"

Ayah tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar foto berukuran 4R, dan meletakkannya tepat di sebelah piring Cia.

"Bulan depan, kamu menikah."

Hening.

Dunia Cia seolah berhenti berputar selama tiga detik penuh. Suara detik jam dinding di ruang tengah mendadak terdengar sepuluh kali lipat lebih keras. Cia mengerjap, menatap ayahnya, lalu beralih menatap ibunya yang hanya tersenyum tipis dengan raut sedikit bersalah, dan kembali menatap ayahnya.

"P-Papa bilang apa tadi?" Cia tertawa sumbang, sebuah kebiasaan saat ia merasa gugup. "Nikah? Papa bercanda, kan? April Mop masih lama, Pa. Lagian, Cia ini masih koas. Tidur aja Cia masih meluk guling. Masak air aja kadang Cia lupa sampai pancinya gosong. Cia—"

"Papa tidak bercanda." Ayah mendorong foto itu lebih dekat ke arah Cia. "Lihat fotonya. Namanya Ren Adhyaksa. Kapten TNI Angkatan Darat. Usianya dua puluh tujuh tahun, anak dari sahabat lama Papa."

Tangan Cia yang sedikit gemetar meraih foto tersebut. Di atas kertas cetak mengkilap itu, terpampang wajah seorang pria dalam balutan seragam loreng. Wajahnya bersudut tegas, dengan rahang yang kokoh dan alis tebal yang menaungi sepasang mata elang yang tajam. Pria itu tidak tersenyum sama sekali. Tatapannya dingin, menembus lensa kamera seolah-olah ia sedang bersiap menghabisi musuh di medan perang, bukan berfoto untuk dikenalkan pada calon istri.

Buset, ini orang atau kanebo kering? batin Cia menjerit.

"Pa..." Cia meletakkan foto itu kembali, seolah benda itu baru saja menyengat tangannya. Napasnya mulai memburu, kebiasaannya mengomel sendiri saat panik mulai mengambil alih. "Pa, ini bukan zaman Siti Nurbaya. Cia nggak kenal dia! Lagian, tentara? Yang benar saja? Cia baru patah hati tahun lalu karena Davin, Pa! Cia nggak mau—"

"Davin itu masa lalu, dan pria ini masa depanmu," potong Ayah, nadanya tidak tinggi namun mutlak. "Keluarga Adhyaksa sudah setuju. Besok malam, Ren akan datang ke sini untuk makan malam dan berkenalan denganmu. Kosongkan jadwalmu."

Cia menatap ibunya, mencari pertolongan, namun Mama hanya mengusap punggung tangan Cia pelan. "Dia pria yang baik, Sayang. Percaya sama Papa."

Percaya? Cia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Bagaimana ia bisa percaya pada masa depan yang diputuskan dalam waktu kurang dari lima menit, dengan pria yang wajahnya saja terlihat seperti bisa membekukan air mendidih?

"Cia nggak mau," bisik Cia, keras kepala. Ia menatap lurus ke mata ayahnya. "Cia berhak nentuin masa depan Cia sendiri."

"Keputusan Papa sudah bulat, Almeera."

Cia meremas serbet di pangkuannya, menahan air mata frustrasi yang mulai menggenang. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia bangkit dari kursi, mengabaikan piringnya yang masih setengah penuh, dan berjalan setengah berlari menuju kamarnya.

Bantingan pintu terdengar cukup keras, meninggalkan sisa makan malam yang terasa hambar.

Di tempat lain, berjarak belasan kilometer dari kehangatan apartemen keluarga Cia, udara terasa jauh lebih kaku dan dingin.

Di dalam ruangan kerja di barak militer, seorang pria duduk tegap di balik meja kayunya. Lampu neon di atas kepala memancarkan cahaya putih yang mengekspos tumpukan map berisi laporan operasi dan sebuah bingkai kecil berisi lambang kesatuannya.

Kapten Ren Adhyaksa bersandar pada kursinya. Seragam dinas hariannya masih melekat rapi, tanpa satu lipatan pun yang salah tempat. Di atas meja, tepat di depan tumpukan dokumennya, tergeletak sebuah ponsel yang layarnya menyala, menampilkan sebuah foto yang dikirimkan oleh ayahnya satu jam yang lalu.

Foto seorang gadis muda dengan jas putih dokter yang kebesaran. Gadis itu tersenyum lebar ke arah kamera, matanya menyipit membentuk bulan sabit, pipinya sedikit membulat, dan rambutnya dikuncir asal-asalan. Terlihat ceroboh. Terlihat terlalu... bercahaya.

Telunjuk kanan Ren mengetuk permukaan meja kayu itu dengan ritme yang teratur dan lambat. Tuk. Tuk. Tuk.

Wajahnya datar, tidak ada sebersit pun emosi yang terbaca dari mata tajamnya. Ia terus mengetuk meja, sebuah kebiasaan yang selalu muncul saat otaknya sedang memproses sebuah beban baru.

Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan, disusul suara langkah sepatu bot yang mantap namun santai.

"Laporan rekap logistik sudah gue taruh di meja... Wih!" Bima, seorang Letnan Satu yang juga sahabat karibnya sejak masa pendidikan, menghentikan langkahnya tepat di depan meja Ren. Matanya yang jail langsung menangkap layar ponsel Ren sebelum pria itu sempat mematikannya.

"Gila. Jadi juga komandan kita ini dijodohin?" goda Bima, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja Ren sambil tersenyum lebar. "Bening bener, Ndan. Dokter, ya? Koas?"

Ren menatap Bima dengan pandangan dingin yang biasanya cukup untuk membuat prajurit baru kencing di celana. Namun, Bima sudah terlalu kebal. Ia mematikan layar ponselnya dengan satu gerakan cepat, memasukkannya ke dalam saku, lalu kembali menatap tumpukan berkas di depannya.

"Keluar. Ketuk pintu dulu sebelum masuk," ucap Ren. Suaranya berat, bariton, dan tanpa intonasi. Singkat, padat, jelas.

"Yaelah, kaku amat kayak kanebo baru," kekeh Bima. Ia menarik kursi di depan meja Ren dan menghempaskan diri di sana. "Serius, Ren. Kolonel Arman beneran maksa lo nikah bulan depan? Lo kenal aja nggak sama cewek ini. Usianya berapa? Kelihatannya masih bocah banget."

"Dua puluh dua," jawab Ren singkat. Tangannya meraih pena, mulai menandatangani berkas tanpa menatap Bima.

"Beda lima tahun. Lo dua puluh tujuh dengan jiwa bapak-bapak usia empat puluh, dia dua puluh dua dengan jiwa Gen Z yang masih suka nongkrong di kafe aesthetic," Bima menggeleng-gelengkan kepala dramatis. "Bisa hancur markas kalau lo bawa dia tinggal di rumah dinas. Cewek-cewek seumur dia itu rapuh, Ren. Ditinggal satgas sebulan aja nangisnya bisa ngalahin sinetron Indosiar. Lo yakin mau nerima?"

Gerakan tangan Ren yang sedang membubuhkan tanda tangan terhenti. Ujung penanya menekan kertas sedikit terlalu kuat, meninggalkan titik tinta yang melebar.

Ia mengangkat wajahnya. Sorot matanya berubah menjadi sesuatu yang sulit diartikan—ada ketegasan, namun terselip sebuah bayangan gelap yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat.

"Ini tugas, Bim," ucap Ren pelan namun tajam.

"Pernikahan bukan tugas militer, Ren. Lo nggak bisa menyamakan istri sama senjata yang lo rawat pakai buku panduan." Bima membalas, kali ini nada suaranya sedikit lebih serius.

Ren meletakkan penanya. Pandangannya beralih ke jendela kaca di sebelah kirinya, menatap kegelapan malam di luar markas. Dalam kepalanya, terngiang kembali percakapannya dengan sang ayah, Kolonel Arman, beberapa malam lalu. Sebuah fakta tentang utang nyawa di masa lalu yang membuat Ren kehilangan hak untuk menolak.

Ia tahu risiko pekerjaannya. Ia tahu tangannya yang kasar ini lebih terbiasa memegang senapan daripada menggenggam tangan seorang wanita. Ia merasa dirinya tidak pantas menarik seorang gadis yang penuh cahaya ke dalam dunianya yang penuh dengan darah, debu, dan ketidakpastian.

Namun, perintah adalah perintah. Dan utang harus dibayar.

"Besok malam gue izin keluar barak. Jam tujuh," kata Ren, mengabaikan petuah Bima sepenuhnya. Matanya kembali menatap tumpukan berkas dengan dingin.

Bima mendesah pelan, menyerah. "Mau ngapain lo? Perang?"

"Makan malam. Bertemu calon istri."

Di seberang kota, di atas kasurnya, Cia tengah berguling dengan gelisah sambil menggigit ujung bantalnya. Otaknya menyusun seribu satu skenario pemberontakan.

Lihat saja besok, Kapten Kulkas, batin Cia berapi-api. Aku bakal bikin kamu yang minta perjodohan ini dibatalin. Nggak peduli kamu pakai seragam loreng atau bawa tank sekalian!

Tanpa Cia sadari, dan tanpa Ren akui, jarum takdir yang akan menjahit kehidupan mereka yang bertolak belakang baru saja mulai bergerak. Dan tidak ada satupun dari mereka yang siap dengan apa yang menanti di ujung benangnya.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!