Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Ryuga
Dorr!
Dooor!
Doorrr!
Suara tembakan saling bersahutan. Di tengah tanah lapang itu, dua kubu sedang bertarung sengit.
Satu pihak, berusaha untuk mempertahankan keselamatan, sementara pihak lain berusaha untuk meringkus.
Dengan langkah tegap, pria yang memakai baju tertutup itu berjalan di tengah desingan peluru. Ia yang baru bergabung, langsung memberondong tembakan ke arah lawan tanpa henti.
Langkahnya tanpa ragu, terus maju di antara peluru yang beterbangan. Hanya dalam hitungan menit, ia berhasil meluluh lantakkan lawan di depannya.
Sosoknya sangat di segani di kalangannya. Namanya cukup terkenal di dunia bawah sebagai pria yang sepak terjangnya sangat mengerikan.
Tak hanya di Negaranya, namanya pun menggema dengan lantang di Negara lain. Baik itu di kalangan militer maupun di kalangan Mafia, semua pasti mengenal sosoknya.
Pria dingin itu memiliki julukan CK (Sikey) atau Coffin King yang berarti Raja Peti Mati. Dengan gagahnya, Ia berhasil menundukkan Mafia - Mafia besar yang bermain di dunia bawah. Semua 'pemain' itu, seolah barada di bawah kakinya.
Namun, pria berwajah tampan itu memiliki sisi lain yang tak banyak di ketahui. Dia adalah pria yang sangat lembut pada orang terdekatnya. Meski ketegasannya tak pernah luntur, namun, semua orang yang ada di dekatnya mengakui kelembutan hatinya.
"Kapt!" Salah seorang Juniornya menghampiri dengan tergopoh - gopoh.
"Tolong beresin semua, gue ada urusan." Titahnya sembari menepuk pelan pundak Juniornya.
"Siap, Kapt!" Jawab Juniornya dengan patuh.
Dengan mobil yang sudah disiapkan, ia segera menuju ke Markas. Pria tampan itu menghela nafas panjang. Sesekali netranya tertuju pada jam yang ada di layar di hadapannya.
"Tolong lebih cepat, Pak." Pintanya. Nadanya terdengar halus saat meminta tolong pada supir andalan Markas.
"Siap!" Jawab si Supir. Keduanya pun mulai mengobrol untuk mengusir penat selama di perjalanan.
Setelah sampai di Markas, ia segera berlari menuju ke ruangannya untuk berganti pakaian. Begitu ponselnya ia nyalakan, puluhan notifikasi masuk tanpa jeda, hingga membuat ruangannya sangat berisik dengan nada notifikasi itu.
Namun, sepertinya pria itu sudah terbiasa. Ia tetap santai mengganti pakaiannya dengan pakaian semi formal yang sudah ia siapkan.
Setelah selesai berganti, Ia segera keluar dan berjalan menuju ke tempatnya memarkirkan mobil.
"Yu!" Terdengar suara seseorang yang tak asing di telinganya.
Orang itu berada tiga pangkat di atasnya dan dialah pria yang sudah ia anggap seperti Ayahnya saat sedang di 'lapangan'.
"Sir!" Sapa Ryu pada Elno. Sahabat Ibunya yang kini menjabat sebagai Pimpinan di Markas Agen Rahasia.
"Ah! Bundamu baru telfon." Kata Elno.
"Sir, gak datang?" Tanya Ryu.
"Sir titip hadiah untuk Bunda aja. Salam buat Yanda. Sir harus rapat bersama Jendral." Jawab Elno sembari memberikan sebuah totebag kecil yang berisi hadiah untuk Fey.
"Sir gak takut kena omel Bunda?" Tanya Ryu.
"Nanti biar Sir suruh Yanda peluk Bundamu erat - erat supaya marahnya reda." Kekeh Elno yang kemudian berlari menuju ke mobilnya.
Ryu tersenyum sekilas menatap punggung duda merana yang sebatang kara itu. Elno, di tinggal istrinya yang meninggal akibat sakit kanker yang di deritanya. Ia tak memiliki keturunan dan menganggap anak - anak Sahabatnya, seperti anaknya sendiri.
Dengan kecepatan tinggi, Ryuga mengendarai mobilnya menuju ke salah satu Restoran yang di sewa untuk merayakan ulang tahun Bundanya.
Begitu sampai di Resto, ia segera turun dari mobil dengan membawa dua hadiah. Satu dari Elno dan satu lagi adalah hadiah yang sudah ia siapkan.
"Loh! Abang baru sampe?" Tanya seorang pria yang tampak mirip dengannya. Meski memang tak setampan Ryuga.
"Kamu juga, kok baru sampe?" Tanya Ryuga pada Aslan, adiknya.
"Aku habis ada meeting." Jawab Aslan yang kini mengurus Mall bersama sang Ayah.
Dua pria itu berjalan cepat menuju ke ruangan yang nampak sudah ramai dengan kehadiran keluarga dekat mereka.
"Astaga, kalian berdua! Acara udah mau selesai tapi kalian baru dateng." Omel Gian.
"Lupa, kalo hari ini Bunda ulang tahun?" Omel Fey.
"Enggak lah, Bunda." Jawab Ryuga dan Aslan bersamaan.
"Maaf ya, Bunda. Selamat ulang tahun, Cantik." Ucap Ryu yang kemudian mengecup kedua pipi wanita terkasihnya. Wanita yang selama ini mengajarinya untuk menjadi sniper yang andal.
"Selamat bertambah tua, Cinta pertamaku. Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas plus - plus." Ucap Aslan sambil tersenyum. Ucapan itu tentu membuat Fey dan Gian tertawa saat mendengarnya.
"Ini, Bun, titipan dari Papa El." Kata Ryu sembari menyerahkan hadiah dari Elno.
"Kemana duda gila itu? Bener - bener, ya. Katanya mau dateng, berani - beraninya dia bohongin Bunda." Ujar Fey.
"Sayang..." Kekeh Gian sambil merangkul istrinya.
"Dia ada meeting, Bun." Jawab Ryu.
"Bunda kayak gak tau Papa El aja. Masih untung dia inget ulang tahun Bunda." Sahut Aslan.
"Ini hadiah dari Ryu. Sekali lagi, selamat ulang tahun ya, Bun." Ucap Ryu.
"Makasih, Sayang." Jawab Fey.
"Nah, ini dari Aslan. Jam tangan yang pasti Bunda suka." Ujar Aslan. Pekerjaannya yang berurusan dengan Mall, membuatnya mengerti dengan selera fashion Bundanya.
"Waah, makasih ya, Sayang." Ucap Fey sambil tersenyum senang.
Kehidupan Fey sungguh sangat membahagiakan. Ia di treat layaknya seorang Permaisuri oleh ketiga pria yang ia Cintai. Bahkan, tak jarang tiga pria itu saling bersaing untuk membuatnya bahagia.
"Aduh, anak - anak ganteng ini. Sibuk banget deh, ya. Acara Bundanya udah selesai, tapi baru pada nongol." Kata Gita.
"Eh, Mommy." Ryuga dan Aslan kemudian menyalami dan memeluk Gita.
"Biasa Mi, Yanda sengaja kasih aku kerjaan mendadak, biar cuma Yanda yang kelihatan bagus di depan Bunda." Celoteh Aslan.
"Bisa - bisanya kamu fitnah Yanda." Protes Gian sembari melempar kentang goreng ke kepala Putra keduanya.
"Ini, Freezer seribu liter, kenapa baru dateng juga?" Tanya Gita.
"Ryu harus dampingi sidang dulu, Mi." Dusta Ryu sambil melirik ke arah Aslan.
Tentu saja hanya Aslan yang tak tau pekerjaan Ryu sebenarnya. Kedua orang tuanya, jelas saja tau karena merekalah wali Ryu.
Sementara Gita, tentu mengerti seluk beluk Agen Rahasia karena masih tetap menjadi Dokter khusus di sana.
"Ck! Abang selalu aja alasannya dampingi sidang. Kayak gak ada kerjaan lain aja." Ledek Aslan.
"Memang itu pekerjaan Abang!" Sahut Ryu sambil menyentil dahi adiknya yang berbeda usia empat tahun dengannya.
"Nikah makanya, biar ada yang di urusin. Bukan cuma ngurusin orang lain terus." Sergah Aslan yang kembali meledek. Sepertinya, harinya tak sempurna kalau tidak membuat keributan dengan Abangnya.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author