Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pertemuan yang mengejutkan.
Suasana di restoran mewah itu, terasa sangat tenang dan eksklusif. Hanya terdengar alunan musik jazz, yang lembut berpadu dengan gemerincing, peralatan makan perak.
Di sebuah meja sudut, duduk seorang pria, dengan postur tubuh tegap, dan aura berwibawa yang memancar kuat. Axel Julian Starling. Pria berusia 27 tahun itu, tampil rapi namun maskulin dalam balutan kemeja hitam, yang lengan panjangnya digulung hingga siku. Memperlihatkan otot lengannya yang kekar serta jam tangan mewah, di pergelangan tangannya. Sebuah jaket tebal, tergeletak rapi di kursi sebelahnya.
Wajahnya datar tanpa ekspresi, tatapan matanya tajam namun tenang. Seolah-olah seluruh ruangan, berada di bawah kendali penuhnya. Ia adalah Jenderal TNI bintang empat, sosok jenius yang luar biasa cakap, di usia yang sangat muda. Namun hari ini, ia hadir untuk satu hal penting yaitu bertemu calon istrinya.
Pintu restoran terbuka. Axel mendongak, dan di saat itulah matanya sedikit membelalak, ia benar-benar terpaku.
Seorang wanita berjalan mendekat. Bukan dengan gaun anggun atau busana sopan, seperti ekspektasinya. Wanita itu justru, mengenakan dress hitam ketat, yang terbuka memperlihatkan banyak kulit. Riasan wajahnya tebal, dan terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah, pipi dan bibirnya yang dicat, dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih.
Itu adalah, Aruna Aurora Vanessa. Wanita berusia 23 tahun. Aruna menarik kursi, dan duduk tepat di hadapan Axel, dengan santai. Seolah penampilannya itu, adalah hal yang paling biasa. Ia sengaja melakukan semua ini. Tujuannya hanya satu, membuat pria di depannya ini ilfil, dan segera membatalkan perjodohan bodoh ini.
Axel diam sejenak, menatapnya lekat dari ujung kaki, hingga ke ujung kepala, dengan pandangan sulit diterka. Ia kemudian, merogoh saku jaketnya mengeluarkan selembar foto yang diberikan, oleh orang tua Aruna, lalu menyamakan foto itu dengan wajah wanita di hadapannya.
Di foto, Aruna terlihat sangat cantik alami, berpakaian sopan, wajahnya bersih tanpa polesan tebal, memancarkan kesan anggun nan lembut. Rambut panjangnya tergerai indah, jatuh bebas dan berkilau alami, di bahunya. Sangat berbeda jauh, dengan penampilan, yang ada di depannya sekarang.
"Kamu tidak kedinginan pakai baju seperti itu?" tanya Axel memecah keheningan. Suaranya berat dan datar.
Aruna tersenyum miring, berusaha terlihat percaya diri dan seksi. Ia menyilangkan kakinya. Memasang wajah yang angkuh, dan menyebalkan.
"Enggak sama sekali." jawabnya santai, padahal di dalam hati, ia merinding dan menggigil. Bahunya sampai bergetar hebat, tapi coba ia abaikan sekuat tenaga. Coba ia ganti, dengan gerakan centil, yang malah membuat Axel ingin tertawa, tapi coba ia tahan, agar Aruna tidak tersinggung, karena sikapnya. "Aku memang mudah kegerahan." Lanjutnya sambil mengibaskan rambut, panjangnya dengan gaya berlebihan. Seperti Artis untuk iklan Shampo, Bahkan helaian rambutnya, sampai mengenai wajah Axel.
Axel kaget sedikit, tapi kemudian, dia mengangguk pelan, seolah berusaha mencerna jawaban itu, dan memahami selera fashion, wanita di depannya. Dalam hati, ia sebenarnya, sangat ingin tertawa, melihat akting kaku wanita di hadapannya itu, tapi mati-matian coba ia redam.
"Foto kamu berbeda," ucap Axel singkat sambil menyodorkan foto tersebut ke atas meja tepat di hadapan Aruna. Berusaha mengalihkan fokusnya, agar tak menertawakan, wanita di hadapannya itu.
Aruna melirik foto itu lalu terkekeh pelan, berusaha menutupi kegugupannya. Wajahnya kembali dibuat aneh, semakin membuat Axel ingin tertawa. Tapi, tentu saja sekuat tenaga, mencoba dirinya abaikan.
"Ah itu... Hohooo.. Aku pakai banyak filter sih buat mempercantiknya. You know, zaman sekarang kan gitu. Biar tambah pede, gak mungkin dong wajah begini, yang aku kasih. Hahaha.." jawabnya asal, bahunya bahkan terangkat acuh tak acuh. Suara tawanya, jelas sekali hanya akting belaka. Axel sampai memandang, ke arah pengunjung lain, agar bisa menahan tawanya.
Percakapan berlanjut singkat, namun suhu di dalam ruangan ber-AC itu, seolah makin turun drastis. Aruna mulai tidak kuat, menahan hawa dingin yang menusuk tulang, karena bajunya yang minim. Ingin sekali ia mengusap lengannya, yang dingin. Tapi, gengsinya terlalu tinggi.
Hachoo!
Aruna bersin keras. Ia buru-buru mengambil tisu, dan menutup mulutnya.
Hachoo! Hachoo!
"Kamu sakit?" tanya Axel sedikit khawatir, alisnya terangkat.
"Enggak!" tolak Aruna cepat, masih berusaha ngeles. "Cuma... debu aja. Ini restorannya, kayaknya kurang bersih deh." Tambahnya sambil melambaikan tangan, dengan gestur mengejek.
Axel tampak bingung mendengar, ucapan Aruna barusan. Restoran bintang lima, dengan standar internasional, mana mungkin kotor? Jelas sekali, hal itu hanya akal-akalan, Aruna saja.
Tubuh Aruna mulai gemetar, hebat. Tanpa banyak bicara, Axel langsung mengambil, jaket tebalnya. Dengan gerakan cepat, dan protektif, ia berjalan ke belakang, Aruna, mencoba menyelimutkan, jaket itu, ke bahu wanita itu.
Namun, Aruna spontan menepis, tangan Axel dengan kasar.
"Gak perlu!" bentaknya halus.
Ia langsung berdiri, dari kursinya, memalingkan wajah, ke arah jendela kaca besar, yang menghadap ke luar restoran. Axel mengikuti langkahnya dari belakang, rasa penasarannya, makin memuncak. Aruna sendiri masih berusaha mengalihkan fokus, menyembunyikan wajahnya, yang mungkin sudah memerah, karena hawa dingin, maupun karena malu.
"Aduh indah banget, pemandangan di luar... sungguh taman yang indah.." ucap Aruna sambil geleng-geleng kepala, mencoba menahan hawa dingin, yang makin terasa, sambil menggoyangkan badannya pelan.
Axel berdiri di sampingnya, menatap ke arah yang sama. Indah? Dalam pandangannya, yang terlihat hanyalah, orang lalu lalang dengan kendaraannya. Tak ada taman, sama sekali, hanya jalan raya yang ramai. Dia benar-benar bingung, dibuatnya.
"Taman?" tanya Axel, matanya menyapu sekeliling, tapi tetap tak menemukan apa yang dimaksud.
"Aduh kamu lihatnya, kurang jauh deh.. coba deh di-zoom, dua kali lipat, pasti kelihatan tuh taman di belakang gunung itu.." jawab Aruna ketus, matanya menyipit tajam, seolah-olah dia punya penglihatan super.
"Coba deh fokus, Pak Jenderal! Mata kalian tentara kan harus tajam? Masa gak kelihatan sih, pohon-pohonnya?" serunya sok yakin.
Axel menatapnya datar, lalu dengan santai mengeluarkan HP, dari saku celananya.
"Sebentar, saya coba pakai fitur zoom, kamera maksimal. Siapa tahu, bisa ketemu, taman mistis yang kamu maksud." jawab Axel tenang.
Aruna langsung memukul, lengan pria itu pelan, pipinya memerah padam, bukan karena dingin lagi, tapi karena malu.
"Aduh, gak asik banget sih kamu! Aku bercanda saja, masa gak ngerti!"
Mendengar rengekan polos itu, akhirnya bibir Axel, tak kuasa lagi menahannya. Bibir itu, mulai terangkat, membentuk senyum lebar. Suara tawa renyah, namun berwibawa keluar dari mulutnya. Ini pertama kalinya, dia tertawa sehari ini, terhibur oleh kelakuan aneh, dan lucu wanita di depannya, yang berusaha keras terlihat keren, tapi justru terlihat sangat menggemaskan. Tawanya pecah, memenuhi ruangan. Tak lagi, bisa ia tahan.
"Haduh, malah ketawa kamu, kayak orang bahagia aja. Hm... Udahlah, gak usah bahas hal goib yang gak jelas.." sahut Aruna ketus sesudahnya.
Axel sampai geleng-geleng kepala, masih menahan tawa, mendengar ucapan nyeleneh Aruna barusan. Sedangkan Aruna, mulai bolak-balik, kesana kemari. Berharap gerakannya, bisa membuat tubuhnya lebih hangat.
'Mati deh Aku... dinginnya minta ampun... Haduh... dingin banget. Gak nyangka banget, di dalem sini bakalan sedingin ini..' batin Aruna meronta, minta ditolong. Tapi, gengsinya menolak.
"Aruna, kamu bisa pakai jaketku, kalau kamu mau." tawar Axel lembut, suaranya masih terdengar sedikit bergetar, karena baru saja tertawa.
"Ah gak usah.. aku gerah.." tolak Aruna cepat, suaranya ketus, padahal tubuhnya sudah menggigil hebat, dan dia mulai menggigiti, kuku jarinya karena kedinginan.
"Ah sial.. aku gak kuat lagi..." batin Aruna makin meronta, rasa dingin itu, sudah menusuk sampai ke tulang sumsum.
Karena tak tahan lagi, dia langsung memeluk erat, sosok di depannya. Axel terpaku sejenak, namun secara refleks, langsung membalas pelukan itu. Benar saja, kulit Aruna terasa sedingin es.
"Dasar gadis bodoh, keras kepala !! " gumam Axel pelan, suaranya lembut, di atas kepala Aruna.
"Aku gak bodoh, kamu yang bodoh Axel.." rengek Aruna manja. "Peluk aku lebih erat.. dingin nih.."
"Iya aku yang bodoh," Balas Axel mengalah. Padahal dalam hati, ia ingin berbicara lebih banyak, hanya tak mau berdebat.
'Aku bodoh, karna mempercayaimu, jika kamu tak kedinginan... Benar-benar bodoh. ' Ucapnya dalam hati.
Aruna mengalungkan kedua tangannya, di leher Axel. Karena perbedaan tinggi badan yang jauh. Axel 190 cm dan Aruna hanya 166 cm, meski pakai heels. Dia terpaksa berjinjit, setinggi mungkin untuk bisa mencapainya.
"Axel kamu yang bodoh ya.. Bukan saya !! " Tegas Aruna lagi, seakan belum puas, dengan jawaban yang diberikan Axel tadi.
"Ya terserah kamu saja. Tadi katanya panas, sekarang kok, malah peluk saya begini." Goda Axel sambil mengusap punggung wanita itu.
"Tadi emang panas, tapi sekarang malah dingin begini. tubuhku memang kadang error, gak jelas. Udahlah, jangan banyak omong kamu," ucap Aruna tambah ngaco.
Axel tak menjawab. Dengan tenang, dia mengangkat tubuh mungil Aruna, ke dalam gendongannya, dan berjalan menuju tempat duduk mereka. Namun bukannya, menyandingkan, dia justru mendudukkan Aruna, tepat di atas pangkuannya, sendiri.
Aruna yang sudah tak peduli lagi, dengan gengsinya, langsung memeluk tubuh kokoh itu, dengan sangat erat. Wajahnya ia, benamkan di dada bidang Axel, menghirup aroma tubuh pria itu, yang hangat, maskulin, dan menenangkan.
Seketika itu juga, dia benar-benar lupa dengan tujuan awalnya, lupa dengan dinginnya, udara, dan lupa dengan, segala hal di sekitar mereka. Yang ada di pikirannya sekarang, hanyalah betapa nyamannya, berada di sini, di pelukan pria ini.
***