NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Merengek

"Kak, tolonglahh. Demi adikmu yang sedang demam ini."

Rara terus menarik tangan Laras yang berusaha untuk melepaskan diri. Hawa panas dari tangan Rara sangat mengganggu Laras, namun adik manjanya itu tidak mau melepas cengkramannya.

Laras lantas melirik ibunya yang sedari tadi hanya berdiri bersandar di kusen pintu sembari menonton kedua anaknya itu. "Liat kelakukan anakmu ini mak, kalau keinginannya tidak terwujud mendadak demam. Makanya jangan dimanja."

Entah sudah berapa puluh kali Laras mengeluhkan hal yang sama. Nyatanya kalimatnya itu hanya dianggap angin lalu. Ibunya selalu saja memanjakan sang adik, alasannya karena dia lebih pintar daripada Laras. Satu-satunya harapan agar Ibunya punya anak dokter karena Laras tidak ingin menjadi dokter.

"Aku ini bukan emak-emak ya." Sari, ibu dua anak itu tidak rela jika di panggil emak. Menurutnya terdengar lebih tua. "Panggil Ibu, ingat itu!"

"Anak sama emak sama aja, mana aku juga anaknya." Laras kembali mengeluh.

"Kak, ini permintaan terakhir adikmu. Mumpung Aditya ada acara di kota kita, tolonglah."

Laras melotot saat mendengar penuturan adiknya yang seperti mau meninggal saja. Bukan hanya Laras, Sari pun ikut kaget.

"Kak, tolong adikmu ya. Apa kamu tidak kasian?" Ibu Sari akhirnya ikut membujuk Laras. Wanita itu sudah terlalu pusing melihat kedua anaknya yang tidak pernah rukun. Adik manja dan kakak yang judes.

"Enggak!" Laras bersikeras sembari menyentak tangannya dan akhirnya bisa terlepas dari cengkraman Rara.

"Astaghfirullah, kejam sekali." Sari mengelus dad*

Laras langsung menjauh dari ranjang Rara. "Acara seperti itu tidak bisa didatangi oleh sembarang orang. Bukankah biasanya pakai tiket? paling tiketnya sudah habis jual," terang Laras penuh keyakinan.

"Dan oh..." Laras menatap Ibunya dan Rara bergantian. "Beberapa kali aku liat berita miring tentang Aditya, pantas saja Ayah tidak mengijinkan Rara bertemu dengan penyanyi alay itu. Masa ibu biarin anaknya nge-fans sama makhluk seperti itu sih?" Laras menatap sinis Ibunya. Sedikit tersinggung, Sari menjewer telinga Laras, membuat Rara cekikikan.

Yeah, alasan Rara mendapat demam karena sang Ayah yang tidak mengijinkannya datang ke acara meet and greet Aditya sebab berita miring yang selalu berseliweran tentang si penyanyi muda itu. Setelah demam, Rara semakin gencar untuk mendapatkan keinginannya. Bagaimana tidak? Sang Ayah pasti akan luluh jika Rara sudah demam. Gadis kecil itu sangat menyedihkan namun juga licik. Apapun caranya, tanda tangan Aditya harus bisa didapatkan untuk melengkapi koleksinya.

Walaupun dirinya tidak bisa datang, masih ada kakaknya yang sehat agar bisa datang dan memintakan tanda tangan Aditnya. Tidak apa-apa tidak bertemu langsung, sekedar mendapat coretan tangannya sudah lebih dari cukup.

Belum sempat Sari bicara, Rara sudah lebih dahulu berbicara. "Heh, aku tuh cuma nge-fans sama karyanya aja tau." Gadis itu tidak terima kakaknya berbicara buruk tentang Aditya walau sebenarnya itu fakta.

"Masa?" Laras melipat tangannya dengan ekspresi menyelidik.

"Wajahnya juga ganteng sih, lagunya bagus. Y-ya intinya aku nge-fans sama karya plus wajahnya aja. Tapi tidak untuk karakternya."

Laras tertawa dalam hati saat adiknya mengaku menyukai karya Aditya. Adiknya sampai segitunya membela Aditnya. Dirinya bahkan tidak tahu apa karya artis dadakan itu selain meng-cover lagu orang. Tidak ingin berdebat lagi dengan Rara, Laras memilih pergi.

"Terserah, aku tidak peduli." Laras berlalu, meninggalkan Ibu Sari dan Rara. Gadis itu sudah terlalu lelah berdebat dengan adiknya. Tubuhnya lelah dan ingin segera diistirahatkan.

"Pokoknya kalau aku berhasil mendapatkan tiket itu, kakak harus datang!" seruan Rara sebelum Laras menghilang.

"Tidak mungkin bisa!" Laras tak kalah seru.

Sepeninggal Laras, Sari mendekat, duduk di tepi ranjang anak bungsunya. Wanita itu mengelus pundak Rara kemudian membetulkan posisi selimut. "Lagi sakit jangan teriak-teriak seperti itu Rara, jaga emosimu agar tetap stabil."

Seakan tidak peduli dengan wejangan Ibu Sari, Rara malah menatap netra ibunya penuh permohonan. Kedua tangan kecilnya berada pada pundak Ibu Sari, bertingkat seolah mereka sahabat yang tidak perlu memikirkan adab sopan santun.

"Bu, pokoknya Ibu harus bujuk ayah agar menggunakan koneksinya untuk mendapatkan tiket itu. Benar kata Kak Laras, pasti tiketnya sudah habis terjual. Aku ingin tanda tangan Aditya Buuuu." Rara merengek di akhir kalimatnya. "Nanti aku bertambah demam jika tidak mendapat tanda tangan itu... Kalau demamku tidak sembuh-sembuh dan malah bertambah parah bagaimana?"

Kalimat berlebihan Rara membuat Ibu Sari menghela napas, geregetan namun juga tidak tega. "Akan Ibu usahakan."

Di lain sisi, Laras yang kini sedang bersiap-siap berangkat kerja terus saja menggerutu. Gadis berumur 23 tahun itu menarik totebag dengan kasar. Pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan.

"Jangan sampai ayah mau menuruti anak manja itu, akan sangat merepotkan jika aku harus bertemu penyanyi si Aditya untuk sekedar meminta tanda tangan." Laras membatin. "Waktuku terlalu berharga untuk sekedar mengantri tanda tangan seorang playboy."

Laras bertingkah seolah dia pebisnis paling sibuk di abad ini. Padahal kerjaannya hanya bermalas-malasan.

Notifikasi mengalihkan perhatian Laras, gadis itu tersenyum saat membaca pesan dari sahabatnya. Setelah mengirim balasan, Laras langsung melajukan motor kesayangan menjauhi pekarangan rumah. Meninggalkan adik dan Ibunya yang kini sedang berusaha membujuk sang Ayah untuk mendapatkan tiket meet and great Aditya.

Sepanjang jalan, Laras bersenandung. Menyanyikan beberapa lagu Shawn Mendes yang menjadi favoritnya. Mood gadis itu nampaknya sudah membaik setelah mendapat pesan dari sahabatnya.

Setengah melewati lampu merah kedua. Motor yang Laras kendarai berhenti di sebuah ruko bertuliskan LAflorist.

"Selamat pagi menjelang siang semua," sapa Laras begitu memasuki ruko.

Tidak ada sahutan apapun dari dalam karena memang ruko itu cukup sepi, hanya ada suara jam dinding dan kipas angin. Beberapa kali suara lonceng angin terdengar dari jendela karena tiupan angin sepoi-sepoi.

Dahi Laras berkerut penasaran kemana perginya sang sahabat yang merupakan pemilik ruko sekaligus owner dari LAflorist?

Laras mendongak menatap anak tangga, gadis itu memutuskan naik ke lantai dua karena instingnya mengatakan jika sahabatnya ada di sana. Di tengah anak tangga, sayup-sayup Laras mendengar suara sahabatnya yang tengah berbincang dengan karyawan. Laras mempercepat langkah dan terkejut saat melihat begitu banyak barang berserakan di lantai.

"Ada apa ini?" Suara Laras membuat kaget semuanya. Namun sepertinya gadis itu tidak peduli. "Kenapa berantakan sekali?"

Rina, sahabat sekaligus owner LAflorist mengumpat dengan tangan mengelus dada. Sesaat jantungnya memompa begitu keras seperti hendak keluar dari tempatnya. Di samping Rina, kedua karyawan wanita melakukan hal yang hampir sama, bedanya mereka lebih menjaga adab.

"Toko dibiarkan sepi tanpa penjaga, bagaimana jika ada maling?" Laras kembali melayangkan pertanyaan. Galaknya melebihi pemilik toko yang sesungguhnya.

"Tau enggak? Hari ini aku sedang sibuk karena mendadak sekali ada pesanan masuk. Dua ratus tangkai mawar untuk hari esok!" Rina bercerita dengan semangat.

"Kamu bahkan biasa mendapat pesanan lebih dari itu?" Laras keheranan melihat Rina yang begitu semangat tidak seperti biasanya.

"Karena ini pesanan dari orang spesial." Rina melirik kedua karyawannya, mereka saling melempar senyum.

"Iya kak, pesanan dari Aditya." Salah satu karyawan Rina memberitahu.

"Nama itu lagi?" batin Laras, mendadak kepalanya terasa pusing.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!