Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 RAJA DUNIA GELAP
Bab 1 — Raja Dunia Gelap
Hujan turun deras membasahi kota Palermo, Italia. Malam itu langit tampak begitu gelap seolah membawa pertanda buruk. Kilatan petir sesekali menyambar di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri kokoh sejak puluhan tahun lalu, sementara suara sirene polisi terdengar samar dari kejauhan.
Di sebuah pelabuhan tua yang dipenuhi kontainer besi raksasa, puluhan pria bersenjata berdiri saling berhadapan. Aroma darah, asap mesiu, dan kematian bercampur menjadi satu memenuhi udara malam yang dingin.
“Bos Romano sudah melanggar perjanjian wilayah.”
Seorang pria tinggi berjas hitam berbicara dengan nada hati-hati sambil menundukkan kepalanya. Di hadapannya berdiri seorang pria yang bahkan lebih menakutkan daripada badai malam itu. Lorenzo Moretti, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dikenal sebagai pemimpin keluarga Moretti sekaligus penguasa dunia gelap Italia. Tubuh tegapnya berdiri tenang di bawah payung hitam, sementara jas mahal yang membungkus tubuhnya tetap terlihat sempurna meskipun hujan terus mengguyur tanpa henti.
Tatapannya dingin. Sangat dingin. Seolah tidak mengenal rasa takut maupun belas kasihan. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, memperlihatkan wajah tegas dengan mata abu-abu tajam yang mampu membuat siapa saja merasa terintimidasi hanya dengan satu lirikan. Nama Lorenzo Moretti sudah dikenal luas di dunia mafia Italia. Selama tujuh tahun terakhir, tidak ada satu pun perang wilayah yang berhasil membuatnya kalah. Musuh-musuhnya mengenalnya sebagai pria yang kejam, cerdas, dan tidak pernah memberi kesempatan kedua kepada siapa pun yang berani mengkhianatinya.
Lorenzo menatap deretan kontainer di depannya tanpa menunjukkan ekspresi sedikit pun. “Berapa orang yang mereka kirim?” tanyanya pelan.
“Tiga puluh orang bersenjata, Tuan.”
“Hmm.”
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Namun Marco De Luca yang berdiri di sampingnya langsung menelan ludah gugup. Sebagai tangan kanan Lorenzo selama bertahun-tahun, Marco memahami satu hal yang tidak diketahui banyak orang. Semakin tenang Lorenzo, semakin berbahaya dirinya.
BRAKK!
Suara tembakan tiba-tiba memecah malam. Sebuah peluru menghantam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.
“SERANG!”
Puluhan pria bersenjata langsung bermunculan dari balik kontainer. Dalam hitungan detik, baku tembak pecah di seluruh area pelabuhan. Suara peluru bersahutan tanpa henti, memantul di antara dinding besi dan bangunan tua. Marco segera mengeluarkan pistolnya.
“Lindungi Bos!”
Anak buah keluarga Moretti langsung membalas serangan dengan disiplin tinggi. Tubuh demi tubuh mulai berjatuhan ke tanah yang basah oleh hujan. Darah mengalir bercampur dengan genangan air, menciptakan pemandangan mengerikan yang sudah terlalu biasa bagi mereka.
Namun di tengah kekacauan itu, Lorenzo masih berdiri diam. Tatapannya menyapu seluruh medan perang seperti seekor predator yang sedang mengamati mangsanya. Seorang pria bertopeng tiba-tiba muncul dari samping sambil mengarahkan senapan ke arahnya.
Dor!
Pria itu melepaskan tembakan.
Namun sebelum sempat menembak untuk kedua kalinya, Lorenzo sudah lebih dulu mencabut pistol hitam dari balik jasnya.
Dor!
Peluru melesat tepat menembus kepala pria tersebut. Tubuhnya langsung terjatuh tanpa sempat mengeluarkan suara. Ekspresi Lorenzo tetap datar seolah tidak terjadi apa-apa. Baginya, membunuh bukan lagi sesuatu yang luar biasa. Itu sudah menjadi bagian hidupnya sejak usia belia.
“Bos! Mereka mencoba mengepung kita dari timur!” teriak salah satu anak buahnya.
Marco mengumpat pelan. “Brengsek. Romano benar-benar ingin perang total.”
Lorenzo melangkah maju dengan tenang. Suara sepatu kulit mahalnya terdengar jelas di tengah hujan deras. Ia mengambil senapan dari tangan salah satu anak buahnya, lalu mengangkat senjata itu tanpa ragu.
Dor! Dor! Dor!
Tiga pria langsung roboh dalam hitungan detik. Tembakannya selalu akurat. Tidak pernah meleset.
“MAJU!” teriak Marco.
Pertempuran semakin brutal. Jeritan kesakitan terdengar dari berbagai arah, namun pihak keluarga Moretti jelas lebih unggul. Mereka bergerak cepat, terlatih, dan mematikan. Lima belas menit kemudian, sebagian besar anak buah Romano sudah tergeletak tak bernyawa, sementara sisanya mulai melarikan diri untuk menyelamatkan diri.
“Kejar mereka!” perintah Marco.
“Tidak perlu.”
Suara Lorenzo membuat semua orang langsung terdiam.
Marco menoleh ke arahnya. Lorenzo sedang menatap tubuh-tubuh yang bergelimpangan di tanah tanpa rasa iba sedikit pun.
“Hari ini hanya peringatan.” Suaranya terdengar rendah dan dingin. Kilatan petir menyambar di belakang tubuhnya, membuat sosoknya tampak semakin menyeramkan. “Tapi lain kali, aku akan membunuh Alessandro Romano dengan tanganku sendiri.”
Marco hanya diam. Sudah lama ia tidak melihat Lorenzo semarah ini. Dan jika itu terjadi, seluruh Italia biasanya akan ikut merasakan dampaknya.
Satu jam kemudian, Lorenzo kembali ke mansion keluarga Moretti yang berdiri megah di atas bukit menghadap laut. Rumah besar itu dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata yang berjaga di setiap sudut. Tidak ada seorang pun yang bisa mendekat tanpa izin.
Di ruang kerjanya yang luas dan remang-remang, Lorenzo duduk sendirian sambil membuka kancing jasnya perlahan. Noda darah terlihat jelas di bagian lengan bajunya, meskipun darah itu bukan miliknya.
Tok tok.
“Masuk.”
Marco masuk sambil membawa sebuah map hitam.
“Ada kabar baru.”
Lorenzo menerima map tersebut dan membukanya. Beberapa foto terpampang di dalamnya. Tatapannya langsung berubah gelap ketika melihat wajah-wajah yang tidak asing baginya.
Pengkhianat.
Dan yang lebih buruk lagi, salah satunya adalah orang yang selama ini ia percayai.
“Sudah dipastikan?” tanyanya pelan.
Marco mengangguk. “Mereka bekerja sama dengan Romano.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Lorenzo menutup map itu perlahan sebelum berdiri dari kursinya.
“Bawa mereka ke gudang bawah tanah.”
Marco langsung mengerti maksud perintah tersebut. Interogasi. Dan biasanya tidak ada seorang pun yang keluar hidup-hidup setelah dibawa ke sana.
Malam semakin larut ketika Lorenzo memasuki ruang bawah tanah mansion Moretti. Tiga pria terlihat terikat di kursi dengan wajah penuh darah dan ketakutan. Tubuh mereka gemetar hebat saat melihat kedatangannya.
“Bos... tolong ampuni kami...”
Salah satu pria mulai menangis.
“Kami dipaksa Romano—”
BUGH!
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Lorenzo sudah menghantam wajah pria itu dengan keras hingga kursinya terjatuh. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
“Aku paling membenci pengkhianat.”
Suaranya terdengar pelan, tetapi justru itulah yang membuat semua orang semakin ketakutan.
“Karena pengkhianat membuat keluargaku hancur.”
Ingatan masa lalu kembali muncul di kepalanya. Tubuh ayahnya yang bersimbah darah. Jeritan ibunya yang penuh ketakutan. Dan malam ketika hidupnya berubah menjadi neraka yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Sejak hari itu, Lorenzo bersumpah tidak akan pernah menjadi pria lemah. Jika dunia memaksanya menjadi monster, maka ia akan menjadi monster yang paling ditakuti. Dan kini ia telah berubah menjadi sosok tersebut. Monster dunia gelap Italia. Pria yang namanya membuat musuh-musuhnya gemetar ketakutan.
Salah satu tawanan mulai menangis histeris memohon ampun, tetapi Lorenzo sama sekali tidak peduli. Ia mengambil pistol dari atas meja dan mengarahkannya ke kepala pria itu.
Dor!
Suara tembakan menggema di seluruh ruangan. Tubuh pria tersebut langsung terkulai tanpa nyawa. Dua tawanan lainnya berteriak ketakutan.
Marco yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menghela napas pelan. Sudah terlalu banyak darah yang tertumpah dalam hidup mereka. Namun tidak ada jalan untuk kembali. Tidak bagi orang-orang yang hidup di dunia mafia.
Lorenzo mengusap darah di tangannya menggunakan sapu tangan putih sebelum berjalan menuju pintu keluar.
“Buang mayatnya.”
Ia meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikit pun. Di belakangnya, suara tangisan dan permohonan ampun masih terdengar jelas. Namun Lorenzo tidak pernah menyesali keputusannya.
Baginya, belas kasihan adalah kelemahan. Dan kelemahan hanya akan membawa kematian.
Kehidupan yang keras telah membentuk dirinya menjadi pria yang tidak lagi mengenal rasa takut. Masa lalunya mungkin pernah dihancurkan, tetapi ia memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya. Apa pun bahaya yang menantinya di masa depan, Lorenzo akan tetap berdiri tegak menghadapi semuanya.
Ia memang sudah kehilangan segalanya.
Namun justru karena itulah tidak ada lagi yang bisa membuatnya mundur.
Dan selama darah keluarga Moretti masih mengalir dalam tubuhnya, Lorenzo akan terus mempertahankan kehormatan yang dimilikinya, meski seluruh dunia harus menjadi musuhnya.