Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
PROLOG
Tahun 2005.
Dunia pada saat itu hanyalah sebuah tempat biasa, di mana segala hal berjalan sesuai dengan hukum alam. Sains adalah mutlak, dan keajaiban hanyalah cerita fiksi sebelum tidur.
Namun, semua logika itu hancur hanya dalam satu malam.
Di sebuah laboratorium penelitian terbesar di dunia, instrumen canggih umat manusia menangkap sebuah anomali.
Sebuah partikel asing yang tidak masuk akal di semua hukum fisika muncul secara tiba-tiba, menyebar ke atmosfer tanpa bisa dijelaskan oleh rumus apa pun. Para ilmuwan yang ketakutan sekaligus takjub menyebutnya sebagai "Partikel Tuhan".
Di kemudian hari, umat manusia akan mengenalnya dengan nama yang lebih sederhana dengan sebutan Mana.
Banyak yang mengira itu adalah hadiah dari alam semesta. Sebuah evolusi mendadak agar umat manusia bisa menciptakan teknologi baru dan melangkah ke era yang lebih maju.
Tapi kenyataannya sama sekali berbeda.
Tepat di detik partikel itu terdeteksi, di sebuah rumah sakit bersalin di Jakarta, seorang bayi laki-laki lahir ke dunia.
Tidak ada monster yang turun dari langit. Tidak ada portal dimensi yang terbuka. Hanya ada suara tangisan pertama dari paru-paru kecil yang baru saja menghirup udara bumi.
Oweee... Oweee...
Dan di detik bayi itu mengambil napas pertamanya, dunia merespons.
Seluruh ruangan bersalin berguncang hebat, tapi itu bukan gempa bumi. Lampu-lampu di langit-langit berkedip liar sebelum akhirnya meledak secara bersamaan. Ruangan menjadi gelap, hanya diterangi oleh percikan listrik yang menyambar-nyambar di udara layaknya kilat kecil.
Gravitasi kehilangan maknanya. Tiang infus, nampan bedah dari logam, kursi, hingga pecahan kaca tiba-tiba terangkat ke udara, mengambang dan berputar-putar tanpa arah.
Para dokter dan perawat mematung dalam ketakutan yang luar biasa. Tubuh mereka gemetar hebat, tidak bisa melangkah maju maupun mundur.
Ada sebuah tekanan energi tak kasat mata di ruangan itu, sebuah aura absolut yang memaksa insting bertahan hidup mereka untuk tunduk.
Di tengah kekacauan itu, bayi mungil tersebut terlepas dari tangan sang dokter. Namun, bayi itu tidak jatuh membentur lantai yang dingin. Tubuh mungilnya melayang perlahan di udara, diselimuti pendar cahaya tipis yang mendistorsi ruang di sekitarnya.
Di atas ranjang operasi yang berantakan, sang ibu yang sebelumnya tidak sadarkan diri dan berada dalam kondisi kritis akibat pendarahan hebat, tiba-tiba membuka matanya. Warna pucat di wajahnya berangsur menghilang. Luka-luka di tubuhnya menutup dengan sendirinya. Sel-selnya beregenerasi dengan kecepatan yang mustahil, dipaksa hidup kembali oleh radiasi energi murni yang bocor dari darah dagingnya sendiri.
Dengan napas terengah namun penuh kelegaan, wanita itu mengulurkan tangannya yang gemetar menembus tekanan udara yang berat. Ia meraih tubuh mungil yang melayang itu, dan menariknya erat ke dalam pelukannya.
Sentuhan hangat itu menjadi sebuah jangkar. Kasih sayang sang ibu bertindak sebagai segel alami pertama bagi energi liar yang mengamuk.
Seketika, tangisan melengking bayi itu mereda menjadi dengkuran pelan.
Sentuhan hangat itu menjadi sebuah jangkar. Kasih sayang sang ibu bertindak sebagai segel alami pertama bagi energi liar yang mengamuk.
Seketika, tangisan melengking bayi itu mereda menjadi dengkuran pelan.
Brak! Prang!
Gravitasi kembali seketika. Tiang infus, nampan bedah, dan pecahan kaca jatuh berhamburan ke lantai. Ruangan berhenti berguncang. Para dokter dan perawat akhirnya bisa jatuh terduduk walaupun pikiran mereka masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Di tengah ruangan yang berantakan itu, sang ibu menatap wajah bayinya yang kini tertidur lelap. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa bayi mungil di pelukannya. Ia mengecup dahi bayi itu dengan air mata bahagia.
"Anakku... Rey Arkan..." bisiknya parau.
Kekacauan itu berhenti sepenuhnya di dalam ruangan bersalin. Tetapi di luar sana, dunia telah berubah.
17 Tahun Kemudian.
Sihir telah menjadi fondasi peradaban baru. Di bawah naungan Asosiasi Guardian Indonesia (AGI), umat manusia membangun sistem kaku untuk bertahan hidup. Mereka mendidik para Guardian, atau yang kita kenal sebagai pahlawan. Guardian di bagi beberapa kasta atau tingkat, Tingkat Dasar Delta, Tingkat Menengah Beta dan Alpha puncak dari seluruh Guardian.
Mereka bukan lagi manusia, mereka adalah selebriti dunia, ikon politik, dan senjata. Mereka tidak beroperasi di satu kota, mereka terbang antar-negara sesuai panggilan darurat global.
Di sebuah akademi elit, tempat para pemuda saling berdarah-darah unjuk gigi memperebutkan lisensi Guardian. Orang-orang merebutkan lisensi Guardian untuk meningkatkan status sosial mereka ataupun meningkatkan ekonomi mereka. Dan semua orang bermimpi untuk memanjat hierarki, menembus Rank Alpha, dan berdiri di puncak dunia.
Namun, di tengah lautan ambisi yang membara itu, ada satu pengecualian.
Di sudut halaman akademi yang rimbun, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun menatap bosan ke arah hamparan awan.
Di tangannya terdapat sebuah novel fiksi, sementara di dadanya tersemat tanda peserta ujian bernomor 2404. Pemuda itu bernama Rey Arkan.
Di saat ribuan peserta lain sibuk memamerkan kekuatan demi menarik perhatian penguji, Rey hanya memiliki satu tujuan hari ini, adalah lulus ujian. Toh yang memaksa dia untuk masuk akademi Guardian adalah orang tuanya.
Dua bulan yang lalu.
"Kamu daftar ke Akademi Guardian saja ya, Rey,"
ucap ibunya santai, meletakkan selembar brosur pendaftaran di atas meja makan. Rey yang sedang mengunyah gorengan mendadak tersedak. Ia menatap ibunya dengan mata melebar, lalu menoleh ke arah ayahnya yang sedang menyeruput kopi sambil mengangguk setuju.
"Bu, Rey kan sudah bilang mau masuk SMA/SMK biasa saja." balas Rey
"Lho, sayang dong. Kamu kan punya sedikit Mana. Anak tetangga sebelah saja bangga cuma bisa nerbangin sendok," potong ayahnya.
"Jadi Guardian itu enak, Rey. Masa depan terjamin, gajinya dari negara, dapat tunjangan pensiun pula. Ibaratnya kayak PNS, tapi lebih keren."
Mendengar itu, Rey hanya bisa menghela napas panjang dan memijat pelipisnya. Di dalam hati, ia merutuki nasibnya. Ini semua murni salahnya sendiri.
Dulu, saat Rey masih kecil, ia belum bisa mengendalikan energi di dalam dirinya yang sering bocor. Barang-barang di rumah sering melayang atau rusak secara misterius.
Sadar bahwa hal itu bisa membuat keluarganya panik atau bahkan memancing kedatangan agen pemerintah, Rey terpaksa memanipulasi sebagian ingatan orang tuanya tentang anomali tersebut.
Ia hanya menanamkan satu ingatan palsu yang sangat wajar. Bahwa Rey adalah anak laki-laki biasa yang secara kebetulan memiliki bakat Mana dalam jumlah kecil.
Sialnya, tindakan pencegahan itu malah menjadi bumerang. Orang tua Rey, yang hidup sebagai warga sipil kelas menengah, justru sangat antusias. Di mata mereka, sedikit bakat sihir adalah tiket emas menuju kehidupan yang stabil untuk dirinya.
"Ibu tidak minta kamu jadi Guardian Rank Alpha yang aneh-aneh kok," tambah ibunya dengan senyum lembut.
"Coba saja ikut ujian masuknya. Siapa tahu lulus. Kalaupun nanti kamu cuma jadi Guardian tingkat dasar yang tugasnya nolongin kucing nyangkut di pohon, ataupun membantu polisi menangkap kriminal, kan tetap dapat gaji bulanan yang lumayan. Kalau memang gagal, ya sudah, baru kita daftar ke sekolah biasa."
Jika ibunya sudah berbicara dengan nada lembut penuh harapan seperti itu, Rey tidak punya pilihan lain selain menurut. Menyembunyikan kekuatan memang merepotkan, tapi membuat ibunya sedih jauh lebih merepotkan.
"Ya sudah," jawab Rey dengan pasrah saat itu.
"Horee....! Rey ikut ujiannya." Teriak gembira sang ibu.
Kembali ke masa kini.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Rey, membuyarkan ingatannya tentang percakapan di meja makan dua bulan lalu. Ia kembali menatap hamparan awan di langit stadion, menyadari bahwa takdirnya untuk hidup sebagai murid sekolah sihir sudah tidak bisa diganggu gugat.
Toh, Rey sudah menyusun rencana yang sempurna. Ia akan mengabulkan permintaan orang tuanya untuk lulus, tapi dengan caranya sendiri, mendapatkan nilai paling batas bawah agar dilempar ke Kelas Reguler.
Di sana, ia bisa menjadi murid biasa, dan yang paling penting menikmati uang saku bulanan dari akademi tanpa harus berurusan dengan kriminal atau menyelamatkan dunia.
TETT! TETT! TETT!
Suara bel peringatan yang nyaring dari pengeras suara tiba-tiba membuyarkan lamunan Rey. Ia menunduk, melirik jam tangan digital murahan di pergelangan tangan kirinya. Angka di layar menunjukkan pukul 08.00.
Ujian masuknya telah dimulai.
Mendengar riuh rendah suara para peserta dari dalam arena yang mulai unjuk gigi, Rey hanya bisa menghela napas panjang. Ia menutup novel fiksi di tangannya dan memasukkannya perlahan ke dalam tas selempang.
"Baiklah. Mari kita selesaikan ini secepat mungkin," gumamnya pelan.
Dengan langkah gontai layaknya seorang karyawan yang terpaksa masuk kerja di hari libur, Rey berjalan meninggalkan sudut sepinya dan melangkah masuk ke dalam arena ujian.
PROLOG SELESAI.
~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~
~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~
~•KARYA : R14•