NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Di sebuah kompleks rumah susun yang mulai kusam dimakan waktu, suasana pagi itu terasa jauh dari kata tenang. Beberapa warga masih bertahan di depan unit mereka, berdiri dengan wajah cemas, sementara di sisi lain deretan aparat telah bersiap. Truk besar, alat berat, dan petugas berseragam membentuk barisan yang dingin dan tegas, seolah tidak memberi ruang bagi harapan.

Suara mesin alat berat yang mulai dinyalakan memecah udara. Seorang pria paruh baya melangkah maju, mencoba menahan ketegangan yang semakin menebal.

“Tolong… kita bisa bicarakan ini baik-baik,” ucapnya, suaranya bergetar namun tetap berusaha tegas. “Kami tidak pernah diberi pemberitahuan yang jelas soal penggusuran ini.”

Di hadapannya berdiri seorang pria muda berpenampilan rapi. Jasnya bersih, sikapnya tenang, namun matanya menunjukkan ketegasan yang sulit digoyahkan. Dialah Adi, perwakilan dari pihak pemilik lahan.

“Saya sudah membawa surat putusan pengadilan,” jawab Adi singkat sambil mengangkat map di tangannya. “Semua prosedur sudah dilakukan sesuai hukum.”

“Kalau begitu, beri kami waktu,” sahut warga lain dari belakang. “Kami tidak tahu apa-apa. Setidaknya beri kami kesempatan untuk mengemasi barang.”

Adi menarik napas pendek, lalu menatap mereka satu per satu.

“Waktu sudah diberikan,” katanya datar. “Seminggu lalu. Dan itu adalah kesepakatan terakhir dari pihak pemilik.”

Keributan mulai terdengar. Beberapa warga menggeleng tidak percaya, sebagian lainnya mulai meninggikan suara.

“Itu tidak cukup!” teriak seorang ibu sambil memeluk anaknya. “Kami punya kehidupan di sini!”

Namun Adi tidak bergeming. Ia hanya menoleh sedikit ke arah aparat di belakangnya, memberi isyarat tanpa kata.

Tak lama kemudian, aparat mulai bergerak.

“Tolong mundur! Area ini akan segera dikosongkan!” seru salah satu petugas dengan suara lantang.

Situasi berubah kacau. Beberapa warga berusaha bertahan, ada yang menangis, ada pula yang mencoba menghalangi alat berat. Dorong-mendorong tak terelakkan. Tangisan anak-anak bercampur dengan teriakan orang dewasa, menciptakan suasana yang memilukan.

Namun semua itu tidak menghentikan proses yang telah diputuskan.

Di sisi jalan, sedikit menjauh dari kerumunan, sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir. Kaca jendelanya sedikit terbuka, memperlihatkan dua orang di dalamnya.

Seorang pria duduk di kursi belakang dengan postur santai, mengenakan setelan mahal yang tampak sempurna. Wajahnya tampan, namun dingin. Tidak ada sedikit pun ekspresi yang menunjukkan empati terhadap pemandangan di depannya.

Erlan.

Di kursi depan, seorang pria lain tampak tidak nyaman. Ia sesekali melirik ke arah luar, lalu kembali menunduk.

“Pak…,” ucapnya pelan, “sepertinya kita bisa memberi sedikit waktu tambahan. Dari yang saya dengar, warga memang tidak tahu soal ini.”

Erlan tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada kerumunan di luar.

“Mereka selalu punya alasan,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Kalau diberi waktu lagi, mereka akan meminta lebih banyak.”

Rama, sekretarisnya, terdiam sejenak.

“Tapi kondisi mereka—”

“Bukan urusan saya,” potong Erlan dingin. “Saya punya rencana. Dan rencana itu tidak akan berhenti hanya karena mereka belum siap.”

Rama menghela napas kecil, menahan sesuatu yang ingin ia katakan. Ia kembali melihat ke luar, menyaksikan seorang ibu yang memohon sambil berlutut.

“Setidaknya kompensasi tambahan mungkin—”

“Saya tidak akan memberi apa pun di luar kesepakatan,” ujar Erlan tegas. “Kalau saya mulai lunak, mereka akan menganggap itu kelemahan.”

Mobil itu kembali sunyi.

Tak lama kemudian, Adi berjalan kembali menuju mobil. Wajahnya terlihat sedikit kesal, namun tetap berusaha menjaga sikap profesional.

Ia membuka pintu mobil dan berdiri di sampingnya.

“Pak, saya sudah menyampaikan semuanya,” katanya. “Tapi mereka tetap meminta waktu.”

Erlan menoleh sedikit, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Kamu terlalu banyak bicara,” katanya singkat.

Adi mengerutkan kening.

“Saya hanya menyampaikan sesuai instruksi, Pak. Saya tidak diberi wewenang untuk mengambil keputusan.”

“Dan itu sebabnya negosiasi jadi berisik,” balas Erlan tanpa emosi.

Adi menahan napas, jelas tidak puas, namun ia tahu batasnya.

Rama mencoba mencairkan suasana. “Sebenarnya, posisi Adi memang sulit. Dia hanya menyampaikan, bukan memutuskan.”

Adi mendengus pelan. “Lebih seperti dijadikan tameng.”

Namun Erlan sama sekali tidak menanggapi. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar.

Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatiannya.

Di tengah kerumunan yang kacau, di antara warga yang berlarian dan aparat yang bergerak, ada satu sosok yang membuatnya terpaku. Seorang wanita, tampak lelah, berjalan tergesa sambil membawa tas besar di pundaknya. Di dadanya, ia menggendong sesuatu yang tertutup kain.

Langkah Erlan terhenti sejenak.

Matanya menyipit.

Tanpa berkata apa-apa, ia membuka pintu mobil dan keluar.

“Pak?” Rama terkejut.

Namun Erlan sudah berjalan menjauh, menembus kerumunan tanpa ragu.

Adi dan Rama saling berpandangan, lalu segera mengikuti dari belakang.

Wanita itu terus berjalan, berusaha menjauh dari kekacauan. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri tepat di depannya.

Ia mengangkat wajahnya.

Dan seketika matanya membesar.

“Erlan…?”

Suasana di sekitar mereka seolah menghilang.

Erlan menatap wanita itu dengan tajam, seolah memastikan sesuatu yang tidak ia yakini.

“Linda.”

Nama itu keluar begitu saja, berat namun pasti.

Linda tampak panik. Ia segera memalingkan wajah dan mencoba melewati Erlan.

“Aku harus pergi,” katanya cepat.

Namun Erlan lebih cepat. Tangannya meraih pergelangan tangan Linda, menahannya.

“Kamu ke mana saja?” suaranya rendah, namun penuh tekanan.

Linda berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku.”

“Kamu menghilang begitu saja,” lanjut Erlan, tatapannya semakin tajam. “Tidak ada kabar. Tidak ada penjelasan.”

“Itu bukan urusanmu lagi,” balas Linda, suaranya mulai bergetar.

“Bukan urusanku?” Erlan mendekat sedikit. “Setelah semua yang terjadi?”

Linda menggigit bibirnya, menahan emosi.

“Kita sudah selesai, Erlan. Kamu yang memilih pekerjaanmu daripada aku.”

“Dan kamu memilih pergi tanpa kata,” balas Erlan dingin.

Percakapan mereka terhenti ketika suara tangisan tiba-tiba pecah.

Tangisan bayi.

Linda langsung memeluk lebih erat sesuatu di dadanya, berusaha menenangkan.

Namun Erlan sudah melihat.

Dengan satu gerakan cepat, ia menarik sedikit kain yang menutupi bagian depan Linda.

Dan di sana—

Seorang bayi perempuan, wajahnya memerah karena menangis.

Erlan terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresinya berubah. Bukan marah, bukan dingin—melainkan bingung.

“Anak siapa ini?” tanyanya pelan, hampir seperti bergumam.

Linda tidak langsung menjawab. Ia hanya memeluk bayinya lebih erat, matanya mulai berkaca-kaca.

“Itu bukan urusanmu,” katanya akhirnya, lirih.

Erlan menatap bayi itu lagi, lalu kembali ke wajah Linda.

“Jawab aku.”

Linda menggeleng pelan. “Aku tidak harus menjelaskan apa pun.”

“Linda.”

Nada suara Erlan berubah. Lebih rendah, lebih menekan.

Namun Linda tetap diam.

Tangisan bayi itu kembali terdengar, lebih keras, seolah merasakan ketegangan di antara keduanya.

Di belakang, Rama dan Adi berhenti beberapa langkah, menyaksikan situasi itu dengan canggung.

“Sepertinya… ini rumit,” gumam Adi pelan.

Rama hanya mengangguk kecil, tidak berani ikut campur.

Sementara itu, Erlan masih berdiri di depan Linda, matanya tidak lepas dari bayi itu.

“Berapa umurnya?” tanyanya lagi.

Linda menarik napas dalam, lalu menjawab pelan, “Tiga tahun.”

Jawaban itu membuat Erlan membeku sejenak.

Tiga tahun.

Waktu yang sama sejak Linda pergi.

Pikiran itu melintas cepat di benaknya, namun ia tidak langsung mengatakannya.

Sebaliknya, ia menatap Linda dengan lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang disembunyikan.

“Kamu serius mau terus diam?” tanyanya.

Linda mengalihkan pandangannya. “Aku hanya ingin pergi dari sini.”

Erlan tidak bergerak.

Di sekeliling mereka, suara alat berat mulai kembali terdengar. Bangunan mulai diratakan, satu per satu kenangan dihancurkan tanpa ampun.

Namun bagi Erlan, dunia seakan berhenti di titik itu.

Di hadapannya berdiri masa lalu yang tiba-tiba kembali.

Dan mungkin… membawa sesuatu yang tidak pernah ia duga.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!