Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan baru
“Kenapa dia murung begitu?”
Samuel mengerutkan kening saat melihat Citra tampak melamun di pinggir kolam renang. Ia perlahan mendekat. Tidak biasanya istrinya terlihat murung seperti ini.
“Citra...” Samuel menepuk pelan bahu Citra.
Citra tersentak, lalu menoleh.
“Sam.”
Samuel ikut duduk di sampingnya sambil menurunkan kedua kakinya ke dalam kolam.
“Kamu ngelamunin apa? Kamu ada masalah?” tanyanya.
Citra terdiam sejenak, lalu menatap Samuel dalam-dalam.
“Kamu ingin punya anak?”
Deg!
Samuel tertegun mendengar pertanyaan itu, lalu mengangguk perlahan.
“Iya, kalau Tuhan mengizinkan.”
Citra menunduk.
“Maaf, aku belum bisa memberimu.”
Samuel tersenyum tipis, lalu mengelus lembut rambut Citra sebelum memeluknya.
“Tidak apa-apa. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kita,” ujarnya lembut.
Citra menatap Samuel.
“Bagaimana kalau kita ikut program? Mawar dan Keysa sudah hamil, aku juga ingin merasakan hal itu,” ucap Citra.
Samuel terdiam sejenak, memikirkan ucapan istrinya.
Hingga akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah. Kalau kamu mau, ayo kita ke rumah sakit sekarang.”
Mata Citra melebar.
“Sekarang?”
Samuel mengangguk.
“Lebih cepat lebih baik, kan?”
Citra langsung tersenyum lebar.
“Iya.”
“Bersiaplah.”
Citra langsung beranjak dari duduknya dengan wajah penuh semangat.
“Aku siap sekarang!” ucapnya antusias.
Samuel tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi istrinya yang tadi murung kini kembali cerah.
“Baik, ganti pakaian dulu. Aku tunggu di bawah.”
Citra mengangguk cepat lalu berlari kecil masuk ke dalam mansion.
Samuel menatap punggung istrinya yang menjauh, tetapi senyumnya perlahan memudar. Entah kenapa hatinya terasa tidak tenang sejak beberapa hari terakhir.
Mimpi tentang anak kecil itu… Ucapan Diana… Dan kini pembahasan tentang anak.
Semuanya terasa seperti menekan pikirannya secara bersamaan.
Samuel menghembuskan napas panjang lalu ikut masuk ke dalam rumah.
——
Satu jam kemudian—
Mobil Samuel berhenti di depan sebuah rumah sakit besar.
Citra terlihat sangat antusias sambil menggandeng tangan Samuel memasuki rumah sakit.
“Semoga hasilnya baik,” ucap Citra pelan.
Samuel hanya mengangguk.
“Kita berusaha saja.”
Setelah menyelesaikan pendaftaran, keduanya dipanggil masuk ke ruang dokter spesialis kandungan dan fertilitas.
Dokter paruh baya itu menyambut mereka dengan ramah.
“Silakan duduk, Tuan Samuel dan Nyonya Citra.”
Keduanya duduk berdampingan.
“Jadi kalian ingin melakukan pemeriksaan program kehamilan?” tanya dokter.
Citra mengangguk cepat. “Iya, Dok.”
“Baik, nanti kami akan melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu.”
Beberapa jam berlalu dengan berbagai pemeriksaan yang harus mereka jalani.
Citra terlihat sedikit tegang menunggu hasil bersama Samuel di ruang konsultasi.
Dokter membuka hasil pemeriksaan mereka satu per satu.
“Untuk kondisi Nyonya Citra...” dokter tersenyum tipis. “Semuanya sangat baik. Tidak ada masalah pada rahim ataupun hormon.”
Wajah Citra langsung berbinar bahagia.
“Benarkah, Dok?”
Dokter mengangguk.
“Kondisi Anda sangat baik untuk kehamilan.”
Citra langsung menggenggam tangan Samuel dengan senyum lega.
Namun dokter belum selesai berbicara.
“Tapi…”
Senyum Citra perlahan memudar.
Samuel mengernyit.
“Tapi apa, Dok?”
Dokter menatap hasil pemeriksaan Samuel cukup lama sebelum akhirnya berbicara hati-hati.
“Untuk Tuan Samuel… ada sedikit kendala pada kualitas sperma.”
Deg.
Samuel dan Citra langsung membeku.
“Maksud dokter?” tanya Samuel pelan.
Dokter menghela napas.
“Jumlah sperma Anda tergolong rendah dan pergerakannya juga kurang optimal. Kondisi ini membuat peluang kehamilan menjadi lebih sulit.”
Wajah Citra langsung pucat.
Samuel menatap dokter tanpa berkedip.
“Jadi… saya tidak bisa punya anak?”
“Bukan begitu,” jawab dokter cepat. “Masih ada kemungkinan untuk memiliki keturunan.”
Citra langsung menatap dokter penuh harapan.
“Benarkah?”
Dokter mengangguk.
“Dengan pengobatan rutin, perubahan pola hidup, serta program khusus, peluang itu tetap ada.”
Samuel masih terdiam kaku.
“Kondisi seperti ini bisa dipengaruhi banyak faktor. Stres berlebih, pola hidup tidak sehat, kelelahan ekstrem, bahkan trauma psikologis juga bisa berpengaruh.”
Samuel langsung teringat mimpi buruknya selama ini.
Tangannya perlahan mengepal di atas paha.
Citra menatap Samuel dengan cemas. “Sam…”
Namun Samuel hanya menatap kosong hasil pemeriksaannya.
Entah kenapa…
Ucapan terakhir Diana kembali terngiang jelas di kepalanya.
“Aku bersumpah… kamu tidak akan pernah mendapatkan keturunan!”
Wajah Samuel perlahan berubah pucat.
°°••°°
“Udara pagi ini sangat segar ya, Bu.”
Kartini mengangguk antusias.
“Cocok banget buat jemur jagoan Oma ini,” ucapnya sambil mencubit pelan pipi Reyhan.
Pagi ini, Diana membawa Reyhan untuk berjemur di taman kompleks, dan tentunya bersama Oma Kartini yang tidak ingin ketinggalan momen bersama cucu kesayangannya itu.
“Kapan kamu masuk kerja, Na?” tanya Kartini.
“Besok, Bu. Nggak apa-apa kan?”
Kartini langsung menggeleng cepat.
“Tentu tidak dong. Kamu kerja saja sana, biar jagoan Oma ini Ibu yang urus.”
Diana tersenyum haru.
“Terima kasih ya, Bu. Ibu dan Ibu Tika selalu ada untukku dan Reyhan.”
Kartini langsung mendecih pelan.
“Nggak usah makasih terus, capek Ibu dengarnya, tahu.”
Diana terkekeh kecil mendengar ucapan Kartini.
“Kalau begitu… aku ganti dengan bilang aku sayang Ibu saja.”
Kartini langsung menoleh cepat dengan wajah berbinar.
“Nah, itu baru kalimat yang enak didengar,” ucapnya sambil terkekeh puas.
Diana hanya menggeleng geli melihat tingkah wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu.
Kartini kembali menatap Reyhan yang sedang menguap kecil.
“Besok kamu kerja, Niel pasti sering datang bantu jagain Reyhan.”
Wajah Diana langsung memerah tipis.
“Ibu…”
Kartini menaikkan sebelah alisnya jahil.
“Apa? Ibu salah ngomong?”
Diana menggeleng cepat. “Nggak…”
Kartini tersenyum penuh arti. “Ibu lihat laki-laki itu tulus sama kamu, Na.”
Diana terdiam sejenak lalu menatap Reyhan yang ada di stroller.
“Aku tahu, Bu…”
“Susah move on dari masa lalu?” tebak Kartini lembut.
Diana menghela napas pelan.
“Bukan susah move on… cuma aku masih takut salah pilih orang lagi.”
Kartini menggenggam tangan Diana lembut.
“Takut itu wajar. Tapi jangan sampai ketakutanmu menutup kebahagiaan yang datang.”
Diana terdiam memikirkan ucapan itu.
Belum sempat membalas, aroma bubur ayam tiba-tiba menyeruak di sekitar mereka.
Kartini langsung menoleh antusias.
“Eh, itu bubur ayam!”
Diana ikut menoleh dan melihat seorang penjual bubur ayam lewat di sekitar taman kompleks.
Kartini langsung bersemangat seperti anak kecil.
“Na, ibu mau bubur ayam!”
Diana tertawa kecil.
“Iya, Bu.”
Ia menghampiri penjual bubur itu lalu memesan dua porsi.
“Pak, dua ya.”
“Siap, Mbak.”
Tak lama kemudian, Diana kembali membawa dua mangkuk bubur ayam hangat.
Kartini langsung menerimanya dengan mata berbinar.
“Wah, lengkap pakai cakwe lagi.”
Diana tertawa sambil duduk di sampingnya.
“Selamat makan, Bu.”
Kartini langsung menyuap buburnya dengan puas.
“Pagi-pagi begini, bubur ayam, udara sejuk, sama cucu ganteng…” Kartini menatap Reyhan gemas. “Hidup ibu sempurna.”
Diana hanya tersenyum hangat sambil menatap Reyhan yang tertidur tenang.
Pagi itu terasa sederhana, namun begitu menenangkan.
“Bu, aku ke toilet bentar ya,” pamit Diana.
Kartini mengangguk.
“Iya.”
Diana langsung melangkah menuju toilet umum yang ada di sekitar taman. Untungnya, masih ada satu toilet kosong saat ia sampai.
Setelah beberapa saat, Diana keluar dari toilet.
Saat hendak kembali, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tampak murung. Wanita itu tampak seperti habis menangis.
Diana yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi merasa tidak tega. Ia pun menghampiri wanita itu dan memberikan tisu.
“Ini untuk kamu,” ucapnya lembut.
Wanita itu menoleh, menatap tisu tersebut sejenak, lalu perlahan mengambilnya.
“Terima kasih,” balasnya.
Diana tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya.
“Kenalin, aku Diana. Kamu?”
Wanita itu menatap Diana sejenak sebelum membalas uluran tangannya.
“Aku Putri.”
“Kamu sepertinya sedang ada masalah ya?” tanya Diana pelan.
Putri mengangguk pelan.
“Iya. Kentara ya?” ucapnya sambil terkekeh kecil.
"Iya,” jawab Diana jujur.
Putri tertawa kecil meski matanya masih sembab.
“Berarti aku benar-benar terlihat menyedihkan ya sekarang.”
Diana langsung menggeleng cepat.
“Bukan begitu maksudku.”
Putri kembali tersenyum tipis. “Tenang saja, aku nggak tersinggung.”
Suasana sempat hening beberapa detik.
Diana lalu duduk di bangku dekat toilet dan memberi isyarat agar Putri ikut duduk.
“Kalau kamu nggak keberatan, cerita saja. Kadang cerita ke orang asing justru lebih lega.”
Putri menatap Diana beberapa saat, lalu akhirnya ikut duduk.
“Kamu yakin mau dengar cerita orang asing?”
Diana terkekeh kecil.
“Aku cukup pandai jadi pendengar.”
Putri menghela napas panjang.
“Aku baru saja bertengkar dengan pacarku.”
Diana mengangguk pelan. “Karena apa?”
Putri menunduk menatap jemarinya sendiri.
“Kami sebenarnya sudah serius. Dia bahkan bilang ingin menikahiku.”
“Lalu?”
Putri tersenyum pahit.
“Orang tuanya menolak aku.”
Diana mengernyit. “Kenapa?”
Air mata Putri kembali menetes.
“Karena aku seorang janda.”
Deg.
Tubuh Diana langsung menegang.
Putri tertawa hambar di sela tangisnya.
“Mereka bilang anak mereka pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik… perempuan yang belum pernah menikah.”
Diana terdiam.
“Aku juga punya anak satu,” lanjut Putri dengan suara bergetar. “Mereka bilang masa depan anak mereka akan hancur kalau menikah denganku.”
Deg.
Ucapan itu terasa seperti menghantam Diana tepat di dadanya.
Tanpa sadar, wajah Niel langsung terlintas di pikirannya.
Bagaimana jika keluarga Niel juga menolaknya?
Bagaimana jika kebahagiaan yang sedang ia rasakan sekarang ternyata hanya sementara?