NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klinik Kantor

Bruk!!!!

Ambruk! Debo tak dapat menahan beban berat tubuh Cakka, mereka kini tergeletak dilantai toilet. Beberapa kali Debo menepuk punggung Cakka untuk menyadarkannya dan bangun. Namun, tetap saja matanya masih terpejam, denyut nadinya pun pelan. Mau tak mau Debo berteriak meminta pertolongan, agar ada yang bisa membantunya.

"Tolong! Tolong! Ada orang pingsan di sini, tolong!!"

Teriakan itu menggema di dalam toilet pun merambat keluar, terdengar samar namun beberapa orang menyadari bahwa itu suara Debo. Petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai di ruangan lain langsung menunda pekerjaannya, berlari menuju suara Debo.

Tak! Tak! Tak!

Ckit!!!!

Suara sepatu dari petugas kebersihan itu berhasil mencuri perhatian Debo, ia langsung menoleh dan tersenyum senang.

"Tolong mas! Orang ini pingsan" Ucap Debo.

Mendengar kata pingsan petugas kebersihan pun membantu Debo untuk membopong Cakka. Mereka berdua membawa tubuh tinggi dan besar itu ke klinik kantor. Dokter yang sedang berjaga melihat mereka dari kejauhan, tanpa berpikir panjang dokter menyambar kasur pas-pasan bangsal kelas 3 di sudut ruang.

Didorongnya sembari berlari ke arah mereka berdua, debo dan penjaga kebersihan.

"Kenapa pak?" Tanya dokter sembari membantu tubuh Cakka untuk bisa berbaring di sana.

"Teman saya tiba-tiba pingsan Dok, tolong diperiksa!" Ucap debo

Dokter mengangguk, membenarkan posisi tubuh Cakka. Setelah semua selesai, Dokter mendorong kasur itu tentu dibantu oleh Debo dan penjaga kebersihan. Berlari hingga ke ruang pemeriksaan.

"Saya periksa dulu ya, tolong bapak-bapak tunggu diluar" ucap Dokter.

Mereka berdua mengangguk patuh, meninggalkan Cakka diruang pemeriksaan. Berjalan sedikit lemas, tangan di pinggang, dan kepala mengadah ke atap klinik. Menghembuskan nafas keudara, seraya memejamkan mata, meneguk air liur yang terkulum di lidahnya ke kerongkongan.

"Sorry gue nggak jujur" Ucap debo, lirih.

(***)

Mata yang sempat terpejam lama perlahan terbuka, bola matanya bergetar, bergerak ke kiri dan ke kanan melihat ruangan. Denyut nadi yng sempat lemah, kini kembali normal. Cakka sadar. Ia bangun dari pingsan.

"Halo!" Seru dokter yang menanganinya.

Terkejut hingga tubuhnya terperanjat dari kasur, dokter yang menegurnya tentu langsung menenangkan. Memegang pelan kedua bahu Cakka.

"Kamu pingsan, teman mu yang membawa kamu kemari."

"Teman? Siapa?"

"Sepertinya dia salah satu anak yang akan debut dimanagement BV. Dia ada diluar, mau saya panggilkan?"

Cakka mengernyitkan kening, menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Tidak! Tidak! Tidak usah Dok!" Dokter tersenyum tipis, beliau berdiri meraih hasil pemeriksaan tubuhnya.

"Semua sudah saya cek, dan hasilnya kamu sehat. Tensi kamu juga bagus, apa yang membuat mu pingsan? Kecemasan berlebih?" Tanya Dokter, menginterogasinya.

"Sepertinya begitu...."

Dokter mengelus punggung Cakka "Kamu harus segera periksa mental ke psikolog! Buru-buru tangani. Jika tidak, ini akan membuatmu sedikit kesusahan didunia entertainment."

Cakka menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangan, mendengus kesal kenapa hal ini bisa terjadi kepadanya. Sebelumnya dia tidak pernah pingsan karena kecemasan, pun jika dirinya sedang cemas, tidak akan berlebihan seperti ini!.

Tatapan Cakka bulat, perlahan menatap mata dokter yang kini sedang memperhatikannya.

"Tolong jangan bilang sama pak Kleo dulu ya Dok! Saya tidak mau orang lain tahu saya pingsan karena hal ini"

"Kleo harus tahu soal ini, jika tidak... yang susah nanti bukan cuma kamu, tapi mereka juga."

"Tolong Dok! Jangan beritahu siapapun! Termasuk teman saya yang tadi mengantar saya ke sini. Cukup saya saja yang tahu! Saya janji, ini tidak akan menyusahkan siapapun!"

Dokter menghela nafas, menyimpan surat keterangan sehat Cakka di mejanya.

"Terserah kamu deh, tapi kalau ada apa-apa saya tidak mau bertanggung jawab. Asal kamu tahu, pak Kleo itu menomor satu-kan kesehatan di dunia entertain. Jadi kalau artisnya sakit, saya yang kena marah. Kamu tahu sendiri kan marahnya pak Kleo seperti apa? Saya bisa dengan mudah membalikkan fakta kepada kamu, dan kamu yang harus merangkak, memohon, untuk segera mendapatkan maaf nya"

Seketika Cakka terdiam, mengingat kejadian tadi pagi, melihat Obit bersimpuh di bawah kaki Kleo.

Tidak! Jangan sampai aku seperti itu! Aku masih punya harga diri yang harus dijunjung tinggi.

Kedua tangan cakka mengepal, ia bersumpah untuk tidak bersimpuh di bawah kaki Kleo. Bukan tidak tahu diri! Bukan tidak tahu di untung! Cakka hanya ingin menjadi manusia yang biasa saja, jika salah pun dia meminta maaf dengan cara yang normal, tidak harus menjatuhkan tubuh hingga luruh ke lantai.

Meyakinkan diri, jika tubuhnya tidak apa-apa Cakka mantap, mengiyakan perkataan sang dokter.

"Dokter tidak perlu khawatir, akan aku pastikan tubuh ini tidak lemah!"

Dokter mengangguk sembari mengerucutkan mulut, "Ingat, saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesehatan mu nanti. Saya sudah memberitahumu dari awal" ucapnya tegas, pelan dan menekan.

Meneguk ludah, menguatkan diri, memberi rasa percaya pada dirinya sendiri. Cakka yakin, kalau ia tak akan membuat kesalahan apapun soal kesehatannya.

"Untuk obat, silahkan ambil didepan. Saya sudah kirim resepnya ke perawat."

"Baik dokter, terimakasih"

Pertemuannya dengan dokter diklinik kantor memanglah singkat. Namun, berdaging. Ia jadi tahu bahwa semua orang segan terhadap Kleo. Mereka takut kena tampar dan marah yang meledak-ledak.

Tak apa, Cakka tahu apa yang harus dilakukannya nanti. Bergegas berjalan menuju apotik depan. Pandangannya fokus, hingga orang yang ada disekelilingnya terabaikan. Termasuk Debo.

Lelaki yang sedang risau dengan keadaan Cakka perlahan berdiri, melihat sosok tubuh tinggi dan tampan itu melewatinya.

"Cakka!" Teriak Debo, menggema hingga orang-orang melihat kearahnya.

Pun Cakka mencari sumber suara, matanya menyipit. Debo menghela nafas, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mau tidak mau ia yang harus mendekat. Berdecak kesal namun langkahnya menuju Cakka.

"Cak!" Debo, kini tepat berdiri didepan Cakka. "Gimana? Apa kata dokter?" Berlagak seperti sudah berteman setahun lamanya.

"Yah... Aku harus ambil obat di apotik depan"

"Lu sakit apa?"

"Cuma kecapean"

"O-oh..."

Cakka terdiam sesaat, menatap lantai dan ingat dengan perkataan dokter tadi. Perlahan matanya kembali menatap Debo yang sedang menanam tangan di pinggang.

"Kamu... Yang bawa aku ke klinik?"

Debo mengangguk sembari tersenyum.

Kedua alis Cakka naik, mulutnya terbuka lebar, ia tak menyangka orang yang menolongnya adalah orang yang ia pukul saat pertemuan pertama di rumah BV.

"Te-terimakasih..." Ucap Cakka, sedikit merasa bersalah.

"Tak apa, memang seharusnya kita saling menolongkan?" Debo, menatap mata Cakka.

"I-iya.." lagi, Cakka merasa bersalah dan itu bertambah.

Debo tersenyum, ia merangkul pundak Cakka.

"Kalau ada apa-apa itu bilang, jangan dipendam sendirian! Sakit apa? Apa yang kerasa? ngomong Cak! Jangan kayak tadi! lu bikin gue panik"

"Maaf... Aku juga tidak tahu tadi bakalan kayak gitu padahal kan niatnya cuma mau ke toilet, sakit perut. Hehehe."

"Cak... Cak... Ada aja lu!"

Seketika Cakka dan Debo menjadi dekat, mereka berbincang. Apa saja dibahas, bahkan sudah ada ditahap mulai saling mendorong tubuh mereka masing-masing, ketika ada pembahasan ambigu yang lucu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!